TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 029


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


029 - PUTRI MAHKOTA


"Ayo," ajak Udelia.


Raga Udelia dan Djahan sangat kuat untuk terus menerobos masuk ke dalam gua, sementara para pengawal Djahan mengangkat tangannya ketika berada di bibir gua.


Udara di dalam gua terlalu dingin.


Djahan tak memedulikan manusia- manusia modern itu. Dia menarik Udelia untuk menyusuri gua.


Mereka mencapai titik terendah di dalam gua setelah puluhan langkah, sesosok pria duduk bertapa dengan mata terpejam di dalamnya.


"Dia bertapa?" tanya Udelia berbisik.


Djahan mengangguk. Tatapannya tak lepas dari raga yang duduk bersila di atas batu. Dia merasakan aura yang sangat kuat.


Jika saja dia masih dapat menggunakan kekuatan ghaibnya, dia akan menyerap berkat dari Petapa Agung.


Walau berselisih tentang Udelia, Djahan tetap menghormati Petapa Agung. Karena bagaimanapun, Petapa Agung adalah petapa yang paling tinggi. Kuat dan berwawasan.


Kekuatannya dapat disalurkan pada orang lain dan orang lain dapat mengambil kekuatan Petapa Agung yang tercecer.


Mereka menyebutnya berkah.


Suara melengking mengudara di ruang gua.


Djahan melebarkan matanya. Jauh di hadapannya, tangan Udelia terangkat mengudara, usai memukul wajah Petapa Agung.


Dengan sangat keras.


Perempuan itu sangsi dengan tingkah sepupunya yang hanya duduk diam di atas batu. Berpikir sedang bercanda padanya.


Tak cukup sekali. Sekali lagi Udelia memukul wajah Fusena. Menamparnya, dua kali tamparan.


Djahan menahan napas melihatnya.


Udelia ... terlalu kejam.


Dia adalah petapa agung! Pria paling terhormat sepanjang sejarah Bhumi Maja.


Udelia melipat tangannya di dada. Memindai hasil karyanya yang memerah di pipi Fusena.


Sepupunya itu tetap bergeming di tempatnya.


Duduk bersila sambil memejamkan mata. Napasnya pun jarang sekali terlihat. Seolah patung di atas batu.


"Dia beneran bertapa?" tanya Udelia pada angin yang berhembus.


"Benar," jawab Djahan sambil mengangguk, meski Udelia tidak melihatnya.


"Oh. Pantas tak bergerak," ucap Udelia enteng.


"Kamu ini ... dia Petapa Agung loh."

__ADS_1


Udelia menunjukkan deret giginya. Lantas berjongkok. Memperhatikan wajah Fusena, yang matanya terpejam rapat.


"Kamu tidak bertapa?" tanya Udelia.


"Nanti, sayang. Kalau tubuhku sudah sembuh."


"Oh ya. Tubuhmu bagaimana kabarnya? Udah membaik?"


"Tenang saja."


Udelia tidak melanjutkan pertanyaannya. Djahan nampak enggan membahas masalah itu.


Djahan sedang tidak fokus pada Udelia. Dia terus memperhatikan Petapa Agung. BErharap dirinya kembali memiliki kekuatan itu.


Kehilangan kekuatan membuatnya tak percaya diri. Sulit baginya melakukan yang biasa dia lakukan. Terlebih karena kekuatannya menghilang, tubuhnya menjadi lemah.


Sakit- sakitan dan harus bergantung pada obat- obatan.


Hari pertama datang ke dunia, raganya langsung ditempatkan di atas brankar, ditusuk- tusuk seluruh tubuhnya, dipasangkan benda- benda panjang dengan aroma yang menyengat di sekitarnya.


Berkali- kali memberontak. Lantas terdiam kala tubuhnya menjadi lebih baik.


Sekarang, dia harus terus mengkonsumsi benda- benda bulat untuk bertahan hidup.


Benda bulat yang pahit rasanya.


"Udelia, di depan Petapa Agung yang sedang melakukan titah suci, aku ingin melamarmu. Menjadi bagian hidupku. Sepasang denganku. Meneruskan keturunan Mada, yang sempat terputus, tujuh abad lamanya. Aku bersumpah akan menjadikan kamu satu- satunya istriku."


Djahan. Mahapatih Bhumi Maja yang legendaris, yang tak takut apa pun. Kini takut mati di tengah rasa sepi tanpa pendamping hatinya.


Melihat sendiri Udelia kesulitan bertahan di dimensinya, bukan tak mungkin dia tak tahan hidup di dimensi Udelia.


"Putriku, Maya Lopika Wijaya, Bhre Kabalan, akan meneruskan jabatanku sebagai Putri Mahkota dengan gelar Kusumawardhani. Jika ada yang keberatan silakan angkat tangan."


Suara keberatan menggema di dalam otak banyak menteri. Mereka adalah para pria yang tidak meyakini kepemimpinan atas seorang wanita, sebagian lain tidak meyakini kemampuan Sang Putri meski tidak menolak pemimpin wanita.


Karena Tuan Putri mereka tidak pernah terlihat tergabung dalam pengadilan dan kepemerintahan.


Pasti Sang Putri yang lemah lembut dan terlihat rawan seperti sekuntum bunga itu, tidak memahami apa yang namanya kekuasaan.


Namun mulut mereka tertahan. Tidak mungkin dapat berkeluh kesah tentang keputusan Maharaja yang berkuasa.


Atau mereka akan hilang di tengah malam.


Karena tidak ada suara yang kunjung menolak, Maharaja mengangkat tangannya, menyuruh sang Bhre Kabalan mendekat. Naik mendekat ke singgasana Maharaja.


Maya menerima bunga wijaya kusuma dari tangan Petapa Agung. Menerima dengan tenang, walau di sudut hati merasa ada yang kurang.


Ibunya, yang berkata hanya butuh waktu sebentar untuk kembali lagi ke sisinya.


Nyata belasan tahun, tidak tampak batang hidungnya.


Hayan menyadari wajah mendung putrinya. Dia mengusap kepala putrinya sebelum memakaikan makuta wedok, makuta milik ibunya.


Maya tersenyum tipis. Menyatakan baik- baik saja pada ayahandanya yang khawatir.

__ADS_1


Setelah itu Maya menerima banyak hadiah. Dari ayahandanya, selir- selir ayahandanya, dan para menteri yang sudah memberikan banyak hadiah.


Hadiah pernikahan.


Pernikahannya terselenggara sepekan lalu, sebelum penobatan gelar putri mahkotanya.


Sengaja pernikahan itu tertunda dua belas tahun lamanya, berharap kehadiran sang ibunda yang telah menjanjikan kedatangannya, secepat mungkin.


Umur tiga belas tahun seharusnya menjadi waktu pernikahannya. Sekuat tenaga putri cantik itu meminta pada ayahandanya untuk menunda.


Menunggu sang ibunda tercinta. Maharani Bhumi Maja.


Karena waktu yang terus bergulir. Umur yang terus bertambah.


Pada usia dua puluh delapan tahun, ayahandanya sendiri yang menyuruh dia untuk menikah. Tanpa boleh membantah.


Usia yang sangat tua. Jauh dari angka tiga belas yang merupakan umur umum untuk menikah.


Hayan tidak memedulikan cibiran yang mungkin berkembang di luaran sana, dia hanya khawatir putrinya terlalu nyaman sendiri.


Bukan hal bagus untuk terus tinggal seorang diri.


Bahkan sosok yang patut dikatakan teman sejati, putrinya tak punya.


Selama ini yang dipikirkan putrinya hanya belajar dan belajar. Untuk melampaui dunia dan merobek pintu dimensi, yang sulit ditembus.


Maya baru memegang kekuasaan di usia yang terlalu matang. Dua puluh tahun.


Tidak seperti kebanyakan para bangsawan, yang telah berkuasa sejak umur empat sampai enam belas tahun.


Gagak Catra, Bhre Pejeng, keponakan Hayan sekaligus suami Maya, menjemput istrinya setelah menyelesaikan ritual di hadapan Maharaja dan Petapa Agung.


Jika biasanya putri mahkota mendampingi putra mahkota yang naik tahta. Maka suami putri mahkota tidak punya kuasa untuk berdiri di hadapan khalayak.


Dia baru dapat maju setelah istrinya selesai dalam upacara.


Sepasang pengantin baru itu duduk pada meja yang tersedia.


Maya sengaja tidak duduk di atas singgasana, menghormati suaminya. Pun dia ingin terus menempel bersama sang suami.


Menunjukkan keharmonisan mereka.


Keharmonisan pengantin baru.


"Kakak, selamat atas penobatanmu."


Suara manis terdengar di meja Maya sebelum derit kayu terdengar dan sesosok tubuh kekar duduk di depan meja.


Tersenyum manis sambil menjulurkan sebuah kotak ke hadapan Maya.


Wajah Gagak berubah mendung. Dia mengambil kotak dan menatap tajam si pemberi.


"Penyihir Agung, saya tahu Anda hidup dengan bebas. Tapi setidaknya jagalah wajah Putri Mahkota! Anda tidak boleh bertutur dengan non formal di hadapan Putri Mahkota."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2