![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
010 - MEMBIASAKAN DIRINYA UNTUK BERBAGI
"Jangan hubungi keluargaku," lirih Udelia. Dia dan Djahan telah berada di tempat pengungsian, berkumpul bersama ribuan orang lain yang juga ikut terdampak.
Gempa yang tidak disangka- sangka, meluluhlantahkan hampir seluruh bagian kota.
Untungnya kontrakan Udelia berada jauh di pinggir kota. Udelia bisa merasa aman tentang kedua orang tuanya, yang masih tinggal bersama dengannya.
Ibu dan bapak Udelia enggan pergi. Mereka mengkhawatirkan sesuatu yang membingungkan bagi wanita pemilik rambut gelombang hitam itu.
Ibu dan bapaknya tak ingin Udelia menjumpai seseorang, yang dikatakan sebagai saudara teman lamanya.
Udelia tak mengerti.
"Kalau tidak menghubungi, mereka malah khawatir dan akan mencari- cari kamu. Biar mereka menengok ke sini," balas Djahan.
"Mmm baik," ucap Udelia pasrah.
Kemudian perempuan yang terlihat letih itu jatuh terlelap dan tak lagi membalas ucapan Djahan.
"Sudah aku ketik. Ini tinggal klik yang hijau kan?"
Djahan menoleh pada sang kekasih hati dan jiwa yang bersandar pada bahunya. Dia mengulas senyum kala suara dengkur halus terdengar.
Tidak lagi berpura- pura, Djahan menekan tombol kirim.
Pesan yang dikirimnya langsung diterima oleh pihak yang lain.
Sungguh sebuah keajaiban untuknya, seseorang yang hidup selama puluhan tahun di dunia kuno.
Sangat ajaib melihat semua orang dapat bertukar pesan tanpa perlu mengeluarkan kekuatan yang besar.
Sementara untuk mendapatkan pesan secepat itu, di dunianya, butuh kekuatan dan kemampuan tingkat tinggi seperti yang dimiliki para ksatria Bhumi Maja.
Itu pun masih berbatas jarak dan waktu.
Djahan yang telah menyadari hilangnya kekuatan tapaan dan sihir dalam raganya, sangat terbantu dengan kekuatan bernama teknologi.
Tak perlu lagi dia berjalan jauh, mengirim pesan, pun menyerang musuh dapat dia lakukan dengan benda yang dapat mengeluarkan peluru hanya dengan mematiknya.
Walau, semua itu tidak sepadan dengan kekuatan besar miliknya.
Dia akan terus mencari cara untuk mengembalikan kekuatan dalam dirinya, seperti Petapa Agung yang tetap mempunyai kekuatan besar di dunia yang berbeda.
Kekuatan besar, yang hampir menelannya.
"Ternyata, kamu masih hidup."
Djahan mendongak. Pria yang ada di dalam pikirannya, telah muncul.
Rasa hormat dalam dirinya pada pria paling agung dalam kekuasaan Bhumi Maja, kandas, seiring sikap sang Petapa Agung yang tak lagi luhur.
Membunuh, hanya demi ketiadaan rivalitas.
Sampai dengan jatuhnya banyak korban, penguasa kekuatan sihir, kekuatan tapa, dan kekuatan fisik itu, masih saja mengibarkan bendera perang padanya.
Menghembuskan angin besar ke sekitar.
Para pengungsi berduyun- duyun pergi dari balai pengungsian.
Menyisakan orang- orang Djahan yang setia.
Mereka paham, bencana datang bukan dari alam, tapi dari seorang pria yang asalnya sama dengan tuan mereka.
__ADS_1
Dunia di mana kekuatan adalah yang utama.
Kekuatan dalam raga dan jiwa, yang mampu mengendalikan banyak hal.
"Petapa Agung, saya tak mengira Anda mengeluarkan kekuatan ... hanya demi wanita."
"Akan kulakukan, apa pun. Demi yang seharusnya kudapatkan."
"Tapi, Anda tak pernah menunjukkan ketertarikan padanya. Di sana. Di Bhumi Maja."
Djahan heran. Selama ini, orang yang memperebutkan istrinya dari tangannya, hanyalah Maharaja seorang. Bukan Petapa Agung.
Orang yang menjadi guru istrinya, di dunia sana, sekarang menunjukkan ketertarikan pada istrinya?
"Sama seperti dirimu.."
Jawaban Petapa Agung menguras otaknya.
Djahan tidak mengerti apa yang dimaksud Petapa Agung.
Sama seperti dirinya..
Apa?
Djahan menikahi istrinya, Petapa Agung tidak terlihat mencintainya.
Memang, Petapa Agung mewanti- wanti istrinya untuk tidak terikat.
Djahan memandangnya sebagai hal biasa. Hanya sebuah perhatian berlebih dari seorang guru.
"Heh. Apa di ruang batas dimensi, otak kamu menjadi dangkal sama seperti kekuatanmu?" ejek Fusena.
Dia telah memberikan petunjuk, tapi pria yang telah kehilangan ilmu kanuragannya itu tidak langsung merespon ucapannya.
Djahan masih berpikir dengan keras.
Terus menerus Djahan berpikir, semakin kabur kesamaan di antara mereka.
Hidup Petapa Agung berkelana, berbeda dengan hidup Mahapatih yang justru sulit untuk bepergian jauh dari keraton.
Apa yang sama?
Kemudian tercetus dalam benaknya. Detik- detik terakhir sebelum dia merasakan sakit di sekujur tubuh, tak sadarkan diri, lantas terbangun di atas puing- puing emas yang telah hancur.
Seseorang mengutuknya. Dia tidak akan dapat menggunakan kekuatan batin di sisa hidupnya, serta tidak akan dapat bersatu dengan pujaan hatinya, di dunia asalnya, Bhumi Maja yang berkuasa.
Petapa Agung masih dapat leluasa menggunakan kekuatannya.
Yang tersisa ialah ketidakmampuan bersatu dengan orang terkasih.
"Anda tidak dapat menikahi Udelia di dunia kita?"
"Rupanya kamu tidak terlalu bodoh, Mahapatih."
"Lalu kenapa Anda menahannya selama empat tahun!?" geram Djahan.
Dia paling tidak suka ada yang mengatainya bodoh!
"Aku tidak dapat pindah ke dunia modern, dunia Udelia.."
Fusena berucap sembari menatap Udelia yang masih setia terlelap di bahu Djahan.
Meski kesal, sebisa mungkin dia menahan diri.
Membiasakan dirinya untuk berbagi.
__ADS_1
"Semua karena dosa di masa lampau. Aku tidak dapat berjumpa Mbakyu di dunianya. Hanya dapat melihat dari samping. Andai bisa, aku ingin mempersuntingnya.."
"Anda bisa, berjumpa dengannya sekarang."
"Ya. Setelah masa yang panjang. Kamu kira, sepuluh tahun menghilang dari dunia, aku hanya duduk bertapa tanpa melakukan apa pun?"
Djahan teringat masa itu. Saat Petapa Agung mendadak hilang dari peradaban.
"Anda pergi hanya untuk mematahkan kutukan yang membuat Anda dan Udelia berpisah?"
"Bagaimana kamu bilang hanya? Kamu bukannya turut mengumpulkan kekuatan, hanya untuk bersama Udelia?"
Fusena tersenyum miring.
Mereka berdua sama saja, lalu kenapa harus saling mengatai?
Jabatan dan kuasa, sudah mereka dapatkan. Hanya wanita yang sulit mereka jangkau.
Mereka hanya butuh wanita yang mereka cintai untuk terus berada di sisi mereka.
Menghabiskan sisa waktu hidup bersama dengan wanita mereka, dengan tenang dan damai.
Selayaknya manusia normal, di luaran sana.
"Aku menemukan caranya. Sayangnya dampak itu terlalu besar. Jiwamu dan jiwa- jiwa mereka, yang sedang melayang- layang di langit dimensi, ikut terseret ajianku. Masuk ke dunia ini."
Fusena tersenyum kecut. Andai Udelia tidak dalam kondisi gawat, setelah diperlakukan tak baik oleh Maharaja, dia mungkin dapat menyempurnakan ajiannya, tanpa membuat keributan yang sangat besar di batas dimensi.
"Menurut kamu, apa yang dapat aku lakukan, Mahapatih?"
Fusena menatap Djahan dengan penuh intimidasi.
Sayangnya Djahan tidak terpengaruh. Dia hanya segan pada sosok Petapa Agung, bukannya takut.
"Anda mau melakukan apa? Memisahkan saya dan Udelia karena Anda mampu?"
"Jika kamu tidak sejalan denganku, mungkin aku akan melakukan itu."
"Anda ingin saya pergi jauh dari sisi Udelia?!"
"Aku punya tawaran yang menarik.."
Fusena menggantung kalimatnya seiring dia berjalan mendekat.
Tangannya terjulur, meraih kepala Udelia yang masih setia di bahu Djahan.
Walau ingatannya rusak, raga dan jiwa Udelia mungkin tidak akan pernah melupakan Djahan.
Terlihat begitu nyaman di sisinya. Tanpa kecanggungan.
Berbeda jika bersama dengan dirinya, sedikit menjaga jarak dan tidak bermanja- manja.
Djahan hanya dapat melihat raga Udelia dibawa Fusena menjauh. Dibaringkan ke atas brankar yang tersedia di dalam ruangan siaga balai pengungsian.
Dia semakin sadar, jarak kekuatannya dengan Petapa Agung.
Matanya awas. Memperhatikan Petapa Agung yang sedang membaringkan istrinya.
Lalu pria itu kembali duduk di sisinya, tanpa melakukan apa pun pada istrinya.
"...kamu dan aku, menjadi suami Udelia. Bagaimana?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]