![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
022 - TENANGKAN DIRIMU!
"Tuan, Resto Gedhe menggelontorkan uang sebanyak dua koma tujuh miliyar atas tagihan meja nomor dua puluh delapan. Meja nyonya."
"Hanya segitu? Sedikit sekali. Nanti hidangkan menu langka yang hanya dapat dimakan dengan mempertaruhkan nyawa dalam pencarian dan pembuatannya."
Andreas menelan udara dengan tersendat- sendat.
Uang yang dia sebutkan, belum pernah dilihatnya, namun tuannya merasa semua itu masih sedikit?
Djahan senyum- senyum sendiri sambil memperhatikan Udelia yang terlelap di kasur sebelahnya.
Dia senang Udelia makan dengan lahap.
Uang segitu, sangat kecil untuknya, bila dibandingkan dengan kesenangan dan kesehatan istrinya, calon istrinya.
Udelia tak sengaja mencuri dengar percakapan itu ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi.
Tenggorokkannya serasa menelan batu.
Miliyar?
Ratusan juta saja belum pernah dilihatnya.
"Mari, Nyonya.." sapa Andreas dengan ringan.
Dari pintu yang masih bergerak, Fusena masuk dengan membawa bingkisan.
Dia menatap aneh Udelia yang mematung di depan toilet.
Dibawanya tangan itu mendekat ke meja. Menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
Ingin Fusena mengabaikan pria di atas ranjang, tapi Udelia sudah mewanti -wanti dirinya untuk membeli sayur bening di bawah untuk si pesakitan.
"Hei, Djahan..-"
Udelia memanggil pria itu dengan ragu.
"Ya, sayang?"
Sengaja. Djahan ingin menunjukkan pada lawannya, jika Udelia tidak keberatan dengan panggilan demikian.
Udelia ingin memprotes. Tapi pertanyaan tentang harga makanan kemarin telah meluncur deras dari mulutnya.
Dia penasaran.
"Aku mendengar semuanya. Kamu menghabiskan dua setengah miliyar hanya untuk aku sekali makan?"
"Nampaknya kamu harus bertanya pada Petapa Agung. Sekali makan, beliau memang senang menghabiskan ratusan porsi."
Fusena melirik tajam Djahan.
Kenapa harus membahas makanan yang sudah menjadi sampah perut?
Lalu kenapa pria itu tidak menjadi bangkrut?
Masa sekarang uang adalah segalanya.
Dua miliyar setengah adalah nilai yang fantastis, bahkan untuk Fusena.
Tidak mungkin keuangan Djahan baik- baik saja.
Jadi kenapa pria itu malah tersenyum menjengkelkan?
"Aku memikirkannya.." gumam Udelia.
Fusena dan Djahan sontak memperhatikan Udelia. Dua pria itu memasang telinganya dengan saksama.
"Fusena, pria ini berkata sesuatu yang menyeret namamu. Apa kamu mau menjelaskan padaku?" tanya Udelia dengan menyelidik.
Fusena mengangguk singkat. Dia tidak lagi berlari. Dia akan menjelaskan semuanya pada Udelia.
Nanti akan lebih banyak lagi manusia- manusia di dunia kuno mendatangi dunia modern, dari cela yang dibuatnya secara paksa.
__ADS_1
Udelia harus mempersiapkan diri.
"Semua yang dikatakannya benar," jawab Fusena.
"Yang mana yang benar?"pancing Udelia.
"Dia dan aku berasal dari zaman kuno. Dia dan kamu telah menikah di zaman itu."
Udelia terbungkam. Dia sudah menjadi seorang istri?
Djahan tersenyum dengan semringah. Dia tahu itu. Meski menjengkelkan, pantang bagi Petapa Agung berbohong pada orang lain.
Dia senang akhirnya Udelia mengetahui status dirinya.
"Tapi mbak..."
"Apa?"
"Mbak juga merupakan istri dari Maharaja dan Penyihir Agung di Bhumi Maja. Mbak adalah pelaku poliandri. Mbak mempunyai suami lebih dari satu."
Senyum di bibir Djahan musnah.
Haruskah hal itu dibahas!?
Fusena tersenyum miring.
Tentu harus dia bahas, agar Mahapatih itu tidak besar kepala.
"Poliandri..?"
"Ya, mbak. Mungkin sebentar lagi suami mbak yang lain datang. Seperti suami pertama mbak ini."
"Keluar dari patung?"
Udelia sudah mendengar cerita lengkap dari pria yang mengaku suaminya.
Pria itu muncul dari dalam patung emas yang hanya berisi emas.
Katanya, energinya terkumpul membentuk tubuh baku di dalam patung persembahan, lantas jiwanya yang terombang- ambing, kembali masuk ke raganya.
Mengingat mereka mengambil minyak dari sekitar kuburan Djahan.
"Tidak juga. Mungkin dari tempat lain."
"Udelia, kumohon jangan pikirkan pria lain. Aku membutuhkan kamu, Udel.."
Udelia berjingkat kaget kala Djahan bersimpuh di sisinya.
Pria itu mencabut paksa infus di tangannya. Darah segar mengucur deras ke sekitar.
Sontak Udelia berjongkok. Mengambil tangan Djahan dan membalut lukanya.
"Kumohon, Udel. Jangan tinggalkan aku."
"Tenangkan dirimu!"
"Mereka hanya memanipulasi kamu, sayang. Jangan biarkan mereka mencari cela lagi."
"Aku bahkan tidak tahu siapa mereka! Kamu jangan banyak pikiran. Kesehatanmu lebih utama, bila memang kamu mau melanjutkan hidup."
Djahan tertegun. Benar, dia harus sehat untuk terus mendampingi hidup Udelia.
Dia patuh ketika Udelia berusaha membersihkan lukanya.
Djahan terus membisu sampai segala pengobatannya selesai dan dia tertidur karena dampak obat yang diminumnya.
"Jangan tinggalkan aku, Udel."
"Sst. Tenanglah," bisik Udelia. Djahan kembali jatuh terlelap.
"Sudah, mbak. Dia sudah tidur. Mbak juga harus memikirkan kondisi mbak. Makanlah. Perhatikan kesehatan Mbak. Aku tidak bisa selalu di sisi mbakyu!"
"Kamu mau ke mana?"
Sudut hati Udelia terasa kosong kala memikirkan Fusena akan pergi jauh darinya.
__ADS_1
Dia sudah terbiasa dengan kehadiran dan perhatian pria itu.
Hatinya teremas kala membayangkan hidupnya tanpa Fusena.
Tanpa sadar, tangan Udelia mencengkeram lengan kemaja yang dikenakan Fusena.
"Seperti yang sudah mbak tahu. Aku Petapa Agung. Aku harus bertapa untuk menstabilkan kondisi alam sekitar dan juga untuk menutup pintu dimensi yang kupaksa terbuka."
"Karena aku?"
"Sudah seharusnya mbak tinggal di sini. Bukan di tempat lain."
"Kalau aku melarangmu pergi..?"
Fusena akan merasa senang jika kondisinya tidak dalam kebimbangan.
Seperti Djahan, Fusena juga tidak mau suami- suami Udelia yang lain terlempar ke negeri ini dan membuat suasananya kacau.
Jika saja fokus mereka adalah berperang merebutkan wilayah, Fusena tidak akan ikut campur.
Mereka semuanya adalah pria -pria yang haus belaian Udelia.
Fusena tidak mau mengalah lagi.
"Sebentar saja, Mbak. Kamu baik- baiklah tanpa aku. Perihal Cafe sudah kuurus sampai satu tahun ke depan. Mbak nikmati saja keuntungan dari sana. Dan pria itu, mbak tidak perlu sungkan. Kuras saja hartanya."
Perkataan nyeleneh Fusena di akhir kalimat, mau tidak mau membuat Udelia tertawa.
Menguras harta Djahan?
Sepertinya bukan ide yang buruk.
Udelia dapat menilai perangai Djahan padanya.
Fusena benar- benar pergi dari ruang rawat inap Djahan. Dia yang awalnya ingin membawa Udelia pulang, terpaksa menunda rencananya.
Lubang dimensi yang dia buat, terus semakin membesar.
Salahnya membiarkan gempa besar terjadi kemarin. Retakannya sampai pada pintu dimensi.
Sekarang, dia butuh kekuatan ekstra untuk menutup pintu yang dirusaknya.
Udelia merasa bosan karena tidak ada hal yang dapat dilakukannya.
Di ruangan itu bertambah orang berjaga.
Dua pria bertubuh besar terus berdiri di sisi ranjang.
Mereka mencurigai Udelia. Ketika mereka memasuki ruangan Sang Tuan, perempuan itu berada dalam posisi kurang menyenangkan terhadap tuan mereka.
Udelia memahami tatapan penuh curiga dua pengawal itu.
"Saya permisi ke luar. Kalau Djahan bangun, hubungi saja nomor saya."
Udelia risih dengan tatapan tajam dua pria itu. Dia memilih keluar, mencari udara ke sekitar.
Walau aroma masakan Resto Gedhe menggodanya, Udelia tidak mau mendatangi resto itu lagi.
Trauma batinnya mendengar harga fantastis.
Udelia menduduki kursi taman yang sepi. Langit gelap menjadi penyebabnya.
Para pasien yang berjemur berbondong- bondong memasuki bangunan rumah sakit, sementara dia pergi ke luar mencari angin.
Sepasang mata tajam mengintai Udelia. Jejak di tanah menunjukkan predator mematikan.
Seorang suster melintas. Dia terpekik melihat pemandangan di depannya.
"Ibu, awaaaas!!"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]
__ADS_1