TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 013


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


013 - AKU TIDAK AKAN MENYESAL


"Terima kasih. Saya sudah makan disuapin Sena."


Lamont, adik Udelia, menaikkan alisnya. Mulutnya mengulum senyum atas pernyataan kakaknya.


Tidak habis pikir dengan kakaknya yang menceritakan sesuatu di luar topik,


"Tidak apa. Saya taruh di meja. Nanti dapat dipanaskan. Hanya tinggal mencoloknya."


Udelia semakin jengkel dengan pria asing itu. Dia tidak suka dengan perhatian darinya!


"Maaf kalau rasanya tidak seenak yang biasanya kamu makan. Ini ada daging sapi kesukaan kamu, juga nasi pulen yang diperpadukan dengan daun jeruk dan pandan, ada juga jus mangga kesukaan kamu. Aku buat manisan mangga tapi rasanya hehe.. ndak kubawa."


"Bisakah Anda diam?"


Udelia berkata dengan dingin.


Lamont menutup kedua mulutnya. Terkejut.


Pertunjukan drama di depannya sangat menarik. Kakaknya yang tidak biasanya dingin pada orang lain. Lalu ada pria yang terlihat sangat mengidolakan kakaknya.


Lamont tidak tahu pria itu mencintai kakaknya atau tidak. Tapi untuk memiliki fans, Udelia bisa saja mendapatkannya. Kebaikan hatinya yang membantu rekan- rekan satu pekerjaannya, bahkan sedari sejak sekolah dasar.


Tidak lelah mengajari temannya, tanpa memberikan contekan.


Sungguh, Lamont tidak percaya pria itu menyukai kakaknya. Terlihat jelas pria itu dari kalangan berada. Setiap saat ditemani orang penting, sementara dia sadar siapa keluarganya.


Lamont memelankan gerak tangannya. Sengaja berlama- lama mempersiapkan pakaian untuk mandi.


"Maaf."


Udelia memutar bola matanya. Terus menerus pria itu mengucapkan maaf. Dia jadi terus teringat kejadian memalukan itu.


"Saya permisi pergi. Kalau ada sesuatu jangan sungkan telepon Lili."


Udelia semakin tak suka dengan pria itu. Memanggil wanita yang lebih tua tanpa embel- embel.


Lalu pria itu melenggang pergi begitu saja.


Djahan terpaksa pergi walau ingin berlama- lama.


Dia tidak mau Udelia menjadi benci pada dirinya.


Djahan menoleh kala mendengar suara kekehan.


Petapa Agung tertawa atas penderitaannya.


"Seneng Anda mempengaruhi istri saya?"


"Aku tidak mempengaruhinya."


"Anda membuatnya lupa."


"Asal kamu tahu, Mahapatih Yang Berkuasa. Udelia dan orang- orang yang tak punya keterikatan langsung dengan dunia kita, mereka akan lupa dengan yang terjadi dan menganggap semua itu hanyalah mimpi."


"Tidak terikat? Lalu bagaimana bisa Udelia pergi sampai dua kali?"


"Kali pertama ada sebuah pasir kuno dalam bahan baku prosesor yang dipakainya. Kamu tahu tidak prosesor itu apa?"


Fusena kembali terkekeh melihat wajah merah Djahan. Pria itu mungkin sudah lancar berkata- kata, tapi tentang pengetahuannya? Masih butuh waktu bertahun- tahun untuk memahami semua yang ada di dunia modern.

__ADS_1


Manusianya lebih beragam. Apalagi dari ujung dunia ke ujung dunia, dapat bertukar pesan sampai tercampur baur budayanya.


Zaman dulu tabu untuk tinggal bersama. Dipengaruhi oleh budaya lain, maka tidak menjadi aneh, meski itu bukan budaya setempat.


Karena di zaman ini, hampir semua negara berorientasi hanya pada satu dua negara.


Hal ini, pasti sangat mengejutkan orang- orang kuno yang begitu menjunjung tinggi nilai negara dan budaya mereka.


Djahan mengepalkan tangannya. Benar. Dia belum tahu banyak hal. Dia bahkan masih dalam tahap adaptasi karena begitu besar perbedaan dunianya dan dunia asal istrinya.


Maka dari itu, ketika Udelia terlihat tidak kenal padanya. Djahan tetap kukuh untuk melamar Udelia.


Dia pikir, asalkan memiliki nama dan kuasa, orang tua tidak akan menolak lamaran yang diajukan.


Nanti dia akan melakukan pendekatan pada Udelia setelah menikah.


Ternyata di zaman ini, anak- anak boleh memilih pasangannya sendiri.


Menyerahkan sepenuhnya pada tangan anak, tanpa paksaan dari orang tuanya.


"Kamu itu kalau ada tamu jangan menekuk gitu loh. Walau ga suka, tetep senyum," tegur ayah Udelia setelah melihat Djahan diusir oleh putrinya dengan kalimat- kalimat pedas.


Udelia menyipitkan matanya curiga. "Ayah bukannya tidak suka sama orang itu? Kok mendadak ngebelain sih!?"


"Dia udah nyelametin putri ayah yang paling cantik ini. Masa harus ketus bicaranya?"


"Tim SAR juga bisa nyelametin orang. Masa iya harus bersikap kek gitu??"


"Sudah. Sudah jangan debat terus. Ga enak didenger suster," canda ibu Udelia menengahi.


Sang suster hanya tersenyum simpul.


Dengan berbagai alasan dan sambutan baik dari kedua orang tua Udelia, Djahan terus menerus menjenguk Udelia.


Walau Udelia menjawab dengan dingin saat Djahan mencari perhatian, pria itu tidak menyerah.


Pemerintah masih menetapkan status siaga karena dampak kerusakan gempa sangat besar, walau yang terdeteksi kurang dari empat skala richter.


Lempengan yang pernah bergerak di dekat kota, menjadi dasar pertimbangan mereka untuk mengawasi keamanan kota lebih lama dari biasanya.


Memang, Fusena yang menahan semua bencana di tempat- tempat Udelia berada. Saat marah kemarin, dia kelepasan.


"SENA!!" sentak Udelia karena sepupunya tak kunjung balas menyahuti.


Fusena mengerjapkan matanya. Bayangan Udelia dan Djahan terus terngiang dalam kepalanya. Dia sering kali termenung.


"Ada apa, mbak?" sahut Fusena kemudian.


"Kamu daripada nunggu bantuan turun. Gimana kalau coba buka usaha di sini? Minuman dan makananmu cocok buat banyak selera. Aku ada tabungan buat nyewa enam bulan ke depan."


"Di sini masih pelosok, mbak. Lebih baik langsung beli saja. Aku juga ada tabungan," ucap Fusena langsung menyambung.


Saat ini mereka sudah pulang dengan kondisi tanpa membawa pekerjaan. Sehari- hari hanya membantu kedua orang tua Udelia berladang.


Udelia bahkan tak boleh beranjak pergi dari rumah, kecuali ditemani.


"Bunda setuju. Tanah di jalan masuk desa, sulit ditanami. Kalian pakai saja. Sepetak cukup kan untuk membuat cafe?" usul ibu Udelia.


"Iya. Pake aja. Kalian bayarnya pake sewa ke kami," ucap ayah Udelia.


"Haduh ayah ini malu- maluin tahu!" tegur ibu Udelia.


"Bisnis is bisnis, bunda sayang."

__ADS_1


"Tetep aja ih!"


"Ga pa pa, tante. Bener kata paman, gimanapun itu tanah bukan cuma punya Mbakyu, adik- adik mbakyu ada hak di sana. Kami akan bayar sesuai kesepakatan."


"Ih, bocah ini ya! Ya sudah, nanti saja kalian bayarnya di bulan keempat. Liat dulu tiga bulan ini ada perkembangan tidak. Ga ada bantahan!"


"Baik, tante."


Udelia mengangguk setuju. Tanah itu adalah tabungan kedua orang tuanya, tentu saja bukan sepenuhnya milik Udelia.


Akhirnya cafe itu dibangun dengan gaya semi permanen. Bermodalkan kayu yang membuat suasananya masih asri seperti warung pedesaan pada umumnya, tapi juga tidak menghilangkan kesan estetik yang terkenal di kota.


Pekan pertama berlalu dengan keadaan cafe yang ramai. Memasuki pekan kedua, timbul was- was dalam diri Udelia.


Bagaimanapun, dia sudah melancong ke banyak kota dan melihat sendiri hanya di awal pembukaan cafe yang ramai lancar.


"Tenang, Mbak. Kita akan buat promo tiap pekannya. Bukan cuma diskon. Kita kasih hadiah ke pelanggan yang udah tetap. Nanti kalo memungkinkan, kita kasih wi- fi juga."


"Instalasi wi- fi di sini masih lumayan. Tunggu setengah tahun dulu aja."


"Kalau begitu, kenapa tidak sediakan buku saja? Aku lihat orang- orang yang datang ke cafe kalian senang berlama- lama sambil membaca buku," usul Djahan.


Pria itu sudah seperti penghuni tetap. Setiap hari datang ke rumah, meski hanya sekadar mengobrol satu dua jam.


Udelia yang biasanya sinis, menatap Djahan dengan mata berbinar.


Ide itu tidak salah.


"Aku ada sih buku. Tapi kebanyakannya buku IT."


"Aku ada—"


"Ga usah. Makasih," potong Udelia cepat.


Sudah cukup dia merepotkan pria itu. Udelia tidak mau ada hutang- hutang lainnya.


Bangunan cafe semi permanen hanya butuh waktu lima hari dibangun oleh orang- orang panggilan Djahan.


Udelia terpaksa menerima itu karena Djahan telah membawa orang- orangnya ke pusat pembangunan.


"Oh ya, pembangunan itu ... aku tidak bisa menerima kebaikanmu begitu saja. Katakan. Berapa bayarannya?"


"Tidak usah."


"Katakan!"


"Aku sarapan di sini sudah terhitung bayaran."


"Beras dan sayuran darimu."


"Yang mengolah kan ibu dan anak- anaknya."


Udelia menyentak napasnya. Selalu saja pria di depannya dapat berputar- putar.


Memasak memang membutuhkan waktu dan tenaga, yang sudah semestinya dihargai.


Tapi, pria itu hanya numpang sarapan. Sementara makan siang dan malam, sayur mayur dan daging -dagingan diberikan secara cuma- cuma oleh pria itu.


"Ya sudah. Jangan menyesal nanti. Aku tidak akan bertanya lagi."


"Aku tidak akan menyesal."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2