![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Mentari pagi bersinar terang. Seorang pria yang duduk di sisi ranjang megah dalam Kedaton Kambang, menyunggingkan senyumnya memperhatikan seorang gadis kecil sedang sibuk menata rambut.
Gadis kecil ini persis seperti ibunya, tidak mau dilayani orang lain ketika menyangkut tubuhnya.
"Tubuh adalah harta berharga. Tidak boleh dilihat orang lain."
Begitu alasan sepasang ibu dan anak itu, padahal keduanya belum pernah berjumpa.
Hayan memberikan senyum terbaiknya. Maharaja Bhumi Maja itu memastikan dirinya, selalu terlihat baik di mata putri kesayangannya.
Hayan senantiasa mengharapkan kesempurnaan untuk putrinya.
"Belahan jiwa ayahanda sudah bangun?" ucap lembut Hayan. Dia mengelus kepala Maya yang duduk di depan cermin.
"Ayahanda!" seru Maya berbalik memeluk erat Hayan. Aroma tubuh Hayan yang menenangkan selalu dirindukan Maya.
Maya sering kali berharap ayahnya hanyalah orang biasa, sehingga memiliki banyak waktu dengannya.
Tapi semua itu hanya harapan di masa lalu. Dia tidak boleh mengeluh dengan takdir yang diberikan padanya.
Dia adalah Tuan Putri, putri dari penguasa tertinggi Bhumi Maja.
Segala tugas dan tanggung jawab, mestilah dilakukan selayaknya hak-hak yang telah diterima.
"Maafkan ayahanda yang ceroboh. Semua yang terlibat akan diberi hukuman."
"Ayahanda, yang bersalah adalah mereka yang meninggalkanku."
Hayan menggeram dalam hati, dia sangat marah. Dirinya seperti orang bodoh yang dipermainkan orang-orang rendahan.
Penculikan Maya dan jebakan yang menimpa dirinya, Hayan pastikan akan membalasnya berkali-kali lipat.
"Akan ayahanda hukum."
Hayan memperhatikan Maya yang berdiri, telah menyelesaikan riasannya. Maya menggunakan kebaya yang dahulu dirancang istrinya.
"Pakaian sayangku bagus sekali," puji Hayan. Dia tidak tahu Maya akan merealisasikan rancangan ibunya.
"Ananda akan berangkat ke akademik," jelas Maya.
"Lopi baru saja kembali, istirahatlah dahulu dan Lopi sudah menguasai seluruh pelajaran dengan sempurna, tidak perlu pergi ke akademik."
Wajah Hayan merenggut. Dia tidak mau berpisha dengan putrinya.
Sudah cukup Hayan dengan segala kebodohannya, selalu meninggalkan putrinya seorang diri dan hanya pulang setengah tahun sekali.
Dia mencari-cari istrinya, melupakan hal berharga yang ada di depannya.
Hayan berharap dia dapat menembus semua waktu yang terbuang.
"Masih banyak hal lain yang harus dipelajari. Kalau merasa cukup, nanti hanya akan berkubang di comberan."
Hayan menangkup wajah Maya. Putrinya ini berkata-kata persis sekali dengan ibunya.
Hayan sedikit curiga Maya telah bertemu dengan istrinya. Tapi Maya tidak tahu hal sesungguhnya. Mana mungkin ada kesempatan berjumpa.
__ADS_1
"Putri ayahanda sudah besar." Hayan mencium pipi tembam Maya, lalu ia bimbing Maya keluar ke meja makan.
Segala yang dihidangkan adalah masakan kesukaan Maya. Maya tidak tanggung-tanggung menghabiskan semuanya seorang diri.
Dia harus bersiap. Pasti banyak rintangan di akademik. Termasuk pengurangan makanan.
"Ananda bertemu ibunda."
"Oh? Ibunda datang kemari?"
Hayan tak pernah melihat Idaline keluar dari kediamannya. Sang Maharani terus mengurung diri selama lebih dari sepuluh tahun.
Terakhir Hayan berkunjung ke tempat Idaline, ialah setelah Idaline dinyatakan sembuh dari lumpuh, akibat kekuatan bidadara hitam.
Yaitu ketika jiwa istrinya keluar dari raga Idaline, yang terhantam kekuatan bidadara hitam, kala istrinya menyelamatkan Joko, suami bidadari Nawang.
"Bukan Maharani, ayahanda. Ibundaku."
Maya malas sekali membicarakan wanita dingin itu. Dia sangat senang ketika tahu Maharani bukan 'ibu'nya, meski secara darah mereka sedarah.
Bagi Maya, ibunya tetap ibunya, bukan Idaline yang menjabat sebagai Maharani.
Kecuali jika ibunya kembali ke raga Maharani.
"Ibundaku?" gumam Hayan.
"Tapi beliau pergi ..." Maya menggantung kalimatnya, tak kuasa menahan air mata. Dia ingin sekali menahan ibunya.
Semua itu hanya harap. Maya tak mau egois, yang akan membuat ibunya sengsara karena permintaannya.
Hayan memeluk Maya dan mengusap punggungnya. Tak kuasa ia melihat putrinya menangis.
Jika saja bisa, Hayan sudah sejak dahulu menghukum Maharani.
Istri resmi dalam dokumen pencatatannya itu, selalu berkata kasar saat Maya berkunjung.
Sayangnya dia tidak mau menyakiti tubuh Idaline.
Dia takut istrinya tidak dapat kembali, bila ada sedikit saja goresan di tubuh Idaline.
"... sepertinya tidak kuat berada di sini, setiap hari tubuhnya semakin bertambah pucat." Maya menyelesaikan kalimatnya.
"Maharani pergi dari istana?"
"Ih ayahanda!" kesal Maya melepaskan pelukan Hayan.
Dia sudah berkata ibunya, bukan sang Maharani. Maharaja Bhumi Maja tidak mungkin tidak memahami ucapannya.
"Tidak seperti yang Anda pikirkan. Beliau istri ayah," terang Maya
Hayan menaikkan alisnya. Bingung dengan sang anak. Kalau menyebut ayah, itu berarti adalah Mahapatih.
Memang Mahapatih tidak menyembunyikan statusnya yang telah menikah. Dan tidak akan ada yang berani membicarakan kehidupan pribadi, pria yang terkenal paling kuat di Bhumi Maja itu.
Secara alami, banyak anak-anak seperti Maya, tidak tahu Mahapatih telah menikah.
__ADS_1
Maka dari itu, Hayan heran. Dari mana Maya tahu Djahan telah beristri?
"Ananda sudah besar. Ananda tahu Maharani adalah Maharani, namun bukan Maharani. Ananda menyelinap ke kamar ayah dan melihat lukisan besar terpajang di dinding."
Hayan tidak tahu lukisan yang dimaksud Maya. Dia hampir tidak pernah datang ke rumah Djahan, mungkin hanya dua atau tiga kali.
Dengan alasan sepele, dia tidak mau marah melihat tempat, yang pernah ditinggali istrinya dengan pria yang sangat dicintai istrinya.
"Ibu susu dan para murid ayah menceritakan, rasa cintanya yang begitu besar terhadap ibunda. Hingga ayah tak mau melepas status suaminya dan terus setia."
Hayan tertohok mendengar ucapan Maya.
Djahan sangat setia. Sedangkan dirinya telah memiliki banyak istri, hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun.
"Orang seperti itu tidak mungkin menyimpan lukisan orang lain di ruangan dengan penghalang terbanyak."
Hayan tersenyum kecut. Segitu dekatnya mereka sampai tidak ada rahasia di antara Djahan dan istrinya.
"Namun gambarnya bukan Maharani dan nuansanya aneh, tidak pernah terlihat sebelumnya. Ananda jadi mengerti kenapa Petapa Agung menerima ibunda sebagai murid, sedangkan Maharani memiliki ilmu hitam."
Ilmu hitam sangatlah dilarang. Petapa Agung yang memiliki ilmu suci, tidak mungkin menerima murid yang 'kotor'.
Maya menyimpulkan, jiwa milik ibunya sangat 'suci', sehingga sang Petapa Agung mau menerima ibunya sebagai murid.
"Putriku bahkan tahu ilmu hitam," puji Hayan.
Maya cerdas dalam berbagai bidang. Dia hanya datang di pagi hari untuk menyerahkan tugas, yang sama sekali belum diajarkan oleh pengajar yang ditunjuk Hayan.
Maya juga dapat menjawab persoalan-persoalan kerajaan yang sulit, saat umurnya baru enam tahun.
Di tahun-tahun selanjutnya, dimulai pelajaran akademik. Maya tetap bisa menjawab semuanya, tanpa diajari para 'guru'.
Yang mengajari Maya adalah Djahan. Namun Sang Mahapatih tidak pernah mengajari sisi gelap dunia, beralasan Maya masih kecil.
Semestinya Maya belum mengenal perihal ilmu hitam. Namun memang Maya senang membaca banyak buku, sambil mengemil banyak makanan manis.
"Dia tahu dari buku?" batin Hayan.
"Saat diculik, ibunda muncul di goa lalu beliau mengajari semua hal. Memberi tahu bahwa ananda diberkati bidadari, menyembuhkan racun di tubuh ananda."
Hayan diam masih mendengarkan curahan putrinya. Dalam hati ia mengelak. Tidak mungkin ada racun yang lolos dari pandangannya.
"Menurut ibunda, sudah berlangsung sangat lama. Harusnya bisa langsung membunuh dalam sekejap. Karena berkat bidadari, ananda dapat tertolong."
"Berkat bidadari? Dari mana informasi ini?" Lagi Hayan bertanya-tanya dalam hati.
"Dampaknya adalah ananda tidak dapat mengeluarkan kekuatan, sebanyak apa pun usaha yang dilakukan."
"Siapa yang berani?!" berang Hayan.
Jika saja benar ada orang yang berani meracuni putrinya. Mati terlalu baik untuk si pelaku!
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1