TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
TETAP RINDU YANG MENANG 2


__ADS_3

"Jangan dekat-dekat, Candra," desis Udelia ketika Candra hendak berjalan ke arahnya.


"Nona Triya Wistara baru kehilangan bayinya. Untuk menjaga kemurnian asi dan sebagai syarat agar dia terbebas dari suami rakyat jelatanya, aku menikahi dia setelah menemukan Raka yang terbaring lemah di markas para penyerang."


"Candra, kamu ingin merusak ingatanku lagi?"


Candra menutup mulutnya rapat-rapat. Ternyata ingatan sang istri telah bangkit. Pantas saja dia merasakan aura yang berbeda. Tatapan matanya pun setajam pedang.


"Apa sebegitu menyenangkan melihat kebodohanku?"


"Tidak, kakak. Aku hanya ingin bersama kakak, kalau kakak ingat–"


"Hah? Bersamaku!?" potong Udelia. Dia menatap sinis pintu yang telah dibanting Triya.


"Kunikahi nona Wistara karena air susunya."


"Karena itu saja?"


Ekspresi tak percaya terlukis jelas di wajah Udelia. Wajah dan raga Triya tidak buruk. Apalagi Candra begitu intens saat Raka menyusu.


Candra memperhatikan Raka atau memperhatikan benda yang sedang Raka diisap Raka?


Sangat jarang ada kucing enggan memakan ikan yang tersedia di depannya.


"Kamu tidak tidur de.ngan.nya?" tanya Udelia menekan di akhir kalimat.


"... Semua pengantin baru melakukannya," ragu Candra berkata jujur. Dia tidak mau ada kebohongan.


"Baik. Baik. Pengantin baru. Kuucapkan selamat. Akan kuberi kalian hadiah berupa perceraian dengan kita," putus Udelia cepat.


"Kakak, aku hanya ingin bersamamu. Bertahun-tahun aku menunggu. Tidak akan kubiarkan kakak pergi begitu saja."


Candra mencekal tangan Udelia. Tangannya mengudara hendak menggapai kepala Udelia, namun sebuah tangan kekar menghentikannya.


"Hentikan, Ekadanta!"


Djahan tiba-tiba muncul di dalam ruangan dan mencengkeram tangan Candra yang mengarah ke kepala Udelia.


Anak bau kencur itu hendak membuat Udelia kembali lupa ingatan.

__ADS_1


"Candra, kamu adalah anak manis yang cerdas. Janganlah kehilangan itu hanya demi ambisi abu tak bermakna. Tata hatimu dan berikan jawaban. Aku ini orang yang kamu cari atau sekadar kebanggaan buat memuaskan hati? Jika tidak ada yang melihatku, apa kamu akan melihat ke tengah jerami kuning yang sama?"


Usai mengatakan itu, Udelia pergi dari kamar. Membiarkan Candra berpikir dengan akal sehatnya. Mencintainya, menunggunya, namun membiarkan wanita lain masuk. Sungguh tidak masuk di akal Udelia.


Sangat berbeda dengan Djahan yang benar-benar menunggunya. Udelia mencuri pandang pada Djahan yang berjalan di sisinya. Pria setia itu, apakah masih mau bersama dengannya?


Triya melonjak kala Udelia dan Djahan sudah berdiri menjulang di depannya, yang sedang menguping di depan pintu. Namun telinganya tak mendengar apa pun. Ada pembatas agar tidak ada orang mencuri dengar pembicaraan orang-orang tinggi itu.


"Di mana putraku?"


"Putra Maharaja sedang tertidur pulas."


"Heh, dia bahkan memberi tahukan hal itu padamu."


Udelia tersenyum miring. Bahkan rahasia yang paling dalam dijelaskan Candra pada Triya. Udelia semakin mempertanyakan perasaan Candra yang sesungguhnya.


Udelia berjalan lurus ke depan menuju kamar yang ada di dalam satu bangunan yang sama. Udelia duduk di samping Rama tertidur pulas. Keletihan tampak jelas di wajah Rama, putranya pasti takut dikelilingi orang-orang asing.


Udelia mengusap kepala Rama dan mengecupnya sekali, lalu meletakkan Raka di sisi sang kakak.


Djahan memperhatikan dari kejauhan. Andai bayinya dengan istrinya selamat, pasti masa-masa merawat bayi adalah masa paling berharga.


"Bagaimana Djahan? Aku telah terjamah dua pria. Kesucian yang aku elu-elukan sudah hilang. Kecantikan, kecerdasan, kekayaan, dan sikap agung tidaklah aku miliki. Hanya ada amarah dan kemalasan dalam diriku."


Udelia menatap lekat Djahan. Mencari jawaban kejujuran di dalam mata Djahan.


Ada rasa malu meminta kembali bersama Djahan. Sayangnya tetap rindu yang menang. Dia rindu bersama dengan pria yang dia cintai.


Terpisahkan oleh ego Maharaja, kemudian terpisahkan oleh dimensi. Saat kembali datang, alam masih enggan menyatukan mereka.


Ada Candra sang penyihir yang digadang-gadang akan menjadi Penyihir Agung, datang memisahkan Udelia dan Djahan. Menjauhi Udelia dari orang-orang yang dikenalnya.


Menguasai Udelia seorang diri. Tersadar tiada pilihan untuknya di hati Udelia. Hanya ada rasa sayang seorang kakak pada adiknya. Bukan rasa cinta seorang perempuan pada laki-laki.


Candra memaksakan kehendaknya, memaksakan cintanya, dan besar nampaknya memaksakan obsesi untuk memiliki Udelia seorang diri. Bahkan pada putrinya, tidak dia perbolehkan Udelia berjumpa.


Berulang kali memberikan sihir yang mengusik ingatan, tiap kali bangkit lesatan gambar ingatan dalam benak Udelia.


"Aku tidak paham. Kamu tetaplah dirimu. Seorang wanita yang mengisi hati ini," ucap Djahan lembut. Dia sudah berdiri di depan Udelia. Tak bosan memandang wajahnya.

__ADS_1


Djahan membawa Udelia ke dalam pelukan, menenggelamkan tubuh mungil itu tenggelam di tubuh besarnya, dan mengarahkan telinga wanita itu ke jantungnya yang bertalu-talu dengan cepat.


Tak menyangka Udelia memberikan kesempatan untuknya. Dia pikir Udelia akan tetap menerima wanita lain, seperti saat Udelia menerima Tuan Putri Citra Resmi, kakak Pangeran Niskala, sebagai Ratu Bhumi Maja.


Kendatipun semua berakhir dengan kematian rombongan Sunda di tangan Djahan.


Djahan tertegun kala kembali memikirkan semua itu. Ternyata benar tujuan istrinya menerima wanita lain adalah agar Maharaja memiliki wanita yang pantas dan kembali berbalik padanya.


Istrinya tidak kuasa melihat suaminya mendua.


Udelia hanya ingin menjadi satu-satunya istri.


Djahan merutuki kebodohannya di masa silam. Jika saja dia biarkan Tuan Putri Citra Resmi menjadi Ratu Bhumi Maja, mungkin saja dia tidak terpisahkan sedemikian lamanya dengan sang istri.


Djahan selalu berpikir Udelia senang berada di atas tahta. Hanya bermain-main dan dilayani banyak orang. Melakukan segala yang diinginkan tanpa rasa khawatir.


Djahan bersumpah akan terus membuat istrinya berada di wanita posisi tertinggi Bhumi Maja. Dan membuktikannya dengan membantai habis wanita yang mencoba mengguncang posisi istrinya.


Djahan salah menilai istrinya. Niat istrinya menikahi Maharaja tak lain dan tak bukan adalah untuk melindungi Widya, sahabat istrinya dari dunia lain. Bukan untuk suatu kesenangan.


"Aku bukan wanita yang baik," lirih Udelia merasa kecil. Ladangnya sudah dijamah pria-pria selain Djahan, suaminya, cintanya.


"Yang baik pun bisa jadi buruk dan yang buruk dapat menjadi baik, selama napas masih berhembus."


"Apa bisa?" ucap Udelia pesimis.


"Pasti bisa!" Djahan memberikan semangat


Udelia membenamkan wajahnya di dada Djahan, meredam suara banjir tangisnya.


Sedih karena mengkhianati Djahan. Pun sedih karena rumah tangganya dengan Candra akan berakhir.


Bagaimana pun tiga tahun bukan waktu yang singkat. Perlakuan Candra selalu membuatnya melambung. Lalu kini dia hancur berkeping-keping karena dikhianati oleh Candra.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2