![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia duduk sambil menyesap teh bersama keluarga Klenting. Klenting Kuning berhasil mendekati Udelia setelah perjuangan penuh satu pekan lamanya.
Apalagi dua hari terakhir belakangan Candra sibuk membuka toko baru di ibu kota.
Meski tak pernah menginap, pria itu hanya bisa pulang kala malam sudah menjelang.
Tak ada yang bisa mencegah Klenting Kuning mendekat, karena Udelia sendiri yang mau mendengarkan cerita-cerita Klenting Kuning.
Mereka yang mengawasi pun tidak sempat melaporkan. Mereka tidak berani mendekat ke ruang kepala keluarga, kecuali dipanggil. Aplaagi mereka hanya diperintah untuk mengawasi kedua wanita itu agar tidak bepergian.
"Semua yang aku ceritakan itu ada di dimensi lain. Apa kamu mau pulang ke rumah?" tanya Klenting Kuning setelah menceritakan mudahnya berkomunikasi di dunia modern.
"Jangan coba menipuku," ucap Udelia masih ragu pada Klenting Kuning.
"Nggak, mba. Ada gua tersembunyi di bawah kediaman ini."
Udelia menimang-nimang ucapan Klenting Kuning. Gua yang diceritakan Klenting Kuning memang benar adnaya. Bahkan ciri-ciri yang disebutkan, persis seperti penjelasan sang suami, yang memintanya datang ke sana semisal ingin bertemu kala mereka tidak bersama.
Ada suatu jalur yang berhubungan dengan Candra secara langsung.
Anak-anak keluarga Ekadanta diperbolehkan masuk ke gudang itu sampai batas tembok yang ditentukan. Ada harta keluarga Ekadanta, utamanya pusaka-pusaka para penyihir.
Perempuan dan laki-laki tidak dibedakan. Asalkan mereka tidak melebihi batas yang ditentukan.
Hanya kepala keluarga dan calon penerusnya yang boleh masuk ke titik-titik terdalam. Dan hanya kepala keluarga yang boleh mengakses ruang-ruang rahasia.
Udelia melirik Klenting Kuning yang berbinar penuh harap. Dia menimang-nimang permintaan saudari angkat suaminya.
"Baik. Kalau begitu lepas semua perhiasanmu. Kamu juga berganti pakaian dengan yang aku berikan."
"OKE!!" sahut Klenting Kuning penuh semangat. Tak masalah dia dicurigai sedemikian rupa, hingga tangannya kosong saat membawa Udelia ke sana.
Sungguh. Hanya Udelia yang dia perlukan.
"HEI APA YANG KAMU LAKUKAN!!!?" teriak Udelia sembari memejamkan matanya, ketika Klenting Kuning membuka pakaian di depannya hingga polos tanpa satu helai benang pun.
Keraguan muncul di dalam hati Udelia. Apa benar dia akan mengikuti orang gila ini!? Mana ada seorang perempuan berani bertelanjang bulat di ruang tamu!?
Namun rasa penasaran yang tinggi untuk mengetahui kebenaran dunia yang dikatakan Klenting Kuning membuat Udelia tetap mengikuti langkah si wanita yang selalu berpakaian serba kuning.
"Aku akan pergi sendiri. Kalian siapkan makan siang. Karena tuan hari ini pulang cepat," ujar Udelia pada dayang-dayang yang hendak mengikutinya.
Klenting Kuning mengulum senyumnya. Dia tahu lamanya pembangunan toko baru, tak mungkin bisa membuat sang pemimpin pulang di tengah hari.
Udelia pasti hanya menakut-nakutinya saja. Di kota sana, kepala keluarga Ekadanta itu pasti sedang mengawasi dengan ketat sebuah toko sederhana, yang memiliki isian rumit supaya tidak ada yang tahu dalamnya kecuali sedikit orang.
Dayang-dayang mengangguk patuh. Mereka mengantar sang majikan sampai ke gapura.
__ADS_1
Udelia dan Klenting Kuning berjalan kaki. Sesuai keinginan perempuan itu agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Saat memasuki gua, Udelia berjalan di belakang Klenting Kuning, sehingga wanita itu tidak bisa berbuat macam-macam.
Mereka melewati tembok merah pembatas menjadikan Udelia waspada pada Klenting Kuning.
Perempuan itu berhenti. Dia mengarahkan obor ke sisi tembok. Kemudian obor-obor yang menempel di tembok menyala.
Udelia bisa melihat sebuah altar di tengah ruangan itu. Kosong. Tidak ada hal mencurigakan. Kecuali sebatang kayu di sisi altar, yang entah untuk apa.
"Mba, torehkan darahmu ke kayu ini."
"Kenapa tidak kamu saja?"
"Aku bukan istri Ekadanta. Aku mana bisa. Hanya mereka kepala keluarga Ekadanta yang bisa membuka altar ini. Dan pria itu mempercayakan inti kekuatannya padamu."
"Jadi, kamu ingin memanfaatkanku?"
"Tidak, mba. Kita pulang bersama. Ya? Aku rindu keluargaku. Apa mba ga rindu?"
Udelia menyelam ke mata Klenting Kuning. Hanya ada kejujuran di sana. Mata perempuan itu basah, berpikir rencananya pulang hanya tinggal kenangan.
Jika kali ini gagal, dia tahu dia tidak akan memiliki kesempatan lain. Maka dia bersimpuh dan bersujud di kaki Udelia.
"Aku akan memberikan apa pun yang mba mau asalkan mba membuatku pulang."
Udelia merasa risih ketika Klenting Kuning menyentuh kakinya. Dia tidak suka disembah-sembah seperti itu, namun cengkeram Klenting Kuning sangat kuat.
"Satu kali. Kupercayakan satu kali kesempatan untukmu."
"Baik, mba. Baik. Teirma kasih." Berulang kali Klenting Kuning mengecup tangan Udelia.
Lalu dia mundur membiarkan Udelia mendekat ke sisi kayu.
Klenting Kuning terkesiap kala Udelia membelah tangannya. Dia tahu. Dia tahu Udelia perlu mengiris tangannya agar darah keluar, tapi tetap saja dia tidak kuasa melihat orang melukai tubuhnya sendiri.
Dan tidak ada keraguan di wajah Udelia.
Kemudian Udelia meneteskan darah ke sisi kayu yang berlubang dan sebuah angin kencang muncul dari tengah altar.
Hampir saja mereka terbang bila sama sekali tidak memiliki kekuatan tak kasat mata.
Seringai Klenting Kuning terlihat lebar. Dia menggenggam tangan Udelia dan mengajaknya masuk.
Udelia sedikit ragu karena pusara itu terlihat tak berdasar.
"Ya udah mba. Ini aku masuk duluan buat buktiin omonganku ngga palsu. Nanti waktunya habis!" seru Klenting Kuning terburu-buru masuk.
__ADS_1
Samar-samar Udelia melihat pemandangan di sana persis seperti ucapan Klenting Kuning. Dia juga melihat ada orang yang berdiri mematung di sebuah patung yang ada di tepi jurang.
Sepertinya posisi lubang itu berada di gunung. Karena Udelia bisa melihat indahnya kota secara keseluruhan.
Banyak gedung tinggi. Juga ada burung besi yang terbang terlihat dari pandangan Udelia.
Kakinya sontak berjalan mendekat ke pusara itu.
Akan tetapi sebuah tangan menahannya, sang suami datang dengan muka pucat pasi. Ruam marah nampak juga di wajahnya.
Baru kali ini Udelia melihat Candra berekspresi marah pada dirinya. Apalagi kemudian pria itu berteriak padanya.
"SUDAH KUBILANG JANGAN DEKAT-DEKAT KLENTING KUNING!! APA KAMU TULI, UDELIA!? APA KAMU BODOH? TIDAK BISA MENCERNA PERKATAANKU?!"
Tanpa aba-aba, pria itu merusak kayu di sisi altar dan seketika pusara tak berdasar hilang di udara.
Lantas Candra jatuh tak sadarkan diri.
Udelia yang masih belum bisa mencerna semuanya, hanya bisa diam dalam kebingungan. Sentakan Candra juga masuk ke dalam sanubarinya. Hatinya terluka.
Tidak ada orang yang berani masuk ke sana. Hanya berdua Udelia bersama Candra yang tak sadarkan diri.
Tiba-tiba Udelia merasakan perutnya melilit. Dia jatuh tak sadarkan diri di sisi sang suami.
Aroma wangi obat membangunkan Udelia. Candra adalah yang kali pertama dia lihat. Kemarahan di wajah suaminya tak ada lagi, bagai mimpi, sekarang sang suami justru tersenyum hangat dan menggenggam tangannya dengan lembut.
"Terima kasih, sayang... Terima kasih."
"Maaf aku bersama Klenting Kuning," lirih Udelia. Dia tidak mau suaminya marah padanya.
"Dia yang salah, sayang. Kamu hanya terpengaruh olehnya. Tak apa. Maafkan aku berkata kasar karena berpikir kamu sudah jatuh ke dalam jebakannya."
"Maaf."
"Ssst. Aku yang minta maaf. Maaf ya? Aku janji itu yang pertama dan terakhir aku berteriak. Dosa besar itu tidak akan kulakukan lagi."
Udelia menggigit bibirnya. Dia tidak bisa menutupi lukanya akibat bentakan sang suami, tapi dia juga turut andil dalam kemarahan suaminya sebab tidak menuruti perintah sang suami.
Candra mengusap air mata Udelia. Dia menyesali tidak mampu mengendalikan diri hanya karena takut kehilangan Udelia. Berulang kali dia kecup punggung tangan Udelia dan meminta maaf.
Sungguh dia takut Udelia tidak akan memaafkan dirinya.
"Aku memaafkan Candra. Jangan begitu lagi, ya? Takut."
"Iya, sayang. Janji. Aku juga takut sayangku ini ikut-ikut orang tak dikenal. Tolong jangan ikuti siapa pun selain suamimu ini ya? Kumohon.."
Udelia mengangguk. "Baiklah."
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]