TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
OBSESI DAN CINTA 1


__ADS_3

"Utih, pergilah ke keraton."


Udelia mengusap wajahnya. Dia meringis kala jarinya menyentuh sudut pipinya yang terluka.


"Oh? Suasana jiwamu sangat berantakan."


Utih terheran dengan keadaan Udelia. Hal terakhir yang dia tahu adalah Udelia dibawa ke tempat Boco. Kakek tua misterius Ekadanta yang dapat menyembuhkan sakit serius yang diderita Udelia.


Tidak seharusnya majikannya masih kesakitan.


Apalagi kesakitan dalam batin. Majikannya tidak selemah itu. Utih penasaran kenapa jiwa Udelia sangat terguncang.


Sakit dan mati adalah hantu yang tidak akan pernah lepas dari dalam kehidupan para bangsawan. Tidak mungkin jiwa majikannya terguncang hanya karena hampir mati oleh keadaan.


Udelia diam tidak menggubris ucapan Utih. Dia mengarahkan mulut bayinya yang kelaparan ke sumber makannya. Sedianya jiwannya betul sangat berantakan.


Semua tak lain dan tak bukan karena Maharaja yang menyebalkan. Bisa jadi Candra menjadi kasar padanya karena sudah diguna-guna oleh Maharaja.


Tiga tahun menjadi gadis manja pada suaminya, tak pernah suaminya marah padanya.


Udelia akan membalas Maharaja jika curiganya terbukti.


"Pergilah ke keraton. Katakan pada Maharaja, Anda tidak perlu bertanggung jawab padaku. Cukup bersumpah menjaga Rama dengan baik dalam ketenangan keraton."


Utih mendengarkan ucapan Udelia sambil menjalankan perintahnya. Dia sudah berada di dekat keraton. Jalannya sangat cepat.


"Tapi ketenangan keraton justru akan terusik jika ada putra raja yang baru, yang datang tiba-tiba tanpa ada kejelasan. Tidak perlu merepotkan diri dan lupakan saja. Kami akan pergi jauh dan tidak mengganggu."


Utih tercekat. Pergi jauh yang dimaksudkan majikannya pasti pergi ke dunianya sendiri. Ada rasa kehilangan jika majikannya pergi ke dunianya.


Utih tidak dapat pergi ke dunia lain, dunia asal majikannya, kecuali jika dia mempelajari hal-hal rumit bertaruhkan nyawa.


Hewan-hewan mitos adalah makhluk yang mudah keluar masuk dimensi. Sayangnya Utih hanyalah hewan langka, bukan hewan mitos yang memiliki kekuatan maha dahsyat seperti kuda sembrani, burung garuda, dan ular naga jawa.


"Satu penerus sudah cukup bagi Anda, maka biarkan yang lain hidup tenang jauh dari ibu kota. Tuan putri akan tetap di jalannya." Udelia menyelesaikan kalimatnya.


Utih berhenti di atas pohon. Mata kuningnya menatap keraton yang ramai.


"Kalau dia tidak mau?" tanya Utih.

__ADS_1


Dia dapat melihat sendiri obsesi dan cinta di mata Maharaja Bhumi Maja. Tidak mungkin pria itu akan melepaskan majikannya, jika yang diinginkan sang Maharaja adalah kembalinya sang Maharani.


"Biarkan saja asal tidak mengganggu keluargaku," jawab Udelia.


"Apa kamu yakin?"


"Tentu," jawab Udelia mengusap pipi tembam Raka.


Utih tidak menyahut. Ada bongkahan kecewa pada majikannya. Sebab majikannya melepas anaknya begitu saja. Mungkin harta dan cinta ayah akan didapatkan Rama, tapi cinta ibu tidak kalah pentingnya.


Kalimat yang diucapkan Udelia selanjutnya menghancurkan bongkahan kecewa di dada. Majikannya tidak sekejam itu.


"Setelah itu carilah waktu dia sibuk dengan urusannya. Kamu bisa berkeliling dengan bebas kan?"


"Ya!" Utih tersenyum lebar. Harimau putih itu memahami maksud kalimat majikannya.


Utih bebas berkeliling, mencari anak majikannya, dan membawanya pergi.


"Aku menyayangkan Udelia lupa ingatan, tapi itu bisa jadi yang terbaik."


Utih meletakkan kertas yang berisi tulisan sang majikan ke atas meja kerja Hayan. Dia dapat membayangkan betapa gusarnya Maharaja Bhumi Maja saat menemukan secarik kertas dengan sepenggal kata.


Tempat itu adalah tempat paling aman dan nyaman. Utih juga sempat melihat dayang-dayang membawa mainan baru menuju Keraton Capuri. Instingnya pasti tak salah.


Pengawal-pengawal Keraton Capuri mengenal sosoknya sebagai harimau putih milik Maharani. Mereka membiarkannya masuk tanpa pemeriksaan, dia bukan manusia dan tidak ada peringatan dari lapisan tebal yang melindungi halaman Keraton Capuri.


Utih menyunggingkan senyumnya. Rama sedang anteng bermain di aula Keraton Capuri. Para dayang dan pelayan berjaga di luar ruangan. Rama tidak suka keberadaan orang asing.


"Ayo pulang," ucap Utih sudah merubah tubuhnya.


Rama waspada pada Utih yang mengulurkan tangannya. Rama beringsut mundur. Menggeleng dengan keras, ayahandanya berjanji akan membawa ibundanya ke tempat yang banyak mainannya ini.


Rama sudah duduk patuh. Makan, bermain, dan tidur dengan patuh. Tidak menangis asalkan tidak terlalu lama didekati orang asing. Tak lama pasti ayahandanya membawa ibundanya kemudian mereka bermain bersama!


Utih berdecak. Bisa lama membujuk anak yang enggan diajak pergi. Dia meraup tubuh Rama. Menggendongnya dan membawanya pergi dari Keraton Capuri.


"Huaa ibunda!!!" teriak Rama di gendongan Utih kala Utih meloncat tinggi, seperti yang dilakukana yahandanya sewaktu membawanya.


Rama tidak takut, Rama tidak suka pemaksaan!

__ADS_1


Utih terpaksa memakai mode manusia lebih lama, karena Rama terus memberontak. Dia mengikat Rama menggunakan kain berlapis di tubuhnya, lalu berlari dan meloncat dengan cepat.


"Kamu jangan menghubungi terus. Kondisimu tidak baik. Nanti saja acara temu kangennya. Anakmu aman bersamaku," tegur Utih ketika merasakan Udelia sudah masuk ke dalam kepalanya.


"Bukan begitu.."


Udelia menyelipkan rambutnya yang terkena terpaan angin malam. Dia dan sang suami sedang mengudara di atas langit. Pergi bersama lembuswana menjauhi bukit Napa. Terbang jauh dari ibu kota.


"Aku tidak paham. Tidak hanya meninggalkan Rama di keraton, tapi juga menjauh dari ibu kota. Udelia, aku akan mengantarmu lalu kembali pulang," kata Candra pada Udelia yang duduk di depannya.


Udelia memegang mulutnya. Rasa mual menyerang perutnya. Segenggam darah dia muntahkan dari perutnya.


Udelia diam menahan tubuhnya, agar tidak bergerak dan mengeluarkan suara batuk. Dia mengeluarkan darah tanpa suara.


Rahang Candra mengeras melihat Udelia diam tidak meresponnya. Candra mengeratkan pelukan pada Raka dalam gendongannya.


"Raka akan ikut bersamaku," gertak Candra. Berharap Udelia mengurungkan niatnya. Atau setidak-tidaknya mereka pergi bersama semua anaknya.


Uhuk. Uhuk.


Udelia menelan darah yang baru sampai di kerongkongannya. Gumpalan yang hendak keluar terasa sangat banyak. Dia sudah tak lagi kuat menahan angin dingin di atas langit.


"Candra, bisakah turun di sana?" tunjuk Udelia asal.


Candra mengalihkan pandangannya kala melihat darah di tangan Udelia. Candra menuturkan hatinya untuk menahan diri. Seperti kata kakeknya, jiwa istrinya sedang terguncang. Tidak mungkin istrinya meninggalkan putra mereka.


"Panca, turun," perintah Candra pada hewan kontraknya.


Panca bergegas turun. Udelia dibantu sang suami turun dari punggung tinggi lembuswana. Udelia merasa lega, suaminya sudah kembali perhatian padanya.


Namun senyum itu kembali pudar, saat sang suami berjalan tanpa peduli padanya. Sekadar menengok pun tidak.


"Apa kamu bisa melihat keberadaanku?" tanya Udelia setelah menguasai dirinya.


"Ya jika kamu terus menghubungi. Tapi kondisimu..."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2