![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Jiwaku terasa sangat panas. Kamu kan yang menghuni tubuh ini sebelumnya?"
Sepasang manusia yang amat berbeda saling memandang. Berkaca satu sama lain. Saling menelisik yang ada di depannya.
Udelia terpaku melihat tubuh yang dihuninya dapat bergerak dan berbicara. Tak pernah dia pikirkan Maharani yang dimaksud adalah Maharani yang sama dengan raga yang ditempatinya.
Udelia kira tubuh itu telah hancur, mengingat sakitnya sungguh mendera. Udelia pernah mengalami kematian dalam raga Idaline, tapi tak sampai kembali ke dunia modern.
Barulah saat melahirkan dalam kondisi mengenaskan, sepupunya yang juga Petapa Agung, Fusena, memaksa jiwa Udelia untuk kembali berpindah ke tubuh asli.
Selama waktu yang ada Udelia selalu mengundur waktu kepulangan dari raga Idaline karena ingin bersama dengan Djahan, lalu karena kehamilannya, dan berakhir pemaksaan oleh Fusena untuk pulang karena kondisinya sangat gawat.
Fusena tidak dapat membangkitkan Udelia bila jiwanya hancur oleh kekuatan bidadara. Fusena memaksa Udelia pergi tanpa dapat melihat bayinya.
Semua demi kebaikan dirinya.
Melihat langsung raga Idaline dengan raganya sendiri, Udelia merasa dunianya terlalu jauh. Wanita di depannya adalah benar wanita bangsawan. Dia hanyalah rakyat jelata dengan segala permasalan kecantikan yang tiada habisnya.
Idaline adalah penggambaran wanita timur yang amat sempurna dengan kesempurnaannya sendiri.
Udelia mengagumi rupa Idaline. Namun dia teringat akan satu hal yang amat menyakitkan.
"Kamu yang memberikan Maya racun?" tuduh Udelia. Dia teringat Maharani mengurus dapur kedaton putrinya. Dan putrinya terkena ratusan jenis racun.
"Oh, kamu tau?" kata Idaline ringan.
"Sebenarnya Maya lah yang tahu. Dia terus menyebutkan kamu memberinya makan dan ia memakan hidanganmu dengan hati yang senang. Wajahnya sangat bersinar ketika bercerita. Ia sangat mencintaimu. Ia selalu berharap dapat memeluk dirimu."
Udelia berbicara sambil mendongak, menatap wajah Idaline yang lebih tinggi darinya. Rupa Idaline memang rupawan, tubuhnya sangat ideal. Berbanding terbalik dengan wajahnya yang biasa-biasa saja dan tubuh yang banyak cela.
Sekilas Idaline tertegun. Tak lama kemudian wajahnya kembali datar. Maya memang pernah terus menganggunya, minta diperhatikan.
Idaline merasa sangat risih. Namun kemudian merasakan kehilangan saat tiba-tiba Maya mulai menjauh usai kembali dari kediaman Mada. Yang dia tahu adalah Djahan Mada sudah mempengaruhi Maya.
Entah dia harus berterima kasih atau marah pada Djahan Mada. Sampai sekarang antara perasaan bahagia dan perasan sedih dijauhi Maya, terus saja bergulat di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku tidak melakukannya, kecuali untuk mengundangmu kemari. Kamu datang pasti merasakan anakmu hampir mati kan?" sarkas Idaline menyentuh bahu Udelia yang terbuka.
"Aw. Panas!" keluh Udelia merasakan panas menyengat pada bagian bahunya. Bertambah panas saat ia memegang lengan Idaline, bermaksud hendak menghempaskan tangan Idaline yang bertengger di tubuhnya.
Sambil menahan panas, Udelia berusaha melepaskan tangan Idaline dari bahunya. Sayangnya pergulatan bersama Djahan sudah memaksa Udelia berpura-pura kuat sepanjang malam. Energinya sedang berada di titik terendah.
Udelia kesusahan melepas tangan Idaline yang terus menekan bahunya.
"Haha. Akhirnya setelah bertahun-tahun. Hei, terima kasih sudah menjaga tubuhku, pergunakanlah dengan baik dan aku tidak akan kembali lagi!" kelakar Idaline sambil tertawa lebar.
Udelia menutup matanya, silau akan cahaya yang keluar dari tubuh Idaline. Ketika membuka mata, ia melihat tubuhnya sendiri tergeletak di lantai.
Menggerakkan mata ke samping, ia lihat Cempaka membawa pisau di tangannya. Wanita itu tampak gila, berjalan sambil bergumam dan sesekali tertawa.
"Biar saya yang menyelesaikannya," ucap Cempaka yang tertangkap oleh telinga Idaline, yang kini telah dirasuki Udelia.
Tubuh Idaline sangat berat dan panas. Susah payah dia menyusul Cempaka yang hendak menusukkan pisau ke raganya, raga Udelia.
Ia menggerakkan jari-jemarinya dengan cepat, lalu menghantam Cempaka menjauhi tubuh Udelia.
Cempaka tidak sadarkan diri. Kepalanya terhantam cermin. Tubuhnya terkatuk sisi meja yang tajam.
Udelia membuka mulut lebar-lebar, bermaksud memanggil bantuan. Mulutnya tak kunjung mengeluarkan suara. Ia tinggalkan Cempaka yang tergolek lemah.
Udelia berjongkok di hadapan tubuhnya sendiri. Menggeledah pakaiannya, mencari-cari benda paling berharga miliknya. Ada rasa menggelitik karena dia menjelajahi tubuhnya sendiri.
Udelia mengeluarkan gantungan yang selalu terselip di pakaiannya. Meletakkan gantungan itu di tangan kiri tubuhnya dan menempelkan tangan kanan ke kalung yang menggantung di leher tubuhnya.
Bukan bermaksud kabur dari tanggung jawab. Tubuh Idaline benar-benar panas dan berat untuknya. Udelia tidak tahan. Dia ingin bersegera pergi untuk dapat kembali ke tubuhnya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan di sini, penyihir!?" murka Hayan melihat dua wanitanya tidak sadarkan diri di sisi Idaline. Wanita gila itu pasti membuat keduanya jatuh tak berdaya.
"Hayan!" seru lega Udelia berbalik ke arah Hayan. Ekor panjang sinjang di tubuh Idaline terinjak. Ia memejamkan mata kala wajahnya mencium tanah.
Hayan menghindar ketika Idaline akan jatuh ke arahnya. Dia menatap datar punggung terbuka Idaline.
__ADS_1
Maharani Bhumi Maja itu selalu saja berpakaian menantang, berbeda dengan Udelia saat merasuki raga Idaline.
"Maharani telah membuat kekacauan. Pengawal, tangkap dan kurung Maharani!"
Udelia gerakkan tangannya yang dikunci para prajurit. Suaranya tidak dapat keluar. Dia tidak mau berada di tempat kumuh saat raga yang ditempatinya sangat tidak nyaman dan rasanya dia hampir mati karena tak tahan dengan panas tubuh Idaline.
"Bawa ke wlaka. Aku yang akan berbicara dengannya!"
Mata Hayan membara menatap Idaline lalu membawa tubuh Udelia ke atas kasur. Dayang yang mengekor di belakang Hayan, menggotong Cempaka keluar ke ruangan lain.
Darah menggenang di lantai.
"Hayan!" panggil Udelia tanpa suara. Ia terus memberontak hingga tak sadar sudah sampai di ruang wlaka.
Udelia mendelik tajam.
Berani-beraninya para prajurit ini memegang tubuhnya!
"Bersihkan ruang wlaka. Yang Mulia Maharaja sendiri yang akan menginterogasinnya."
"Tahanan bagaimana?"
"Bawa dulu ke sel dan jaga dengan ketat."
Kali ini Udelia patuh untuk digiring ke dalam sel. Setidaknya berada dalam satu sel sendirian, dia akan mendapatkan suasana yang tenang. Udelia dapat duduk dan bertapa.
Lubang hitam di jantung terasa akan meledak, Udelia memejamkan mata dan mulai bertapa. Menetralisir sakit di jantungnya agar tidak membuat tubuh Idaline hancur berkeping-keping dan dia akan ikut hancur berkeping-keping.
Sedikit lagi Udelia dapat menguasai tubuh Idaline, sebuah tangan menariknya dengan paksa. Membatalkan tapaan yang susah payah dia bangun. Menimbulkan sakit yang mendera di sekujur tubuh.
Lebih sakit daripada panasnya raga Idaline saat Udelia kali pertama merasukinya secara sadar.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]