TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
OBSESI DAN CINTA 2


__ADS_3

"Aku tidak paham. Tidak hanya meninggalkan Rama di keraton, tapi juga menjauh dari ibu kota. Udelia, aku akan mengantarmu lalu kembali pulang," kata Candra pada Udelia yang duduk di depannya.


Udelia memegang mulutnya. Rasa mual menyerang perutnya. Segenggam darah dia muntahkan dari perutnya.


Udelia diam menahan tubuhnya, agar tidak bergerak dan mengeluarkan suara batuk. Dia mengeluarkan darah tanpa suara.


Rahang Candra mengeras melihat Udelia diam tidak meresponnya. Candra mengeratkan pelukan pada Raka dalam gendongannya.


"Raka akan ikut bersamaku," gertak Candra. Berharap Udelia mengurungkan niatnya. Atau setidak-tidaknya mereka pergi bersama semua anaknya.


Uhuk. Uhuk.


Udelia menelan darah yang baru sampai di kerongkongannya. Gumpalan yang hendak keluar terasa sangat banyak. Dia sudah tak lagi kuat menahan angin dingin di atas langit.


"Candra, bisakah turun di sana?" tunjuk Udelia asal.


Candra mengalihkan pandangannya kala melihat darah di tangan Udelia. Candra menuturkan hatinya untuk menahan diri. Seperti kata kakeknya, jiwa istrinya sedang terguncang. Tidak mungkin istrinya meninggalkan putra mereka.


"Panca, turun," perintah Candra pada hewan kontraknya.


Panca bergegas turun. Udelia dibantu sang suami turun dari punggung tinggi lembuswana. Udelia merasa lega, suaminya sudah kembali perhatian padanya.


Namun senyum itu kembali pudar, saat sang suami berjalan tanpa peduli padanya. Sekadar menengok pun tidak.


"Apa kamu bisa melihat keberadaanku?" tanya Udelia setelah menguasai dirinya.


"Ya jika kamu terus menghubungi. Tapi kondisimu..."


"Aku akan terus menghubungi," putus Udelia cepat. Dia tidak mau mendengar ceramah hewan kontraknya.


Candra terus berjalan tak peduli Udelia yang tertatih-tatih. Mereka turun di hutan nan lebat. Suasana dingin malam sungguh tak baik bagi bayi mereka.


Candra membalutkan berlapis-lapis kain ke tubuh Raka. Angin malam tidak baik bagi tubuh kecil bayinya.


Pagi tadi Udelia minta pergi dari bukit Napa. Ingin mencari tempat tinggal yang aman. Candra pun berpikir demikian. Mereka sudah sampai pada satu tempat yang dirasa aman. Tidak terlalu dekat dengan ibu kota.


Namun Udelia terus saja meminta berjalan ke barat sampai malam datang. Terus berjalan seolah hendak menggapai bulan. Saat istrinya menunjuk, mereka turun di sebuah hutan lebat.


Mata Candra mengawasi sekitar. Waspada berada di tempat yang baru. Dia berada di wilayah bekas Kerajaan Sunda Galuh. Di barat pulau tempatnya tinggal.


Kerajaan Sunda Galuh menyerahkan kekuasaan secara damai. Tidak ada perang antar Bhumi Maja dan Kerajaan Galuh yang telah mengambil kembali Kerajaan Sunda dari tangan saudaranya.


Bhumi Maja dan Kerajaan Sunda Galuh bersatu, kala Sri Sudewi Tuan Putri Sunda Galuh mengajukan proposal pernikahan.


Sri Sudewi minta dijadikan Ratu Bhumi Maja, mengurus para istri pejabat, serta minta dijadikan pemimpin wilayah Sunda Nagara bersama Sri Sudewa, kakak kandungnya yang mengalami kelumpuhan.


Candra mempercepat jalannya melihat cahaya obor mendekat. Udelia semakin jauh di belakang.

__ADS_1


"Di mana penginapan?" tanya Candra pada pemilik obor.


"Tuan, jika butuh penginapan, gubuk kecil kami memiliki kamar kosong," tawar seorang pria yang berjalan seorang diri.


Candra menyipitkan matanya. Curiga.


"Di sini tidak ada rumah lain. Untuk ke wanua sebelah harus menyeberangi sungai besar. Di malam hari, arusnya deras. Kadang jembatan diangkat agar tidak terseret air," jelas si pria.


Candra melirik arah Utara. Benar di sana ada suara sungai. Pendengarannya amat tajam, suara dari jarak ribuan hasta dapat ditangkap telinganya.


"Siapa namamu?"


"Saya Udin."


"Udin, wanita ini akan menginap."


Candra berbalik ke belakang, bersamaan dengan itu Udelia hampir jatuh terjerembab. Sontak Candra menangkap raga Udelia sebelum terjatuh ke tanah.


"Apa yang terjadi? Bukannya kamu memaksa datang ke sini? Kenapa jadi tak bersemangat? Atau kamu mau tidur beralaskan tanah?" sarkas Candra.


"Haaa hah hah." Udelia menyentak napas, memaksa matanya tetap terbuka.


"Tuan, nyonya mari.." sela Udin. Dia tidak tega melihat keadaan si nyonya. Sebagai orang awam pun dia tahu, wanita itu sedang sakit keras.


"Candra.. haa.... kita di mana?" Udelia berusaha mengendalikan tubuhnya yang makin lemas. Sesekali gelap menyergap netranya.


Candra memejamkan matanya dan menarik napas, mencoba menenangkan diri. Darah mengucur dari hidung Udelia.


Istrinya tidak baik-baik saja.


"Kita kembali," ajak Candra.


"Udelia, putuskan saja dulu," pinta Utih.


"Tidak!" tolak Udelia pada keduanya.


Udelia melepas pegangan Candra. Mengusap hidungnya. Dia berjalan mengikuti pria yang menawarkan tempat menginap.


Pria itu pasti tidak enak mendengar perdebatan mereka dan memutuskan untuk jalan duluan. Mereka menyisir jalanan yang dipenuhi rumput ilalang setinggi dada Udelia.


Tak berselang lama, tampak satu-satunya rumah mereka jumpai setelah keluar dari rimbunnya hutan. Rumah itu membelakangi sungai besar yang mengelilingi gunung.


Uhuk.. uhuk..


"Teh hangat dapat menyembuhkan segala penyakit. Silakan nyonya, tuan."


Udin meletakkan teh hangat untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Ini di mana?" tanya Udelia langsung pada Udin. Tidak dia hiraukan suaminya yang menatap sinis. Pasti suaminya itu sedang memarahinya di dalam hati. Minta turun tapi tidak tahu nama tempatnya.


"Gunung Padang, nyonya," jawab Udin. "Saya permisi," pamitnya kemudian. Dia harus menyiapkan kamar untuk dua tamunya.


"Aku berada di Gunung Padang," kata Udelia menjelaskan posisinya.


"Perjalanan masih jauh. Putuskan saja dulu. Nanti hubungi lagi."


"Bagaimana Rama?"


"Tenang saja."


Utih melirik Rama yang terus memukul-mukul dadanya. Anak kecil itu dia gendong di depan tubuh.


"Nak, aku ini hewan kontrak ibundamu."


"Nda?"


"Iya. Ingat kan aku yang membawa ke goa? Goa itu hmm tempat gelap. Untuk bertemu ayahandamu. Kalau menurut dan mau menunggang di punggung, kita bisa bertemu ibundamu dengan cepat."


"Cepat?"


"Iya. Kalau tak lari akan kubiarkan."


Rama mengangguk yakin. Dia ingin cepat-cepat bertemu ibundanya. Sehari lewat tanpa ibundanya, Rama tidak kuat. Dia juga rindu pada ayahandanya dan adindanya.


Dia belum pernah main dengan adindanya. Hanya boleh cium dan usap. Dia mau main ikan dengan adindanya. Dia juga mau menggambar dengan adindanya.


Utih pelan-pelan melepaskan Rama. Dia berubah sambil membuka matanya lebar-lebar, memantau anak majikannya agar tidak berjalan menjauh.


Rama menaiki punggung harimau putih dengan patuh.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


Hai hai. Season 2 kali ini akan selesai pada bab MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT 2, dan lalu akan dilanjut dengan season 3, baca terus ya. stay tune!


Terima kasih sudah membaca sampai bab ini, like dan komen kalian membangkitkan semangat author jadi author tidak merasa sendirian mengarungi dunia Udelia yang penuh dengan cowok- cowok tampan wk wk


Lanjut terus ya. Baca sampai tamat.


Akan ada adegan adegan yang kalian ga duga!


Happy Reading!

__ADS_1


__ADS_2