![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Gerakan Udelia sangat hati- hati ketika menurunkan kepala Maya yang tertidur di lengannya. Ia selimuti tubuh itu dengan se limut yang hangat lalu beranjak pergi.
Udelia me ngayunkan kakinya bertemu Djahan yang mempersiapkan kepergiannya dalam menghadap Hayan untuk menunaikan tugas guna mendapat yang diinginkannya.
Meng habiskan malam bersama ialah tugasnya.
Malam seperti apakah yang akan berlalu?
Udelia saja masih bertanya- tanya, apakah Djahan tidak memikirkan kemungkinan terburuk?
Udelia menatap lurus Djahan yang terus melempar senyum padanya.
Sebuah senyuman langka bagi para dayang dan pelayan. Sebagian pejabat yang belakangan menemui Djahan pun terheran -heran dengan wajah ramah Sang Mahapatih.
"Kamu mau melakukannya?" tanya Djahan sembari menyampirkan kain lebar nan hangat pada bahu Udelia, lantas menata rambut hitam legam sang istri agar tidak tertarik oleh kain.
"Halangi jika ingin." Udelia memberikan tatapan teduh pada pria yang terus saja tersenyum.
Djahan mengulas senyum. "Lakukan saja."
"Aku tidak tahu harus sedih atau senang."
Udelia tak habis pikir. Djahan begitu saja membiarkannya meng habiskan malam dengan pria lain. Meski dia sendiri yakin malam yang berlalu bukanlah malam nan panas.
Djahan mendekap Udelia, menyalurkan rasa hangat di antara dinginnya malam.
"Aku percaya sayangku."
Udelia tersenyum kecil. Perlahan me lepaskan pelukan hangat suami pertamanya kemudian menaiki kereta kencana menuju seorang pria yang dahulu menikahinya dalam raga Idaline.
Bila Djahan menikahinya dengan menuliskan nama aslinya langsung ke dokumen pernikahan, maka Hayan hanya menikahi Idaline tanpa membawa nama Udelia.
Udelia tidak tahu suami keduanya apakah masih disebut suaminya. Hayan terus saja mengingatkan Udelia sebagai Maharaninya.
Tapi Hayan menikahi Idaline, bukan Udelia. Berbeda dengan Djahan dan Candra yang menorehkan nama Udelia di kertas pernikahan dan dalam do'a- do'a ritual pernikahan. Mengesahkan pernikahan mereka dengan nama asli pemberian orang tuanya.
Pernikahan Udelia dengan Candra jelas telah kandas karena pria itu menghancurkan tanda pernikahan pada keningnya ketika membuatnya lupa ingatan.
Pernikahan Udelia dengan Hayan, tidak jelas statusnya. Menggantung. Udelia meyakini jika dia dan Hayan tidak ada hubungan perniakahn. Namun Hayan terus menerus menyebutnya Maharaninya dan Udelia masih berstatus istrinya.
Angin malam berhembus kencang, seiring tanah yang semakin tinggi. Tujuan mereka adalah Sela Wukir. Tempat Akademik Bhumi berada dan tempat tersimpannya berbagai senjata serta sumber mata air rahasia berada.
__ADS_1
"Selamat datang," sambut Hayan.
Udelia melangkah dengan tatapan tak percaya. Pemandangan di kaki gunung Sela Wukir membawanya ke masa depan.
Meja besar beraneka ragam makanan dikelilingi lilin -lilin kecil mengingatkan Udelia akan candle light dinner yang biasa dilakukan para selebritas.
Ide dari mana Hayan menata semua itu? Udelia bertanya -tanya.
"Aku sudah makan bareng Maya," lontar Udelia saat seorang dayang menaruh nasi dan lauk pauk ke piringnya.
Hayan sontak mengangkat tangannya membuat gerakan para dayang berhenti di udara.
"Langsung saja jangan pakai lama!" kata Udelia.
"Bereskan, ganti makanan ringan!"
Udelia memperhatikan Hayan yang menyesap teh dengan semangat. Berulang kali suara air tertelan terdengar jelas. Satu gelas tandas hanya dalam hitungan detik.
"Haus?" tanya Udelia sedikit terkekeh. Biasanya mereka menghabiskan teh pelan -pelan. Menikmati tiap tetes dan aromanya yang pekat.
"Sudah lama tidak minum teh. Beberapa tahun terakhir arak terasa nikmat."
Hayan tersenyum kecut. Setiap kali merindukan Maharaninya, dia melampiaskan diri terbang ke awan melalui minum minuman yang memabukkan.
"Minumlah. Jangan memaksakan diri."
"Kamu akan muntah menghirup aromanya."
Udelia mangut -mangut. Tidak lagi meminta Hayan meminum arak. Dia memang tidak suka aroma arak. Begitu menyengat dan membuat pusing.
Terheran -heran dia. Ada banyak orang menyukai aroma mirip sampah yang membuat mual.
"Sungguh aneh kalian suka minuman seperti itu."
Udelia menggerakkan tangannya melewati lampu minyak besar mengambil teko teh. Ia tuangkan isi dalam teko ke dalam gelas lalu menenggaknya.
"Tinggalkan kami," perintah Hayan saat semua hidangan sudah siap di atas meja.
Udelia memakan camilan. Tak lagi berkata -kata. Sebagian besar camilan itu adalah camilan favoritnya. Kiranya Hayan tak lupa dengan segala yang menjadi kesukaannya.
Hayan memperhatikan Udelia makan dengan lahap. Bersyukur ingatannya tidak luput meski tiga belas tahun tak berjumpa.
__ADS_1
Hayan hanya mencicipi hidangan di meja. Bukan tak suka. Justru kesukaan Maharaninya telah menjadi kesukaannya. Hayan tidak mau Udelia kekurangan camilan. Dia membiarkan Udelia menghabiskan seluruhnya.
"Kenapa kembali?" tanya Hayan penasaran. Udelia bukanlah seorang wanita berhati batu. Pasti ada alasan mengapa di balik kepala Udelia yang ingin pulang ke dunianya.
"Karena tempatku di sana," jawab Udelia tidak mengalihkan tatapannya pada hidangan di meja.
Lima bela hari tanpa makan dan minum, perutnya meronta ingin langsung melahap seluruh hidangan di meja.
"Bagaimana dengan anak- anak?" tanya Hayan pada akhirnya.
"Hayan, asal kamu tau. Aku belum siap memiliki anak," ujar Udelia sendu. "Aku benar- benar belum siap," tegasnya.
"Lalu kamu ingin meninggalkan mereka?"
"Aku harus kembali," ulang Udelia. Tak mau menjawab tentang dirinya yang tega meninggalkan anak- anak.
Udelia tidak meninggalkan mereka. Udelia hanya pulang untuk kembali. Memberikan sepasang liontin pada Boyo, lantas meminta pria yang akan menjadi pemegang kunci dimensi itu untuk memudahkannya keluar masuk antar dimensi.
Bisa saja Udelia meminta tolong diajarkan Dina yang juga mampu keluar masuk antar dimensi. Namun semua itu membutuhkan waktu lama dan dia tidak akan bebas bergerak.
Dina mungkin saja dapat keluar masuk dari dimensi berbeda. Tetapi pergerakannya hanya sebatas gua yang menjadi perantara pintu dimensi.
Dina tidak dapat berkeliaran dengan bebas tanpa inang yang mampu membawa jiwanya. Dina harus mengutuk seseorang yang asli dari dimensi dunia Bhumi Maja berada, barulah Dina dapat keluar dengan menghantui tubuh itu.
Hayan masih tak mengerti maksud Udelia pergi meninggalkan anak -anak begitu saja. Sangat jelas anak -anak bergantung pada Udelia. Maya yang telah beranjak dewasa saja masih terus menempel pada Udelia.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI
SEHAT SELALU SEMUANYA
KETJUP HANGAT DARI WANITA PEMILIK BANYAK PRIA
UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI MEDIA SOSIAL DI BAWAH INI ...
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4)
__ADS_1
I G : alsetripfa4