TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
020


__ADS_3

"Candra ... begini caramu menghadapi orang yang tidak memiliki kekuatan?"


Udelia mengambang di atas tanah. Raganya digantung pada sebilah kayu, dengan empat buah paku besar, tertancap di kedua kaki dan kedua tangannya.


Perutnya terkoyak sebagian, akibat sebuah tali besar kasar yang melingkar di perutnya.


Belenggu sempurna itu membuat Udelia terdiam seperti patung, tidak mampu melawan.


Yang dapat ia lakukan hanyalah mengaduh, memohon pada sang eksekutor agar menghentikan siksaannya.


Entah sudah berapa lama, entah sudah berapa kali dia menjerit kesakitan.


Sebab cambukan yang dilayangkan Candra tidak main-main. Tiap lesatan cambuk itu, mampu  menembus lapisan kulit hingga nampak dagingnya.


Udelia berkali-kali memohon, Candra seolah tak mendengarnya.


Tubuh Udelia yang kemarin masih mulus, sekarang terlukis oleh banyak goresan merah yang menganga.


"Candra ... hen ...ti.kan."


"Jangan memanggilku sedekat itu!" berang Candra.


Sekali lagi dia menghempaskan cambuk, pada raga yang sudah dipenuhi warna merah di sekujur tubuhnya.


"Katakan! Siapa pemimpinmu?"


"Aw .... Hngg ... sakit sekali."


Udelia tak dapat mendengar ucapan Candra. Ia sedang fokus untuk bertahan, menghadapi bertubi-tubi cambuk yang mengarah ke tubuhnya.


Setelah beberapa waktu berlalu, Candra tak kunjung menghentikan cambukannya.


Mata Udelia terbuka lebar, dia menatap tajam Candra. "Kamuu a.. kan me nye ..sal.." ancamnya terbata-bata.


Udelia berpikir dia telah melakukan hal yang sia-sia. Tidak mungkin Candra mendengarkan ucapannya.


Namun ternyata, ancaman itu seketika menghentikan tangan Candra. Hatinya tidak nyaman.


Tidak ada kekuatan keluar dari tubuh sang tahanan.


Dia hanya merasa harus menghentikannya..


..atau dia akan benar-benar menyesal.


"Siapa kamu?" tanya Candra. Dia menyembunyikan tangannya yang gemetar di belakang punggung.


Udelia melirik orang yang berbicara padanya. Pria itu pergi sambil menggulung cambuk yang telah menyiksanya.


Candra duduk menikmati minuman segar, membuat Udelia menelan salivanya tergoda pada air tanpa warna itu.


Sejak dia ditangkap pada tengah hari, dia langsung dimasukkan ke ruang wlaka, ruang penyuiksaan, dan disiksa.


Siksaan yang diterimanya tidak pernah berhenti, apalagi untuk sekadar menenggak air yang menyegarkan.


Udelia menatap penuh harap, berharap Candra mau berbelas kasih padanya, dengan memberinya setengguk air.


Hati Candra sempat tergerak. Rasa kasihannya muncul sesaat, lantas tersadar wanita di depannya adalah seorang kriminal.


Wanita ini tidak patut dikasihani.


Tangan Candra mengeluarkan butiran berwarna putih. Dia menuang benda itu ke dalam baskom berisi air. Kemudian langkahnya mendekat pada Udelia.


Udelia sedikit senang, menilai adik angkatnya masih memiliki rasa kemanusiaan. Dia membuka mulutnya bersiap menerima minuman itu.

__ADS_1


"Katakan!" teriak Candra sembari menyiram air dalam baskom ke tubuh Udelia.


Tubuh Udelia disiram air yang asin. Dia tidak menyangka Candra sangat-sangat kejam. Pria itu menuangkan air garam ke tubuhnya yang terluka.


"..nyakan..," lirih Udelia.


"Bicaralah yang benar atau ingin merasakan ujung pisau ini?" Candra mengambil belati di pinggangnya dan menunjukkannya pada Udelia.


Pisau itu sangat tajam. Sehelai rambut dapat terpotong oleh tebasannya.


Udelia meneliti pisau di tangan Candra. Dia tertawa hambar melihatnya.


"HAHAHA .."


Itu adalah belati yang dihadiahkannya, ketika Candra telah menyelesaikan misi mengusir pemberontakan di kota pinggiran.


"Benar. Kamu harus tertawa bahagia. Ini adalah pisau dari orang yang sangat spesial."


Candra membuka sarung belati, kemudian menempelkannya ke pipi Udelia.


"Kutanya terakhir kali, siapa kamu?"


"Tanyakanlah pada Widya, Siji, Loro, dan Fusena, ah Petapa Agung tidak ada di sini. Atau tanyakanlah pada Djahan, Mahapatihmu!"


Candra dan Udelia saling bertatap sengit.


Candra tersenyum melihat keberanian Udelia. Sudah tersiksa begitu lama, tapi masih saja menuduh orang-orang terpercaya.


Dia hampir saja menggores wajah Udelia, namun sebuah suara dari arah pintu masuk menghentikannya.


"Lepaskan dia!" titah Hayan muncul bersama Djahan dan Indra.


Tampak senyum terukir di wajah Udelia. Candra bersegera melepaskan paku yang menancap di tangan dan kaki Udelia,. Gadis itu berurai air mata, tak kuasa menahan sakit.


Udelia dibawa ke depan ketiga orang itu, dia dipaksa bersimpuh dengan banyaknya luka di sekujur tubuhnya.


Hatinya yang telah tenang, merasakan seluruh tubuhnya tidak lagi dapat menahan rasa sakit. Dia terjatuh ke depan dan jatuh tidak sadarkan diri.


"Bangunkan!" perintah Hayan.


Siraman air dingin membersihkan darah yang menempel di tubuh Udelia, sekaligus menambah rasa sakitnya.


Ibu satu anak itu tersadar, tubuh yang tertulungkup tidak dapat bergerak.


"Bangunlah!" Indra menendang tubuh Udelia hingga terlentang.


"S.. sakit," rintih Udelia meringkuk melindungi perutnya.


Terbesit rasa tidak nyaman dalam hati keempat pria di sana. Namun segera mereka hilangkan perasaan tersebut, memikirkan putri kesayangan mereka telah ditawan begitu lama.


Dalam laporan tertulis, Maya tidak mengadukan apa pun tentang para penculik itu.


Sekilas mungkin saja Maya terlihat baik-baik saja.


Akan tetapi, semakin tertutupnya seorang anak, semakin besar rasa sakit yang dirasakannya.


Entah cara keji seperti apa yang dilakukan para penculik, sehingga putri mereka tidak mau mengadukan orang-orang yang telah menculiknya.


"Bagaimana kau menculik putriku? Apa yang sudah kau lakukan padanya?!" cecar Hayan mengingat bekas luka di tengkuk Maya.


Udelia bangun terduduk. Dia bersandar pada tembok di dekatnya dan bergumam kesal, "(Anjir, kalian ini kejam sekali.)"


Hayan termenung. Sudah lama telinganya tidak mendengar bahasa asing itu. Dia berbalik memunggungi sang tawanan dan memutuskan untuk menyudahi interogasi hari ini.

__ADS_1


Nampaknya dia terlalu letih sehingga mendengar bahasa yang aneh.


Candra yang mampu menyelesaikan tugasnya hanya dalam sekejap saja, tidak mampu memberikan hasil yang memuaskan.


Jika terus dilanjutkan, mungkin hanya sia-sia belaka.


"Hari ini sampai sini dulu," putus Hayan.


Udelia menatap punggung Hayan yang berjalan keluar. Dia berharap dapat meminta bantuan Hayan.


Walau saat ini mereka belum saling kenal, Hayan pasti sudah menyadari Udelia bukan dari dunia ini.


Udelia ingin meyakinkan Hayan, bahwa semua yang mereka simpulkan adalah salah paham.


Udelia akan mengatakan dia baru saja datang dan menyelamatkan Sang Putri. Mulutnya yang terbuka terhenti, dia tidak jadi mengatakan pikirannya.


Kedua mata hitam legam itu menangkap sebuah gantungan bulat, yang menyatu dengan lencana Maharaja milik Hayan.


Sepasang tangan Udelia yang terbelenggu sudah terbebas, kala Hayan dan yang lainnya sibuk termenung.


Tangan kanan Udelia memegang liontin yang menggantung di kalungnya, sedang tangan kirinya berusaha meraih gantungan itu.


Pegang dua sisi di kanan dan di kiri. Kamu akan kembali ke sini dalam sekejap mata.


Dia harus pulang untuk memulihkan diri!


Saat tangannya hampir menyentuh gantungan itu, tangannya yang menggenggam liontin kalung di lehernya, terlepas.


Sebilah pedang menusuk tubuhnya, menembus perutnya. Cairan amis keluar dari hidung dan mulutnya. Pandangannya mengabur dipenuhi air mata. Dia kembali kehilangan kesadarannya.


"Mahapatih ..." panggil Indra ragu, pedang kesayangannya berada di tangan Djahan.


Pedang yang setiap waktu dilap dan diasah, hingga bilahnya selalu mengkilap bersih, kini bersimbah darah.


Indra tidak pernah dipakai kecuali dalam keadaan terdesak.


"Rakryan tumenggung kehilangan fokusnya," ujar Djahan.


"Anda gegabah. Dia bisa mati dengan sia-sia," tegur Hayan tak nyaman melihat darah yang mengalir.


Padahal saat berusia empat tahun, dia membunuh keluarga salah satu gurunya yang telah berani menghinanya bodoh.


"Dia kelompok peculik. Tubuhnya pasti kuat. Lagian saya tidak menusuk di titik vital."


Djahan mencabut pedang dari tubuh tahanan. Kemudian melempar pedang itu kembali pada pemiliknya.


Indra menerima pedangnya lalu mengelapnya dan memasukkan ke dalam sarung.


Diam-diam dia menatap sedih darah yang menggenang di bawah gamparannya, sandal yang terbuat dari kayu jati yang kokoh.


"Hamba yang akan mengurusnya," ucap Candra.


"Beristirahatlah. Hari ini cukup sampai di sini, bawa ke sel," titah Hayan.


"Baik, Yang Mulia." Candra menarik tali yang masih terikat di tangan kiri Udelia. Dia menyeretnya keluar dari wlaka, tempat penyiksaan, menuju sel tahanan.


"Mahapatih, ada yang harus kita bicarakan," ucap Hayan sembari menatap punggung Djahan yang membelakanginya.


"Mahapatih akan membunuhnya kalau terus diinterogasi," batin Hayan, tidak mau tahanan itu mati.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2