![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Saya yang akan mengurus bayi saya, ibunda."
Gitarja diam. Ingin sekali melarang wanita yang tak becus itu, namun nanti dia akan diserbu pertanyaan oleh para tamu. Dia dan suaminya telah mengakui Raka sebagai putra kedua Hayan.
Gitarja tak tega memisahkan Rama dan Raka. Sebagai penebus dosa keluarga Ekadanta, Raka akan dia ambil.
Gitarja membiarkan Raka dalam gendongan Idaline. Dia memberikan gambaran pada publik bahwa Maharani adalah wanita yang sangat penyayang.
Sebenci apa pun dia karena Idaline enggan mengurus cucunya, Maharani tetaplah simbol Bhumi Maja yang tidak akan dapat diganti.
"Baiklah. Hati-hati," kata Gitarja memperingati.
Udelia membiarkan Maya dan Catra berjalan beriringan di sisinya. Batasnya adalah kamar. Dia tidak mungkin menyusui Raka di depan orang lain. Pada Hayan dan Djahan saja dia masih malu.
"Kalian kembali saja. Aku ingin menyusui Raka," cetus Udelia.
"Mana ada. Anda tidak mengeluarkan susu."
Maya memutar bola matanya jengah. Dia saja tidak pernah meminum asi Maharani. Beralasan asinya kering, padahal tak sayang padanya.
Setelah belasan tahun berlalu, tiba-tiba saja ingin menyusui bayi lain. Maya merasa jengah pada wanita yang satu darah dengannya.
"Kata-kata yang sangat bagus, Tuan Putri." Udelia gemas dengan mulut Maya yang tidak difilter. Ingin dia mencubit bibir tipis itu untuk memberinya pelajaran agar tidak berucap kasar dan kotor.
"Benar kan Anda tidak bisa melakukannya?"
"Berhentilah di sini." Udelia merentangkan tangannya menghalangi jalan masuk.
"Kami diperintahkan Ibu Suri menemani Anda," kukuh Maya tidak mau menyingkir dari sisi Maharani.
"Baiklah, Maya ikut. Gagak tetaplah di sini."
Udelia merasa sangat malu saat ditatap serius oleh putrinya. Maya tercengang, asi Maharani benar-benar keluar. Miris.Dia, putri kandung Maharani, tidak disusui seperti Raka, bayi kecil yang tidak ada hubungannya dengan Maharani.
Apa Maharani menyukai anak laki-laki dan membenci anak perempuan?
Udelia meletakkan Raka ke dalam box lalu menegakkan tubuhnya memerah asi yang tersendat-sendat.
Udelia meminum jamu supaya raga Idaline dapat mengeluarkan asi. Tapi asi Idaline tidak sederas asi Udelia, dia mesti memerasnya agar keluar banyak.
"Kemarilah lihat dari dekat," ucap Udelia.
Maya melepaskan matanya dari gerak gerik Maharani. Tingkahnya tidak seperti biasanya. Maharani selalu berkata ketus padanya.
Maharani yang sekarang terlihat sangat berbeda. Bahkan dari tatapannya yang nampak teduh, seperti tatapan wanita yang selalu dia rindukan.
"Ibunda?!" seru Maya menyimpulkan.
"Ada banyak yang terjadi, lalu ibunda terjebak lagi di tubuh ini. Petapa Agung sedang mencari jalan keluarnya," jelas Udelia.
"Ibunda!" seru Maya menubrukkan tubuhnya, memeluk Udelia.
"Bisa Maya jangan terlalu erat? Asinya berantakan," tegur Udelia. Susah payah dia keluarkan asi yang sedikit dalam tubuh Idaline.
Maya memberikan senyum kuda pada ibundanya. Lupa sang ibunda sedang melakukan ritual mengeluarkan sumber makanan bayi dari tubuhnya.
"Maafkan ananda. Bagaimana cara ananda membantu?"
__ADS_1
"Tidak usah!" tolak Udelia dengan wajah memanas.
Bagaimana mungkin dia meminta Maya untuk memeras asinya!?
"Perhatikan saja caranya. Kelak lakukanlah kalau asimu susah keluar atau untuk menyimpannya andai hendak meninggalkan bayi seharian."
"Bisa disimpan?" Maya menatap takjub pada ibundanya.
"Iya. Di dalam lemari yang diisi es, batasnya selama lima hari."
"Begitu.." Maya mengangguk paham.
"Ananda saja bun," tawar Maya melihat air yang keluar hanya sedikit.
"Tidak. Cukup perhatikan dari jauh. Sekalian jagalah Raka."
Maya tidak lagi membantah. Dia mendekati ranjang bayi kecil yang tadi dikenalkan oleh neneknya sebagai pangeran muda.
Maya tidak dapat berbuat banyak untuk menghalangi neneknya mengenalkan Raka pada khalayak, karena dia sendiri tidak tahu harus berpendapat seperti apa.
Sepeninggalan ibundanya yang terbaring koma, Maya juga ingin dekat dengan adik-adiknya termasuk adik satu ibunya.
Tumbuh rasa ingin melindungi, jadi dia biarkan saja sang nenek mengenalkan Raka sebagai adiknya.
"Silakan ibunda."
Dengan lihai Maya menggendong Raka pada Udelia yang sedang memperbaiki pakaian tubuhnya. Ibundanya telah selesai memeras asi.
"Maharaniku, kamu tidak apa-apa?" cecar Hayan memasuki kamar tanpa permisi.
"Hayan! Bisakah kamu mengetuk pintu dulu?"
"Ayahanda, pria dilarang masuk!" ucap Maya memperingati.
Mata Maya hampir meluncur keluar saat ayahandanya menyusu seperti bayi. Menyesap titik-titik air di pakaian Udelia yang basah.
Langkah Maya mundur, dia berbalik berlari keluar dari ruangan. Bahunya naik turun saat sampai di depan pintu.
"Gagak, ayo pergi!" seru Maya. Untung saja calon suaminya tidak melihat adegan tak senonoh yang dipertontonkan ayahandanya. Atau, citra Maharaja akan luntur.
"Apa yang kamu lakukan!?"
Udelia memukul kepala Hayan dengan botol susu emas di tangannya.
Pria ini ... bagaimana bisa begitu mesum di depan anaknya!!?
"Aku tidak suka ada yang terbuang."
Hayan berkata dengan ringan, dia mengganti atasan Udelia yang basah oleh air susu dan air liurnya.
"Kenapa kamu berikan Raka ke istrimu?" tanya Udelia dengan nada tak suka.
"Namanya Cempaka, dia baru saja kehilangan bayi kami."
Udelia menundukkan kepalanya. Beru teringat dialah yang membuat Cempaka kehilangan bayinya.
Tapi tetap dia tak suka bayinya dipegang orang lain.
__ADS_1
"Menghilangkan anak Maharaja hukumannya sangat fatal," lirih Udelia.
"Aku hukumnya."
"Kamu tidak mencintainya? Kamu kan bertahun-tahun hidup bersamanya. Kita cuma beberapa bulan, sebagai suami istri."
"Aku mencintainya," jawab Hayan.
Udelia memegang dadanya. Serasa ada silet menggores hatinya. Kata-kata Hayan membuatnya sakit. Udelia menggeleng. Yang dia cintai adalah Djahan, bukan Hayan.
"Tapi tidak sebesar cintaku pada Maharaniku," imbuh Hayan mengulas senyum.
"Harimu baik?" tanya Udelia mengalihkan pembicaraan mereka.
"Semua pekerjaan menumpuk." Hayan merasa lelah hanya dengan memikirkan berkas-berkas di mejanya.
"Bagaimana dengan Djahan? Apa ada yang berbeda?" tanya Udelia penasaran akan hari-hari Djahan tanpanya.
"Hidupnya hanya tentang pekerjaan dan peperangan. Tak pernah sekalipun mengambil hari libur."
"Tidak ada hal aneh?"
"Tidak."
Hayan menjawab dengan senyuman kecut. Tidak ada hal aneh pada diri Mahapatih. Bahkan cinta pria itu begitu besar untuk Udelia. Tidak pernah mendua, meski tawaran terus datang ke kediamannya.
"Putri kita bagaimana?"
"Mahapatih yang mengurusnya. Delapan tahun terakhir, setiap setengah tahun aku berkeliling bhumi.. mencari yang hilang."
Hayan meletakkan botol minum yang tidak lagi diminum Raka. Dia menatap sayang bayi kecil itu.
"Aku bukan ayah yang baik," lirih Hayan.
"Maya menyayangimu. Dia lebih dulu bercerita tentangmu dibanding Djahan," papar Udelia sambil meletakkan Raka ke dalam ranjang bayi.
Hayan tersenyum. "Ibu susunya adalah Sida. Dia tinggal di kediaman Mada. Sayangnya Tuhan telah memanggilnya dengan cepat."
"Murid-murid Mahapatih masih mencari keberadaan Mahapatih," jelas Hayan.
"Kamu bisa datang ke Kediaman Mada dan bertanya pada mereka."
Udelia menggeleng.
"Beritakan jika Djahan telah mangkat. Dia memang sudah mangkat.."
Udelia tersenyum pilu. Kisah dalam prasasti telah menjadi nyata.
"... sudah waktunya."
Udelia mencengkeram pinggiran boks bayi Raka. Menahan emosi yang membuncah.
"Maharaniku, ada aku di sini," bisik Hayan memeluk Udelia dari belakang.
Memberikan ketenangan.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]