![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Nyonya, makanlah."
"Triya?" gumam Udelia. Dia memaksakan diri untuk bangun bersandar. Ditatapnya lekat-lekat wanita yang membawa makanan. Perempuan itu benar-benar Triya, istri kedua Candra.
"Enyahlah.. aku akan mengurus anakku sendiri," lontar Udelia. Dia takut putranya akan lengket dengan wanita lain dan melupakannya. Terlebih wanita kedua suaminya.
"Anda masih sakit dan lemah. Bayi tidak boleh mendekat," ucap Triya santai.
Ucapan Triya adalah benar. Udelia tidak dapat membantahnya.
"Kuanggap ini hutang," tutur Udelia tidak mau kalah. Dia akan menghargai Triya sebagai seorang pengasuh.
"Anak suami saya adalah anak saya juga."
"Terimalah kebaikanku," ucap Udelia cepat. Dia tak mau mendengar omong kosong Triya.
Udelia mengangkat sudut bibirnya ketika Triya menatapnya.
"Urus perceraianku dan jadilah nyonya rumah."
"Saya hanya menuruti perintah suami," kata Triya mencoba membangkitkan emosi Udelia. Dia tahu, pribadi Udelia adalah sosok yang tak ingin berbagi suami.
Suaminya memberi perintah, berarti sudah mempercayainya.
Menjadi istri kedua bukan hal buruk. Tapi menjadi satu- satunya di hati sang suami adalah sebuah keharusan.
Dengan suaminya bertengkar dengan istri pertamanya, Triya dapat mengambil hati sang suami.
Udelia masih tersenyum miring. Dia terpancing emosi, namun ucapan Triya sekali lagi adalah sebuah kebenaran. Triya adalah istri suaminya.
"Kalau begitu aku meminta tolong," ucap Udelia mengikuti nada santai Triya.
Triya meletakkan sendok yang terangkat di udara. Dia tidak jadi menyuapi Udelia. Dia kesal dengan Udelia yang membalas ucapan santainya.
"Anda harus istirahat. Buburnya dingin, akan saya ganti," dalih Triya agar dapat pergi dari kamar itu.
"Aku minta tolong padamu." Udelia masih melanjutkan percakapan mereka. Wajah santainya berbanding terbalik dengan wajah Triya yang memerah.
Jelas saja, Udelia meminta tolong ataupun tidak meminta tolong, jika Triya keras kepala pergi ke bagian administrasi dan meminta perceraian antara istri sah suaminya dengan suaminya, tentu saja dia akan dipandang sebelah mata.
Kehormatan adalah segalanya.
"Saya bicarakan pada tuan," kata Triya pada akhirnya dan beranjak pergi tanpa mau tahu kelanjutan pembicaraan mereka.
Baru beberapa saat Triya pergi, Djahan masuk ke kamar membawa makanan berat.
"Bubur tidak akan menyelesaikan masalah," terang Djahan menata makanan kesukaan Udelia.
Udelia hanya kehilangan energi. Tidak ada pantangan makanan baginya, kecuali bila masih mual seperti hari-hari yang lalu.
"Djahan, aku ingin berjumpa dengan anak-anak," pinta Udelia.
__ADS_1
"Kalau sudah sembuh."
Djahan mengangkat sendok menyuapi Udelia. Udelia langsung menerimanya.
"Kamu ga berangkat?" tanya Udelia sambil mengunyah.
"Masih liburan, sudah lama aku tidak mengambil waktu istirahat... emm. Tiga belas tahun aku bekerja." Djahan tersenyum bangga.
"(Gila kerja)."
"Apa itu?"
"Itu kamu. Hehe." Udelia terkekeh kemudian membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari tangan suaminya, Djahan.
Setelah selesai, Djahan membersihkan wajah Udelia dan memegang kening Udelia, memeriksa panasnya.
"Sudah agak turun," cetus Djahan.
"Napasku panas sekali, apa aku sakit berat?"
"Hanya kelelahan. Setelah beberapa hari istirahat, sayangku akan sembuh."
Djahan mengembalikan Udelia ke posisi berbaring.
"Djahan, perhatikan anak-anak,"
"Pasti," kata Djahan dengan pandangan serius meluruhkan khawatir dalam hati Udelia.
"Aku sangat beruntung bertemu denganmu. Hidupku lebih berwarna dengan sikap unikmu, amarahmu, dan diammu. Setiap hari selalu kutunggu surat-surat darimu."
Udelia mengulum senyum. Sewaktu dia berlatih dengan Petapa Agung dan berkeliling banyak daerah, dia selalu bertukar surat dengan Mahapatih.
Udelia hanya bertukar pesan selayaknya teman. Saat pelatihan telah selesai. Djahan yang dia cintai ternyata juga mencintainya. Mereka pun menikah. Walau hanya beberapa hari karena selanjutnya Udelia terpaksa menjadi Maharani.
"Ketika sayangku kembali, aku terus berharap ada selembar kertas tertiup angin mengabarkan beritamu padaku."
Djahan mengusap rambut hitam Udelia yang sangat lembut.
"Kulihat Maharani hanya untuk berharap tiba-tiba kamu terbangun dan aku jadi orang pertama yang tahu."
Wajah Udelia menggelap. Dia menyesal sudah menuduh Djahan dengan kasar. Seharusnya dia tahu, Djahan adalah orang yang setia. Bila pun menatap Maharani, tidak ada salahnya karena hanya memantau, bukannya melakukan hubungan antara pria dan wanita.
"Kemudian menyembunyikanmu dalam cangkang, mutiara terlalu berkilau untuk dibiarkan tergeletak begitu saja."
"Djahan, terima kasih menerimaku apa adanya dan terima kasih sudah terus menunggu. Andai kamu hidup di duniaku.."
"Begitu.." muram Djahan. Dia bersedih hati dan ingin Udelia tinggal, tapi lagi dan lagi dia tidak dapat memaksa Udelia untuk dirinya sendiri. Udelia memiliki keluarga yang lengkap.
Seperti dia yang merindu, orang tua wanita yang dia cintai, mertuanya, pasti juga merindu.
"Silakan pergi kalau itu yang terbaik," kata Djahan tersenyum hangat.
__ADS_1
"Kalau berjodoh, kita akan berjumpa lagi," gumam Udelia lalu terlelap.
"Iya."
***
Tiga hari berbaring di kasur, setiap inci tubuh Udelia berbunyi ketika melakukan pemanasan di pagi hari.
"Susu cokelat untuk istriku tercinta."
Candra meletakkan gelas dengan tangan kanannya, di tangan kirinya ia menggendong Raka.
Udelia yang semula merenggut melihat Candra, mendadak tersenyum semringah mendapati Raka di gendongan Candra.
"Uhhh Raka sayang."
Udelia menciumi pipi Raka. Bayi yang semakin besar itu menggelinjang geli. Raka tertawa senang. Dia rindu ibundanya.
"Rama di mana?" tanya Udelia sambil menimang Raka.
"Rama di keraton."
"Duh. Tidak sabaran sekali," kesal Udelia. Pastilah Hayan membawa Rama ke mana-mana. Entah bagaimana hidup Rama ke depannya. Dia sudah pasti menjadi target.
Meski masa kecil Hayan dihabiskan dengan kepemimpinan ibundanya, sang Ratu Pertama Bhumi Maja, Hayan adalah orang yang memiliki prinsip bahwa laki-laki adalah pemimpin, perempuan tidak boleh memimpin, kecuali membantu si pemimpin.
Ada banyak perhitungan bagi Hayan untuk tidak menerima pemimpin perempuan baik di Kabuyutan, tempat terkecil Bhumi Maja, maupun pemimpin tertinggi Bhumi Maja.
Menjadi alasan terbesar Hayan menyerahkan Maya pada keponakannya sendiri agar menjadi suami yang baik sebagaimana dia tahu pertumbuhan bocah itu dan agar suami Maya yang menjadi Maharaja bukanlah dari keluarga lain.
"Itu hal baik. Orang-orang akan mengenal Rama sebagai Pangeran," kata Candra menanggapi.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
... Untuk season 1 ada di profil author.
Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan]
... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT
Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan]
... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini
Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
Untuk informasi selanjutnya dapat melihat pada akun- akun media sosial author.
__ADS_1