![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Mata yang tertutup perlahan-lahan terbuka, sebab hidung sang empunya menghirup aroma ikan bakar, yang menggugah selera.
Wajah bangun tidur Udelia berubah memerah. Suara perutnya bersenandung menyanyikan alunan nada keroncongan, seolah tak makan selama berbulan-bulan lamanya.
Aroma itu semakin mendekat, Udelia melirik ikan bakar yang dijulurkan padanya.
"Dewi, ikan bupu?"
Mano menawarkan seekor ikan matang. Sirip atas dan bawah tubuh ikan itu mengembang.
Tubuh ikan itu berwarna oren, dengan corak berwarna biru terang, mampu menerangi gelapnya gua.
"Siapa kalian?" tanya Udelia waspada.
Seorang wanita sendirian, di dalam gua yang gelap, di sekitarnya banyak pria dewasa yang bertelanjang dada, tidak mungkin wanita itu merasa aman.
Udelia memperhatikan wajah-wajah pria di sekitarnya. Tidak ada ekspresi mesum di wajah mereka. Namun dia tetap waspada.
"Kami hanyalah orang-orang yang ingin mempertahankan Kelimutu," jawab Lowo.
"Ini di Kelimutu?" tanya Udelia memastikan.
Lowo mengangguk. "Iya."
"Jangan banyak basa-basi, kamu bisa mengusir Pasukan Maja dari sini?" sela Reo.
"Makan dulu." Mano memberikan ikan pada Reo.
Rekannya yang satu ini memang paling tidak sabaran.
"Ini, dewi yang baru matang." Mano mencabut ikan yang sedang dipanggang, lalu memberikannya pada Udelia.
Udelia melihat daging ikan di tangan Reo berwarna oren, seperti bagian luarnya.
Lelaki itu memakannya dengan lahap, sampai tulang-tulangnya habis tak bersisa.
Akhirnya Udelia menerima ikan dari tangan Mano, namun hanya ia tatap lekat-lekat.
"Aku jamin tidak akan berbahaya. Silakan dicoba~"
Mano melahap ikan di tangannya, menunjukkan pada Udelia semua ikan bakar, termasuk ikan bakar di tangan Udelia, sama-sama aman.
"Siapa kalian?" Lagi, Udelia bertanya. Ikan bakar masih utuh di tangannya.
Makan bukan hal penting saat ini. Udelia harus memastikan dulu yang sebenarnya sedang terjadi.
Dia belum puas dengan jawaban mereka.
"Aku Mano, ini Reo. Yang tadi berbicara denganmu ketua kami, Lowo. Seperti kata ketua, kami ingin mempertahankan Kelimutu dari cengkeraman Maja."
"Maja adalah negeri yang kuat, kalian bisa melawan mereka?" Udelia menarik corak yang bercahaya, lalu mencobanya.
Mata perempuan itu berbinar. Rasa ikannya pas! Padahal dia tidak mencium aroma rempah.
"Apa pun akan kami lakukan demi melawan orang-orang bengis itu," ucap Lowo optimis.
"Dewi, mereka menjarah, merampas, bahkan mem.." Mano menghentikan ucapannya, ia menggigit bibirnya sembari mengernyit tak kuat melanjutkan kalimat yang tak pantas diucapkan.
Ingatan keji itu melintas dalam benak mereka. Maja yang datang dengan tiba-tiba, memporak-porandakan tanah mereka. Mereka yang tak bersiap-siaga, tidak mampu melawan balik.
Udelia yang sedang memakan ikan, menghentikan kunyahannya.
Semua pria yang kini duduk melingkar di hadapannya, memiliki satu ekspresi yang sama. Yaitu wajah geram menahan amarah, juga tampak kesedihan yang mendalam.
"Kamu bilang mengusir kan?" Udelia berkata sambil menatap Reo.
Tanpa ragu Reo mengangguk, karena wanita itu terlihat sangat percaya diri.
Udelia tersenyum kecil.
Saat dia terjatuh, dia bukan tertidur lelap.
Otaknya memaksa memejamkan matanya, untuk melihat gambaran-gambaran ingatan yang hilang.
Ingatan saat dirinya berpindah ke dunia ini.
Ingatan saat dirinya menjadi murid Petapa Agung.
__ADS_1
Ingatan saat dirinya menjadi istri Mahapatih.
Dan ingatan saat dirinya menjadi Maharani.
Lowo mengisyaratkan Reo dan Noto untuk memperketat penjagaan. Udelia pun membicarakan rencana yang jitu.
.
.
Tatapan penuh amarah tidak ditutupi semua orang yang bersimpuh di tanah.
Tangan-tangan mereka terikat kencang. Menimbulkan bekas luka di pergelangan tangan, yang semula mulus dan bersih.
"Putri-putri Ende memang cantik."
Seorang pria bulat dengan deretan emas di tangannya, memegang dagu gadis cantik.
Gadis itu menggeram, tidak dapat memaki atau meludahi makhluk menjijikan di depannya. Mulutnya tersumpal kuat.
"Tuan Yuyud, Kelimutu tidak ada pergerakan. Ini waktu yang bagus untuk menyerang," usul seorang pria berparas tampan.
Akan tetapi, gadis-gadis cantik itu memandang jijik pria tampan tersebut. Mereka memandang jijik semua pria di sana.
Pria-pria itu merupakan makhluk menjijikan yang senang menjarah dan berperilaku amoral!
"Kita baru saja menaklukkan Ende. Bersenang-senanglah dahulu." Yuyud, pria bulat itu, menepuk bahu pria yang lebih tinggi darinya.
"Tapi ..."
"Tuan muda Ekawira Sanjaya, kalau terburu-buru seperti ini, kapan kamu bisa melebihi sepupumu? Air yang tenang bukan berarti tak dalam. Perangkap pasti sudah tersedia di sana."
Yuyud menatap dingin sepupu dari Rakryan Tumenggung, menteri pertahanan tertinggi Bhumi Maja.
"Saya kurang memperhatikan," kata Ekawira sopan.
Yuyud mengangguk, kemudian Ekawira melenggang keluar bersama anak buahnya.
"Anda tidak perlu menahan diri, tuan. Dia hanya lelaki penuh gumpalan lemak," geram anak buah Ekawira.
Kegiatan lain yang dilakukan pria berlemak itu, hanyalah menabur benih ke sembarang wanita yang dijumpainya!
Sangat tidak mencerminkan jiwa ksatria.
Padahal mereka yang prajurit biasa saja memiliki jiwa ksatria, untuk menghormati orang-orang yang lemah termasuk para wanita.
"Tidak. Yang Mulia memilihnya. Selama penaklukan masih berjalan, tidak ada yang salah pada dirinya."
"Tapi dia telah merendahkan tuan!"
Ekawira menatap sekilas anak buahnya. DIa menyeret kakinya menjauhi si anak buah, yang mencoba menabur minyak pada api yang sedang ditahannya.
Dia diam bukan berarti dia tidak geram.
Dia dan Yuyud adalah dua pribadi yang bertolak belakang.
Yuyud bukanlah ksatria yang berperang dengan gagah berani. Pria itu menggunakan kelicikannya untuk menaklukkan bagian Timur, yang belum dimiliki Bhumi Maja.
Cara seperti ini bila dilaporkan akan ditentang atasan mereka.
Akan tetapi, Yuyud dapat dengan licik menuliskan laporan tanpa dibuat-buat.
Dia mampu meyakinkan orang lain dengan keberadaan Ekawira, perwira paling jujur di barisan para prajurit.
"Suasana hatiku jadi buruk. Bawalah mereka malam nanti." Yuyud menunjuk empat orang lain yang menarik hatinya.
Tadi dia berniat bersenang-senang detik ini juga, tapi keberadaan Ekawira selalu membuatnya jengkel.
Semua wanita yang bermain bersamanya, pasti jatuh hati pada Ekawira.
Padahal dia yang memuaskan wanita-wanita itu!
"Sekarang berendam untuk merenggangkan otot!" kata Yuyud meninggalkan tempat penyekapan.
Para gadis yang ditunjuk menangis tersedu-sedu.
Udelia menyenggol gadis di sebelahnya dan mengirimkan kode lewat matanya. Gadis itu menatap Udelia bertanya, Udelia menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
Sebelum pengawal mengabsen ulang, Udelia dan gadis yang ditunjuk telah bertukar posisi.
"Kamu, kamu, kamu, dan ... kamu. Cepat jalan!" Pengawal sempat ragu melihat wajah Udelia biasa-biasa saja, namun dia yakin sudah mengumpulkan gadis yang ditunjuk tuannya.
"Mungkin tuan mau mencoba yang baru," batin si pengawal.
"Bersemangatlah! Kalian sudah satu pekan terkurung. Kini akan membersihkan diri. Kalian juga akan diberi pakaian bagus. Tentu mulut harus disegel. Mulut kalian sangat aneh, bisa mengeluarkan berbagai elemen."
Udelia terpaksa membiarkan dayang-dayang membersihkan tubuhnya.
Dia berusaha memikirkan hal-hal yang lucu. Terbenam dalam candaan dalam pikirannya, guna lari dari kenyataan dirinya sedang disentuh-sentuh orang lain. Meski orang itu berjenis kelamin perempuan.
Dia paling tidak suka disentuh orang lain, di bagian-bagian yang tidak harusnya disentuh.
Setelah selesai dibersihkan dan dirias, mereka dibawa ke ruang paling megah yang ada di bangunan itu.
Udelia memejamkan matanya.
Di seberang mereka terdapat seorang pria yang duduk di atas ranjang, dengan telanjang bulat tanpa ditutupi satu helai benang pun.
Mata pria itu mengawasi satu persatu, memilah-milah yang akan dijadikan santapan terakhir. Santapan terlezat.
"Kamu yang di tengah. Elemen mulutmu air kan?" tanya Yuyud, ia menyeringai melihat wajah marah gadis itu. Yuyud berdiri, sang gadis membuang wajahnya yang bermuka masam.
"Akan ada tamu penting datang, pakailah ini dan buat dia takluk. Ingat kalau adikmu masih ada di tanganku." Yuyud membuka penutup mulut gadis itu.
"Cuih." Gadis itu melempar bola air dari mulutnya.
"Sayang sekali aku juga bisa sihir air." Yuyud menangkis bola air dengan mudah. Meski kenyataannya, dia menggunakan energi dari batu cincin yang dipasang di jarinya.
"Pergilah lakukan sekarang."
Gadis itu mengambil guci kecil seukuran jari. Langkahnya meragu di belakang pengawal, yang telah menunggu di halaman.
"Lalu gadis-gadisku–urk." Yuyud jatuh tak sadarkan diri. Sebuah senjata kecil tajam, melukai kepalanya.
"Tuan? Ada apa?" tanya pengawal di depan ruangan.
"Haha gadis-gadisku terlalu bersemangat," ucap salah satu gadis menirukan suara, sama persis dengan suara Yuyud.
Di tangannya terdapat daun, yang dapat melepaskan segel mulut.
Keturunan Ende memiliki energi di dalam mulut yang berbeda-beda. Seperti air, api, dan udara. Energi itu dapat diubah menjadi senjata.
Mereka hanya perlu meludah, maka akan muncul senjata kecil namun mematikan. Oleh karena itu, mulut mereka disegel ketika ditangkap.
"Tuan putri, sepertinya datang bantuan dari Kelimutu. Saudara kita tidak melupakan kita," ujarnya mengusapkan daun-daun itu ke mulut para gadis.
Dia tahu Udelia bukan golongan mereka. Udelia tidak memiliki energi di dalam mulutnya.
Udelia melotot melihat darah muncrat dari leher Yuyud, akibat ditusuk dua gadis yang menyelinap masuk.
Seharusnya mereka menginterogasinya terlebih dahulu, mereka akan mendapat banyak informasi berharga.
"Saya Cendera, putri Raja Ende."
"Saya Lia, orang yang mencari ketenangan," kata Udelia memperkenalkan diri.
"Tidak perlu canggung. Kamu dikirim Kelimutu kemari?"
"Setiap yang terjadi di depan harus dihadapi. Kejahatan harus ditumpas. Tapi Anda bisa berkata demikian."
"Di mana mereka?"
"Akan datang jika kekacauan sudah cukup. Lebih baik Anda dan pengawal-pengawal Anda bertapa malam ini, untuk memulihkan energi. Anjing tidak akan berani mengganggu majikannya."
"Sebenarnya saya ingin mengejar Nera, sepupu saya yang baru saja pergi." Gadis cantik itu berharap situasi di markas ditangani orang yang terpercaya.
Udelia mengangguk paham. Dia pun membuat keputusan dengan cepat.
Sebuah keputusan yang akan ia sesali seumur hidup.
"Saya tangani di sini. Hati-hati."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1