TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
DO'ANYA DIKABULKAN 1


__ADS_3

"Ibunda?!?"


Jari jemari lentik melepas kuas di tangannya, tinta dalam bulu kuas berceceran di atas kertas.


Putri Udelia dan Hayan, Maya Lopika Wijaya, telah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Pelatihan nan ketat membuat tubuhnya semakin mengetat.


Maya berusaha keras untuk melampaui ibundanya ketika sang ibunda masih seusianya. Cibiran tak dia hiraukan, yang ia hiraukan adalah keselamatan sang ibunda.


Maya rela mati asalkan ibundanya tidak kesakitan. Siang malam tidak pernah Maya perhatikan. Setiap saat yang ada di pikirannya hanya berlatih dan berlatih.


Dia lulus dalam masa tiga tahun. Jarak antara kekuatannya dengan sang ibunda di masa usia tiga belas tahun, kian mendekat.


Maya harus mempertahankan kekuatannya setara dengan sang ibunda lalu melebihi sang ibunda saat masanya dia berumur lima belas tahun.


Maya tidak perlu melebihi kekuatan Udelia di masa sekarang. Dia hanya perlu melebihi kekuatan ibundanya yang telah ditempa oleh Petapa Agung.


Sebuah kemustahilan akan dia patahkan. Dia akan melebihi ibundanya. Setiap bidang dia ambil guru yang ahli. Bahkan sihir dia langsung belajar dari sumbernya, Candraaji Ekadanta.


Dia ingin belajar langsung dari Candra Ekadanta yang dikata kan lebih kuat dari ayah dan kakeknya. Sayangnya pria itu terus menolak. Maya rela pergi ke kediaman Ekadanta di daerah, tetap saja Candra menolak.


Maya masih ingat sekali saat berkujung ke rumah Ekadanta, dia kira semua akan berjalan lancar mengingat Candra adalah paman kesayangannya.


Sayangnya Candra menolak dengan dingin.


"Saya tidak bisa, Tuan Putri. Tolong jangan memaksa. Dan bukankah Anda ada di akademik? Kenapa Anda bisa berkeliaran?"


Sungguh Maya sangat tercengang dengan wajah datar Candra. Selama mengajarinya dasar- dasar sihir, tidak pernah Candra melepas senyuman dari wajahnya. Pria itu menolaknya dan mengusirnya secara halus.


"Jangan ceroboh!" tegur seorang pria. Dia menangkap tubuh Maya yang hampir terjungkal, akibat menginjak kain jarik yang dikenakannya.


"Gagak Catra, kembalilah! Kita ini akan dipingit!" sungut Maya pada calon mempelainya.


Umur mereka sudah sangat cukup untuk menikah. Mereka akan melangsungkan pernikahan beberapa bulan kemudian.


"Masih ada waktu tiga pekan, Tuan Putriku." Putra dari Netarja Wijaya itu mengulas senyum.


Sejenak Maya memikirkan ucapan calon suaminya. Waktu mulai pingitan mereka memang baru akan dimulai setengah bulan lagi.


"Begitukah?" gumam Maya.


"Itu sebabnya saya menemani Anda bekerja."


"Kalau begitu, ingin bertemu ibunda?" ajak Maya.


Belum sempat Gagak menjawab, Maya menyeret lengannya. Gagak patuh berjalan di sisi sang Tuan Putri.


"Anda terlihat sangat senang," ucap Gagak bingung.

__ADS_1


Setahunya Maharani selalu berkata ketus pada Tuan Putri. Bahkan ketika dia menemani calon istrinya untuk meminta restu pada Maharani, Maharani tidak menyaring ucapannya.


"Nikah ... ataupun ... mati ... tidak ada sangkut pautnya denganku."


Saat itu Maya tersenyum kecut. Gagak sendiri bingung dengan yang terjadi. Maya selalu bercerita tentang kebaikan-kebaikan ibundanya. Tapi sikap Maharani kebalikan dari cerita Maya.


Gagak berpikir Maya hanya menghibur diri dengan menceritakan sosok ibu yang baik di alam khayalnya. Wajah Maya selalu datar dan sesekali tersenyum kecut, tiap ada yang membahas Maharani.


Kini, Maya tersenyum lebar, begitu tidak sabaran untuk bertemu ibundanya. Gagak bingung dengan perasaan Maya yang berubah-ubah.


"Tentu saja. Ini ibunda!"


Maya terlalu gembira. Dia lupa sedang memegang tangan laki-laki.


Setiap malam selalu do'a yang sama Maya panjatkan. Berjumpa dengan ibundanya. Menjadi kuat. Dan tidak perlu bersusah-susah untuk tinggal bersama ibundanya.


Maya tersenyum lebar. Do'anya dikabulkan.


***


"Selamat atas kehamilan selir Anda, Yang Mulia Maharaja," ucap Udelia meletakkan gelas dari tangannya.


Di atas tahta, Hayan duduk bersebelahan dengan Cempaka. Jarik motif asih dengan balutan bunga melati yang telah dironce khas upacara kehamilan dikenakan oleh Cempaka.


Posisinya terlihat istimewa.


"Saya akan menyiapkan bait yang panjang untuk memperlihatkan kesungguhan hati." Udelia tak mau kalah.


Hayan bangkit dari duduknya, dia menuruni tangga, kemudian duduk bersimpuh di depan Udelia.


Kedatangan Udelia tidak disangka oleh Hayan. Djahan membawa Udelia begitu pesta telah dimulai. Hayan berdecak dalam hati. Dia begitu sebal pada kelicikan Djahan.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Hayan mengelus pipi tembam Raka.


"Agak lemah. Termasuk ibunya yang harus istirahat malah dibawa ke sana dan ke sini," sindir Udelia.


Di hari kesepuluh hari melahirkan, sudah dibawa jauh dari Watek Batako menuju keraton. Setelah itu pergi menuju Wanua Mejeng hanya untuk menghindari Hayan.


Seorang ibu baru melahirkan yang harusnya memiliki waktu istirahat cukup, justru bepergian sejauh ratusan kilo meter.


"Maaf," sesal Hayan. Dia tidak menyangka Udelia begitu nekat saat ingatannya tidak utuh. Dia tidak menyangka Udelia akan melakukan segalanya untuk lari darinya.


Suara theklek berbenturan dengan tanah mengalihkan pandangan mereka. Selendang yang menggantung di pinggang tampak berkibar-kibar.


Maya muncul ditemani seorang pria yang lebih pendek darinya. Langkahnya mengayun melewati para pejabat yang berangsur-angsur keluar.


"Ibunda," bisik Maya bersimpuh di sisi Udelia yang tidak terhalangi meja.

__ADS_1


"Putriku sudah besar." Udelia tersenyum lembut mengusap kepala Maya dengan tangannya yang bebas.


"Ibunda ..."


Udelia memberikan Raka pada dayang lalu membentangkan tangannya.


"Kemarilah, sayang."


Maya menyambut rentangan tangan Udelia, memeluknya erat-erat.


"Ibunda.. hiks. ibunda jangan pergi lagi."


"Yang pergi akan tetap pergi seberapa pun halangan merintang," lirih Udelia berbisik di telinga Maya.


"Kamu membuatnya makin khawatir," tegur Hayan.


"Janji manis yang hanya sampai di mulut akan menggoreskan luka yang dalam," sindir Udelia sambil melirik perut Cempaka, kemudian ia menatap wajah Hayan tak berani memandangnya.


Hayan melemparkan pandangannya ke arah lain. Dia sangat bersalah karena sudah tergoda wanita-wanita di luar sana.


Tiap kali ada seorang wanita berperangai mirip Maharaninya, Hayan tidak dapat menahan diri untuk membentuk pemikiran dalam alam bawah sadarnya, bahwa Maharaninya telah datang.


"Rama lahir di waktu yang salah, kamu boleh tak memasukkannya dalam silsilah. Jika kamu ingin memasukkan, jangan tuliskan namaku."


Status Rama akan membawa masalah bila tidak secepatnya diselesaikan. Keluarga Ekadanta belum tentu mau menerima kembali Rama yang bukan anak keturunan mereka.


Udelia tidak mau namanya ditulis, yang akan berakhir membawa masalah di kemudian hari. Akan lebih baik baginya bila Rama tidak dimasukkan dalam silsilah keluarga kerajaan.


Demi keselamatannya.


o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


SEHAT SELALU SEMUANYA


KETJUP HANGAT DARI WANITA PEMILIK BANYAK PRIA


UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...


F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4)


I G : alsetripfa4

__ADS_1


__ADS_2