![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
020 - JARAK MEREKA TERLALU DEKAT
"Udel, tolongin kepalaku. Sakit sekali rasanyaaa."
Wibawa yang terlihat kuat tadi menghilang. Pria itu memamerkan wajah lugunya.
Udelia tidak dapat berkata- kata.
Pria itu, apa tidak bisa menjaga wibawanya lebih lama?
"Kepalamu sakit? Abis terbentur?"
"Yaa."
"Kamu kan tidak beranjak dari tempat tidur."
"Sinilah. Tolong kepalaku."
"Siapa kamu menyuruh- nyuruh?"
"Aku suamimu, ingat?"
Udelia mendelik tajam. Ingat saja tidak. Pria itu berani- beraninya menyuruh dirinya.
"Engga. Engga. Tolonglah pasienmu ini, nyonya penyelamat. Kepalaku sakit."
Udelia tidak lagi membalas perkataan Djahan. Bulir -bulir keringat di kening cukup menjadi bukti benarnya sakit kepala pria itu.
Udelia mengusap kepala Djahan. Jari jemarinya memijat pelan kepala Djahan.
Pria itu lantas jatuh terlelap di bahunya.
Melihatnya dari jarak sedekat itu, mencium aroma harumnya yang bercampur dengan bau obat, hadir getaran di dalam hati Udelia karenanya.
Aura Djahan sangat berbeda. Begitu tenang, rapuh, namun garis wajahnya menunjukkan ketegasan.
Segala hal bercampur pada wajah itu.
Seolah telah melewati berbagai macam hal di dunia ini.
"Benarkah ceritamu?" bisik Udelia.
Satu orang yang harus dia tanyakan. Yaitu Fusena yang terseret namanya dalam cerita Djahan.
Yang Udelia ingat, Fusena telah menghilang bertahun- tahun lalu dan kembali bersama dengannya di hari kepulangannya dari Air Terjun Sekar Langit.
Entah bagaimana dia bisa dipapah oleh Fusena.
Apa dia kerasukan jadi tak menyadari yang dilakukannya selama berlibur di Air Terjun Sekar Langit?
Udelia selalu tak sempat menanyakan hal ini.
"Hei bangun.." bisik Udelia mengguncang raga dalam dekapannya.
Raga itu sama sekali tak bergerak.
Udelia hanya ingin Djahan tidur dengan nyaman. Dia pun tak dapat terus menerus menopang kepala besar Djahan.
Bahunya akan kaku.
"Djahan.."
"Djahan.."
"Tuan Djahan.."
"Suami.."
Udelia takjub dengan pria itu. Panggilan terakhir serupa angin, pria itu tetap dapat mendengarnya.
Mata sayunya menukik ke bawah. Bibirnya menukik ke atas.
__ADS_1
"Sudah kuduga, aku beneran mendengar suara bidadari."
"Jangan terus menggombal. Cepat tiduran di ranjang. Bahuku sakit tahu."
"Em."
Dengan patuh Djahan menuruti perkataan bidadarinya.
"Kalau begitu, aku keluar dulu. Kamu tidur yang baik."
"Ke mana?" tanya Djahan dengan lemah. Mata sayunya menatap Udelia yang telah bersiap pergi.
"Aku mau bebersih dan mencari makan."
"Mereka akan lakukan untukmu—"
"Djahan, aku tidak terbiasa menopang tangan. Aku juga ingin mencari udara di luar. Maaf. Aku tidak terbiasa dengan pelayanan orang. Aku dari keluarga sederhana, kalau kau lupa."
"Baik. Nanti ajaklah aku jalan- jalan mencari udara bersama."
"Asalkan kamu telah sehat."
Bergegas Udelia kembali pergi. Hatinya menjadi tak sehat berada di dekat Djahan.
Ternyata, wibawa dan kelakuan manja pria itu, sama- sama mengusik hatinya.
Udelia tidak mau terjerat dengan pria asing yang berkelakuan aneh itu.
"Haduh sampai lupa aku mau pergi!" seru Udelia menepuk kepalanya.
"Dia sudah di rumah sakit, sudah tidak pucat, hanya sesekali sakit kepala. Tidak apa kan ditinggal saja?"
Udelia bermonolog sambil menyantap hidangan di depannya.
Resto rumah sakit swasta sungguh berbeda. Cita rasa di lidah seperti rasa makanan di resto bintang lima.
Resto yang hanya dapat dicicipi Udelia ketika mendapatkan klien tingkat atas. Dibayarkan perusahaan.
"Apa? Gratis?"
"Benar, Nyonya."
Jawaban pramusaji yang sedang menata makanan di meja, membingungkan Udelia.
Dapat indranya tangkap. Meja di sekitarnya disajikan makanan lantas pramusaji menunjukkan bill di balik cover cokelat yang elegan.
"Anda hanya perlu melakukan scanning dan mensupport aplikasi pemesanan makanan kami. Ada banyak promo di sana."
Udelia lantas mengerti. Meja- meja di sisinya bukan membayar melalui aplikasi mobile banking, tapi melakukan instalasi seperti ini.
Gesit tangan Udelia melakukan penginstalan.
Dia tidak takut scam. Resto besar di rumah sakit besar, buat apa melakukan scam?
"Anda dapat menambah menu lain jika berkenan. Satu pekan ke depan, banyak promo- promo menarik."
"Terima kasih."
Udelia tidak sungkan. Dia memesan dessert yang harganya mengeringkan kantong.
Dia ingin mencoba itu.
"Anda sudah dapat melihatnya, Tuan."
Djahan mengulas senyum. Dia memandangi layar ponsel yang dipenuhi gambar air terjun dengan wanita yang membelakangi layar.
Sama sekali tidak ada kantuk di matanya. Dia menggulir banyak halaman. Mengklik tiap simbol sosial media yang ada.
Hampir semuanya adalah foto wanita di alam bebas.
Jemarinya lantas memijit aplikasi perpesanan berwarna hijau. Di baris teratas hanya ada pesan dari keluarga. Namun begitu menggulir ke bawah, rahangnya mengeras.
Banyak sekali pesan dari kontak dengan nama seorang pria.
__ADS_1
Robert. Acreng. Galih. Cecep. Arga. Dan lain sebagainya.
Menahan amarah di dada, melihat satu persatu isian pesan di dalamnya.
Tidak banyak yang aneh. Hanya pertanyaan seputar pekerjaan.
Djahan merasa bangga. Sepintar itu rupanya sang istri di dunia kerjanya.
Semua masalah yang dipertanyakan kontak- kontak itu, mampu diselesaikannya.
Saat membuka pesan bernama Doni. Djahan langsung disambut kekesalan. Pria bernama Doni itu terus gencar mengajak wanitanya pergi ke luar.
"Cari tahu siapa itu Doni!" titah Djahan menyerahkan kembali ponselnya dan berbaring.
Dia dibantu para perawat untuk berbaring. Kondisinya masih benar- benar lemah.
Dari pemeriksaan pesan yang kali pertama dilakukannya, ada satu hal menarik.
Petapa Agung jarang menghubungi Udelia. Perbincangan pun dilakukan hanya lewat ponsel. Di laman perpesanan, hanya berisi catatan pengingat seperti Udelia menitip beberapa barang di supermarket.
"Apa yang mereka perbincangkan?" gumam Djahan.
Walau jarang menelepon, sekali Petapa Agung menelepon paling sebentar dua puluh menit telepon itu berjalan.
"Apa Udelia sudah selesai makan?" tanya Djahan pada bawahannya yang masih setia di dalam kamar.
"Sedang menghabiskan makanan penutup, tuan."
"Sendirian kan?"
"Ditemani seorang pria."
Djahan melonjak duduk di atas kasur. Dia memegangi kepalanya yang pening. Tangannya terulur minta gambaran cctv tentang keberadaan wanitanya.
CCTV sangat jernih, gambarnya tidak retak saat Djahan memperbesarnya.
Udelia sedang makan dengan Petapa Agung.
Djahan merutuki dirinya yang membiarkan Udelia pergi ke bawah.
Sampai lupa ada pria itu di kota ini. Bubur di pinggir gor memiliki antrian sepanjang itu.
Sejak pagi, baru siang ini Petapa Agung mendapatkan buburnya.
"Datangi Udelia. Katakan aku sangat kelaparan," ucap Djahan padahal sama sekali tidak lapar.
Terbiasa bertapa dan berlatih sihir, membuatnya jarang menyentuh makanan. Itulah salah satu hal yang makin memperburuk keadaannya.
Tubuhnya kini hanya tubuh biasa, tidak tahan bila tidak makan dengan normal.
Udelia merasa kikuk kala didatangi Fusena. Dia benar- benar melupakan sepupunya.
Sudah capek- capek sang sepupu mengantri bubur. Dia malah makan masakan yang lain.
"Ga usah tegang gitu, mbak. Bubur bisa dipanaskan kok. Ini bubur terbaik, bisa tahan beberapa hari ke depan. Kalau kalau mbak mau makan besok pagi," cetus Fusena tahu kebiasaan Udelia yang tak senang makan bubur kecuali di pagi hari.
"Kamu sudah makan? Makan dulu sana. Ada promo gratisan loh di resto ini."
"Jangan tergiur gratisan terus, mbak!"
Fusena memundurkan kepala Udelia dengan jarinya. Jarak mereka terlalu dekat.
"Memang ada acara apa?"
"Launching aplikasi."
"Hanya karena launching aplikasi?"
Fusena keheranan dan Udelia pun ikut merasa heran.
"Iya ya. Apa gunanya launching aplikasi dan menggratiskan semua menu?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]