TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 015


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


015 - MEREKA SEMUA MENAHAN NAPAS


Udelia terbangun dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.


Tubuhnya linglung. Matanya menyapu sekitar.


Dia bukan berada di pantai, tempat terakhir yang dia ingat.


"Mbak, sudah bangun? Ayo makan malam!"


Fusena muncul di daun pintu. Menyadarkan Udelia dari kebingungannya.


Dia berada di dalam vila. Bukan tempat dia dipeluk seorang pria dan ... ditindih seekor buaya.


Yang terjadi tadi hanya mimpi?


Udelia bertanya- tanya.


Sangat jelas mimpi semalam. Bahkan, terasa sangat nyata.


Dia bersenggama dengan buaya.


Apa dia terlalu memikirkan senggama bersama Djahan, sampai terbawa mimpi yang mengerikan?


Udelia mengenyahkan bayangan dalam benaknya. Berlari kecil mengikuti Fusena.


Dia memutar ke arah kamar mandi, membersihkan wajahnya yang penuh minyak.


Wara, ayah Udelia, menatap lurus keponakannya.


Fusena, anak laki- laki dari kakak iparnya, hilang dengan membawa sejuta rasa sedih. Lalu datang dengan membawa berjuta rahasia.


Sore tadi keributan tentang badai di laut mengusik mereka.


Jarak vila dan laut lumayan jauh, mereka pikir dua wanita muda, Udelia dan temannya, pergi ke kafe kekinian yang punya spot foto bagus. Kharisma membawa kamera besarnya.


Kharisma datang dengan tergopoh. Dalam keributan seperti tadi, sangat manusiawi bila ingin menyelamatkan diri sendiri dan melupakan sekitar.


Kharisma mengira Udelia sudah kembali.


Keadaan menjadi kacau ketika Kharisma bercerita jika mereka pergi ke pantai dan Udelia belum kembali.


Para pria bergegas mendatangi pantai, kecuali Lamont yang disuruh menjaga ibunya.


Dalam badai yang sangat kencang, Fusena merangsek masuk, lantas keluar membawa raga Udelia.


Badai turun, Wara dapat melihat jejak kaki tak biasa dari tempat Udelia ditemukan.


Fusena bungkam. Wara tak sempat bertanya, keselamatan Udelia lebih utama.


Yang pasti dia yakin, kejadian demi kejadian yang menimpa Udelia bersangkut paut antara satu dengan lainnya.


Kejadian tak biasa.


Wara akan bertanya di luar jangkauan putrinya.


"Mbak, ayo makan," sambut Fusena pada Udelia.


"Wow aromanya harum banget," puji Udelia.


"Iya, mbak. Mas Sena tuh yang buat bumbunya. Enak tenan. Ternyata ga ketemu lama, udah bisa ini itu. Kalah aku," ucap John memuji Fusena. Dia memang bisa memasak.


Lumayan kaget juga untuknya tahu ada saudara pria di keluarganya dapat memasak, hal itu lumayan tabu untuk keluarga mereka.


"Wah, emang enak kalo buatan Sena. Minumannya aja buat nagih."


"Cuma sedikit, mbak. Sate buatan mbak tuh enak."


"Wah kode ini. Mau icip- icip punya Mbakyu? Mbak sih tadi pergi," kata Lamont dengan absurdnya.

__ADS_1


John memukul kepalanya yang pening. Adiknya mungkin sudah tidak waras, menyodorkan mbakyu mereka dengan kata- kata yang tak pantas.


"Kamu sepertinya harus menikah setelah lulus SMA," desis John mencoba menahan amarahnya.


"Loh? Opo salahku toh, mas? Kan kalo makanan emang diicip toh??" ucap Lamont membela diri.


"Emangnya mas mikir apa toh?" seloroh Lamont.


Udelia tidak memedulikan candaan adik- adiknya. Dia memilih menikmati santapan di depannya.


Sangat menggoda.


"Emm. Tiada duanya."


Dengan mulut yang penuh, masih saja Udelia memuji masakan adik sepupunya.


Fusena mengulum senyum. Dia senang memperhatikan Udelia yang semangat menyantap masakannya.


"Mbak, bibirmu!"


Fusena menjulurkan tangannya. Mengusap sudut bibir Udelia yang dipenuhi kecap.


Tatapan mereka saling bertemu. Tanpa sadar Udelia terus menatap manik hitam Fusena.


Djahan meradang. Dia tak dapat berbuat banyak. Garpu di tangannya menjadi korban. Melengkuk karena kekuatan tubuhnya.


Masih melihat adegan itu, darah segar terjun bebas di kedua lubang hidungnya.


Djahan terbatuk- batuk. Sakit tubuhnya kembali kambuh.


Semenjak datang ke dunia modern, tak hanya kekuatan ghaibnya yang menghilang, raganya pun sering jatuh sakit.


Andai tak segera ditangani dokter pribadi yang ahli, dia mungkin harus diopname sampai waktu yang belum ditentukan.


Banyak organ dalam tubuhnya terluka. Seperti tersayat benda tipis yang tajam.


Dokter pribadi dalam Bale' Witagara memeriksa raganya dan memberikan banyak obat tak paten, obat rahasia.


Obat yang sangat ampuh menyembuhkan luka organ tubuh. Hanya berhasil satu dari seribu percobaan pembuatan.


Bukan Udelia yang berseru, Lamont bersegera menolong Djahan. Juga John dan kedua orang tua Udelia.


Kharisma hanya kaget sebentar, wanita itu langsung bergegas ke belakang. Mengambil air kompresan.


Semua orang sibuk mengurus Djahan. Dokter tak lama datang menghampiri villa mereka.


Udelia masih saja santai menyantap hidangannya.


Sakit pria itu terlalu mendadak. Dia tidak lagi percaya pada drama yang dibuat Djahan.


Djahan menatap nanar kala tubuhnya diangkat dan dibawa masuk ke kamar.


Udelia, istrinya, masih saja lahap memakan hidangan. Bahkan menyuapi Fusena yang terdiam memandangi keributan yang dibuatnya.


"Sudah. Biarkan diurus Lamont dan Jo. Makan yang banyak, Sena! Ga laper kamu abis mutih sebulan ini?"


Udelia menyodorkan sesendok daging bakar yang sudah dipotongnya kecil- kecil.


Fusena puasa mutih untuk kebaikan kafe baru mereka.


"Mbak, dia sedang sekarat. Bukannya mbak anggota SAR? Nggak tergugah membantu dia? Kita bisa makan nanti."


"Males. Liat aja. Udah sebulan bolak -balik ke rumah, apa pernah dia jatoh sakit? Ini aja caper."


"Terserah mbak."


"Udah ayo makan. Pegel tanganku."


Djahan masih mendengar percakapan mereka di sela rasa sakitnya.


Bertambah sakit seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Tenanglah!" seru Kharisma berusaha meredam kepanikan dalam hatinya. Dia melihat kepasrahan dalam manik mata Djahan.


"John, pakaikan kompres ini padanya..."


Kharisma memberikan titah. Mengangsurkan barang- barang yang disebutkannya.


"Bisa bawa Udel? Aku hanya butuh Udel," bisik Djahan lemah.


Dia mangkir dari pengobatan lanjutan hanya demi dekat dengan Udelia.


Pagi hari berkumpul di rumah Wara, menemani Udelia di cafenya.


Siang sampai malam mengadakan pertemuan. Memperkuat posisinya agar tak goyah.


Malam harinya dia belajar tentang tatanan dunia baru. Dokter berulang kali memaksanya untuk memeriksa lanjutan.


Tubuh Djahan semakin melemah karena memaksakan diri.


"Bisa bawa Udel? Aku hanya butuh Udel," ulang Djahan semakin melemah.


"Diam! Fokus dalam pengobatanmu!"


"Aku bilang, aku hanya butuh Udel!"


Djahan menegaskan kalimatnya. Spontan kepalanya terangkat. Dan Kharisma spontan menundukkan kepala Djahan.


Djahan menepis kuat tangan Kharisma. Dia berdiri dengan mata menyalang.


"BERANI SEKALI KAMU!!"


Djahan tak bisa menolerir sikap tak sopan teman istrinya.


Bahkan tabib agung, tak sembarangan memegang tubuhnya.


Kharisma terpaku. Mata Djahan memerah. Marah. Gentar hatinya melihat rupa amarah Djahan.


Kharisma tertunduk. Tak berani menatap Djahan.


Lamont dan John segera tersadar. Meski takut, mereka sudah memahami keadaan.


Djahan tak mau diurus mereka...


Watika, ibu Udelia, langsung membawa pergi Kharisma. Takut Djahan kelepasan pada gadis berwajah pucat itu.


"Tenangkan dirimu!" ucap ayah Udelia.


Dia baru tersadar dari rasa kagetnya.


Teriakan Djahan bagai membekukan seluruh tubuhnya.


Ada rasa gentar dalam hatinya.


Matanya sempat tak berani menatap mata hitam kelam itu.


Djahan tak lagi bersikap manis. Raganya sudah terlalu sakit, bersamaan dengan hatinya. Dia duduk dengan tegak, mengusap darah dengan gerakan elegan.


Udelia mendengar teriakan itu. Rupanya si pria asing sudah tak lagi berpura- pura.


Berani membentak seorang wanita di depan orang tuanya.


Dulu, mungkin saja pria itu tak marah karena ingin mengambil hati orang tuanya.


Kini, sudah tak sabar lagi.


Udelia beranjak masuk ke dalam kamar, diiringi tatapan khawatir ibunya.


Tanpa basa basi, Udelia mencengkeram rambut Djahan. Mendongakkan kepala pria itu dan mengusap darah yang keluar.


Mereka semua menahan napas.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2