![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]
024 - MAMPIR DI MIMPINYA
Layar tablet Djahan yang menyala, menunjukkan sebuah tayangan CCTV.
Udelia tercengang.
Layar menunjukkan pintu kamar Djahan.
Di sana terdapat gambaran buaya besar yang memenuhi layar.
Menerobos masuk pintu kamar Djahan dan tak lama pergi dari sana. Bersamaan dengan kedatangannya kembali ke lantai rawat Djahan.
Udelia lekas memeriksa segala kondisi kamar.
Tidak ada hal berbeda.
Djahan terbangun. Melambaikan tangan padanya.
"Ada apa?" tanya Udelia mendekat.
"Kamu melihat gambar itu, sayang?"
"Ya."
Meski risih dengan panggilan sayang, Udelia mendekat karena penasaran tentang yang akan dibahas Djahan. Pria itu melirik tabletnya yang menyala.
"Dia datang."
"Siapa?"
"Kamu tahu sendiri, aku adalah Mahapatih."
Sejenak Udelia berpikir. Apa hubungannya Mahapatih dan buaya besar?
Peliharaannya?
Kalau begitu kenapa tidak disambut dan disimpan?
"Musuhmu?" tanya Udelia setelah lama mencari maksud Djahan menyeret gelar Mahapatihnya.
Tidak ada yang lebih masuk akal dibanding musuhnya. Wajah pria itu menekuk dalam.
"Ya. Jangan dekat- dekat lagi."
"Dia manusia?"
"Dia berbahaya."
Djahan menjawab pertanyaan Udelia dengan ambigu.
Udelia tidak mau ambil pusing. Dia berada di sini hanya untuk merawat pria itu.
Djahan memperhatikan gerak- gerik Udelia yang sangat cuek padanya.
Dia mendesah panjang.
Jalannya ternyata masih sangat jauh.
Udelia tidak memedulikan sepasang mata yang terus menatapnya.
Dia bergerak membuka satu persatu halaman buku suamiku adalah jin, novel kesukaannya.
Djahan terus memandangi wanita itu.
Tangannya menelusupkan rambut ke sela telinga lantas mengetuk di pipinya. Tanda sangat serius dengan bacaan di depannya.
Tanpa melepas tatapannya, Djahan memencet tombol hijau di ponselnya.
"Kemari, layani nyonya," titah Djahan pada orang di seberang.
Tak lama kemudian, muncul tiga orang perempuan muda dan tiga orang pria muda, yang semuanya tampak seumuran dan sama porposi tubuhnya.
Udelia masih saja cuek dengan sekitar. Barulah menatap tajam Djahan, ketika camilan di tangannya berpindah tangan.
__ADS_1
Dia disodorkan potongan kue dengan garpu miliknya.
"Pergilah!" titah Udelia.
"Nyonya, tolong bantu kami. Kami akan dipecat jika tidak dapat melayani Anda," bisik pelayan. Tangannya yang menyodorkan garpu, gemetar takut.
"Djahan, kamu jangan semena- mena!" tutur Udelia.
Djahan pura- pura tak mendengar. Akan tetapi matanya masih saja menatap Udelia.
Udelia menyerah. Wajah pelayan- pelayan perempuan di sisinya, memerah hendak menangis.
Dia menurunkan bahunya. Bersandar bagai nyonya bangsawan. Menerima suapan hidangan dan dipijati. Satu orang bersigap mengubah halaman bukunya, ketika dia kesulitan.
Layaknya kaca yang rapuh, Udelia tidak dibiarkannya bergerak sendiri.
Tujuh hari berlalu, Djahan sudah diperbolehkan pulang.
Udelia merasa senang. Akhirnya dapat terbebas dari perhatian -perhatian yang berlebihan.
Tapi, sepertinya itu hanya angan.
Djahan telah duduk di ruang tamu rumahnya di kampung. Menyesap teh tanpa beban di wajahnya.
"Tina, Rina, dan Wina akan bersama dengan Udelia. Mohon ibu dan ayah tidak keberatan. Saya sangat mengkhawatirkan kondisinya."
"Tidak masalah, nak. Kami akan siapkan kamar untuk mereka." Ayah Udelia menerima dengan tangan terbuka.
"Yah—"
"Tidak perlu repot, Yah. Kudengar Udelia mau ke kota. Biarkan ketiganya menemani Udelia."
"Baik. Baik. Terima kasih banyak atas perhatiannya."
"Iya, ayah. Mari.."
Udelia begitu jengah dengan ayahnya yang berbanding terbalik dengan dirinya beberapa hari lalu.
Ayahnya sangat antusias.
"Ayah disogok apa sama orang itu?" selidik Udelia ketika ayahnya sudah kembali masuk.
"Apa karena cerita absurd itu?"
"Dia orang agung, anakku. Bagaimana bisa ayah tak senang?"
"Ayah percaya begitu saja?"
"Sudah terlalu banyak buktinya."
Udelia melirik Tina, Wina, dan Rina yang setia berdiri di belakangnya.
Bagai patung yang tak mendengar.
Diam saja mendengar tuannya digosipkan.
Sejak tadi pun tidak ada tanda- tanda mau duduk.
Apa mereka robot?
"Properti yang mengurus cafemu adalah milik pengusaha A, yang sulit dibooking, kecuali jauh- jauh hari atau kamu VVIP di sana. Dokter- dokter kenamaan yang mengurus kamu dan mengurus beliau. Jangan lupa banyaknya orang terkenal di pulau ini, sangat tunduk padanya."
Wara terbayang liburan kemarin, sebelum Djahan jatuh sakit. Begitu banyak orang terkenal datang memberi salam dan oleh- oleh.
Mereka sekeluarga pun terkena dampaknya.
Dikenal dan diberi oleh- oleh. Ajakan- ajakan mereka menggiurkan. Memberinya banyak kerja sama yang menjanjikan.
Siapa yang dapat mengendalikan semua orang itu?
"Kamu pikir para orang kaya itu, para profesor, serta dokter- dokter, semuanya tidak bisa membedakan asli dan palsu? Ayah yang orang biasa tidak dapat memikirkannya, kecuali mendapati dia sebagai Mahapatih yang asli."
"Lalu ayah akan memaksaku berjodoh dengannya?"
"Jika bukan jodoh, tidak perlu dipaksa. Beliau Mahapatih, orang terhormat. Tidak akan memaksakan kehendak. Kamu cukup berlaku baik padanya."
__ADS_1
Orang terhormat?
Teringat dalam benak Udelia, saat Djahan bersimpuh dan menangis padanya.
Dia mempertanyakan arti hormat itu.
Namun hanya sampai di tenggorokan. Melihat binar di mata ayahnya, Udelia tidak tega menceritakan betapa merendahnya harga diri Djahan di hadapannya.
Udelia masih tidak sepenuhnya percaya dengan kisah itu.
"Lihatlah. Beliau sangat memikirkan kamu. Mengirim tiga pengawal sekaligus."
Udelia mengikuti arah pandang ayahnya. "Kalian, duduk."
Udelia bertitah, ketiganya masih saja bergeming.
Wara berlalu tanpa memedulikan ribetnya sang putri.
Putrinya akan bersanding dengan seorang yang besar, maka harus terbiasa dilindungi.
"Majikan kalian ini suka minum susu cokelat sebelum tidur. Ga bisa tidur dia tanpa itu."
Setelah memberikan informasi, Wara menghilang di balik tembok.
Rani dengan gesit pergi menuju dapur. Menyiapkan susu cokelat seperti yang dikatakan orang tua majikannya.
Udelia menerima susu cokelat dengan pasrah.
Dia memang suka meminum susu cokelat yang hangat. Baik sebelum tidur, saat bangun tidur, atau hanya sebagai teman santai.
"Terima kasih."
Udelia meninggalkan gelas kotor di atas meja. Melenggang masuk tanpa membersihkannya.
Tujuh hari dilayani, membuatnya menyerah untuk memberontak.
Udelia merenggangkan tubuhnya di atas dipan. Menikmati kasurnya yang dingin, karena lama tak terpakai.
Gerak tubuh di atas ranjang terhenti. Kala menyadari ada orang lain di kamarnya.
"Kalian kenapa di kamarku!?"
"Menjawab Nyonya, kami berada di dalam kamar untuk melindungi Anda."
"Kalian tidur di sini!?"
"Menjawab Nyonya, kami melindungi Anda, tidak beristirahat bersama Anda."
"Jadi, maksudnya melihat aku tidur semalaman?!"
Udelia bergidik ngeri. Jika itu sepuluh tahun lalu, Udelia akan merasa aman- aman saja bermalam dengan wanita asing.
Tapi ini zaman kegilaan. Wanita bisa sama gilanya dengan para pria.
Pria yang biasa menjadi pelaku, bahkan bisa menjadi korban.
Mendengar keluhan majikannya, Rina, Tina, dan Wina bersegera membalik tubuh mereka.
"Kami tidak akan melihat tubuh Anda, Nyonya."
Mereka berucap dengan serempak.
Udelia tidak lagi mampu berkata- kata.
Tidurnya malam itu terpaksa lelap, karena raganya telah letih menempuh perjalanan berjam- jam serta menahan berat tubuh Djahan di bahunya.
Saat pagi menyapa, tiga pengawal pemberian Djahan masih saja berdiri membelakanginya.
Udelia memperhatikan sekitar. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang hilang.
Saat dia keluar, para pengawal turut keluar.
Di ruang makan, pria itu yang semalam mampir di mimpinya, sudah duduk dengan nyaman dan bersiap memakan hidangan.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]