TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 051


__ADS_3

051 - INGIN DAN INGIN


Udelia mencari- cari spek prosesor terbaik untuk server aplikasinya.


Banyak prosesor tergeletak di meja sama sekali tidak diliriknya.


Dia harus mendapatkan prosesor keluaran terbaru.


Saat membuka lemari penyimpanan perangkat baru, tak sengaja Udelia menyenggol keranjang di sisi lemari pendek yang setinggi lengannya.


Semua isiannya jatuh berserakan.


Sebuah benda persegi mencuri perhatiannya.


Prosesor yang masih masuk dalam spesifikasi yang dicarinya.


Dengan susah payah dia membungkuk.


Meraih benda itu.


Djahan yang melihat istrinya kesusahan, tidak berdiam diri.


Dia langsung beranjak masuk ke ruangan bersekat itu.


"Udelia!"


Jantungnya seketika mencelos melihat Udelia jatuh tergeletak di atas lantai dingin.


Dia bopong tubuh tambun istrinya.


Udelia makin berat bukan hanya karena bayi dalam perutnya, tapi juga intensitas makannya menjadi sering.


Pipinya membesar, juga di beberapa bagian.


Namun itu tidak membuat suami- suaminya pergi meninggalkannya.


Dia semakin dicintai.


Hayan pun sampai dengan kekuatan penuhnya.


Sempat akan tertabrak burung besi di langit, untung Hayan dapat mengendalikan diri untuk sempat menghindar di detik terakhir.


Sebab selama perjalanan, pikirannya terus tertuju pada sang istri.


Hayan mematung ketika Djahan dengan paniknya melewati dia.


Udelia pingsan tentu saja membuatnya khawatir, yang lebih mengkhawatirkan ialah berkas cahaya yang tertinggal di ruang kosong itu.


Mungkin Djahan tak dapat melihatnya karena sudah lama pria itu tidak menggunakan kekuatan ghaib.


Namun Hayan melihatnya dengan jelas.


Jantung Hayan berdetak cepat.


Ketakutan itu datang lagi.


Dia berbalik melangkah dan seketika hialng di depan semua orang yang telah siap sedia memulai testing aplikasi buatan Udelia dan timnya.


"Akan lebih baik jika kita datang dan pergi tanpa menambah beban di tempat kerja," jelas ketua tim yang ditunjuk Udelia.


Mereka serempak terdiam.


Berhadapan dengan sang penguasa yang dipatuhi seluruh aparat dan pengusaha, Djahan Mada, mereka sudah tak mampu.


Bagaimana mungkin mereka menghadapi makhluk supranatural?


Mereka menutup mulut.


Sementara itu di belahan dunia lain..


Sebuah gedung yang ramai oleh wanita- wanita yang memperlihatkan kaki jenjangnya seketika dipenuhi teriakan ketakutan.


Bukan teriakan kenikmatan seperti yang biasa terdengar.


Jenderal Nala menyerang tempat itu.


Tempat berkolusi para pejabat buncit yang hendak menggulingkan Maharatu.


Hanya karena dia seorang wanita.


Padahal amat jelas segala kontribusi Maharatu tak kurang daripada Sang Ayahanda, mendiang Maharaja.


Juga belajar dari Sang Nenenda, Ratu masa sebelumnya, untuk menaklukan banyak pihak yang memandang rendah kepemimpinan wanita.


Hanya satu yang menjadi kebimbangannya.


Melawan adiknya sendiri.

__ADS_1


Dan itu dijadikan cela buat para pejabat korup berusaha menaklukan negeri yang besar ini.


Setelah menangkap seluruh orang, ada satu tugas lain yang menunggu sang Jenderal.


Mengambil seorang wanita yang hendak dijadikan pasangan musuh utama Maharatu.


Wanita itu adalah putri jenderal bayangan.


Ayahnya mati tanpa memberikan keputusan, akan diberikan pada siapa pasukan besar dan tak terlihat itu.


Karena dia juga tidak terlalu percaya akan kepemimpinan wanita.


Bimbang pada dua anak Maharaja.


Mati meninggalkan kebimbangan.


Anaknya lah yang tahu di mana token itu berada.


Juga sementara ini, para pengawal bayangan melindungi si wanita sebelum diputuskan haruskah mereka patuh pada Maharatu.


Akan menjadi perang maha dahsyat bila wanita ini benar- benar dinikahi putra Maharaja.


"Ikut dengan kami!" ucap Jenderal Nala mencoba negosiasi dengan sang wanita.


Wanita itu, Mendut, enggan kembali bersinggungan dengan kalangan atas.


Meski orang memandang hina pekerjaan ini, Mendut lebih bebas di sini.


Dia juga masih bisa hidup dan menjaga kecantikan yang dia banggakan.


Serta dekat dengan pria yang dia cintai, putra germo rumah bunga ini.


Awalnya merasa sakit ketika melihat pria itu senang bergonta -ganti pasangan.


Dia yang butuh uang pun awalnya merasa jijik.


Berselang lama dia menikmati dan pada akhirnya dapat bersatu dengan pria yang dia cintai.


Walaupun hubungan mereka tidak dapat diterima norma.


Demi kenyamanan hidup di sini, Mendut maju dengan gaya sensual.


Jenderal perjaka, pria yang selalu berdedikasi pada negara.


Mendut penasaran dengan rasanya.


Jenderal Nala awalnya tidak merespon seperti ia biasa mengabaikan para wanita panggilan.


Tapi jam terbang Mendut tidak berbohong.


Wanita yang hanya melayani kalangan atas itu tahu bagaimana caranya menggoda para bangsawan hanya dengan menggunakan ujung jemarinya.


Jenderal Nala menarik tangan mulus Mendut.


Dia menjatuhkan Mendut ke atas karpet tebal.


Naluri kelakiannya melakukan semua itu.


Mendut sampai kewalahan.


Hingga di tengah permainan dia merasakan jantungnya berdebar kuat.


Seluruh tulang di tubuhnya seperti pecah dan patah.


Tanpa diketahui lawan mainnya, napas Mendut sempat berhenti.


Kemudian bangun dengan jiwa berbeda.


***


Udelia merasakan pening luar biasa.


Lalu lamat- lamat dia merasakan rahimnya sesak dan penuh.


Juga punggungnya serasa menyentuh benda dingin dan kasar.


Mata lemah itu perlahan terbuka.


Dia terbelalak melihat wajah asing yang tak berjarak dalam matanya.


Bergerak hebat mengusi rahim yang telah penuh.


Lesatan memori saling tumpang tindih dalam kepalanya.


Pria yang mengisi tubuhnya seketika menarik rambutnya.


Udelia memekik hebat.

__ADS_1


Kepalanya sakit karena ingatan- ingatan yang melesat cepat dan tarikan kasar pria yang mengga uli nya.


Pria itu seperti kesetanan.


Meraih tubuhnya. Membawanya ke atas batu datar di ruang terbuka.


Gi la.


Dia dapat mendengar keributan dari balik kayu anyaman yang bertengger di samping kolam.


Pria ini sangat ganas!


Ber seng gama di luar ruangan.


Di siang hari.


Di saat banyak orang sibuk berlalu lalang dan tertawa terbahak.


Bercinta tanpa suara dan pujian, namun selalu begitu dalam mengisi rahimnya.


Pria yang sangat terlatih.


Udelia sampai kewalahan ketika dia mengabaikan kepalanya yang sakit dan berusaha mengimbangi pria ini, agar cepat puas dan melepaskan dirinya.


Udelia bernapas lega saat pria itu melepasnya.


Namun ternyata hanya khayal.


Pria itu melebarkan kakinya di antara dua tubuhnya.


Memandang rendah ia.


Menekuk lutunya di antara kepala Udelia.


Memasukkan pisang tanduk pada kerongkongannya.


Udelia merasa akan mati pada saat itu.


Mulutnya penuh dengan lelehan keju asin yang banyak.


Seketika ia tidak sadarkan diri.


Pria itu menangkap kepala Udelia yang hampir menjedug tanah.


Membawa Udelia tanpa kata ke dalam bangunan yang sudah hancur sebagiannya.


Dia membuka mulut Udelia. Membersihkannya.


Seketika dirinya kembali on.


Dia tidak tahu memiliki kebiasaan seperti itu sampai dirinya berjumpa dengan wanita ini.


"Kamu sangat candu.."


Mengabaikan norma yang ada, dia mencium ganas wanita yang tergolek tak berdaya.


Dia tidak merasa bersalah karena wanita itu juga kembali mengeluarkan cairan dari tempat yang sudah dibersihkannya.


Dia menggila.


Mengeluarkan segala sesak di antara dua kakinya.


Berkali- kali melakukan pelepasan.


Tanpa pengamanan.


"Tuan, semua sudah pergi," ucap bawahannya dari balik pintu.


Menyadarkan dia masih ada hal yang lebih penting.


Tapi dia tidak berdaya dengan wanita ini.


Dia selalu ingin dan ingin.


"Sepertinya kamu dapat menggantikan dia," gumamnya setelah bersiap.


Merapikan dirinya tanpa mau merapikan wanita di atas ranjang.


Terburu- buru sebab takut kembali tergoda.


Tubuh molek yang tak pernah dilihatnya.


Bahkan dari kekasih hatinya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ​ ꧉​꧉​꧉​

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2