![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Cendana—raja ketujuh dari Kerajaan Ende dan seluruh rakyatnya, bersujud di depan Hayan—Maharaja Bhumi Maja.
Hayan duduk dengan wajah datar, tidak menyahuti salam dan penghormatan yang diberikan rakyat Kerajaan Ende.
Rakyat Kerajaan Ende tak tahu apa yang direncanakan Hayan, dengan mengumpulkan mereka semua dalam satu lapangan yang dijaga sangat ketat.
Ksatria-ksatria Maja berbaris rapi dengan seragam lengkap mengitari mereka, seolah bersiap melakukan penjagalan.
Rakyat Kerajaan Ende pun tak tahu mengapa putri kesayangan mereka, Cendera, berdiri di sisi sang Maharaja.
Di depan sepasang pria dan wanita itu, berdiri seorang pria yang terkenal paling kuat di antara para petinggi Bhumi Maja, termasuk lebih kuat dari Maharaja.
Dia adalah Djahan Mada, Mahapatih Bhumi Maja.
Djahan berdiri sembari memegang kertas. Dia membacakan bait demi bait, yang tertulis di atas kertas dengan tinta perunggu.
"Cendera, putri Cendana telah diambil oleh Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja. Hidupnya kini sudah tak terikat tempat kelahiran."
"Jika Ende ingin bergabung, kami akan menarik seluruh pasukan dan raja Ende akan berubah menjadi wiyasa Ende, dengan segala hak dan kewajiban sama seperti watek-watek lain."
"Jika tidak ingin, Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja memberikan waktu tiga bulan untuk bersiap di medan perang. Kebijaksanaan adalah hal baik."
Cendana mengepalkan tangannya. Dia tidak mau dipermainkan oleh orang lain. Dia bermaksud menolak tawaran Hayan yang merendahkannya, namun putrinya menggeleng dengan tegas.
Cendana menghela napas panjang. Putrinya telah menyampaikan, bahwa kekejian yang terjadi di wilayah mereka, bukan berlandaskan perintah Bhumi Maja.
Orang-orang keji itu hanyalah segolongan oknum tak bertanggung jawab.
Namun bukan berarti Bhumi Maja akan berhenti memperluas wilayahnya.
Sumpah Maharaja Bhumi Maja sangat agung. Perluasan wilayah Bhumi Maja akan terus dilangsungkan.
Mau tak mau, Cendana hanya bisa bergabung dengan Bhumi Maja. Terlebih, putrinya berdiri sangat dekat di samping Maharaja Bhumi Maja, bagai seorang pendamping.
Dia tidak mau mengecewakan putrinya, yang berkehendak untuk bersatu dengan Sang Maharaja Bhumi Maja.
Lagipula, menempatkan putrinya di sisi seorang yang besar, pasti memberi dampak besar bagi wilayahnya.
"Hamba siap bergabung dengan Bhumi Maja, tapi dengan beberapa syarat."
"Katakan," ucap Hayan.
"Pertama-tama, hamba memohon Yang Mulia agar selalu memberikan kebahagiaan pada Cendera."
"Yang kedua ialah hamba memohon keadilan atas perbuatan semena-mena pasukan Bhumi Maja."
"Syarat ketiga, hamba ingin Wiyasa Ende tetap berdasarkan keturunan keluarga Kerajaan Ende."
"Dan keempat, mohon jangan menyerang Kelimutu."
__ADS_1
Cendana tidak melupakan jasa tetangganya, yang telah membantu gadis-gadis wilayahnya untuk pulang dengan selamat.
Dia berharap, syaratnya kali ini membuat Kelimutu tetap merdeka di atas kakinya sendiri.
Secara langsung, Hayan menuliskan poin-poin yang diminta Cendana.
Djahan menerima kertas itu, lalu memberikan dua kertas perjanjian dan lencana pada Cendana yang menengadahkan tangan.
"Saya, Cendana, raja Ende, hari ini telah berubah menjadi wiyasa Ende, pemimpin watek Ende milik Bhumi Maja. Selanjutnya jika saya dan para pejabat, juga jajaran yang lain berkhianat ..."
Cendana mengambil napas sejenak. Merangkai kata agar tidak salah bicara, sebab dalam sumpah ini, semua yang terucap pasti terjadi.
".... Kami dan keluarga siap menerima akibatnya secara langsung." Cendana menempelkan darah pada lencana sebagai janji atas kesetiaannya dan kesetiaan rakyatnya.
"Kami bersumpah, atas tanah kami, atas nyawa kami, atas diri kami, atas hal-hal yang berharga bagi kami. Jikalau sekali saja kami berkhianat pada Bhumi Maja, maka akibat yang sangat amat buruk pasti menimpa kami," sumpah para pejabat dan rakyat Ende.
"Yang Mulia ..." panggil Cendera berusaha meraih lengan Hayan.
Pria itu menepis tangannya lantas beranjak pergi meninggalkan lapangan.
"Bersiaplah, dalam sepekan kita akan kembali," ucap Djahan pada Cendera yang memerah malu, karena merasa diperhatikan oleh ayahnya dan rakyatnya.
Cendana tidak melihat putrinya. Dia sibuk membaca poin-poin yang dituliskan tuan barunya. Dia memastikan perjanjian itu telah benar, sesuai kesepakatan.
Saya Maharaja Bhumi Maja memenuhi keinginan Cendana, raja Ende yang telah menjadi wiyasa Ende, dengan poin-poin sebagai berikut:
2. Menjadikan Cendana dan keluarga Kerajaan Ende sebagai pewaris Watek Ende.
3. Tidak menyerang Kelimutu, selama Kelimutu tidak memunculkan permusuhan.
Hak dan kewajiban akan tertulis secara terpisah.
"Putriku, apa kamu melakukan kesalahan?" tanya Cendana melihat putrinya sendirian, ditinggal oleh orang-orang Maja.
Padahal putrinya telah menjadi gundik Maharaja. Setidaknya harus ada beberapa pengawal untuk menjaganya.
"Maafkan ananda. Ingin mengobati Yang Mulia Maharaja, malah mengambil kesempatan." Cendera bersujud di kaki Cendana.
Dia ingin melimpahkan kesalahan pada Hayan, tapi tidak mungkin. Yang ada, nanti dia tidak dibiarkan bersama dengan pria terbaik sejagat raya itu.
Cendana menatap sendu Cendera. Dia ingin sekali mencincang pria kasar, yang telah berani meninggalkan putrinya seorang diri.
Namun dalam hal ini, putrinya telah melakukan kesalahan besar.
Cendera menjebak Maharaja, walaupun pada awalnya bukan dia yang melakukan.
Menyatukan Ende ke wilayah Bhumi Maja dan menyerahkan putrinya sebagai gundik, sudah sangat menguntungkan Cendana.
Jika tidak, keluarga dan rakyatnya akan dihukum mati dengan tuduhan telah menjebak Sang Maharaja.
__ADS_1
"Haaa." Cendana mendesah sedih, dengan hidup putrinya yang malang. "Kedepannya mungkin sulit untukmu. Jangan mengharap apa pun. Hiduplah dengan damai," nasihatnya.
Sementara itu, Djahan khawatir pada Hayan. Ayah kandung dari putri kesayangannya, sudah memaksakan diri melakukan perjalanan mempersingkat waktu—dalam durasi yang sangat gila.
Perjalanan yang memakan waktu satu setengah bulan, dipersingkat Hayan menjadi dua hari saja.
Menyingkat waktu seperti yang dilakukan Hayan, sangat mudah bagi Petapa Agung. Namun Hayan bukan Petapa Agung, yang menguasai hampir seluruh bidang ilmu dan kekuatan.
Energi Hayan terkuras habis, demi mencapai tempat terakhir Maya Lopika Wijaya dikabarkan berada.
Djahan tidak mungkin membiarkan pria keras kepala ini, merusak tubuhnya sendiri.
"Maharaja, jangan memaksakan diri. Serahkan pencarian Lopi pada saya," tutur Djahan tidak menutupi kecemasannya.
Apabila Hayan memaksakan diri untuk terus melakukan pencarian, tubuhnya bisa saja hancur.
Hayan telah berada di titik terlemahnya. Sampai-sampai sebuah racun pe rang sang yang amat mudah dideteksi, mampu menguasai pria itu.
"Anda pikir, saya bisa tenang saat tidak ada tanda dari putri saya yang menghilang?!" teriak Hayan frustasi.
Putrinya adalah hidupnya. Lebih baik dia mati daripada hidup tanpa ditemani putri dari perempuan yang ia cintai.
"Kondisi Anda buruk. Kalau seperti ini terus, Anda bisa mengalami kelumpuhan. Beristirahatlah." Djahan berkata dengan tegas.
Tapi pria keras kepala itu membalas ucapan Djahan, "Saya akan beristirahat, jika ada titik terang."
Begitu Hayan menyelesaikan ucapannya, seekor dara menempel di pundaknya.
Djahan bergegas mengambil burung itu dan memeriksanya.
Burung pengantar pesan dalam genggaman Djahan, sangat aneh. Burung itu bernilai rendah, tidak mungkin pihak keamanan membeli burung murahan.
Akan tetapi, burung itu mampu melewati lingkar pelindung, yang ada di sekitar Djahan.
Djahan memeriksa secara menyeluruh dan teliti. Dia melakukannya sebanyak tiga kali, sebelum diserahkan kepada Hayan.
"Silakan." Djahan memberikan kertas bersegel yang sudah dipastikan keamanannya.
Putrimu berada dalam genggamanku. Kami menunggu di ibu kota.
Selesai membaca pesan, Hayan bergegas memanggil kuda sembrani. Sedetik kemudian dia tumbang dan kuda sembrani bernama Berani itu pun menghilang.
Djahan menangkap raga Hayan yang tak sadarkan diri. Lalu dia membaca pesan yang tertulis.
Tanpa sadar Djahan mengukir senyum membaca guratan—yang dalam alam bawah sadarnya, dia sangat mengenali tulisan tersebut.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1