TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
013


__ADS_3

"Kalau Ibu Cempaka tidak pernah melakukan apa pun tapi dia sering merendahkan ananda dengan lisannya di depan orang lain."


Maya masih mengadu. Dia mengadukan segala yang teringat di benaknya.


Udelia mengusap pipi Maya. Air mata yang berderai ini akan dia balas berkali-kali lipat pada mereka yang berani menganggu putrinya!


"Ratu tidak pernah menganggap ananda ada, semua acara wanita dihadiri dan digelarnya sendiri."


Maya mengepalkan tangannya. Padahal ibunya adalah Maharani dan kedudukan Maya lebih tinggi dari Ratu yang selama hidupnya hanya perlu menggelar pesta bagi istri-istri pejabat.


Tapi perempuan itu sama sekali tidak menganggapnya. Orang-orang besar


"Oh maharani meski tidak mengakui masih sering mengirim makanan dan beliau yang mengatur dapur ananda."


Maya mengadukan seluruh keluhan yang tidak bisa dia sampaikan pada ayahanda dan ayahnya.


Udelia semakin geram pada suaminya itu.


Sebenarnya berapa banyak wanita yang dimiliki suaminya!?


Dan semuanya menindas putri mereka! Namun sadar pun tidak!


Walau putri mereka tidak mengadu, harusnya sebagai ayah dan sebagai orang yang paling berkuasa, orang seperti ini harusnya tahu yang terjadi di sekitarnya!


"Oh putriku yang malang...!" rancau Udelia menarik Maya ke dalam dekapannya.


"Maaf ibunda tidak berada di sisimu.." sesal Udelia dengan penyesalan yang dalam.


Mata Maya terbuka. Maya mengerjapkan matanya yang terlalu lama berada di bawah sinar matahari. Dia tersenyum kecil melihat punggung ibunya yang membuatnya nyaman.


Maya sudah tidak lagi memiliki kekhawatiran dan Maya akhirnya tidak perlu lagi menunggu tanpa kepastian.


"Ibunda sekarang sudah datang.." Maya balas memeluk dia yang mempertahankan dan melahirkannya di kala sulit.


Maya Lopika Wijaya lahir dua bulan lebih cepat dari waktu yang diperkirakan. Semua itu terjadi karena ibunya terluka berat.


Ketika dihadapkan pilihan sulit yang hanya dapat menyelamatkan satu nyawa, ibunya memilih untuk menyelamatkan dirinya, tidak memikirkan nyawanya.


Tidak mungkin orang yang sangat mengasihi dirinya tiba-tiba menjadi dingin dan tak peduli.


Maya bersyukur maharani bukan ibunya yang sebenarnya.


Udelia menggigit bibirnya. Dia memeluk Maya lama sampai para laki-laki selesai berenang.


Orang-orang Kelimutu itu membawa banyak ikan dari tengah laut.


Maya sontak melihat ke arah mereka dan terpaku. Dia terpaku karena warna pasir di sini sangat tak lazim, pasirnya berwarna merah muda.

__ADS_1


Warna pasir yang aneh ini termaktub dalam kitab yang ditulis ayahnya, Mahapatih.


Ayahnya benar-benar seorang petualang.


"Dewi dan ndut mau? Tiga hari lalu ndut tak sempat makan," tawar Mano menyerahkan sebilah bambu yang dipenuhi ikan.


"Selama itu?" ucap Maya tak percaya.


"Iya. Di sepanjang jalan wanita ini terus menggendongmu. Bukannya kami tak perhatian, kami harus bawa tasnya yang sangat berat dan mempersiapkan tenda juga makanan.."


"..Bicaralah yang baik padanya. Kamu tahu sendiri dia tidak ada dari awal," terang Reo yang tahu-tahu sudah ada di samping Maya.


Reo memahami yang dilakukan ketuanya. Ketuanya tidak ingin melibatkan Kelimutu dalam kejahatan yang mereka lakukan.


Dengan mendorong kepercayaan putri Maharaja Bhumi Maja pada perempuan yang tidak ada kaitannya dengan mereka, mereka akan menyelamatkan Kelimutu dari tuduhan penculikan pada putri dan bahkan besar kemungkinan dapat menyelamatkan nyawa mereka sendiri.


"Kalau tidak dapat menyelamatkan nyawa, setidaknya penduduk tidak terlibat," batin Reo.


Dia sangat berharap pada perempuan ini.


Karena mereka juga termaasuk korban.


Dan karena mereka tidak akan mampu melawan perempuan ini.


"Aku ingin bicara empat mata dengannya.."


"Ibunda, maafkan ananda. Pasti sangat berat," ucap Maya setelah memastikan semua penculiknya itu masuk ke hutan.


"Jangan terlalu cepat mempercayai orang. Wajah yang terlihat mirip sangat banyak."


Udelia memejamkan matanya. Dia sengaja tidak mau mengakui dirinya dengan gamblang agar tidak terlalu menyakiti putrinya.


Udelia harus menyanggah dengan tegas bahwa dia bukan perempuan yang dipikirkan Maya.


"Tentu saja ananda tidak sembarangan. Utih adalah bukti keaslian ibunda dan perlakuan selama ini, bahkan naga itu.. apa ibunda akan meninggalkan ananda lagi?"


Mata yang baru kering kembali basah, Maya menatap ke dalam mata ibunya.


"Tetap saja jangan percaya–"


"Ibunda ingin meninggalkan ananda," potong Maya.


Udelia mengatupkan mulutnya. Mungkin seharusnya dia tidak menyakiti hati putrinya dengan menyanggah identitas dirinya.


"Ananda sudah terbiasa. Ayahanda yang sibuk dan ayah yang selalu berekspedisi, ibu susu telah mangkat, kini ibunda kembali pergi. Ananda sudah terbiasa.." Kembang kempis hidung Maya ketika berucap. Dia sadar dirinya sudah dewasa dan tidak seharusnya merengek.


Namun kali ini Maya benar-benar tidak ingin ditinggalkan.

__ADS_1


Udelia memeluk Maya. Dia tidak sanggup melanjutkan penyangkalan ini. Sedetik lagi pun tak sanggup. "Tidak, sayang. Tidak. Ibunda juga tidak ingin meninggalkan Maya."


Udelia meneteskan air mata mendengar sesenggukan Maya. Dia sudah membuat putri kecilnya menangis.


Lalu apa bedanya dia dan pria si alan itu!!?


"Tapi pergi adalah sebuah keharusan. Nanti, nanti ibunda akan kembali,"


"Ngga mau... Maunya.... ibunda tetap.. di sini." Maya berkata sambil sesenggukkan. Kali ini dia benar-benar menangis.


Maya terus menangis hingga matahari yang terik sedikit turun. Udelia mengusap punggung Maya hingga Maya tenang.


"Sayang, dengar. Tubuhmu telah diracuni ratusan jenis racun mematikan, beruntung ada berkat dari bidadari hingga tetap selamat. Tapi dampaknya adalah kekuatanmu jadi tersendat. Sekarang sudah rasakan aliran yang bebas di telapak tangan dan kakimu?"


"Iya."


Mata bengkak Maya diusap lembut Udelia. Maya memejamkan matanya menikmati kasih dari ibunya.


"Ibunda akan membebaskan semuanya. Jangan ada makanan masuk sampai bisa mulai bertapa." Udelia tersenyum kecil. Dia mengangkat tangannya lalu seekor harimau putih muncul di sisinya.


Maya menegakkan tubuhnya menatap takjub Utih yang selama ini hanya dia dengar ceritanya. Maya menjulurkan tangannya mengelus bulu putih bercorak hitam milik Utih.


Mata Maya berbinar merasakan bulu terhalus yang pernah disentuhnya.


Bahkan pakaian-pakaian bulu dan hadiah-hadiah berbulu mahal dari ayahandanya tidak ada yang bisa dibandingkan dengan bulu lembut ini.


"Hari ini makanlah dulu. Kita lakukan itu di tempat perhentian selanjutnya."


"Kamu harusnya tidak usah memanggilku saat kondisimu-" Ucapan Utih terpotong ketika dua ikan dalam kantong di mulutnya direbut paksa Udelia.


Utih menghembuskan nafas sebal. Dia sudah perhatian seperti ini malah diabaikan.


"Nah, ibunda sudah bawa perlengkapan memasak ikan~" Udelia mengeluarkan alat portabel dan kecap kesukaannya yang tak lupa ia bawa ketika bepergian.


Utih pun tidak menyia-nyiakan waktu dan langsung pergi, dia tersenyum kala tubuhnya perlahan menghilang dan semakin transparan.


Dengan cekatan Udelia menyiapkan ikan bakar yang sudah ditunggu-tunggu putrinya.


Perut Maya bersuara keras ketika aroma ikan bakar merebak.


Udelia mencomot daging ikan yang panas kemudian ia putar-putar supaya dingin dan menyuapkannya ke mulut Maya.


Maya tersenyum dan menerima suap demi suap dari tangan ibunya.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]

__ADS_1


__ADS_2