![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia duduk miring di atas kuda, dia memeluk erat pinggang Djahan. Menghalau jatuh dan menghalau angin yang berhembus dingin.
Sesampainya di Wanua Mejeng, Djahan kembali menggendongnya. Mata Udelia tertuju pada rumah asing, bukan tempatnya menginap.
Udelia bertanya-tanya kenapa dia berada di rumah lain? Apakah Djahan hendak menculiknya? Bukankah pria itu tahu dirinya sudah ingat segala hal dan tidak akan lari?
Udelia sudah diberi tahu tentang keadaan dua putranya baik-baik saja dan berada di tempat aman. Yang dia bingungkan alasan Djahan memindahkan rumah tinggalnya.
Apa Djahan hendak menjauhkan Udelia dari Candra?
Djahan menurunkan Udelia di depan pintu sebuah kamar tanpa kata-kata. Raut kebingungan Udelia akan hilang bila melihat yang ada di dalam sana.
Udelia mengikuti arah pandang Djahan. Ada sebuah pintu dengan kayu jati kokoh. Rupanya rumah sederhana itu memiliki perabot yang terbilang fantastis.
Bukan hanya bahannya, namun ukirannya menunjukkan seni tingkat tinggi. Sedikit yang akan menyangka karena rumah itu begitu sederhana. Pagar bambu mengitari rumah dan sebuah kandang bambu di samping rumah, menimbulkan kesan sederhana.
Udelia mengintip cela pintu kamar yang terbuka. Tampak Candra sangat serius Raka yang sedang mengisi perut di gendongan seorang wanita, yang semerbak parfumnya hingga menguar keluar ruangan.
Rahang Udelia mengetat. Tangannya mengepal. Niatnya untuk memilih Candra lenyap sudah.
Padahal dia sudah memutuskan untuk terus bersama Candra. Tiga tahun kebersaman tidak dapat terganti. Dua anak mereka pun butuh sosok orang tua yang lengkap.
Rupanya hanya Udelia yang berpikir demikian. Baru setengah bulan Udelia menghilang, Candra sudah mengganti posisinya dengan wanita lain. Bahkan memberikan ibu baru untuk putra mereka.
Walau Raka adalah putra Candra dan Candra memiliki kuasa atasnya, Udelia tidak setuju putranya disusui oleh orang lain! Dia masih sanggup menyusui dan mengurus anaknya.
"Apa sudah selama itu?"
Udelia masuk dan menginterupsi. Punggung tubuhnya tegak, langkahnya penuh dengan rasa percaya diri.
Berbanding terbalik dengan Candra yang tersentak kaget. Wanita di sisi Candra menundukkan kepalanya merasa terintimidasi.
Udelia melirik dengan rasa penasaran tinggi. Wajah wanita itu tidak tampak.
Siapakah wanita yang mampu memalingkan hati Candra?
Belasan tahun Candra setia menunggu, namun dalam beberapa hari Candra berpaling.
"Istriku.."
"Candra, kita perlu bicara."
Udelia melirik sinis wanita yang masih terus menyusui putranya. Dia akan berpikiran positif. Mungkin saja wanita itu adalah ibu susu yang dipilihkan Candra.
Tentang Candra yang melihat langsung proses penyusuan Raka, Candra hanya ingin putranya baik-baik saja.
__ADS_1
Pikiran dan hati Udelia berperang antara pemikiran yang negatif dan pemikiran yang positif.
"Nona Wistara, keluarlah," ucap Candra.
"Kepala keluarga, aku ini istrimu. Tidak sopan memanggil–"
"Keluarlah.."
Udelia tertegun. Ternyata pikiran negatifnya menang. Wanita itu benar milik Candra. Bahkan sudah dinikahi sebagai seorang istri.
Udelia tersenyum miris. Tidak bisakah Candra hanya mencari ibu susu tanpa perlu menikahi wanita itu?
Udelia bahkan sudah meminta Djahan untuk lapang dada menerima keputusannya yang sudah bulat memilih Candra.
Meski tidak secara langsung, tersirat jelas dalam kata-katanya saat berada di atas kuda.
"Djahan, aku ingin memberikan masa kecil yang bahagia pada dua putraku," ucap Udelia setelah mengetahui kedua bayi kecilnya baik-baik saja.
Djahan tidak menanggapi. Dia hanya mengulas senyum.
Rupanya bahagia itu tidak perlu bersama.
Seperti Candra yang melepas kebersamaan mereka demi memberikan seorang ibu susu. Udelia juga akan memberikan kebahagiaan tanpa perlu bersama.
Udelia tidak mau berbagi pasangan. Membayangkannya saja sudah sesak.
Triya Wistara, seorang wanita bangsawan yang sangat menghamba pada ketampanan para pemuda. Dia merupakan saingan Netarja Wijaya, adik kandung Hayan. Netarja dan Triya menyukai Mana Catra, pemuda paling tampan di antara para bangsawan.
Perpaduan Timur kepulauan dan Barat kepulauan bersatu pada pada diri Mana Catra. Memiliki nenek dari Barat kepulauan dan ibu dari Timur kepulauan membuat rupa indah dari dua sisi menjadi satu.
Kulit eksotis dan hidung bangir menjadi ciri khas Mana Catra. Mata teduh dan rahang kokoh menyatukan rupa lembut dan tegas.
Ketika Mana Catra dan Netarja Wijaya mempersiapkan pernikahan, Udelia telah mendengar Triya menggandeng seorang pria tampan dari kalangan rakyat jelata. Ketampanannya bisa dikatakan sebelas dua belas dengan Mana, tapi tidak dengan kedudukannya.
Wajah Triya merenggut. Dia memberikan Raka pada Udelia lalu keluar dari kamar dengan membanting pintu.
"Jangan dekat-dekat, Candra," desis Udelia ketika Candra hendak berjalan ke arahnya.
"Nona Triya Wistara baru kehilangan bayinya. Untuk menjaga kemurnian asi dan sebagai syarat agar dia terbebas dari suami rakyat jelatanya, aku menikahi dia setelah menemukan Raka yang terbaring lemah di markas para penyerang."
"Candra, kamu ingin merusak ingatanku lagi?"
Candra menutup mulutnya rapat-rapat. Ternyata ingatan sang istri telah bangkit. Pantas saja dia merasakan aura yang berbeda. Tatapan matanya pun setajam pedang.
"Apa sebegitu menyenangkan melihat kebodohanku?"
__ADS_1
"Tidak, kakak. Aku hanya ingin bersama kakak, kalau kakak ingat–"
"Hah? Bersamaku!?" potong Udelia. Dia menatap sinis pintu yang telah dibanting Triya.
"Kunikahi nona Wistara karena air susunya."
"Karena itu saja?"
Ekspresi tak percaya terlukis jelas di wajah Udelia. Wajah dan raga Triya tidak buruk. Apalagi Candra begitu intens saat Raka menyusu.
Candra memperhatikan Raka atau memperhatikan benda yang sedang Raka diisap Raka?
Sangat jarang ada kucing enggan memakan ikan yang tersedia di depannya.
"Kamu tidak tidur de.ngan.nya?" tanya Udelia menekan di akhir kalimat.
"... Semua pengantin baru melakukannya," ragu Candra berkata jujur. Dia tidak mau ada kebohongan.
"Baik. Baik. Pengantin baru. Kuucapkan selamat. Akan kuberi kalian hadiah berupa perceraian dengan kita," putus Udelia cepat.
"Kakak, aku hanya ingin bersamamu. Bertahun-tahun aku menunggu. Tidak akan kubiarkan kakak pergi begitu saja."
Candra mencekal tangan Udelia. Tangannya mengudara hendak menggapai kepala Udelia, namun sebuah tangan kekar menghentikannya.
"Hentikan, Ekadanta!"
Djahan tiba-tiba muncul di dalam ruangan dan mencengkeram tangan Candra yang mengarah ke kepala Udelia.
Anak bau kencur itu hendak membuat Udelia kembali lupa ingatan.
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI
SEHAT SELALU SEMUANYA
KETJUP HANGAT DARI WANITA PEMILIK BANYAK PRIA
UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...
F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4)
__ADS_1
I G : alsetripfa4