TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 053


__ADS_3

053 - MEMASUKKAN PITON KE DALAM GUA


Langit bergemuruh.


Namun tiada petir menyambar.


Karena langit tahu ada jiwa yang harus dikembalikan pada masanya.


Fusena menurunkan tangannya, ketika dia memiliki restu untuk memindahkan jiwa yang berasal dari masa depan.


Ada yang harus dia lakukan.


Mengingat kejadian di pasar, Udelia hampir saja berubah menjadi tanah karena anak gila terkutuk dari keluarga Ekadanta.


Raga yang kebal akan segala hal.


Bila perlu kebal dari kematian.


Fusena melanggar ketentuan langit.


Sebuah petir biru seketika menyambar tubuhnya, yanĝ sedang bertapa mengumpulkan tiap energi suci yang beterbangan.


Petir pembuka hati.


Fusena yang selama ini menahan segala emosi dalal diri sebagai seorang besar yang suci, seketika berubah menjadi seseorang yang egois.


Dia tidak dapat menahan diri tiap kali emosi mendera hatinya.


Dia yang tak suka anak kecil, seketika melemparkan seorang anak saat mendekat padanya.


"Apa kalian tidak waras? Sembarangan pada anak kecil," omel seorang pria dengan kulit sawo mateng, serta hitam legam pada mata dan rambutnya.


"Ada yang mengganggu guru? Haruskah aku patahkan lehernya?"


"Tidak usah, Ndra."


"Sekali lagi saya mohon maaf pada Anda sekalian. Saudara saya sedang kurang enak badan. Tidak bisa membedakan pandangan..." mohon Idaline.


Dia bergidik saat melihat mata orang yang hendak mematahkan lehernya.


Untung saja mereka sedang menyamar.


"Siapa namamu?" tanya pria berbadan tinggi itu.


"Udelia."


Idaline menutup rapat mulutnya.


Kenapa pula dia menyebutkan nama aslinya!?


Tapi dia tidak bisa meralatnya atau pria kurus di sisi pria itu, akan mematahkan lehernya!


Kedua pria itu pun pergi setelah selesai mengisi perut di kedai.


Masih samar Idaline dengar percakapan mereka.


"Kenapa guru menanyakan nama orang rendahan?"


Idaline melirik Fusena yang sedang makan dan minum dengan rakus.


Melihat keanehan ini, Idaline langsung membawa Fusena menepi ke rumah mereka.


"Apa kamu kerasukan?" ucap Idaline dengan binar mata polosnya.


Mencari keanehan pada wajah Fusena.


Pria ini baru saja mengutuk orang- orang yang melakukan upacara di bibir gua.


Fusena tak suka dengan upacara persembahan pada dirinya.


Hanya mengotori rumahnya yang bersih.


Untung saja Fusena sedang melakukan samaran, jadi orang- orang tak tahu yang sedang mengutuk keras mereka adalah Petapa Agung yang mereka banggakan.


"Maafkan Kak Na. Dia pelayan kami yang sedang mabuk," kata Idaline sepenuhnya berbohong.


Idaline bahkan harus menarik paksa Fusena untuk masuk ke gua.


Bulir keringat sebesar jagung muncul di kepalanya.


Dadanya naik turun.


Raga Fusena amat besar untuk ukuran tubuh mungil nya.


Idaline berselonjor di atas batu beralas tikar.

__ADS_1


Napasnya menderu.


Fusena tergoda melihat pemandangan itu.


Dia mencengkeram bahu Idaline dan menghimpitnya ke dinding gua.


Idaline memberontak hebat.


Dia tidak mau kehilangan kesuciannya di tempat asing ini.


Dia juga tidak mau menyerahkan diri pada Fusena yang tak terlihat seperti biasanya.


Tangannya berusaha menggapai benda- benda di sekitar.


Tapi Fusena tak peduli.


Dia tidak mengindahkan permohonan sepupunya.


Dia menarik tangan Idaline ka atas, agar tidak terus memberontak.


Bagai binatang buas yang kelaparan, Fusena merobek dan menjelajahi padang yang tersembunyi.


Melukis kulit putih Idaline.


"Tidak, Fusena. Jangan lakukan ini. Sadarkan dirimu! Tolong... jangan.."


Idaline sudah berteriak sekuat tenaga.


Namun mengapa orang- orang di luar tidak mendengarnya?!


Idaline menangis sesegukan.


Dia hanya remaja polos, yang belum mengenal indahnya dunia.


Udelia yang pintar ... tahu, tidak seharusnya membuka baju di depan orang lain.


Dia mendorong kepala Fusena yang menyedot buah dadanya yang baru tumbuh.


Tangan dan kakinya bergetar hebat.


"Lepas...! Aku mau pipis!"


Fusena menulikan telinganya.


Masih sibuk dengan kegiatannya melepas robekan baju yang mengganggu pemandangan indah.


Raga Idaline lantas dibaringkan di pinggir danau.


Seketika raganya kaku.


Dia tidak dapat melakukan apa pun selain merintih.


Jemarinya bahkan tidak bisa diangkat.


"Ah, sayang. Kamu senang kan makanya terdiam?" rancau Fusena.


Dia berdecak kagum dengan karyanya.


Idaline yang terbaring tanpa sehelai benang pun.


Tubuh yang tumbuh sempurna itu menampilkan seluruh keloknya yang indah.


Akhirnya khayalan selama sepuluh tahun terjadi juga.


Di depan kolam kehidupan, Fusena mendapatkan raga wanita, yang diinginkannya.


Segala bercak merah di tubuh Idaline adalah tanda kepunyaannya.


"Kamu siap, sayang?"


Piton yang tak pernah masuk palung selama ratusan tahun, langsung menerobos karang yang menghalangi.


"Ah.." rancau Fusena ketika berhasil memasukkan piton ke dalam gua.


Langit bergemuruh.


Petir menyambar tubuh Fusena.


Petapa Agung yang seharusnya menjaga kesuciannya.


Fusena sempat terdiam merasakan sakit yang menjalar pada tubuhnya.


Dia menekan perut polos Idaline, agar getaran petir tidak masuk dalam tubuhnya.


Fusena bukannya bertobat. Malah melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


Mengisi penuh ruang balon dengan air.


Sedang di atas sana, berpikir amat cukup memberikan Petir Widyutmala sudah memberikan efek jera pada manusia besar di bawah sana.


Idaline menatap kosong ke depan ketika Fusena membersihkan tubuhnya dan memakaikan kain pada raganya.


Fusena mencium pipinya dan berlalu pergi mencari makan di luar.


Karena hujan badai, segala persembahan luluh lantak.


Tak ada yang bjsa dimakan.


Inilah yang menyebalkan buatnya.


Semua sampah ini tidak dibereskan oleh para peyampah.


Fusena mencari rusa yang empuk di tengah hutan.


Dia membakarnya lalu memberikan pada Idaline, yang setia duduk di pojokan.


Idaline ingin menolak, tapi perutnya keroncongan.


Makanan di kedai siang tadi ditinggalkan begitu saja karena Idaline takut pria bermata tajam itu datang lagi.


Idaline melahap habis daging yang diberikan Fusena.


Tiba- tiba cahaya sekitar meredup. Dia mendongak mendapati Fusena sedang menatapnya lapar.


Jika Idaline berlari keluar, adakah hewan buas yang menunggunya di luar?


Idaline menahan tangannya untuk tidak memberontak.


Fusena tidak merobek bajunya.


Pria itu menyesap bibirnya, turun menjalar ke dadanya.


Membuka perlahan kain yang melilit tubuhnya.


Jemari Fusena menyusup. Menyembulkan makanan bayi, yang sudah dimodifnya.


Dia menyedotnya seperti bayi. Hingga merasakan tetes demi tetes cairan masuk pada kerongkongannya


"Manis.." lirihnya.


Idaline tidak tahu apa yang dirasakannya.


Sakit kah atau tidak.


Hanya gelombang ingin pipis yang terus dia rasakan dalam tempo tertentu.


Yang mana Fusena terus mengatakan untuknya rileks dan mengeluarkan semuanya.


Entah apa yang diinginkan Fusena.


Pitonnya tidak masuk ke dalam gua. Hanya mencari nikmat pada bibir gua yang tertutup rapat.


Idaline terdiam melihat Fusena merapikan pakaiannya.


Itu..


terasa enak.


Tapi tetap saja sakitnya yang pertama, membuat tubuhnya gemetar.


Idaline tidak lagi keluar dari dalam gua.


Fusena menyuruhnya untuk terus tinggal.


Tinggal untuk melayani nafsunya yang selalu mendadak naik.


Hingga waktu haidnya datang dan Idaline terlalu takut untuk mengatakan pada Fusena.


Pria itu mengetahuinya sendiri, ketika pitonnya telah masuk ke gua.


Fusena merasa kesal.


Namun begitu melihat wajah mendung Idaline, dia malah melanjutkan aktivitasnya yang belum selesai.


"Nanti katakan saja. Aku tak kan marah," ucap Fusena mengusap rambut Idaline yang bersandar padanya.


Idaline tidak menjawab.


Perutnya terlalu sakit untuk meladeni Fusena.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ​ ꧉​꧉​꧉​


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2