![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia terdiam dalam kebimbangan usai mendengar jawaban suara dalam kepalanya dan mendapati kemunculan sosok harimau seperti harimau yang dahulu muncul di kediaman utama Ekadanta.
Dia bertanya tanya dalam hatinya apakah suara itu benar adanya ataukah hanya khayalnya saja.
Mata Udelia mengerjap berulang kali berusaha menghilangkan blur yang muncul di matanya. Perlahan sekitarnya menjadi jelas.
Di sisinya benar benar ada sosok hewan putih berbulu yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada mata yang lapar namun juga bukan mata yang penuh kasih.
"Apa dulu aku tinggal di sini?" tanya Udelia sembari mendekati putranya yang terlelap.
Dia berdiri di sisi tubuh kecil yang masih setia dalam pijaran mimpi yang berwarna.
"Sayang bangun," bisik Udelia sembari menggoyang tubuh Rama yang terlelap.
"Iya."
Udelia terdiam. Ternyata benar ucapan binatang itu nyambung dengannya.
Maka benarlah ucapan binatang itu.
Udelia mempercayainya.
Entah bagaimana, Udelia sangat mempercayainya.
Lebih dari kepercayaan pada suaminya yang mulai terkikis karena kini dia mulai merasakan kejanggalan demi kejanggalan.
Tentang ingatannya yang rusak. Pun tentang lesatan gambar yangmuncul dalam benaknya. Mahapatih dan Maharaja juga nampak sangat mengenalnya.
Kedua pria itu menyerang tanpa ragu, namun mata keduanya sama sama sendu ketika melihat Udelia.
Pasti ada hubungan dirinya dengan dua pria itu.
Rama menggeliat membuka matanya. "Ibunda?"
"Hussst."
Udelia menutup mulut Rama agar tidak menimbulkan suara yang membawa curiga.
Rama mengangguk paham, lantas Udelia menggendong Rama untuk naik ke punggung Utih. Pria itu tertawa kecil, memeluk punggung Utih dan merasakan bulu bulu yang hangat.
Udelia kembali ke kasur. Dengan langkah pelan tanpa suara, Udelia mengambil Raka yang masih anteng di atas kasur.
Pria kecil itu benar benar anteng dalam dekapan ibunya.
Sambil menggendong Raka yang tertidur pulas, Udelia naik di belakang Rama.
"Kalau begitu, tunjukkan penjara."
Utih melesat meninggalkan kamar. Namun setelah beberapa kali melangkah, Utih merasakan aura manusia di belakang tubuhnya.
"Ada yang mengikuti."
"Biarkan saja," ucap Udelia dan Nung bersamaan.
"Beliau ingin pergi, kita biarkan?!" tanya Duo tak mengerti. Dia hendak menghalangi seekor hewan kontrak yang muncul, tapi Nung menghentikan dirinya.
"Kita disuruh menjaga, bukan menghalangi. Kalau tidak merugikan, kita pantau dari jauh," jelas Nung.
"Itulah sebabnya aku hendak menghalangi. Beliau menuju penjara!"
Nung tercekat melihat arah larinya bersama Duo, benar benar menuju penjara. Bodohnya ia justru mencegah Duo untuk menahan Udelia di rumah tinggal.
Sementara itu Utih dan Udelia sudah melesat jauh di depan. Mereka berkeliling mencari keberadaan Candra.
__ADS_1
"Tentu saja tidak ada. Candra Ekadanta adalah penyihir terkuat saat ini. Penjaranya pasti khusus agar dia tidak bisa menggunakan kekuatannya," terang Utih ketika mereka tak kunjung menemukan sel Candra setelah berkeliling pada seluruh sel penjara bawah tanah.
"Pasti ada. Pasti ada. Ingatlah otakku."
Udelia memukul pelan kepalanya, tak kunjung hadir ingatan tempat yang pernah dia tinggali.
Udelia menatap Utih. Harimau putih besar itu pasti tahu sesuatu.
"Ada tempat yang kamu tau?" tanya Udelia pada Utih.
Utih tidak menjawab, dia berlari kencang menuju Kedaton Sedap Malam. Utih mengeluarkan perlindungan tak kasat mata di punggungnya sebelum dia menerobos air terjun yang ada di Kedaton tempat dahulu Udelia atau Idaline tinggal.
"Selanjutnya akan sempit," ucap Utih.
Udelia turun ke tanah lalu menenangkan Raka yang menangis kencang akibat loncatan Utih yang begitu tinggi.
Dia menatap Utih bermaksud bertanya tentang gua di balik air terjun ini, akan tetapi dia mendapati sebuah kejutan.
Harimau putih itu berubah menjadi manusia dengan jubah berbulu putih bergaris hitam.
"Jadi manusia?!"
Udelia kaget melihat manusia yang berjongkok membiarkan Rama turun dari punggungnya. DIa yakin itu adalah si harimau.
"Gelap. Aku nyalakan api."
Utih mengeluarkan api di tangannya. Mereka berangkat memasuki gua lebih dalam.
"Ini ke mana?"
"Tidak tahu. Kita telusuri saja."
"Sabar ya sayang, sebentar lagi ketemu ayahanda."
Udelia mengusap keringat Rama dan terus menggoyangkan Raka yang menangis di gendongannya. Udara di dalam gua semakin pengap dan panas, wajar saja kedua bocah itu tidak betah berlama lama di dalam sana.
"Awas!"
Utih menarik tangan Udelia, di depan mereka tiba tiba muncul jalan menurun yang curam, dan terlihat dalam mata harimaunya, ada hewan bersembunyi.
Dia menggendong Udelia dan Rama dengan wujud manusia lalu menuruni tanah terjal dengan raga yang tegak.
"Kalian teruslah jalan," ucap Utih menunjuk tempat yang dimasuki cahaya matahari. Lalu dia berlari menuju tempat sosok makhluk penunggu yang sedang mencari cari keberadaan penyusup.
"Rama, naiklah ke pundak ibu."
Udelia berjongkok memberikan pundaknya pada Rama. Anak lelaki itu menuruti ibunya dan mengaitkan tangannya ke leher Udelia.
Udelia berjalan dengan cepat, keselamatan dua putranya adalah hal utama, tidak dia pedulikan punggung dan tangannya yang mungkin nanti akan kebas akibat terus berlari sambil menggendong Rama di punggungnya dan Raka di lengannya.
Suara pertarungan yang sengit semakin samar ketika Udelia dan anak-anaknya berjalan semakin ke dalam gua.
Di bawah sinar matahari yang memasuki sela-sela langit gua, Udelia melihat sebuah rantai tergeletak di tanah.
Matanya menelusur asal rantai itu, takut ada seekor hewan yang ganas. Ternyata di ujung rantai itu ada sang suami sedang dipasung kakinya dan kedua tangannya dirantai ke atas.
"Jangan kemari," lirih Candra terdengar oleh Udelia sebab suasana yang sangat sepi.
"Urk!"
Udelia merasakan gigitan tajam menembus tulang kakinya, dia menggunakan kaki lainnya untuk menginjak kepala yang muncul di tanah dan melahap kakinya.
Tak kunjung terlepas, Udelia akhirnya menyeret kepala yang menggigit kakinya. Lamat lamat sebuah tubuh muncul dari tumpukan pasir.
__ADS_1
Seekor penyu tempayan seberat tiga ratus kilo diseret oleh kaki Udelia yang sedang berjalan ke arah sang suami.
"Istriku," panggil Candra.
"Putraku, lindungilah adikmu." Udelia meletakkan Raka di atas pasir dan Rama pun turun menemani sang adik.
Saat tangan Udelia memegang sel, bulu kuduknya berdiri. Sengatan listrik mengalir di seluruh tubuhnya.
Candra menatap khawatir, detik berikutnya Udelia justru tertawa terbahak bahak.
"Haha segini tidak ada apa-apanya dibandingkan kesetrum listrik stop kontak,"
Udelia kembali menyeret kakinya yang tidak lagi terasa, penyu tempayan melepaskan gigitannya begitu tubuh Udelia tersengat listrik yang menjaga sel.
Udelia berjongkok mengambil Raka, Rama menolak untuk digendong, bocah itu memilih berjalan sambil berpegangan di baju ibunya.
Udelia menatap waspada penyu tempayan yang diam di samping pintu yang terbuka. Dia berjingkat masuk dengan jarak yang jauh dari tempat penyu tempayan berdiam diri.
"Istriku, tidak perlu menyelamatkan aku."
Air mata Udelia menjawab ucapannya, sementara wanita itu fokus membuka gembok sel dengan tusuk konde. Darah yang keluar dari seluruh inderanya tidak digubrisnya.
"Uh, Udelia. Maaf tidak bisa lanjut."
Utih beranjak pergi merasakan kekuatan Udelia semakin menghilang. Wanita itu menyegel komodo yang dihadapinya dengan kekuatan tersisa.
"Peganglah putra kita."
Udelia memberikan Raka pada Candra yang sudah terbebas.
"Rama, bersamalah dengan ayahanda," tutur Udelia pada putranya.
"Jangan sok kuat."
Candra menarik Udelia untuk duduk di sampingnya.
"Jangan memaksakan diri."
Candra meneteskan air mata melihat keadaan Udelia yang mengenaskan.
"Berhentilah menangis atau aku tidak akan tenang."
Udelia mengusap air mata Candra. Kemudian tangannya terkulai lemas.
Dengan Raka dalam dekapannya, Candra memeluk Udelia. Rama yang melihat itu langsung memeluk tubuh ayah dan ibunya, kendatipun tangannya tidak menjangkau seluruh tubuh kedua orang tuanya.
Candra menangis dengan sesegukan. Ini kali kedua dia melihat Udelia dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
"Pada akhirnya penyihir yang selalu menahan diri itu terlepas emosinya?"
Lembuswana, hewan berkepala singa berbelalai dengan mahkota emas di kepala, memiliki sisik ikan di sekujur tubuh, bersayap garuda, dan keempat kakinya bertaji muncul di depan Candra.
Lembuswana berubah menjadi manusia berpakaian bagah beludru hitam dengan dodot rambu penuh sisik, belalainya yang panjang menjadi kalung di leher, mahkotanya kokoh di kepala dihiasi untaian bulu garuda.
Candra diam tidak menggubris ucapan lembuswana, hewan kontrak rahasia yang dimilikinya ketika sedang bertugas di pulau seberang.
Semua orang tidak tahu Candra memiliki hewan kontrak.
Lembuswana melepaskan pasung yang terpasanng di kaki majikannya, lalu dia memegang dahi Candra memberikan kekuatannya, kembali berubah ke bentuknya semula, lalu menunduk merapalkan mantra.
"Udelia!" seru Candra ketika tubuh dalam dekapannya terkulai lemas.
••••••••••••••••••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]