![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Sayang mau main sama ayahanda?" tanya Udelia menggendong Rama meninggalkan Raka yang pulas dan Maya yang sibuk menghabiskan banyak masakan Udelia.
"Ayahanda?" Rama bingung. Di benaknya ada dua ayahanda.
"Iya."
Udelia melangkah keluar menuju ruang tamu. Tampak Candra duduk dengan gugup. Matanya menatap pintu sambil memainkan jari-jemarinya.
Candra langsung berdiri begitu tahu wanita yangmasih berstatus istrinya telah datang. Dia mendekati istri dan putra sulungnya.
"Raka mana?" Candra celingukan. Siapa tahu istrinya membawa para dayang yang menggendong Raka.
"Raka sedang tidur. Aku akan menginap. Bawa saja Rama ke hadapan ibu dan ayah, mereka pasti rindu," jelas Udelia.
Udelia mengangsurkan Rama pada Candra. Bocah itu tersenyum senang kembali melihat ayahandanya.
"Sebelum tak lagi bisa," imbuh Udelia dengan tegas.
"Istriku, maukah kembali? Kulakukan apa pun yang kamu inginkan," pinta Candra.
"Kamu masih belum memikirkan dengan matang."
"Aku tidak menemukan hal lain kecuali ingin bersama denganmu, kak."
"Candra, gelas yang pecah tidak bisa sama lagi!"
Udelia sudah berniat memberi Candra sisa hidupnya, pria itu justru tak tahan dengan godaan wanita lain.
Semua itu hanya tinggal angan.
Udelia menyibak rambut di keningnya, kemudian mengetukkan jari pada jidanya yang lebar.
"Tanda pernikahan kita sudah hilang ketika ingatanku kau rusak. Pergilah urus dokumen perceraian. Kita sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bersama! Tadinya kukira kita bisa mengurus Rama dan Rama bersama."
Candra menundukkan kepalanya menatap Rama. Perkataan Udelia berarti ingin melanjutkan hubungan pernikahannya bersama dengan Candra. Namun Candra menghancurkan harapan itu. Dia sudah menyakiti hati istrinya.
"Aku minta maaf," lirih Candra.
"Jika bekas paku ini dapat hilang."
Udelia menunjuk punggung tangannya dengan sarkastik. Dengan segala kekuatan sihir yang dicoba Candra, bekas luka akibat paku buatan Candra tak kunjung hilang.
"... akan kucari."
Candra berkata dengan ragu. Dia memaku tahanan yang diinterogasinya dengan paku khusus, memberikan tanda 'spesial' pada orang-orang yang telah dilucuti salahnya olehnya.
__ADS_1
"Kak, selamat malam," pamit Candra. Dia tidak mau memaksakan kehendak.
Udelia menarik napas panjang. Kata-katanya mungkin keterlaluan. Namun dia tidak mau memberikan harapan pada Candra. Bekas luka paku di tangannya akan abadi. Udelia sendiri tak tahu bagaimana menghilangkan bekasnya.
Udelia melangkah masuk ke ruangan. Piring-piring telah kosong dan Maya terkantuk-kantuk di atas meja. Bocah itu setia menunggu Udelia.
"Tidurlah sayang," kata Udelia sembari mengusap kepala Maya.
"Kalau ibunda menemani," rengek Maya memeluk ibundanya.
Di luaran mungkin dia menjadi Tuan Putri terhormat yang disegani dan berwibawa, namun di hadapan ibundanya dia ingin terus memeluk sang ibunda.
Udelia mengangguk, dia melepas handuk yang bertengger di kepala dan menggantungnya di tembok.
"Sini sayang.." tutur Udelia agar Maya menghadapnya.
Udelia meraih tubuh Maya yang condong padanya. Dia menggendong Maya ke atas kasur lalu tiduran di sebelahnya.
Tangan kiri Udelia mengusap lengan Maya dan tangan kanannya mengipas-ngipasi Maya persis yang biasa dia lakukan pada Rama.
"Sayangku, siapa pria kecil tadi?"
"Calon suami ananda."
Udelia menggelengkan kepalanya. Putrinya baru beranjak dewasa, sudah akan menikah. Tapi dia tidak akan melarang. Bagaimanapun budayanya berbeda dan akal pikiran serta kematangan pun berbeda.
Jika Maya memilih pasangan yang tepat, Udelia sebagai ibundanya tidak akan masalah.
Sayangnya, yang Maya pilih adalah sebuah petaka. Maya memiliki calon suami persis seperti kisah dalam sejarah yang ada.
Yang akhirnya hanya sebuah kenestapaan yang dialami sang putri. Perang antara putri ndut dan putri jelita, tentu dimenangkan oleh si wajah rupawan.
Udelia tidak mau Maya hancur.
"Bagaimana kalau ibunda tidak suka?" tutur Udelia.
"Pernikahan akan dilaksanakan tiga bulan ke depan. Ibunda bisa mengenalinya dengan teliti." Maya beranggapan sang ibunda belum mengenali calon suaminya. Pastilah sang ibunda merasa berat.
"Ibunda tidak setuju," kekeh Udelia.
"Kenapa?" Maya bingung dengan maksud ibundanya. Jika ibundanya merasa dia terlalu kecil, seharusnya ibundanya meminta diundur bukan kukuh mengatakan tidak setuju.
"Maya tahu ibunda dari dunia lain kan?" kata Udelia hati-hati.
Maya berpikir sejenak. Dikatakan dunia sana sudah berjalan lebih dulu. Ada kemiripan tempat dan sejarah. Tidak bisa dikatakan mirip, karena hampir semuanya berjalan sama, sampai datang manusia-manusia modern yang disebut sebagai budak moden oleh kalangan Maja.
__ADS_1
Adakah kemalangan menimpanya jika menikahi Gagak Catra?
Maya hanya bisa berpikir demikian. Tidak mungkin ibundanya menghalangi kebahagiaannya, sementara sang ibunda sudah memberikan hewan kontrak paling berharga.
"... jika itu yang ibunda inginkan."
Maya pasrah dengan semua keputusan ibundanya. Dia akan menurut pada sang ibunda.
"Pintarnya putriku," puji Udelia.
Maya mengulas senyum mendengar pujian dari ibundanya, pujian yang tidak pernah dia dengar dari Maharani yang dikatakan sebagai ibundanya. Beruntung, Maharani bukan benar-benar ibundanya.
"Sayangku boleh meminta apa pun selain pernikahan ini," tutur Udelia sembari memijat kepala putrinya agar rileks. Dia mendengar putrinya sudah bekerja di bidang kepemerintahan.
Hanya ada pusing menghadapi masalah-masalah di meja keraton.
Udelia bangga pada Maya yang dapat berdiri di kaki sendiri. Sudah barang tentu ke depannya sang putri akan mampu mengurus bhumi Maja.
Tidak perlu putra kecilnya yang baru bisa bermain.
"Kalau begitu menetaplah di sini, bu. Ananda rinduuuuu," rengek Maya.
"Ibunda tidak bisa berjanji tapi beberapa waktu memungkinkan."
"Sebisa ibunda. Sehari pun sudah cukup." Maya tidak meminta lebih. Dia benar-benar bersyukur jika bisa seharian ditemani ibundanya.
Maya ingin merasakan tinggal di keraton bersama sang ibunda. Melakukan hal-hal membosankan seperti midang atau duduk santai sambil memakan camilan dan juga hal lainnya.
"Maafkan ibunda," sesal Udelia tidak dapat menemani sang putri.
Dia berjanji akan menghabiskan banyak waktu di sisa masa sekarang dan akan mengunjungi putrinya lebih sering di masa mendatang saat dia sudah mampu keluar masuk dimensi.
"Ibunda tau yang terbaik."
"Tidurlah anakku sayang~"
Udelia mengulang-ulang bait itu sambil sesekali mengecup kepala Maya.
"Nyonya, Tuan Mahapatih menunggu di depan," ucap seorang dayang
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1