TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
031


__ADS_3

"Berikan obat pencegah hamil pada penghuni kebun belakang adikmu dan hukum kepala pelayan wanita Candra karena telah menjebakku."


Hayan menatap Bayu, salah satu pengawal bayangannya.


Pria di depannya kebingungan.


Candra saja sudah setua itu baru menikah, bagaimana mungkin ada wanita penghuni kebun belakang?


Kalaupun Candra punya, keluarga Ekadanta tidak akan menghalangi.


Ekadanta tidak pernah memandang kasta dan latar belakang.


Namun dia tetap mematuhi tuannya. Tanpa banyak menduga-duga.


"Anda ingin menghukum mati kepala pelayan itu? Dan untuk wanita itu, apakah dibawa ke istana?" tanya Bayu.


"Lakukan yang seharusnya."


"Baik, Yang Mulia."


Lantas Bayu menghilang dari hadapan Maharaja. Dia bergegas melakukan tugas yang diberikan padanya, meski kurang yakin dengan keberadaan wanita itu.


"Sudah berkali-kali Anda begini," keluh Djahan yang duduk di kursi tamu. Dia menghadap ke jendela, malas melihat wajah bebal Hayan.


"Bagaimana kalau dia memiliki suatu penyakit?"


"Dia masih perawan."


Djahan kehilangan kata-katanya.


Apakah seorang yang perawan bisa digunakan begitu saja?


Apakah seorang Maharaja bisa tidur dengan siapa saja?


Jika berita ini keluar, entah apakah reputasi sempurna Maharaja akan bertahan.


"Yang Mulia, lebih baik ambil beberapa selir dari keluarga terpandang."


"Mereka hanya akan mencari ribut. Dan saya melakukan semua karena spontan."


"Saya mohon jangan ada lagi. Nanti akan timbul masalah. Apakah Anda lupa yang terjadi pada raja kedua?"


Hayan memutar bola matanya jengah. Walau dia dan pamannya sama-sama bermain wanita. Pamannya itu bermain dengan istri orang, sedang dia dengan para lajang.


Sama sekali tidak bisa dikatakan sama.


Toh semuanya bukanlah terjadi atas rencananya sendiri.


"Beda. Satu karena Sapta Prabu memberi obat yang sangat kuat, saya mengambilnya untuk menekan mereka. Satu saat di hutan, salah saya tidak dapat menahan diri. Sedangkan satu yang lain saya harus memperhatikan dan mencegah kehamilannya."


"Anda akan menggugurkannya?"


Hayan mengangguk tanpa ragu. "Jika muncul."


Djahan menghela napas panjang. Dia bersyukur wanita tanpa status itu tidak perlu masuk ke keraton.


Tapi jika membunuh bayi yang bahkan belum tumbuh, Djahan sama sekali tidak bisa membiarkannya.


"Tidak bagus melakukan itu."


Djahan berharap kegilaan Maharaja tidak semakin berkembang.


***


Candra menatap kesal Bayu yang datang tanpa diundang. Dia ingin menghabiskan pagi yang manis dengan sang istri, kakaknya ini tiba-tiba muncul dengan titah dari Maharaja.


Jika saja hati kakaknya sedikit lunak, seharusnya sang kakak datang ketika siang atau sore hari.


Sangat tidak baik mengganggu pengantin baru!


"Aku akan langsung. Di mana taman belakangmu?"


"Silakan." Candra mengangkat tangannya menyuruh Bayu berjalan di sampingnya.

__ADS_1


Walaupun dongkol, Candra masih harus menghormati pemeriksaan Maharaja.


Candra melirik kakak yang satu ayah dengannya. Ingin dia bertanya alasan Maharaja melihat taman belakangnya, tapi ia urungkan melihat wajah datar Bayu, yang tidak merasa bersalah telah mengganggu paginya, pagi pengantin baru!


"Kenapa Yang Mulia memerintahkan ke taman belakang?" tanya Candra setelah mengantar Bayu mengitari tamannya satu kali.


Bayu tidak lantas menjawab pertanyaan Candra. Dia membuka mata sihirnya, merubah pupilnya yang hitam menjadi merah.


Dia mencari-cari bangunan yang disembunyikan Candra, dengan kekuatan sihirnya. Namun tidak ada bangunan semacam itu.


"Taman belakang yang lain," kata Bayu.


Candra merenggut. Dia tidak sehina itu sehingga melakukan hal terlarang, dengan seorang wanita tanpa ikatan. Apalagi menyembunyikan di rumah keluarga besar.


Candra mendelik kesal dan berkata dengan sinis.


"Mohon ucapkan maaf, aku cukup memiliki istriku."


"Bagaimana dengan Ijen?" Lagi, Bayu menginterogasi membuat Candra tersedak.


Apa maksud kakaknya itu dia selingkuh dengan Ijen?!


Jika dia memiliki niatan untuk bersama Ijen, tidak perlulah dia menunggu istrinya—yang dahulu tidak jelas kapan kembali datang ke dunia ini.


Candra memiliki rasa cinta dan sabar yang besar, untuk menunggu memiliki waktu bersama dengan Idaline Sang Maharani istri Mahapatih atau Udelia.


"Kakak jangan bercanda!" seru Candra.


"Salah. Di mana Ijen?"


"Dia sedang melayani istriku."


***


"Bangun!"


Ijen menarik selimut Udelia hingga terpampang tubuh telanjangnya.


Bola mata Ijen membesar, melihat banyaknya bekas kecupan di sekujur tubuh si rakyat jelata.


Ijen tidak melayani Candra. Dia tidak tahu yang terjadi pagi tadi.


Dia pikir, ketika diperintahkan tuannya untuk mengurus si rakjat jelata, si rakyat jelata dalam keadaan mengenaskan.


Ternyata semuanya baik-baik saja.


Ijen menyadari rencananya telah gagal.


Pria bayarannya pasti telah kabur. Sehingga yang menuntaskan has rat menggebu si rakyat jelata adalah tuannya sendiri.


Maka dari itu, tuannya tidak menghukum si rakyat jelata.


"Sial!" Udelia merasakan amarah yang meletup-letup ketika nyawanya terkumpul dan melihat wajah Ijen di hadapannya.


Ijen terbelalak saat lehernya dicengkeram kuat dan didorong hingga ke tembok.


Ijen tidak menyangka, rakyat jelata yang hanya tau menanam padi, memiliki energi sekuat ini. Raga Ijen kaku melihat mata Udelia yang menyala-nyala.


"Dayang!!!!" teriak Udelia.


Udelia menggertakkan giginya. Tidak ada yang merespon panggilannya.


Dilemparnya Ijen ke lantai, kemudian dia memakai kain dengan asal.


Ijen tidak diberinya kesempatan untuk mengatur napas, dia menarik konde Ijen dan menyeretnya hingga ke luar kamar.


"KALAU KALIAN TULI, LEBIH BAIK PERGI DARI SINI!!!"


Udelia melempar Ijen ke tengah para pelayan, yang berdiri tegak dan berbaris rapi.


Wajah Udelia memerah, napasnya memburu, dan jantungnya berdetak tak terkendali. Amarahnya tidak lagi mampu dibendung.


Siapa yang tahan direndahkan oleh orang yang biasanya paling baik pada kita?

__ADS_1


Siapa yang tahan mengingat malam yang seharusnya indah menjadi malam petaka?


Siapa yang tahan melihat wajah congak orang yang telah menghancurkan hidup kita? Seolah tidak ada kesalahan yang dibuatnya!


Udelia ingin sekali membunuh perempuan yang sedang terbatuk-batuk.


"Apa yang membuatmu marah besar sampai tidak terkendali?"


"Bawa dia ke halaman utama dan ikat di pohon ..... Utih."


Udelia berbalik, bergegas masuk ke kamar. Tubuhnya bersandar di daun pintu, tidak mempercayai penglihatannya.


Seekor harimau tiba-tiba muncul di depan matanya!


Seekor harimau berwarna putih, yang belum pernah dilihatnya dan dikatakan nyaris tidak pernah muncul selama sepuluh tahun terakhir.


Lebih gilanya lagi, harimau itu bisa bicara!


Udelia benar-benar tercengang.


"Kenapa ada harimau?"


"Bodo deh."


***


"Bukankah itu harimau panggilan Maharani? Kenapa ada di sini?" tanya Bayu melihat Utih melintas.


Saat melihat ke arah lain, adiknya sudah berlari kencang meninggalkan dirinya.


Timbul kecurigaan besar dalam pikiran Bayu.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Candra khawatir. Matanya menyapu keadaan kamar yang baik-baik saja.


Dengan keluarnya Utih, dia mengira ada hal yang mengancam nyawa Udelia sehingga Utih dapat muncul tanpa panggilan.


"Sepertinya para pelayan tidak menerimaku," jawab Udelia membuka perban di perutnya.


Mata Udelia berbinar, memandang takjub perutnya. Lukanya telah sembuh tanpa meninggalkan bekas.


"Sudah sembuh. Padahal semalam sakit sekali," batin Udelia memegang bercak darah yang menempel di perutnya.


"Ijen!" Candra memanggil pelayan yang juga tangan kanannya.


"Dia dibawa harimau."


"Kenapa kakak melakukan itu? Semuanya bisa dibicarakan!"


Tanpa mendengar penjelasan Udelia, Candra pergi mengejar Utih.


Udelia menatap nanar punggung suaminya.


Jika saja dia diberi tahu mereka kenal baru dalam beberapa tahun terakhir, Udelia akan memahami betapa rekatnya ikatan Candra dan Ijen, yang saling mengenal sejak kecil.


Tapi Candra bercerita mereka berdua sudah saling mengenal sejak belia dan Candra jatuh cinta padanya sejak dahulu.


Bila Candra mengenal Ijen dan dirinya sama-sama sejak kecil, bukankah seharusnya pria itu memahami keadaan yang sesungguhnya?


Kenapa seolah Candra berkata dirinya jahat kepada Ijen?


"Nyonya, tuan Bayu menunggu di ruang tamu."


Udelia melirik pelayan yang baru dilihatnya. Pelayan ini tidak canggung dalam melayaninya.


Dengan telaten wanita itu mempersiapkan dirinya. Tidak terlihat merendahkan dan tidak terlihat takut karena kejadian yang menimpa Ijen.


Pelayan ini melayaninya dengan sungguh-sungguh.


"Kamu dari bagian mana?"


"Hamba Jo, pelayan di bagian selatan."


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2