![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
044 - TAK MUNGKIN MENJADI MILIKNYA SEORANG
"Apa bisa kamu tidak menjaga jarak, seperti sikapmu pada dia?" gumam Hayan setelah seharian diabaikan Udelia.
Udelia tertegun. Dia sudah bersama pria selain Djahan, apa masih bisa menolak pria ini?
"Aku tidak mencintaimu, adik kecil. Bagaimana bisa aku berdekatan denganmu seperti dekat dengan Djahan?"
"Aku bukan anak kecil, Tante!"
"Tante!?" Udelia mendelik tajam.
Rupanya pria setinggi adik bungsunya ini dapat membalik perkataannya.
"Meski tubuhku sependek ini, aku sudah mampu membuat anak, Tante," tutur Hayan.
Kepalanya sedikit mendongak. Dia hanya setinggi bahu sang istri.
Salahnya sendiri telah mencoba sihir kuno terlarang untuk berpindah ke sini.
Yang nyatanya, dia hanya perlu mendapatkan panggilan dari Petapa Agung.
Kala ia merenggang nyawa di sana, Petapa Agung menarik jiwanya.
Tabrakan yang terjadi antara tapaan Sang Petapa Agung dengan kegagalan sihir yang dia lakukan, menarik raga dewasanya.
Menjadikan dia amat muda.
Hayan mengungkung Udelia.
Ada pesimis di dalam hati.
Dia masih dalam tahap pertumbuhan, apakah kegagahannya akan lebih baik dari rivalnya yang sudah dewasa?
Dari banyak pengajaran yang Lamont perlihatkan padanya, ada bagian di dunia ini yang suka celap celup tanpa ikatan.
Dan biasa mereka, para wanita, tidak akan lagi merasa puas dengan bentuk yang lebih kecil.
Walau sesak dan menyakitkan, hal itu justru digandrungi para wanita zaman ini.
Tak seperti dahulu yang menutup rapat kenikmatan di atas ranjang. Sehingga tidak ada perlu pembandingnya.
Zaman sekarang para wanita mencari yang terbesar.
Akankah istrinya puas dengan bentuk tubuhnya sekarang?
Udelia tidak membalas. Dia membiarkan sang suami mendapatkan dirinya.
Mereka juga terikat oleh ikatan suci.
Bagaimana bisa Udelia mempermainkannya?
Hanya saja, cenderung kepalanya berputar karena tidak mampu menentukan harus berlaku bagaimana di depan suaminya, Djahan.
Sudah dua hari ini dia tidak melihat wujud suaminya.
Dia rindu...
"Perhatikan aku saat sedang bersamaku!" cecar Hayan.
Istrinya ini pasti teringat malam pengantin yang seharusnya dihabiskan bersamanya, bukan bersama suami pertamanya!
"Aku capek..."
Udelia jujur dengan kondisi tubuhnya.
Siluman buaya raksasa yang telah menjadi suaminya itu tidak memberikan dia waktu istirahat.
Tubuh Udelia laksana puing- puing bangunan yang retak.
Jika sekali saja disenggol akan luluh lantak di atas tanah.
"Aku berjanji esok akan memberikan hakmu," cetus Udelia.
Hayan juga cemas dengan wajah Udelia yang pucat.
Keterlaluan memang pria itu. Sudah tahu istrinya baru menyelesaikan pesta, malah disuruh melayani dia.
Hayan yang merupakan mempelai baru sang istri saja bisa bersabar!
__ADS_1
"Kemari, sayang."
Hayan melebarkan tubuhnya. Memeluk tubuh Udelia yang sedikit lebih besar tubuhnya.
Mereka menghabiskan sore memandangi padang rumput yang menguning.
"Apa nanti ada perayaan panen beras?" tanya Hayan membuka percakapan.
"Iya. Tapi aku tidak bisa. Ada pertemuan di kantor."
"Kamu bekerja?"
Hayan heran. Karena setahunya, Djahan sudah meminta Udelia untuk berhenti bekerja.
"Menyelesaikan proyek yang belum selesai."
Hayan tidak bisa berkomentar banyak.
Eksplornya pada dunia ini belum sepenuhnya dia lakukan.
Pekerjaan sang istri terbilang baru. Dia tidak mengetahui seluk beluknya.
Udelia terdiam karena Hayan terdiam.
Pikirannya mulai membandingkan.
Djahan meski tak tahu, tak segan dia bertanya.
Sekadar berbasa basi yang dia tahu pun dilakukannya, agar kebersamaan mereka tidak menjadi canggung.
Bersama Djahan, dia merasa hidup bersama belahan jiwanya.
Bersama Hayan, apa saja yang dia lakukan di masa lampau?
Menunggui Sang Maharaja selesai bekerja?
Mungkin seperti pada drama- drama yang menunjukkan seorang ratu sedang menunggui rajanya menuliskan titah.
Malam itu menjadi canggung.
"Apa Hayan tahu tentang malam itu?" lirih Udelia.
Hayan lebih banyak diam setelah mereka menikah.
Hingga pagi menyapa, hanya obrolan tentang makanan dan ucapan sebelum serta sesudah tidur yang mereka ucapkan.
Udelia jadi canggung bersamanya.
"Silakan makan, sayang.." ucap Hayan. Pria itu membawa nampan makanan.
"Terima kasih.." seru Udelia dari atas kasur.
Perutnya kram.
Teringat janjinya kemarin, dia mensugesti bahwa ini hanyalah akibat sarapan yang kesiangan.
Menjelang siang itu dia baru makan. Membersihkan diri untuk jalan- jalan kecil di sekitar hotel.
Akan tetapi kakinya sulit dibawa melangkah.
Kram kakinya makin menguat dan nyeri di perutnya tidak kunjung menghilang.
Terdampar dia di atas kasur.
Siang, sore, dan malam.
Hayan pun membatalkan seluruh reservasinya.
Berduaan di dalam kamar. Walau hanya duduk pada kursi di penghujung jendela.
Hayan ingin memberikan rasa nyaman pada istrinya.
Biarlah wanita itu yang memutuskan kapan mereka berhubungan.
Entah dia yang terlampau muda ataukah memang sudah berubah naf su dalam dirinya, Hayan tak lagi menggebu di tiap harinya.
Di dunia sana dia mempunya beberapa selir yang dapat memuaskan has rat besarnya.
Hanya melihat lekuk tubuh Maharani yang terbaring di kamar mereka, membuat ia menginginkan hal yang lebih.
__ADS_1
Dia hanya takut tubuh Maharani menjadi rusak, membiarkan wanita lain menghangatkan ranjangnya.
Udelia cemas. Tapi dia juga tidak bisa menahan suaminya.
Hayan sudah duduk di sisi ranjang. Dia membiarkan wanita itu bereaksi.
Udelia menganggap diamnya Hayan sebagai tanda dimulainya ritual malam pertama mereka.
Tak mau mendapati kebuasan seperti yang dilakukan Candra, Udelia yang akan memegang kendali.
Dia memulai permainan ini.
Menyesap bibir merah Hayan.
Tangannya liar menjelajah dada Hayan yang telan jang sejak dia membuka mata.
Setengah perjalanan Hayan mengambil alih.
Dia tidak tahan dengan kelembutan sang istri.
Jiwa liarnya mendadak bangkit.
Seketika permainan itu menjadi panas.
Selesai menghabiskan malam mereka, keduanya saling memeluk.
Diam- diam Udelia menggigit bibir bawahnya.
Dia merasakan nikmat dan rasa sakit yang mendera.
Kadang sakit itu datang dan pergi di bagian **** * nya.
Berdenyut kencang layaknya hendak datang tamu.
Apakah terlampau letih atau benar tamu bulanannya akan datang?
Hayan mengusap punggung polos Udelia.
Wajah muram wanita itu, tidak ingin dilihatnya.
Dia takut Udelia hanya memenuhi tanggung jawabnya. Bukannya melakukan dengan sepenuh cinta.
'Seharusnya aku tidak memaksamu,' batin Hayan.
Seketika dia merasa bersalah.
Bagaimana kalau setelah ini Udelia menjauh?
Memberikan jatahnya hanya sebagai formalitas.
Hayan tak dapat membayangkan itu terjadi.
"Sayang, kalau tak suka aroma di sini. Kita pindah ke sebelah saja," ajak Hayan.
Udelia menyanggupi Hayan. Dia mendadak mual dengan aroma menyengat.
Hayan tersenyum kecut.
Wanita ini tak mau berlama- lama di atas bekas cinta mereka.
Tak perlu berpakaian, Udelia diangkatnya menuju kamar kosong di sebelah.
Pada pagi harinya, Hayan kembali bangun lebih pagi dari Udelia.
Dia menatap wajah cantik itu.
Begitu damai saat tidurnya.
Selalu jika melihat wajah itu, dia rasanya ingin memiliki Udelia seorang.
Hanya demi keluarganya.
Dan kini, karena hadirnya Lontar Sabda Wahyu yang menunjukkan kepemilikan Udelia atas banyak suami.
Meski dia adalah orang paling kuat sejagat raya, bila itu sudah ditakdirkan.
Udelia tak mungkin menjadi miliknya seorang.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
__ADS_1
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]