TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 043


__ADS_3

043 - MENJALANI PERINTAH YANG DITURUNKAN


"Kamu harus menikahi pria ini, Nona. Kamu sudah meminta Lontar Sabda Wahyu. Sudah seharusnya menjalani perintah yang diturunkan!!"


Karena perintah panutua yang tidak bisa dibantah itu, di sinilah Udelia berada.


Berbalut kain hitam yang modelnya sama dengan seseorang di atas panggung.


Nirankara Hayan Wijaya.


Nama yang sama dengan nama lengkap dalam prasasti Bhumi Maja.


Segala upacara selesai dengan cepat.


Djahan sampai tidak mampu bereaksi.


Anak buahnya pun tidak seaktif sebelumnya.


Mungkin karena mereka patuh pada Panutua ataukah sudah yakin dengan identitas Sang Maharaja.


Sekali lagi. Istrinya mendua.


Udelia menunggu di kamar pengantin, selayaknya pengantin wanita pada umumnya.


Kalau saja dia tidak mengkhawatirkan ibu dan ayahnya yang mengacungkan pisau ke leher, dia tidak akan sudi menikah dengan pria ini!


Siluet seorang pria bergerak membuka tirai kasur, menyadarkan Udelia dari lamunnya.


Dia bukan Djahan, bukan pula Hayan.


Candra mengulas senyum. Menutupi gemuruh di hatinya. Yang lagi- lagi kalah oleh dua saingan beratnya.


"Sayang, kamu sudah dengar perkataan suamimu yang lalu kan? Dia merestui kita."


Udelia tidak bisa membantah perkataan pria ini.


Djahan memberikan wewenang menikahinya, jika pria ini telah membantu Djahan di aula sabda kemarin.


Semua berlalu sesuai kehendak langit.


Lontar Sabda Wahyu yang semula hendak dimanipulasi Hayan, berubah benar- benar menjadi wahyu untuknya.


Entah apakah karena dia seorang murid Petapa Agung, menjadikan dia mendapat langsung wahyu dari yang di atas.


Bintang dikelilingi matahari? Yang ada matahari dikelilingi bintang!


Udelia masih saja terdiam.


Haruskah dia bermain api?


Menambah matahari di sisinya.


"Kalau aku menolak?" cetus Udelia tiba- tiba.


Candra yang sedang menghidu anak rambut Udelia yang terjatuh, seketika melirik istrinya.


"Apa alasanmu menolak?" balas Candra.


Benar. Apa alasannya menolak menikahi pria ini?


Karena dia bersuami?


Ibunya sudah memaksanya untuk memiliki dua suami, jadi apa salahnya memiliki suami yang lain?


Bukankah Lontar Sabda Wahyu yang diagungkan itu menunjukkan empat sampai tujuh matahari mengelilingi bintang?


"Kamu tahu betapa besar hatiku untuk Djahan dan betapa berartinya aku untuk dia. Diamlah di tempatmu. Aku yang akan datang," putus Udelia.


Dia akan menyembunyikan suaminya yang satu ini.


Akan ribet juga bila nanti suami keduanya tahu.


Pria itu terlihat serakah.

__ADS_1


Meski sendirian, dia mampu menekan banyak orang.


Djahannya sudah sakit fisik kemudian sakit hati kerena pernikahan hari ini.


Udelia tidak mau makin menyakitinya.


Candra tak sengaja menggenggam rambut Udelia terlalu keras.


Dia merasa bagai bangkai yang harus disembunyikan.


Padahal dia sudah lebih dulu datang ke dunia ini, sebelum dua penguasa Bhumi Maja itu turun ke dunia modern!


Dengan darah murni Udelia, Candra mampu bolak- balik mempelajari dunia sang istri langsung dari sumbernya.


Itulah mengapa Candra mampu membuat betah sang istri bertahun lamanya di dalam kediaman miliknya, yang tempatnya tak jauh dari pusat pemerintahan.


Dan selama itu dia tidak ketahuan oleh Maharaja juga Mahapatih, bahwa dia telah menyembunyikan istri keduanya.


"Aww.." ringis Udelia kala Candra makin mengeratkan buku- buku jarinya.


Candra tidak bertutur. Dia mengusap lembut kepala Udelia. Membuat sang empu menatapnya intens.


Entah mulai kapan Udelia merasakan benda kenyal menempel dan bergerilya di tubuhnya, tahu- tahu dia sudah berbaring dengan kondisi sama polosnya seperti pria yang menangkup wajahnya.


Candra merem as gemas dua pucuk kecokelatan yang menge ras karena ulahnya.


Sesekali dia menyedot keluar air yang bersemayam di dalamnya.


Udelia merasakan sakit, tapi juga sensasi nikmat, yang membuatnya tak sadar menekan kencang kepala pria bertajuk suami keduanya. Di dunia ini.


Candra menjejakkan saliva turun ke bawah. Bergerak leluasa di depan daging yang berkedut membesar.


Udelia berulang kali mende sah. Dia masih berusaha menahan agar tidak membuang cairannya sembarangan di muka orang.


Barulah dia melepaskan diri kala tangan Candra memijat lembut di atas bibirnya, yang masih saja bermain setelah cairan kental masuk ke dalam rongga mulutnya.


Wajah Udelia merah padam.


Hatinya bercampur aduk.


Rasa ingin melanjutkan amat mendominasi.


Tapi kadang dia juga kepikiran Djahan yang tertinggal di villanya, pun Hayan yang masih menyambut tamu di luaran sana.


Bagaimana bisa di sini dia bersenang- senang dengan pria lain?


Udelia tidak mampu berpikir ketika Candra dengan mudahnya masuk ke dalam dirinya.


Lahar panas memenuhi dinding gua.


Cengkeraman Udelia menambah gai rah Candra.


Berulang kali dia memajukan dirinya, berpindah posisi, dan meluncurkan lahar putih miliknya.


Hayan meninju tembok di sisi pintu.


Erangan keduanya terdengar jelas bahkan ketika dia belum membuka pintu.


Hayan berpikir di dalam sana adalah Djahan.


Udelia tidak akan selepas itu bila bukan bersama Djahan.


Dia menata hatinya.


Harus bersiap dengan yang namanya berbagi.


Tertegun di depan pintu kamar.


Membayangkan kisahnya dahulu.


Udelia yang dia poligami.


Beginikah rasanya melihat pasangan kita bersama orang lain?

__ADS_1


Selama di genggaman Hayan, Udelia tak pernah berpaling pada pria lain.


Udelia hanya miliknya.


Sedangkan dia, justru mencari wanita lain dengan dalih menambah luas daerah kekuasaannya.


Mematik angkara murka dalam diri Sang Mahapatih, yang mencoba legowo dengan berdirinya sang istri di samping Maharaja.


Andai Udelia tidak menahan Djahan kala itu. Perang konyol antar dua penguasa Bhumi Maja, pasti terus diperdegungkan hingga sekarang.


Hayan mengepalkan tangannya semakin erat.


Dia sudah pamit pada semua orang untuk memadu kasih dengan istrinya.


Tak mungkin dia pergi ke luar.


Di dalam kamarnya kedap suara, namun ada ruang untuk menerima tamu yang dia jejaki sekarang.


Ruang itu dan kamar di dalam sana tidak tersekat suaranya.


Hayan mendengar jelas nyanyian di dalam kamar.


Bertarung dengan Penyihir Agung di aula sabda, mengikis habis kekuatannya.


Hayan tidak bisa melakukan teleportasi untuk pergi dari neraka ini.


Dia hanya dapat duduk dengan tenang.


Mensugesti dirinya bahwa suara itu hanyalah film biru, yang sempat dia dapati pada laptop adik iparnya.


Sebuah gambaran penuh peluh, yang diperintahkan kedua adik iparnya untuk ia pelajari, agar tidak menyakiti kakaknya.


Keduanya berpikir orang kuno hanya mampu memuaskan diri, tanpa memikirkan pasangannya.


Hayan bertahan di sana. Hingga kantuk mendera tubuhnya.


Pagi hari datang.


Udelia terkejut dengan keberadaan Hayan di luar pintu.


Rasa bersalah itu seketika hadir.


Untungnya dia sudah membersihkan diri dari aroma Candra yang terus bersatu dengan peluh tubuhnya.


Dia yang awalnya amat membenci pernikahan ini, sekarang justru membangunkan sang pengantin pria dengan lembutnya.


Hayan membuka matanya. Begitu dia dapati Udelia di hadapannya, dia membawa pergi wanita itu.


Menuruni tangga dengan lamat- lamat.


Tidak ada percakapan di antara mereka.


Hayan belumlah legowo sebesar itu. Dia masih menahan amarahnya yang terus saja memberontak.


Bayangan istrinya bercum bu dengan pria lain, yang notabene adalah suami pertamanya, begitu sesak di dada.


"Haduh. Pengantin baru sukanya pamer," goda Lamont melirik leher kakaknya yang tersibak.


Udelia meraba lehernya yang polos.


Canggung dia menatap Hayan yang tidak terganggu fokusnya. Masih saja lahap memakan hidangan di depannya.


"Sudah, Lamon! Jangan goda terus kakakmu. Lihat wajah mereka menjadi merah!" komentar John.


Tak mereka ketahui, kalau hanya Udelia yang merasa malu atas godaan adiknya itu.


Sementara Hayan. Wajahnya merah karena amarah terus mengepul di hatinya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]

__ADS_1


__ADS_2