TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
051


__ADS_3

Udelia menegakkan kembali tubuhnya tidak mendengar respon Hayan. Udelia menegakkan kembali tubuhnya sebab tidak mendengar respon Hayan.


Dia melihat pria itu terus mematung.


Apa orang itu bisu?


"Maharaniku ...i..ini semua hanya guyonan kan? Kamu ingin mengejutkan aku?"


Udelia menampik tangan Hayan yang berusaha memegang bahunya. Dia mendelik tajam pada penyelamat suaminya itu. Sebesar apa pun hutang budinya pada pria itu, ketidak sopaannya tidak bisa begitu saja ditolerir. "Tolong jaga sopan santun Anda!"


"Sayang, kembalilah dulu bersama anak-anak," bisik Candra setelah mengumpulkan kekuatan.


"Hheeh ehh nggh.." Raka terbangun lalu menangis kencang. Bayi kecil itu merasakan suasana yang sesak dan panas serta suara bentakan ibunya menyentak dia dari tidur lelapnya.


"Oh sayang, maaf." Udelia mengayunkan tubuh Raka.


"Maharaniku, kamu .... ini ... anak-anak siapa?"


Wajah Hayan melongo melihat dua anak di sisi Maharaninya seperti lem yang rekat, melekat tanpa batas. Dia bertanya sambil menunjuk satu persatu anak di sisi wanita itu.


Tidak mungkin itu anak-anaknya.


Hayan tahu itu. Sangat tidak mungkin itu anak-anak Maharaninya.


Hanya Djahan musuhnya, pria yang dicintai Maharaninya, suami pertama Maharaninya. Tak mungkin Maharaninya mengandung anak pria lain.


Semua itu tidak masuk akal.


Pemikiran Hayan dibantah langsung oleh pernyataan Udelia yang terlihat polos.


"Nama saya Udelia, bukan Maharaniku, tuan. Ini anak-anak saya, Rama Ekadanta dan Raka Ekadanta."


Mendengar hal itu, Hayan sontak menatap mantan bawahannya. Tajam matanya menghunus jantung Candra, andai kata dia adalah rakyat jelata yang tak memiliki kekuatan.


Amarah Hayan dapat membuat raga seseorang benar benar terluka.


"Candra Ekadanta, apa maksudnya ini?" cecar Hayan tak sabar. Tak ingin dia mendengar ucapan Udelia sebagai kebenaran. Dia yakin, semua ini adalah kepalsuan!


Udelia yang merasakan gerak gerik Hayan tak mengenakan, langsung berdiri di sisi suaminya. Hayan tidak banyak bergerak di tempatnya, namun itu bukan berarti pria itu tak dapat bertindak. Udelia merasakan kengerian itu, kendatipun dirinya tidak terpengaruh.


"Tuan, jika ada hal yang ingin dibicarakan silakan berbincang pada saya. Saya akan mewakili Candra," ucap Udelia.


"Tidak. Kembali saja," sela Candra cepat. Dia tidak mau semuanya menjadi berantakan.


Maharaja baru melihat sebentar keberadaan istrinya. Pasti masih banyak ragu di hati pria itu.


Candra tidak akan membiarkan pria lain kembali mendekati istrinya.

__ADS_1


Cukup dia seorang yang menghujani cinta untuk perempuan itu.


Toh semuanya sangat damai sebelum Mahapatih datang berbuat rusuh. Mereka sedang menyambut kehadiran anggota baru dan Mahapatih tiba tiba membuat rumahnya luluh lantak serta membawa ketakutan pada para penghuninya.


"Tuan, silakan." Udelia menatap lurus Hayan. Sama seperti menatap Mahapatih, Udelia merasakan kekuatan yang besar.


"Udelia, kembalilah." Tatapan Candra berubah serius.


Udelia menautkan alisnya lalu menghela napas. Jika tatapan suaminya sudah seperti itu, dia tidak bisa membantah.


"Aku bawa anak-anak dulu."


Udelia tidak mungkin meninggalkan suaminya seorang diri. Bayang bayang kengerian kemarin masih saja terasa nyata. Dia takut penyerangan terjadi lagi kepada suaminya.


Udelia telah memahami betapa tinggi jabatan suaminya dan betapa kaya suaminya, terlepas dari identitasnya sebagai satu satunya keluarga penyihir di Bhumi Maja.


Musuhnya pasti bukan hanya satu dua orang, bukan pula satu dua keluarga. Udelia melihat sendiri betapa sulitnya jalan sang suami dalam tiga tahun belakangan. Dan kemarin adalah penyerangan pertama yang terbilang sukses. Hampir saja rumah utama Ekadanta lumpuh andai komunikasi dengan Aji terputus atau terjadi masalah.


Rama menatap Hayan yang terus menatap Udelia, dia melepas pegangannya pada kaki Udelia yang berjaoanbmenuju pintu keluar lalu kaki mungil itu berlari kecil ke arah Hayan yang masih terpaku.


"Hehe ayah! Ayah! Ayah!" Rama menarik uncal Hayan.


Pria yang tampak terhipnotis dengan keberadaan ibundanya sontak menunduk menatap dirinya.


Senyum Rama semakin lebar.


Udelia memahami jikalau dirinya sering kali lupa akan banyak hal. Menilik betapa sering saudari saudari Candra menagih janji jalan jalan bersama, namun dia nampak seperti orang linglung yang lupa dengan semua itu.


Udelia hanya dapat mengandalkan sinyal hatinya untuk membedakan antara mereka yang memang berniat baik dan sejak dahulu selalu berbuat baik padanya serta mereka yang berniat buruk padanya dan keluarganya.


Sekarang, segumpal daging dalam dadanya berdetak kencang dan menimbulkan suatu rasa yang sesak. Dia tidak mau melihat wajah itu.


Pasti pria itu sudah berbuat hal yang jahat padanya.


Udelia tidak merasakan takut. Dia justru merasakan hati yang sakit dan kemarahan yang besar.


Penasaran. Ada apa memang di antara dirinya dan pria itu?


Udelia berniat menyambut tamu itu bersama Candra.


Selain memastikan keselamatan suaminya. Dia juga ingin memastikan apa yang telah terjadi di antara mereka.


Udelia merasakan kebencian yang hebat.


"Ayah, gendong. Eh!" Rama terbeliak ketika sebuah tangan kekar meraih tubuhnya.


Dia melemparkan senyuman melihat ayahandanya lah yang menggendong dirinya.

__ADS_1


Bocah kecil itu sedikit bingung. Dia melihat dua ayah yang berbeda di depannya.


Dia yakin keduanya adalah ayahnya! Aneh!


"Maafkan anak hamba, Yang Mulia Maharaja." Candra menggendong Rama di lengannya.


"Sayang, kamu baru saja sadar." Udelia menatap khawatir lengan berotot Candra yang selama ini mendekapnya dengan hangat.


Pria itu baru saja sadar. Raganya masih terlihat lemah. Udelia takut tangan pria itu tidak akan kuat menahan beban tubuh Rama.


"Tidak apa-apa—"


Mata Candra terbelalak saat Hayan melewati dirinya dan tanpa aba aba menempelkan bibirnya ke bibir milik Udelia.


Udelia mematung karena semuanya terjadi dengan tiba tiba. Bibir itu terasa manis dengan rasa khas yang Udelia sukai.


Sebuah makanan yang selama ini tidak pernah lagi terhidang di hadapannya.


Udelia amat mengenal rasa dari lidah yang menelusup masuk ke rongga mulutnya.


Namun dia kebingungan. Sebab dalam ingatannya, dia sama sekali tak ingat dengan nama dari rasa manis kepahitan yang telah menjalar ke seluruh dinding mulutnya.


Candra mengeluarkan keris di tangannya yang bebas. Dia memastikan Rama sudah terlelap dalam gendongannya.


Langkah kakinya terseret dan berdiri di belakang Hayan.


Semua itu terjadi hanya dalam beberapa kali kedipan mata.


Ujung yang tajam Candra tempelkan ke punggung pemilik Bhumi Maja itu.


Pikirannya buntu. Dia kalap melihat tindakan tak senonoh yang dilakukan atasannya.


"Lepaskan istri saya, Yang Mulia!" kecam Candra menempelkan keris di punggung Hayan. Dia masih berbaik hati untuk tidak menekannya dan membuat luka. Hanya kain mahal milik Hayan yang sedikit terkoyak.


"Kamu yang harus melepaskan," sergah Hayan melirik dari ujung matanya para ksatria bayangan yang berdiri di belakang Candra dan beberapa di atap.


Tombak tombak mereka menempel di punggung Candra dan mengepung Candra dari segala sisi.


Candra tak dapat bergerak. Matanya menilai keadaan. Mencari cela dari rapatnya barisan para ksatria di ruangan yang luas dan megah itu.


Penyihir besar itu tidak menemukan cela. Lebih tepatnya, kekuatannya sekarang sama sekali tidak mampu melawan mereka.


"Tangkap Candra Ekadanta!"


"Dan Udelia, ikutlah denganku ke keraton."


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2