![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Tunggu, mba!" teriak Klenting Kuning saat Udelia hendak masuk ke dalam rumah utama. Bisa sulit dia menemui Udeia bila wanita itu masuk ke dalam kandangnya.
Klenting Kuning sudah tidak bisa menunggu. Dia ingin pulang. Dia yakin dirinya masih bisa kembali!
Semasa belasan tahun tinggal di negeri ini, Klenting Kuning banyak mencari ilmu dari mitos-mitos yang beredar maupun dari buku.
Terlebih ketika telah kembali ke kediaman Ekadanta. Statusnya yang kala itu sebagai calon istri Candra Ekadanta, membuatnya mudah memasuki ruang-ruang bacaan, meski tidak sampai ke ruang rahasia.
Status ini membuat ketiga Klenting bersaudara rela bersimpuh di depan Klenting Kuning. Terlebih saat tantenya mengangkat Randa sebagai kakak.
Lengkap sudah penghambaan ketiganya.
Dan meski pernikahannya batal, Klenting Kuning diangkat menjadi anak oleh tantenya yang mandul oleh kecerobohan Candraaji Ekadanta, ayah Candra, saat menghabiskan waktu dengan tantenya.
Berbagai fasilitas diberikan untuk Klenting Kuning di rumah dinas ayah angkatnya.
Randa juga diberikan beberapa toko, yang membuat keluarga kecil itu merasa benar-benar menjadi bagian dari Ekadanta.
Seperti kemarin, seenak jidat bersuara seolah Candra adalah calon menantunya.
"Mbak, tunggu." Bahu Klenting Kuning naik turun kala dia sampai di sisi Udelia dan mencekalnya agar tidak mendekat ke rumah utama.
Mata Klenting Kuning memindai sekitar. Dia bersyukur antek-antek Candra sepertinya sedang memiliki kesibukan lain.
"Apa sih!?" sahut Udelia tak suka. Mana ada istri yang senang dekat-dekat dengan perempuan penggoda suaminya?
"Mba, tolong. Apa mba ga mau pulang?"
"Pulang?" beo Udelia.
"Iya pulang."
"Ini rumahku!"
"Mba! Mungkin mba salah sangka. Aku ini bukan ingin menggoda pria itu. Aku ingin menyampaikan kebenaran pada mba. Kampung halaman kita sama mba. Oleh karena itu malam-malam aku ingin berbicara pada mba, tapi oleh pria itu dihalangi. Mba ingatkan pria itu bersikeras membawa aku pergi?"
Udelia menyipitkan matanya. Dia masih curiga pada Klenting Kuning. Tapi yang dikatakan wanita itu tidak salah.
Kebencian Candra suaminya terlihat tidak berdasar pada wanita di depannya. Candra juga tampak gelisah saat Udelia terus memperhatikan Klenting Kuning.
Jika keduanya memang ada perasaan, tak mungkin para tetua diam saja melihat dua insan yang saling mencintai berada dalam satu atap tanpa ikatan.
"Mba, di kampung halaman kita itu ... gedungnya tinggi-tinggi. Ada kuda besi yang ngga perlu nampung kotorannya. Juga keretanya ngga cuma muat empat orang. Ada yang muat sampai puluhan orang. Belum lagi ular raksasa yang dapat ditunggangi ratusan orang."
Terdengar fantasi di telinga Udelia, tapi terasa tak asing di hati Udelia.
Udelia tidak langsung mengiyakan ucapan Klenting Kuning. Dia masih memikirkannya dengan baik-baik, namun tak menunjukkan raut penasaran.
__ADS_1
Dia masuk ke dalam rumah utama, tanpa menghiraukan lagi Klenting Kuning yang memanggil-manggil namanya.
Saat suaminya pulang, ingin Udeia bertanya perihal kampung halamannya. Tapi suaminya sangat letih.
Tangan telaten Udelia membantu Candra melepaskan segala perhiasan yang dikenakan suaminya. Dia juga mengusap peluh di wajah Candra.
"Jangan, sayangku. Kamu bukan pelayanku. Aku sendiri saja." Candra mencekal tangan Udelia kala perempuan itu hendak menyeka tubuhnya.
"Nggak apa. Melayani suami kan tugas seorang istri."
"Melayani suami yah?" Candra menopang dagunya sambil melirik Udelia dengan nakal.
"Kalau itu bagaimana?" goda Candra menaik turunkan alisnya.
Gerakan Udelia yang sedang meletakkan baskom ke meja berubah menjadi kaku. Dia tidak sebodoh itu sehingga tak tahu arah pembicaraan suaminya.
Malu-malu Udelia menatap Candra lalu mengangguk, tak membantah ucapan sang suami.
"Hm. Tapi aku bau. Mau mandi dulu."
Candra bergegas menuju kamar mandi. Dia sudah tidak tahan untuk menghabiskan malam bersama sang istri.
Namun tangannya dicekal oleh jari-jari mungil istrinya. Candra menaikkan alisnya melihat sang istri menunduk tanpa mau melihat wajahnya.
"A-aku menyukai aroma keringatmu. Maaf kalau terdengar me sum. Tak mandi pun tak apa."
Candra tersenyum kecil. Tak menyangka akan melihat sisi imut dari perempuan yang pernah menyelamatkannya dari kesendirian.
Perlahan Candra mendekat. Dia menatap lekat-lekat ekspresi istrinya. Benarkah aroma tubuhnya tidak mengganggu Udelia?
"Yakin?" tanya Candra ketika sudah berdiri di depan Udelia. Perempuan itu pasti mencium aroma tubuhnya dari jarak yang sangat dekat.
Jika hanya sebuah kata hiburan, ekspresi tak suka Udelia pasti terlihat. Istrinya itu tidak bisa mengendalikan ekspresi dalam matanya.
Malu-malu Udelia mengangguk. Dia bahkan berinisiatif memeluk Candra dan menghidu dada bidang suaminya yang sudah tidak tertutupi kain dan perhiasan.
Pegangan Udelia di punggungnya dan hidung yang terus bergerak di dadanya, membuat Candra tak lagi tahan.
Dengan lembut dia menaikkan dagu istrinya dan menyesap bibir manis Udelia, yang tak pernah ketinggalan memakan camilan manis.
Tangannya yang terbebas merengkuh sang istri, hingga tidak ada jarak di antara mereka.
Udelia terbelalak saat tangan Candra bermain di bagian tubuh sintalnya. Apalagi tangan itu menekan dirinya hingga menempel erat ke raga Candra.
Kain yang masih utuh di pinggang keduanya, tidak menghalangi Udelia merasakan sesuatu yang keras.
Dia canggung untuk melakukan hubungan ini dalam keadaan sadar.
__ADS_1
Dalam benaknya tidak ada pengalaman perihal adegan panas.
Udelia berharap suaminya dapat memaklumi dirinya yang tak mahir.
Semoga saja suaminya tidak kecewa.
***
Candra memeluk Udelia hingga perempuan itu terbangun. Dia terus memeluk sang istri seolah takut menghilang bila dia terlelap. Alhasil, dia sama sekali tidak memajamkan matanya.
Rasa gelisah selalu muncul tiap kali fajar datang, sementara Candra masih mencari kenikmatan surga di dunia.
Dia khawatir sang istri akan pergi karena tak tahan menghadapi keinginannya semalam suntuk.
Candra sebenarnya tak mengerti. Kenapa dia lagi dan lagi menginginkan merengguh nikmatnya hubungan suami istri, setelah pertama kali merasakan hal itu di malam pengantin mereka.
Apa karena dia takut waktu ini tak lama?
Dia hanya berharap, tubuhnya hanya bereaksi pada sang istri, Udelia, kekasih hatinya. Dia tidak mau menyakiti istri tercintanya.
Bila perlu, dia akan membuat dirinya benar-beanr hanya bisa mendamba kenikmatan dari Udelia.
Namun mungkin itu tak perlu. Melihat bibir Udelia yang terbuka dalam tidurnya karena kelelahan saja, Candra merasa tak tahan.
Setelah memastikan sang istri mendapat cukup energi dalam tidurnya, Candra memberanikan diri me nye sap bibir Udelia.
Udelia terbangun dan membiarkan sang suami merasai mulutnya. Bagaimanapun lidahnya sudah membelit lidah Udelia, tidak bisa dia paksa Candra untuk melepas pagutan mereka.
Melihat Udelia mulai susah bernapas, Candra melepas ci u man mereka.
Candra menangkup wajah Udelia, menyelam ke dalam mata Udeia, dan berbisik dengan nada yang memburu, "Bolehkah?" izinnya.
Dia tidak mau memaksa istrinya. Lebih baik dia menyelesaikan sendiri, daripada memenuhi ego saat istrinya tidak siap.
"Di kamar mandi saja ya, sayang," balas Udelia dengan napas yang tak kalah memburu.
Sepertinya dia sudah teracuni oleh pikiran kotor sang suami!
Tanpa menunggu waktu, Candra menggendong Udelia ke kamar mandi mereka.
Pelan-pelan dia menurunkan sang istri ke sisi kolam, sedang dirinya masuk ke dalam kolam sebatas perutnya.
Udelia diam tanpa bertanya, suaminya itu selalu saja punya kejutan tersendiri. Apalagi masalah pergulatan mereka.
Seperti sekarang, kaki Udelia dinaikkan ke bahu, lalu Candra berjongkok dan memberikan sensasi baru yang tak pernah dia bayangkan.
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]