TNI Dingin Suamiku

TNI Dingin Suamiku
CENGENG


__ADS_3

"Oalah nggak papa mbak, ini baru mau turun kok" jawab Bu Bayu


"yasudah ayo kita turun ke bawah, ke pasangan masing-masing" ucap Bu Nando


mereka semua berjalan ke arah lapangan tempat pasangan mereka berada


"Oalah nggak papa mbak, ini baru mau turun kok" jawab Bu Bayu


"yasudah ayo kita turun ke bawah, ke pasangan masing-masing" ucap Bu Nando


mereka semua berjalan ke arah lapangan tempat pasangan mereka berada


karena Aham dan Tino berdiri bersebelahan memudahkan Titi membantu Cecil untuk berjalan karena Cecil merasa kesusahan berjalan di atas rumput menggunakan sepatu tersebut...


Aham menyambut Cecil dengan tangan yang sudah siap untuk memeluknya, membuat Cecil malu karena ulah suami nya itu di lihat oleh ratusan orang disana...


"sayang malu ih" ucap Cecil kepada Aham yang sedang memeluknya


"kenapa malu?" tanya Aham


"banyak yang lihatin kita loh" Jawab Cecil


"nggak papa sayang, lihat yang lain juga gitu kok" ucap Aham


Aham memeluk erat tubuh istrinya dan tak lupa dia juga berjongkok untuk mengajak bicara sang baby yang masih berada di dalam rahim Cecil...


"kamu jaga diri baik-baik ya disini, selalu kabari aku apapun aktifitas kamu. Ceritakan semua keseharian kamu, kalau ada masalah nggak boleh ada yang di tutup-tutupi ingat?!" ucap Aham


"siap komandan" jawab Cecil tersenyum


Aham dan Cecil melihat ke arah Titi dan Tino yang tampak canggung, kejahilan Aham pun dimulai


"no, nggak pengen kayak gini?" tanya Aham sembari memamerkan dia memeluk Cecil


"nanti kalau udah sah" jawab Tino


"kalau nggak ada orang udah gue bejek-bejek itu anak" batin Tino


"ih mas, jangan godain mereka masak momen sedih gini masih kamu jahil in aja" ucap Cecil mencubit lengan Aham


"hehe lagian mereka berdua diam-diam aja lo yang" jawab Aham

__ADS_1


"biarin mereka ngobrol mas, jangan diganggu" ucap Cecil


disisi lain Titi dan Tino yang saling melirik satu sama lain, Tino ingin memeluk Titi namun dia merasa sungkan karena banyak teman-teman juga seniornya disana sedangkan Titi merasa canggung karena berada di antara istri-istri prajurit lainnya meskipun ada juga pasangan prajurit yang ikut namun dia tetap merasa canggung karena ini kali pertama untuknya...


"sayang, kamu kenapa?" tanya Tino yang melihat Titi merasa tidak nyaman


"enggak kok, ini kali pertama aku dateng ke acara seperti ini jadi aku belum bisa menyesuaikan diri" jawab Titi


"tenang aja, mereka semua tau kalau kamu calon istri aku jadi jangan grogi gitu" ucap Tino


"kakak sendiri kenapa grogi?" tanya Titi yang membuat Tino gelagapan


"eh engg... enggak kok" jawab Tino


"yang, boleh nggak..." sambung Tino ragu


"boleh nggak apa kak?" tanya Titi


"***... boleh nggak aku peluk kamu?" tanya Tino balik


Titi yang mendengar itu tercengang karena Tino yang sebelumnya ia pikir adalah tipikal cowok yang suka main peluk sembarangan, kali ini dia bertanya dulu sebelum melakukan tindakan...


Titi meng iya kan pertanyaan Tino dengan dua kali anggukan, karena dia malu jika harus menjawab...


perlahan air mata Titi luruh saat Tino merangkulnya, hal itu tak luput dari pandangan Tino


"yang jangan nangis" ucap Tino


"kamu ada yang sakit? apa kita duduk aja yang. kamu udah makan apa belum?" tanya Tino dengan berbagai pertanyaan yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Titi


"yang jangan nangis ya" pinta Tino


"enggak kok" ucap Titi sembari sesenggukan


"enggak apanya, itu ingusnya sampai keluar" ejek Tino sembari mencubit hidung Titi


"ih jangan begitu kak sakit" ucap Titi mengadu


"kamu kenapa nangis? lagian Titi yang aku kenal itu nggak pernah nangis, biasanya dia cerewet banget kalau mau di tinggal" kata Tino


"ih nggak peka banget sih" jawab Titi

__ADS_1


"nggak peka gimana sayang?" tanya Tino


"chat semalam belum dibalas, aku chat jam 8.30 terus terakhir dilihatnya jam 11.00" jawab Titi membuat Tino tercengang


"berasa punya pacar Intel kalau kayak gini, pakai terakhir dilihat juga diingat ya yang" ucap Tino


"hehehe maaf sayang, aku udah baca pesan kamu. Kamu udah denger jawaban Aham buat Cecil kan, jawabanku pasti sama kayak Aham. Aku nggak bisa janji buat kembali dengan keadaan baik-baik saja, tapi aku bakal berusaha" sambungnya


Titi hanya mengangguk karena dia bingung harus bersikap bagaimana, jauh di dalam lubuk hatinya dia meminta kepada Tino agar mau berjanji kepadanya namun dia tidak bisa egois...


"udah ah jangan nangis, kalau kamu nangis nanti nggak cantik lagi loh" ejek Tino


"kakak ngelarang aku buat nangis, tapi itu ngaca. mata kakak aja udah berkaca-kaca mau nangis" sindir Titi setelah melihat Tino yang akan menangis


"kalau bisa aku juga pengen nangis yang, cuma malu kalau nangis disini. Coba deh siapa yang nggak nangis kalau mau ninggalin bidadari kayak kamu gini sendirian disini, yang biasanya tiap hari ketemu antar jemput kamu terus sekarang nggak bisa ketemu sampai beberapa bulan" jawab Tino


"makanya harus balik lagi, kalau kakak nggak balik nanti aku marah sama kakak." ucap Titi


"di usahakan ya sayangku" jawab Tino


"yang, ini udah mau naik. kamu sama Cecil lagi ya" pinta Tino karena memang mereka akan segera berangkat


sedangkan Cecil dan Aham masih betah berpelukan karena Cecil yang menangis tak kunjung usai, mungkin karena efek kehamilan yang membuatnya menjadi semakin cengeng juga...


"yang udah ya nangis nya, katanya tadi nggak akan nangis. kok sekarang jadi nangis gini, apa aku nggak usah berangkat aja ya" ucap Aham


"nggak.. nggak boleh, mas harus tetep berangkat" jawab Cecil


"tapi udah ya nangis nya, jangan nangis terus nanti kasihan baby kebawa sedihnya" ucap Aham


"kamu juga nggak kasihan sama aku apa" tanya Aham


"yang perlu dikasihani itu bukan mas ya, harusnya aku" jawab Cecil dengan nada judes nya


"yang kamu lihat dulu dong, baju mas udah basah kuyup kena air mata sama ingus kamu" ucap Aham sembari tertawa


"ih mas ngejek nya nggak lucu" jawab Cecil namun tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari Aham


"hmm kayaknya harusnya aku adu in kamu ke baby biar nggak nangis lagi deh, soalnya baby masih nurut kalau dibilangin sama papa nya. beda sama mama nya" ucap Aham


Aham berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perut Cecil

__ADS_1


"sayang, bilangin mama dong biar nggak nangis lagi." ucap Aham kemudian mengecup perut Cecil


__ADS_2