
"Tunggu sebentar" ucap Aham tanpa melihat ke arah Cecil
Akhirnya Cecil memilih untuk duduk kembali di samping Aham dengan perasaan jengkel pastinya, namun tak lama Aham meletakkan handphonenya di nakas dan menghadap ke arah Cecil...
Aham meraih tangan Cecil dan membuat si empunya kaget karena sedari tadi dia melamun...
"Sayang" panggil Aham
"Iyaa?" tanya Cecil menjawab dengan isyarat alisnya
"Aku tau yang kamu maksud es batu itu aku" ucap Aham membuat Cecil kaget
"bukan kok" elak cecil
"aku sudah ada di ruangan ini waktu kamu ngomel-ngomel" ucap Aham sambil tertawa
hal itu membuat Cecil sangat malu karena ketahuan
"Maaf" ucap Cecil
"No No, kamu nggak salah"
"Maafin aku ya udah bersikap gitu ke kamu" sambung Aham
"No Problem" jawab Cecil sembari tersenyum
"No Problem tapi ngomel-ngomel di belakangku, ketahuan lagi haha" ejek Aham
"Hiih" Cecil sebal karena Aham mengejeknya
"Cecil" kali ini nada bicara Aham terlihat serius, bahkan genggaman tangan Aham ke tangan Cecil semakin erat
"Iyaa?" tanya Cecil yang heran
"Jangan seperti itu lagi ya" ucap Aham
"Kamu nggak papa nggak terima sama aku karena sikapku yang dingin, tapi aku minta sama kamu buat ingetin aku kalau aku salah dan jangan sampai kita marahan ya. Untuk aku yang tiba-tiba ninggalin kamu dan nggak nunggu kamu, hal itu pasti akan sering terjadi kedepannya tapi kamu sudah berjanji akan selalu ada disisi ku saat senang maupun susah kan?" ucap Aham yang diangguki oleh Cecil
"itu sudah jadi konsekuensi menjadi istri prajurit, apalagi aku seorang kapten yang akan memimpin pasukannya kemanapun mereka pergi" sambung Aham kemudian melirik ke arah Cecil yang terdiam
"kami semua harus siap saat ada panggilan mendadak dari komandan, saat sedang tidur ataupun ada hal penting di rumah pun kami harus tetap pergi bertugas" ucap Aham sembari menyenderkan kepalanya ke bahu Cecil
"kalau nggak kamu ada keluhan sama sikapku ataupun lainnya, kamu bilang ya jangan diem dan marah. Aku takut kalau hal itu terjadi dan saat itu aku juga sedang ribet dengan tugasku malah akan buat kita bertengkar. Kamu boleh protes tentang apapun, tapi jika kamu komplain untuk hal satu itu aku nggak bisa menuruti komplain mu karena kami sebagai prajurit punya tanggung jawab penuh terhadap negara. kamu pa..." sambungnya namun ter jeda karena ada tetes air yang jatuh di pipinya
Aham kembali duduk tegap dan menghadap ke arah Cecil, dan benar saja saat ini Cecil sedang menangis
__ADS_1
"jangan nangis ya, aku cuma pengen kamu ngerti aja. maaf kalau kata-kata ku salah" ucap Aham sembari menyeka air mata Cecil
"make up mu jadi luntur tuh" ucap Aham
"nggak, ini waterproof" jawab Cecil sesenggukan
namun secara tiba-tiba Cecil malah memeluk tubuh Aham, dan membuat Aham mematung
"maafin aku" ucap Cecil sesenggukan
"nggak kamu nggak salah apa-apa" ucap Aham berusaha menenangkan Cecil
"aku takut" kata Cecil
"takut kenapa?" tanya Aham heran
"kakak boleh ninggalin aku buat satgas, tapi kakak harus janji akan kembali lagi sama aku dengan keadaan sehat seperti semula" ucap Cecil sembari menghadap ke arah Aham tanpa melepas pelukannya
Aham yang mendapat ucapan seperti itu dari Cecil hanya diam
"kakak janji?" tanya Cecil
"maaf, janji seorang prajurit hanya untuk tanah airnya sayang" ucap Aham sambil mengelus kepala Cecil
"tapi, aku akan berjanji sebagai seorang suami. aku janji kalau aku satgas akan kembali dalam keadaan sehat" jawab Aham , meskipun sebenarnya dia tidak bisa berjanji akan hal itu namun demi memenangkan hati cecil apapun dia lakukan
"aku belum lapar" jawab Cecil
"kamu dari siang belum makan lo, ini udah mau isya" kata Aham
"aku suapi ya" sambungnya
"aku bisa sendiri, sini" ucap Cecil mengambil alih piring di tangan Aham
"makan yang banyak ya" kata Aham
"kakak nggak makan?" tanya Cecil
"udah tadi, waktu kamu mandi kami semua sudah makan" jawab Aham sembari tersenyum
Cecil menghabiskan makanannya tanpa berbicara, sedangkan Aham terus saja menceritakan pengalaman-pengalaman yang dia lalui sampai bisa seperti saat ini...
Tiba-tiba handphone Aham berdering tanda pesan masuk, dia tampak serius membaca pesan tersebut sampai membuat Cecil heran dari siapakah pesan tersebut...
__ADS_1
Aham tampak menghela nafas panjang dan memijat pelipisnya
"Ada masalah apa kak?" tanya Cecil
"Emm ini" jawab Aham ragu-ragu
"Panggilan?" tanya Cecil
"Aku harus kembali ke Papua besok pagi" ucap Aham ragu sembari melihat ke arah Cecil dan memegang tangan istrinya itu
"Maaf ya, aku nggak bisa nemenin kamu disini sampai lusa" sambungnya
"Yaudah aku juga berangkat besok aja" ucap Cecil enteng
"Kamu serius yang?" tanya Aham heran karena sang istri sebelumnya sudah merencanakan untuk pergi ke berbagai tempat sebelum dia kembali ke Papua
"Aku serius, lagian semua agenda itu harusnya dilakukan sama kakak. kalau kakak nggak ada ya sama aja aku jalan sendiri" ucap Cecil
"Aku pesan tiket dulu buat kita berangkat besok" sambung Cecil
"mama sama papa?" tanya Aham
"itu bagian kakak" jawab Cecil sembari tersenyum
Akhirnya malam yang harusnya menjadi malam pertama mereka berubah menjadi malam berkemas, Aham juga sudah berbicara dengan orang tua mereka dan diizinkan karena sudah konsekuensinya...
Selesai berkemas mereka berdua merebahkan diri di tempat tidur yang biasanya ditempat i sendirian oleh Cecil. ada rasa canggung di antara mereka berdua, namun mereka berusaha untuk menetralkan...
"Tidur membelakangi suami itu dosa lo yang" ucap Aham saat melihat Cecil yang akan berpindah posisi memunggungi nya
Akhirnya Cecil mengurungkan niatnya dan memilih untuk menghadap ke arah Aham, karena dia tidak bisa tidur jika tidak miring...
"Nah gini kan enak" ucap Aham sembari memeluk Cecil
"haduh spot jantung lagi" batin Cecil
"itung-itung olah raga jantung yang, biar sehat" ucap Aham yang membuat Cecil kaget, sudah beberapa kali Aham bisa membaca pikirannya
"Udah tidur ya, biar aku nggak kesusahan gendong kamu lagi besok kalau turun pesawat" ucap Aham sembari tersenyum jahil
Karena ejekan Aham, Cecil reflek mencubit dada bidang Aham
"Aduh sakit yang"
"Siapa suruh dari tadi ngejek mulu" ucap Cecil
__ADS_1
"Maaf-maaf, udah ya tidur" jawab Aham sembari mencium kening Cecil
namun Aham malah mempererat pelukannya ke Cecil, yang membuat jantung Cecil semakin berdegup kencang. Mau tidak mau dia juga memeluk Aham karena tangannya akan sakit jika berada di tengah-tengah tubuh mereka...