TNI Dingin Suamiku

TNI Dingin Suamiku
Rapuh


__ADS_3

"iya mas, besok rencananya aku juga mau periksa ke dokter lagi soalnya habis perjalanan jauh juga" jawab Cecil


"yaudah kalau gitu, ini udah mulai putus-putus. aku lanjut dulu ya" ucap aham


belum juga Cecil menjawab, sambungan telepon sudah terputus karena jaringan yang tidak stabil


"gimana sayang setelah telfonan sama suami mu, tadi kan katanya kamu mual dan perutmu sakit?" tanya mama Aham


"hehehe seperti biasa ma, kak Aham selalu menjadi obat" jawab Cecil sembari tersenyum


"tadi juga baby nendang-nendang saat telfonan sama papa nya kayaknya baby kangen juga sama papa nya" sambung Cecil


"yang kangen baby apa mama nya nih?" goda papa Cecil


"ih papa nggak boleh gitu sama anak sendiri" ucap mama Cecil


"hehe iyaa ma" jawab papa Aham


sementara Titi yang duduk di sebelah Cecil hanya memilih untuk melihat ke arah kaca jendela

__ADS_1


"andaikan hubunganku baik-baik saja, mungkin saat ini aku dan dia akan sama seperti Cecil dan kak Aham yang saling memberikan kabar. jika saja tadi aku bersikap seolah-olah aku tidak tahu tentang perselingkuhannya apakah hubungan kami akan baik-baik saja, apakah sekarang dia akan menelepon ku juga" batin Titi


"nggak ti, jangan memikirkan dia lagi yang jelas-jelas tidak memikirkan mu. dia sudah membuat kamu merasa paling dicintai dan sekarang kamu dijatuhkan begitu saja, bahkan dia tidak menahan mu saat kamu pergi" pikiran Titi seperti berdialog dengan hati Titi yang masih ingin mempertahankan Tino


memang kisah mereka baru berjalan beberapa bulan, namun Tino adalah seseorang yang mampu membuat hati Titi yang keras menjadi lembut..


Cecil melihat ke arah Titi yang fokus memandang keluar kaca, ia ikut bersedih dengan apa yang di alami oleh Titi namun ia tak bisa apa-apa. suaminya saja yang sangat dekat dengan Tino sudah tidak di gubris omongannya, apalagi dia yang hanya istri dari sahabat Tino...


setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai di penginapan orang tua nya, Titi langsung mengurung diri di kamar yang biasa ia tempati...


ia ingin langsung ber istirahat dan berharap semoga apa yang ia lalui hari ini hanyalah sebuah mimpi, namun saat telah berada di kamar ia malah teringat semua hal tentang Tino...


Titi terduduk di balkon kamarnya, pandangannya entah ia arahkan kemana. ia tak habis pikir mengapa Tino se tega itu kepadanya, hidup tenang dan bahagia bersama Tino yang ia harapkan kini hanya tinggal kenangan saja...


"sudah selesai semua, Ya Allah ini adalah pilihanku. Ridho i lah apa yang menjadi keputusanku ini, lancarkan lah semua jalanku dan jika memang dia bukan untukku maka berikan dia kebahagiaan dengan orang yang ia pilih" gumam Titi


dikamar lainnya, Cecil sedang berusaha memejamkan matanya namun tak kunjung bisa. ia kepikiran bagaimana Titi saat ini, meskipun sebelumnya Cecil meminta Titi sekamar dengan nya namun di tolak oleh Titi...


"apa aku ke kamar Titi aja ya"

__ADS_1


"tapi nanti aku ganggu dia lagi"


"pasti sekarang dia nggak bisa tidur juga, kalau ada masalah apapun dia pasti cerita ke aku"


akhirnya Cecil memutuskan untuk mendatangi Titi di kamarnya, ia perlahan-lahan berjalan ke arah kamar Titi agar tidak membuat keributan yang mengakibatkan orang-orang di rumah terbangun...


tok...


tok...


tok...


ketuk Cecil namun tidak ada sahutan dari Titi, ia ingin mengetuk untuk ke empat kali nya namun tangan Cecil tertahan karena sayup-sayup ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar Titi...


Cecil langsung masuk ke dalam kamar karena ia tak tega membiarkan Titi sendirian di saat seperti ini


"Titi" panggil Cecil yang sudah masuk ke dalam kamar


Titi yang biasanya menyukai cahaya yang terang, kini di kamarnya tidak ada satu pun lampu yang menerangi. hanya cahaya bulan lah yang masuk melalui pintu balkon yang ia buka...

__ADS_1


"ti, lo dimana?" tanya Cecil yang tidak melihat keberadaan Titi


Cecil berjalan ke arah balkon dan benar saja, Titi terduduk di lantai balkon


__ADS_2