TNI Dingin Suamiku

TNI Dingin Suamiku
LAMARAN MENDADAK


__ADS_3

mereka akhirnya bisa masuk ke dalam wahana tersebut, karena 1 kapsul hanya boleh di isi dua orang maka dari itu mereka terpisah dengan cindi dan Bima...


melihat Titi yang duduk murung di depannya, Tino berinisiatif mengajaknya berbicara agar mood nya kembali lagi...


"he nenek lampir, ngomong apa gitu kek. masak gue udah ngajak lo biar temenin malah lo nya diem aja, kayak naik sendiri gue rasanya" ucap Tino kepada Titi yang tengah melamun


"enak aja nenek lampir! lagian siapa suruh ngajak aku naik bianglala kayak gini, harusnya tu kakak ngajak pacar kakak biar bisa romantis-romantisan" jawab Titi


"ya ada nya lo masak gue mau ngajak Cecil, bisa di tembak mati gue sama si Aham" ucap Tino


"serah kakak deh" jawab titi


"eh ti gue mau tanya serius" kata Tino


"tanya apa?" tanya Titi


"kriteria cowok lo kayak gimana sih?" tanya Tino


"kenapa emangnya?" tanya Titi balik


"ya siapa tau adek letting gue ada yang masuk kriteria lo, bisalah gue jadi biro jodoh haha" jawab Tino yang sebenarnya ber alasan


"eleh, coba cariin deh kalau bisa. yang baik, pengertian, nggak gampang marah, nggak deket sama banyak cewek, nggak plin plan, sayang sama aku dan keluargaku, kriteria lainnya menyusul" ucap Titi


Tino tampak berfikir sejenak


"kayaknya ada deh yang termasuk kriteria lo itu" jawab Tino


"siapa memang?" tanya Titi


"gue" jawab Tino spontan


Titi yang mendengar jawaban Tino tertawa terbahak-bahak karena menurutnya jawaban Tino lucu


"he nenek lampir ngapain lo ketawa kayak gitu, gue asli gitu kali" ucap Tino


"he kak lo itu nggak deket banyak cewek kalau di dalam asrama doang, kalau di luar asrama kayak truk gandeng. bahkan truk gandeng pun gandengannya kalah sama lo haha" jawab Titi sambil tertawa


"gue sekarang udah nggak kayak gitu kali ti, umur gue udah tua dan gue mau serius sekarang. masak Aham udah mau punya anak terus gue masih main-main aja" ucap Tino

__ADS_1


"Lo habis kepentok apa sih kak hari ini? nggak panas juga kok. bangun kak jangan tidur terus" tanya Titi sembari menyentuhkan telapak tangan nya ke dahi Tino


tiba-tiba Tino meraih tangan Titi kemudian menggenggam nya, Titi yang mendapatkan perlakuan seperti itu terbengong-bengong


"eh kak" ucap Titi kaget


"ti, gue kali ini bicara serius sama lo" ucap Tino yang semakin mempererat genggaman tangan nya kepada Titi


"bicara apa sih kak?" tanya Titi yang sebenarnya jantungnya sudah seperti orang berlari maraton


"gue suka sama lo ti" ucap Tino


"ti, Will you marry me?" tanya Tino , tepat saat Tino menyatakan isi hatinya bianglala yang dinaiki mereka berdua berhenti di puncak seakan sudah di atur sedemikian rupa


"kak, ih kalau mau latihan tu di asrama aja. latihannya totalitas banget, mau lamar siapa sih?" tanya Titi yang masih mengira jika Tino main-main dengannya


"ti, aku serius sama kamu. mau kah kamu menikah denganku?" tanya Tino kembali


"Will you marry me ti?" sambung Tino


Titi yang mendengar ucapan Tino tersebut tidak bisa berkata-kata, dia kaget karena tiba-tiba Tino melamarnya


"apa suka sama seseorang perlu alasan ti? kalau memang perlu aku akan menjelaskan kenapa aku berani lamar kamu" jawab Tino


"ti, aku suka sama kamu udah dari dulu. bahkan aku sering perhatiin kamu saat kamu main sama Cecil dan ketemu aku, Bima dan yang lain, tapi aku sadar kalau dulu aku banyak cewek seperti yang kamu katakan. Tapi sekarang ini aku bicara serius ke kamu karena memang kamu yang selama ini aku tunggu bahkan saat kamu dikabarkan dekat sama Bima, aku berusaha menerima semua itu. tapi mungkin Allah masih kasih kesempatan ke aku buat deketin kamu lagi, dari dulu aku suka cari masalah sama kamu cuma biar deket sama kamu" jelas Tino


Titi yang mendengar itu tak menyangka jika kejahilan yang Tino lakukan semata-mata karena ingin dekat dengannya


"kalau kamu mau bukti keseriusan ku, tolong telepon orang tua mu sekarang. aku ingin berbicara dengan mereka agar mereka merestui hubungan kita" pinta Tino


"kak?" tanya Titi tak percaya


"hubungi mereka ti sebagai bukti kalau gue nggak cuma ngomong doang" pinta Tino


akhirnya Titi menghubungi orang tua nya via telepon, tak lama sang mama mengangkat teleponnya


__telepon mama titi__


"*hallo nak" ucap mama Titi

__ADS_1


"hallo ma" jawab Titi


"ada apa nak? tumben kamu malam-malam telepon, uang mu habis? mau di transfer berapa?" tanya mama Titi


"nggak kok ma" jawab Titi*


"biar aku aja yang ngomong" bisik Tino kepada Titi, alhasil Titi memberikan handphone nya kepada Tino


"assalamualaikum Tante" ucap Tino kepada mama Titi


"iya wa'alaikummussalam" jawab mama Titi


"saya Tino Tante, kakak kelasnya Titi waktu SMP yang sering datang ke toko Tante" ucap Tino


"oh iya nak Tino ada apa ya?" tanya mama Titi


"sebelumnya mohon maaf Tante, apa Om juga ada di sana?" tanya Tino


"oh Om lagi nonton tv, ini Tante di ruang tamu" jawab mama Titi


"apakah boleh jika Om juga ikut mendengarkan telepon saya Tante, karena ada hal penting yang akan saya bicarakan kepada Om dan Tante" pinta Tino


"oh iya sebentar ya" ucap mama Titi kemudian memanggil sang suami


"ini Om udah sama Tante" sambung mama Titi


"sebelumnya mohon maaf Om Tante karena seharusnya saya membicarakan hal ini secara langsung dengan datang ke rumah Om dan Tante, namun karena saya masih tugas di Papua untuk sekarang hanya bisa lewat telepon terlebih dahulu" ucap Tino meminta maaf


"mau membicarakan soal apa nak Tino?" tanya papa Titi


"Om Tante, saya dan Titi sekarang sedang berada di luar jalan-jalan. malam ini saya mengutarakan perasaan saya kepada anak Om dan Tante namun akan lebih baik jika saya meminta restu kepada Om dan Tante terlebih dahulu, saya ingin mempersunting Titi menjadi pendamping hidup saya Om Tante" ucap Tino


Titi yang mendengar pun hanya menundukkan kepalanya karena sangat grogi, dia tidak membayangkan akan mendapat kejutan secepat ini dan dari orang yang tidak terduga


orang tua Titi juga tak kalah terkejut dengan hal itu, pasalnya sang anak bahkan tidak pernah bercerita tentang satu laki-laki pun kepada mereka


"nak Tino, kami sangat bahagia sekali jika kamu mempunyai niat baik dengan Titi bahkan kami menyambut niat baikmu. namun kembali lagi, semuanya yang menentukan adalah Titi karena yang akan menjalani kehidupan selanjutnya adalah kalian berdua bukan kami sebagai orang tua. jika Titi bersedia, kami pasti akan sangat merestui hubungan kalian" jawab papa Titi


tanpa sepengetahuan Titi sebenarnya Tino sangat akrab dengan keluarganya, orang tua Titi memiliki sebuah toko kue dan Tino termasuk pelanggan setia mereka dari saat masih SMP

__ADS_1


hal itu yang membuat orang tua Titi tidak banyak bertanya mengenai latar belakang Tino karena sebetulnya mereka sudah mengetahuinya tanpa Titi tahu


__ADS_2