TNI Dingin Suamiku

TNI Dingin Suamiku
WELCOME BACK


__ADS_3

"kamu kok masih ngantuk sih ham? mainnya kelamaan ya semalem?" tanya mama Isma menggoda


"main apasih ma?" tanya Aham kebingungan


"udah jeng jangan di bahas lagi, malu mereka nanti" ucap mama nada sambil tertawa


aham seketika mengerti maksud dari kedua mamanya


"boro-boro mau main, deket sedikit aja aku di cubit" jawab Aham memandang kesal ke arah Cecil


pasalnya beberapa kali saat Aham mencoba mendekati Cecil, reflek tangan Cecil mencubit pinggang Aham dan menyebabkan Aham mundur sebelum melancarkan aksinya...


kedua mama itu mengalihkan pandangannya ke arah Cecil yang sedang memanyunkan bibirnya kesal karena kejujuran Aham...


Cecil yang menyadari ada yang memandangnya langsung melihat ke arah Aham dan kedua mamanya, dan benar saja mereka memberikan tatapan mengintrogasi...


"Cecillia Denada Pradana" ucap mama nada


"ya ma?" tanya Cecil


"Abraham Bagas Gautama" ucap mama isma


"ha? apa ma?" tanya Aham


"mama mau ngomong serius sama kamu!" ucap mama isma dan mama nada bersamaan


Cecil dan Aham yang mendengar itu saling memandang satu sama lain, kini mereka sudah duduk bersebelahan sedangkan kedua mamanya duduk di depannya...


"ada apa sih ma, serius banget" jawab Aham


"kapan kalian mau kasih mama cucu?"tanya mama Isma dan mama nada bersamaan


"i... itu... " jawab Cecil gugup namun langsung di potong oleh Aham


"kami kan baru menikah ma, sebelumnya memang kami sudah pernah dekat tapi karena ada masalah kami semakin menjauh. sekarang tahapan kami untuk dekat lagi, dan itu butuh proses. apalagi Cecil sekarang masih kuliah, aku nggak mungkin buru-buru meminta Cecil untuk memberikan hak ku yang sebenarnya itu sah-sah saja jika aku memintanya. tapi aku tidak ingin membebani Cecil, maka dari itu sebaiknya aku dan Cecil menjalani kehidupan pernikahan seperti orang berpacaran terlebih dahulu supaya aku dan Cecil bisa merasakan cinta seperti orang lain rasakan, sembari menunggu Cecil lulus dan aku janji setelah itu akan hadir cucu yang lucu untuk kalian" ucap Aham kepada kedua mamanya


Cecil yang kaget dengan apa yang dikatakan oleh Aham langsung melirik ke arahnya, Aham tampak serius dengan apa yang dia ucapkan...


"maafkan aku kak, karena keegoisanku malah jadi di interogasi kayak gini. tolong buktikan kalau kamu memang yang terbaik untukku" batin Cecil , kali ini Cecil sengaja karena dia yakin Aham dapat mendengar nya


"kalian harus menepati janji itu" jawab mama Isma


"Cecil akan lulus satu tahun lagi, oke kami akan menunggu" jawab mama nada


"kami pamit dulu ma, sudah waktunya kami berangkat ke bandara" ucap Aham kemudian bersalaman kepada kedua mamanya diikuti oleh Cecil


......................


dalam perjalanan ke bandara Aham tampak lebih pendiam dibandingkan biasanya, hal itu membuat Cecil merasa tidak nyaman...


"maaf" ucap Cecil kepada Aham


Aham yang mendengar hal itu langsung melirik ke arah Cecil

__ADS_1


"untuk?" tanya Aham


"emm..."


"kamu belum mempercayai ku?" tanya Aham


benar saja dugaan Cecil bahwa Aham bisa membaca apa yang dia pikirkan


"maaf" jawab Cecil


"aku paham yang, apa yang aku lakuin ke kamu dulu emang keterlaluan" jawab Aham sembari meraih tangan Cecil, kemudian dia menggandeng tangan Cecil


"kamu jangan berfikir yang tidak-tidak karena aku diam, aku tidak sedang memikirkan itu" sambung Aham


"yakin?" tanya Cecil


"aku sangat yakin" jawab Aham sambil melirik ke arah Cecil dan pandangan mereka bertemu


"aku akan berusaha untuk dapetin kepercayaan mu lagi" sambung Aham kemudian mengecup tangan Cecil yang ada di genggamannya


"makasih" jawab Cecil sambil tersenyum


mereka sudah sampai di bandara dan langsung menuju gate keberangkatan, sama seperti perjalanan sebelumnya mereka habiskan untuk tidur karena memang keduanya suka tidur...


......................


akhirnya sampai lah mereka di Papua...


"katanya sampai jam berapa ti?" tanya Bima


"ini udah setengah 5, harusnya mereka udah dateng sih" jawab Titi


"eh itu mereka" tunjuk Riko yang melihat Cecil dan Aham keluar dari gate kedatangan sambil bergandengan


Tampak terlihat Aham menyeret koper mereka di tangan kiri sedangkan tangan kanannya menggandeng tangan Cecil, sedangkan tangan kanan Cecil menenteng tas kecil (mereka hanya membawa satu koper karena saat pulang ke Jakarta mereka tidak membawa banyak baju)...


"gitu ya kalau udah nikah, naiknya pesawat tapi gandengan terus kayak truk" ucap Tino


"ham" teriak Bima memanggil Aham


Cecil yang melihat hal itu langsung menepuk bahu Aham dan membawanya ke arah Bima dan teman-temannya...


"Eh pengantin baru" goda Titi


"iya nih, pengantin baru gandengan terus kayak truk" ucap Tino


"apalah daya hamba mu ini yang jomblo" kata Riko


"ih kasihan jomblo" ejek Bima kepada Riko


"masih untung gue jomblo banyak yang chat, lah lo udah tunangan chat an kayak minum obat aja seminggu sekali" balas Riko


mereka semua tertawa karena Riko berhasil membuat Aham yang cerewet menjadi bungkam...

__ADS_1


Mereka memilih untuk langsung kembali ke asrama karena akan ada yang dibahas disana nantinya...


di dalam perjalanan, Bima, Aham, Tino dan Riko lebih sering membahas tentang pekerjaannya sehingga Cecil dan Titi lebih memilih untuk diam karena tidak mengerti apa yang dibahas...


"oh ya ham, ntar malem kayaknya kita harus bahas masalah yang di daerah xx deh" ucap Bima


"urgent banget ya? se inget gue waktu itu udah bisa di atasi" tanya Aham


"kali ini beda lagi ham, ini lebih dari serius. itu alasannya ada pasukan di datengin lagi" jawab Tino


"oh oke, nanti kalian tentuin aja jam nya" jawab Aham


"oke" kata Bima


"dek, lo habis ini tinggal sama Aham dong?" tanya Bima kepada Cecil


"hah?" tanya Cecil bingung karena dia lupa jika sudah menikah


"kayaknya belum dulu deh" ucap Cecil


"nunggu komando dari komandan dulu Bim, kita disini kan satgas bukan di pindah tugas kan" jawab Aham


"bener juga sih, tapi mungkin komandan bakal kasi ijin kok ke elo. kan kalian sama-sama tugas disini bukan istri yang cuma ikut suami aja" kata Riko


"iya bener tuh"


"apapun keputusan komandan gue terima" ucap Aham


Tak terasa mereka sudah sampai di asrama namun sebelum turun dari mobil, Aham sudah menerima telepon dari komandannya...


komandannya berpesan agar setelah sampai dia segera menemui sang komandan untuk membahas hal penting...


Cecil yang mendengar hal itu mencoba memahami keadaan Aham, dimana dia adalah seorang abdi negara saat berada di lingkungan ini. sehingga dia tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, apalagi setelah Aham berpesan kepadanya saat itu...


setelah menerima telepon, Aham menengok ke arah Cecil kemudian mengelus rambutnya. Aham lalu keluar dari mobil langsung menuju ke ruangan komandannya...


"udah resikonya jadi istri kapten dek" ucap Bima tiba-tiba


"iya kak" jawab Cecil sambil tersenyum


"kalau udah dapet panggilan kayak gitu, udah melesat jauh sampe lupa pamitan ke kita-kita" kata Tino yang dibenarkan oleh Bima maupun Riko


mereka akhirnya keluar dari mobil, Cecil tetap kembali ke asrama yang sebelumnya di tinggali bersama dengan Titi karena itulah tempat tinggalnya sebelumnya...


Bima Tino dan Riko membantu Cecil untuk membawa barangnya ke dalam asrama Cecil dan Titi...


"kalau perlu apa-apa bilang aja dek ke Aham, kalau nggak lo chat aja di grup biar kita semua tahu" ucap Bima sebelum meninggalkan asrama Cecil


setelah semua orang kembali ke asramanya masing-masing, tinggallah Titi dan Cecil yang berada di sana. mereka langsung menuju kamar yang biasa mereka tempati...


"gimana cil?" tanya Titi


"gimana apanya" jawab Cecil yang sudah merebahkan dirinya di kasur yang sudah seminggu tidak dia tidur i

__ADS_1


__ADS_2