TNI Dingin Suamiku

TNI Dingin Suamiku
TANGISAN BIMA


__ADS_3

Cecil memilih untuk menunggu di ruang tamu sampai apel mereka selesai, mata Cecil terus tertuju pada pasukan yang sedang berbaris disana...


setelah menunggu hampir 1 jam lamanya, akhirnya Aham dan Bima kembali ke barak mereka...


awalnya Bima ingin langsung kembali ke baraknya lantaran ada hal yang harus ia kerjakan, namun Cecil tiba-tiba keluar dari barak dan menahannya untuk mampir terlebih dahulu ke tempatnya. tak hanya Bima, namun Riko, Tino dan Titi pun juga di panggil oleh Cecil...


setelah masuk di dalam ruang tamu, mereka semua bingung karena Cecil belum berbicara sepatah kata pun...


"ada apa yang kok kamu kumpulin semuanya disini?" tanya Aham yang duduk di samping Cecil


"iya dek, ini kakak mau ada kerjaan" ucap Bima


"coba kalian lihat tautan yang aku kirim " ucap Cecil , dia sudah mengirim tautan di grup mereka


"buat apa?" tanya Riko


"iya ada apa sih cil, langsung bilang aja" kata Tino yang sudah penasaran


"coba kalian buka dulu" jawab Cecil


mereka semua akhirnya menuruti Cecil dan membuka tautan yang dikirim oleh Cecil, yang pertama mereka buka adalah sebuah tautan tiktok berita yang Cecil lihat sebelumnya...


"mahasiswi kampusmu ini dek?" tanya Bima


"iyaa" jawab Cecil


"siapa cil yang bun*h diri?" tanya Titi


"temen kamu yang?" tanya Aham


"coba kalian buka tautan kedua" ucap Cecil sambil menyenderkan tubuhnya di senderan kursi


setelah mereka membuka tautan kedua, mereka semua terdiam dan melihat ke arah Bima yang matanya mulai berkaca-kaca...


"Rindi" ucap Bima lirih namun masih di dengar oleh teman-temannya


air matanya lolos begitu saja tanpa permisi


"Gue pamit dulu" ucap Bima kemudian berlari keluar menuju baraknya


"Bim" teriak Aham


"Kalian susul kak Bima dulu aja" ucap Cecil kepada Aham, Tino dan Riko

__ADS_1


mereka bertiga menyusul Bima yang berlari ke baraknya, sedangkan Cecil dan Titi tetap tinggal di barak Aham...


sesampainya di barak Bima, mereka bertiga melihat Bima yang sedang mengemasi beberapa barangnya ke dalam tas ransel...


"Bim, lo dengerin gue dulu" kata Aham


"Gue harus balik ke Jakarta ham" ucap Bima dengan mata yang masih berkaca-kaca


"Bim, tenang in diri lo dulu. lo nggak mungkin berangkat dengan keadaan kacau kayak gini" ucap Tino berusaha merangkul Bima agar tenang


"gue harus gimana? gue terima dia selingkuh tapi kenapa dia ninggalin gue kayak gini. Gue udah maafin dia, kalau gue tau dia bakal pergi nggak akan gue nerima pembatalan pertunangan itu" ucap Bima sesenggukan


"kalo lo mau ke Jakarta, kita sama-sama balik ke Jakarta. Rindi juga sahabat kita Bim, kita bakal temenin lo balik" kata Riko


"bener kata Riko Bim" ucap Tino


"lo jangan mikir aneh-aneh Bim, semua ini sudah takdir dari sang pencipta. lo jangan nyalahin diri lo sendiri" ucap Aham


"gue bener-bener harus balik sekarang ham" ucap Bima


"oke, kita balik ke Jakarta. Tapi lo ingat sekarang ini kita dimana, kita lagi tugas. Jangan gegabah kalau ngambil keputusan" ucap Aham


"gue coba izin ke komandan, bakal gue usahain supaya kita bisa berangkat" sambung Aham kemudian meninggalkan Bima, Riko dan Tino disana


"gini ham, karena kalian masih punya tanggung jawab disini. Sementara saya hanya bisa mengizinkan Bima kembali ke Jakarta, namun dalam 3 hari harus sudah kembali kesini" ucap komandan


"baik komandan, terimakasih" jawab Aham


"jangan lupa menyampaikan surat permohonan cuti terlebih dahulu" ucap komandan


"siap Ndan, saya izin undur diri"


"silahkan"


......................


Disisi lain Riko dan Tino masih mencoba untuk menenangkan Bima yang terus berusaha menelfon nomor Rindi...


"Bim dengerin gue, percuma lo telfon ke nomor dia Bim" kata Tino


"gue mau masti in kalau kalau kabar itu nggak bener" ucap Bima


"Bim, gimana lo mau balik ke Jakarta kalau lo nggak bisa ngendaliin diri kayak gini?" tanya Riko

__ADS_1


"kalian tau gue suka sama rindi dari dulu, gue salah udah ngomong kasar ke dia waktu itu. Gue nyesel nggak langsung nikahin dia, kalau dia udah nikah sama gue nggak mungkin hal ini terjadi kan. Gue terima dia selingkuh tapi gue belum bisa terima kalau dia pergi selamanya dengan cara kayak gini" ucap Bima


"udah bim, ini semua udah takdir" jawab Tino


"mending sekarang lo coba telfon orang rumah Bim, siapa tau mereka udah tau kabarnya duluan" ucap Riko


kemudian Bima mencoba untuk menelfon langsung ke nomor mama Rindi, dan ternyata di angkat oleh mama rindi...


"Halo Tante" kata Bima


"i iya Bima" jawab mama rindi dengan suara yang parau


"tan, aku pengen ngomong sama rindi bisa kan Tan?" tanya Bima sembari menangis


"Bima maafin semua kesalahan rindi ya, rindi nggak bisa minta maaf langsung ke kamu." ucap mama rindi sambil menangis


"Tante, di berita itu bukan rindi kan? rindi nggak mungkin ngelakuin hal se nekat itu" tanya Bima


"maafin rindi ya Bim, rindi udah jahat ninggalin kita semua" kata mama rindi


"Tante, Bima hari ini balik ke Jakarta. Bima minta tolong sama Tante tunggu Bima datang, Bima pengen lihat rindi untuk terakhir kalinya" kata Bima sembari menghapus air matanya


"kami masih di RS xx Bim, kami menunggu hasil visum barulah rindi boleh dibawa pulang" ucap mama rindi


"saya usahakan akan tiba secepatnya Tante, saya akan berangkat sekarang" kata Bima


"hati-hati Bim" jawab mama rindi


setelah menutup telfonnya, air mata yang mengalir dari matanya semakin deras. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya namun tetap saja air mata itu lolos...


Riko dan Tino menepuk bahu Bima...


"Bim, sementara yang dapat izin buat balik ke Jakarta cuma lo aja. Lo isi ini dulu jangan lupa menghadap ke komandan dulu sebelum pergi" kata Aham


dengan cepat Bima mengisi kertas yang di bawa oleh Aham, dia bergegas memakai jaket dan tas ranselnya. Dia pergi menggunakan pakaian dinasnya karena dia sudah tidak kepikiran untuk berganti pakaian terlebih dahulu...


"inget, Lo harus kuat. orang tua rindi pasti akan kuat kalau lo bisa meyakinkan mereka" ucap Aham sambil menepuk bahu Bima


"gue berangkat dulu" ucap Bima berpamitan kepada teman-temannya


"hati-hati Bim" jawab mereka bertiga


Bima berlari menuju kantor sang komandan untuk meminta izin terlebih dahulu kemudian barulah berangkat menuju bandara di antarkan oleh Tino dan Riko sedangkan aham kembali ke barak karena disana ada Cecil dan Titi yang sedang menunggu kabar darinya..

__ADS_1


__ADS_2