TNI Dingin Suamiku

TNI Dingin Suamiku
LAMARAN


__ADS_3

Cecil dan mamanya yang baru saja masuk ke dalam rumah lantas bergegas untuk membersihkan diri masing-masing karena hari sudah semakin sore...


......


Hari-hari berlalu seperti biasa, dengan Aham yang selalu memberikan kabar kepada Cecil dan kedua orang tua serta mertua yang begitu perhatian kepadanya...


Cecil dan Titi juga sudah melaksanakan sidang skripsi dan mereka berdua dinyatakan lulus saat yudisium...


Hari ini tibalah saat keluarga Bima bersilaturahmi dengan keluarga Titi...


...


Di kediaman keluarga Bima


Tampak semua keluarga sedang berkumpul, bahkan kakek dan nenek Cecil yang tinggal di Jawa Tengah pun datang ke Jakarta...


mereka semua berkumpul di ruang keluarga sembari menunggu selesai waktu shalat magrib..


satu keluarga ini mengenakan baju yang senada, tampak Cecil yang kini mengenakan gamis biru ke ungu an duduk di antara nenek dan kakeknya..


"sebentar lagi cicit nenek lahir yaa" ucap nenek Cecil


"iyaa eyang putri, langsung dapat dua sekaligus" jawab Cecil


"memang top cer suami mu itu, eyang sudah merasa kalau kalian berdua itu jodoh dari kecil" ucap eyang Kakung


"Alhamdulillah eyang"


"sebetulnya dulu eyang mu ini rewel pas tahu cucu nya mau nikah sama tentara, takut kalau cucu nya dibawa jauh. Tapi pas di kasih tau kalau sekarang suami mu tugas di Jakarta, akhirnya eyang kakung setuju" ucap eyang putri


"aduh eyang, nanti kalau mas Aham pindah tugas kan Cecil juga ikut" ucap Cecil


"ya ini sayang yang bikin Mama Papa sering kunjungan ke Papua saat kamu pengabdian disana, kayaknya eyang kakung sengaja menugaskan Papa buat cek di sana" ucap Papa Cecil


"ya namanya cucu cewek satu-satunya harus dijaga" ucap eyang Kakung


"eyang putri juga masih ingat sekali wejangan panjang yang diberikan eyang mu ini untuk suami mu, mungkin kalau di tulis dalam kertas folio bisa dua atau tiga kertas" ucap eyang putri

__ADS_1


"tidak se panjang itu juga, mau bagaimana kita sebagai orang tua kan mengingat dan memberikan wejangan yang baik-baik karena kita sudah pernah melewati masa nya mereka" jawab eyang Kakung


"nanti calonnya kak Bima jangan di kasih wejangan yang panjang-panjang eyang, takutnya dia malah takut sama eyang karena kumis tebal eyang ini" ucap Cecil sembari tertawa


"masa dia takut sama kumis eyang?" tanya eyang Kakung


"kan bisa jadi begitu, sama mami aja takut awal-awal nya" jawab Cecil


"kalau kasih wejangan nunggu Bima pulang saja pa, karena yang harus dikasih wejangan-wejangan yang banyak itu Bima nya. cucu laki-laki papa itu kan sifatnya masih sama kayak dulu" ucap papa Bima


"memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ndre, kamu dulu juga seperti itu. Tapi karena istrimu hebat, akhirnya kamu luluh juga" jawab eyang Kakung


Om Andre yang mendapatkan jawaban itu pun langsung malu


"lah ini, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Eyang Kakung dulu juga dingin begitu, sampai-sampai eyang putri ini lebih suka tidur sendiri daripada tidur bareng tapi kayak nggak ada temen tidur" timpal eyang putri membuat eyang Kakung gelagapan


"shutt udah-udah jangan dibahas lagi" ucap eyang Kakung


"Pa, Ma ini sudah selesai magribnya. Kita berangkat sekarang ya" ajak papa Cecil


"ibu-ibu satu mobil sini, bapak-bapak biar bawa mobil sendiri" ucap eyang putri


"lo di mobil kita sepi ma" keluh papa Cecil


"Ndak papa, ini waktunya ibu-ibu bergosip" jawab eyang putri


Akhirnya bapak-bapak pun menuruti kata eyang putri...


Mereka semua masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan, karena Papa Bima dan papa Cecil hanya dua bersaudara jadi hanya keluarga inti saja yang ikut. Sedangkan keluarga dari Mama Bima sudah tiada, karena mama Bima juga sama-sama anak tunggal dan kakek nenek Bima dari sang mama sudah tiada...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit lama nya, akhirnya mereka semua tiba di kediaman keluarga Titi...


Cecil yang sedari tadi bertukar pesan dengan titi pun mengabarkan jika keluarganya sudah sampai di depan rumahnya...


Tak lama tampak keluarga inti Titi keluar untuk menyambut kedatangan keluarga Bima...


"assalamualaikum" ucap eyang Kakung

__ADS_1


"waalaikumsalam"


"silahkan masuk, silahkan masuk" ucap papa Titi


Karena baik keluarga Titi maupun keluarga Bima merupakan keturunan Jawa, maka dari itu mereka melakukan tradisi-tradisi melamar seperti pada adat Jawa...


Mereka semua tampak duduk di karpet yang sudah di gelar, disana sudah berkumpul keluarga inti dari Titi dan Bima. Tampak juga Titi yang duduk di antara kedua orangtuanya...


tampak banyak sekali jajanan yang ada di depan mereka, mulai dari kue basah dan jajanan pasar sampai kue kering...


persiapan yang dilakukan oleh keluarga Titi begitu matang karena sebelum keluarga inti mereka berkumpul papa mama bima sudah terlebih dahulu datang ke rumah mereka dengan maksud 'meminta' Titi menjadi menantu mereka dan sekarang adalah tahapan pertunangan Titi dan Bima atau biasa disebut lamaran...


Meskipun Bima belum kembali, ia sepenuhnya menyerahkan urusan lamaran ini ke keluarganya. Karena jika menunggu ia datang Sam. Saja ia menggantungkan perasaan Titi, maka sama saja jika ia meminta Titi untuk menunggunya akan menjadi penghalang pria yang akan mendekati Titi...


Cecil yang sudah mengenal keluarga Titi pun memperkenalkan satu persatu keluarganya...


"saya sebagai perwakilan keluarga yang menjadi penghubung antara dua keluarga ini ingin mengenalkan keluarga saya yang hadir pada malam hari ini..


Di samping saya ada Eyang Kakung, Eyang Adi Bramantyo Soejanto


Eyang Putri, Eyang Latifah Soejanto


Beliau berdua merupakan orangtua dari Papi atau Om Andre dan juga orangtua dari Papa saya...


Kemudian ada Orangtua dari Kak Bima, yaitu Papi Andre dan Mami Dila...


Lalu di sebelahnya ada Kedua orang tua saya yang tidak lain adalah Adik dari Mama Papa kak Bima


Papa Pradana dan Mama Finanda..."


"keluarga ini sebenarnya bisa dibilang keluarga besar karena terdiri dari 3 keluarga kecil yang menjadi satu, namun karena masing-masing anak eyang hanya memiliki satu anak jadi terlihat seperti keluarga kecil"


Eyang Kakung sebagai keluarga yang paling tua di antara orang yang berkumpul tersebut memulai acara, dan menyampaikan inti dari pertemuan itu...


"jadi maksud kedatangan kami sekeluarga disini ingin menyampaikan pesan dari anak dan sekaligus cucu kami untuk melamar mbak Titi sebagai calon istrinya, sebelumnya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya karena yang bersangkutan belum bisa datang secara langsung untuk menyampaikan niat baiknya" ucap eyang kakung


"kami sebagai perwakilan dari Titi dengan senang hati menerima lamaran yang di ajukan oleh nak Bima, semoga kedepannya kehidupan nak Bima dan Titi bisa rukun, kehidupan persaudaraan kita semua juga terjalin semakin erat"

__ADS_1


__ADS_2