TNI Dingin Suamiku

TNI Dingin Suamiku
TENTANG TITI dan BIMA


__ADS_3

Bima berlari menuju kantor sang komandan untuk meminta izin terlebih dahulu kemudian barulah berangkat menuju bandara di antarkan oleh Tino dan Riko sedangkan aham kembali ke barak karena disana ada Cecil dan Titi yang sedang menunggu kabar darinya..


.......................


disisi lain setelah Cecil dan Titi ditinggal oleh Aham untuk mengejar Bima, Titi lebih banyak diam...


"mereka nggak balik-balik ya" ucap Cecil namun tidak ada sahutan dari Titi


Cecil mengirim pesan kepada sang mama, menanyakan kebenaran berita tersebut. dan memang benar adanya kalau rindi lah orang yang ada di dalam berita, bahkan mamanya sedang menemani mama Bima untuk datang ke rumah duka...


melihat titi cenderung diam setelah melihat respon Bima saat mengetahui kabar meninggalnya rindi, hal itu disadari oleh Cecil namun dia tidak ingin bertanya terlebih dahulu karena ini bukan saat yang tepat untuk mengetahui hubungan mereka benar atau tidak adanya...


"ti" panggil Cecil


"Titi, lo ngelamun" tegur Cecil sembari menepuk pundak Titi


"eh.. kenapa cil?" tanya Titi


"lo jangan ngelamun dong, aku jadi takut" jawab Cecil


"enggak" ucap Titi


"kok mereka nggak balik-balik ya" gumam Titi namun masih dapat di dengar oleh Cecil


"iya nih kenapa nggak balik-balik ya" kata Cecil


"emm, coba aku telfon kak aham dulu deh" sambung Cecil kemudian menghubungi nomor Aham


namun belum sempat dia memencet tombol call, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu...


tok....


tok....


tok....


"siapa ya?" gumam Cecil


"aku tinggal buka pintu dulu ti" pamit Cecil kepada Titi karena saat ini mereka berdua sedang berada di meja makan


Cecil melangkahkan kaki menuju pintu ruang tamu, dia membuka pintu dan ternyata Aham lah yang berada di balik pintu...


"yang gima...." ucap Cecil terpotong


tiba-tiba Aham memeluk Cecil dengan erat dan hampir membuat Cecil kehilangan keseimbangan...


"yang?" tanya Cecil namun tidak ada sahutan


"yang, kamu nggak papa kan?" tanya Cecil lagi


"kamu janji jangan tinggalin aku ya" ucap Aham tiba-tiba


"aku selalu di samping kamu yang, kenapa tiba-tiba kayak gini?" tanya Cecil


"Bima udah berangkat ke bandara" namun Aham tidak menjawab pertanyaan dari Cecil, dia memberikan kabar tentang Bima sembari melepas pelukannya kepada Cecil


"keluarga di rumah udah tau kalau kak Bima pulang?" tanya Cecil kepada Aham sembari berjalan masuk ke ruang makan


"aku nggak tau yang, soalnya tadi aku sempet ninggalin Bima sama Tino, Riko buat izin ke komandan" jawab Aham

__ADS_1


"coba aku telfon mami nya kak Bima dulu deh" ucap Cecil


tak lama telfon tersebut tersambung dengan mama Bima yang tak lain adalah Tante Cecil sendiri...


"ya cantik?" tanya mama Bima , cantik adalah panggilan kesayangan untuk Cecil


"mami, kak Bima flight ke Jakarta. mami udah di kasih kabar?" tanya Cecil


"apa? Bima pulang ke Jakarta?" tanya mama Bima


"iya mi, setelah dapat kabar kalau rindi meninggal dia langsung kemas dan mungkin ini masih perjalanan ke bandara" jawab Cecil


"dia berangkat sendiri?" tanya mama Bima


Cecil melihat ke arah Aham , kemudian Aham memberi isyarat agar cecil memberikan handphone tersebut kepadanya...


"Mami" ucap Aham


"iya ham? gimana? Bima berangkat sama siapa?" tanya mama Bima


"karena yang dapat izin buat kembali cuma Bima aja, jadi kemungkinan besar tidak ada yang dampingi Bima mi. Tapi aku coba hubungi Tino sama Riko dulu, siapa tahu mereka bisa sesuaikan jadwal penerbangan dan bisa antar Bima" jawab Aham


"makasih ya ham, coba mami aja yang hubungi Tino atau Riko dulu ya" ucap mama Bima


"iya mi" jawab Aham dan Cecil bareng kemudian telepon pun terputus


"semoga aja Tino atau Riko bisa dampingi Bima setidaknya sampai bandara terus balik lagi kesini" ucap Aham


"apa nggak papa yang kalau kak Tino sama kak Riko nemenin kak Bima?" tanya Cecil


"asalkan mereka bisa kembali sebelum jam 5 pagi besok" jawab Aham


"emm ti, lo nginep disini aja dulu" ucap Cecil kepada Titi


"eh nggak cil, gue balik ke barak aja" jawab Titi


"udahlah ti, kalau di barak lo sendirian. disini ada kamar kosong kok, ayo gue anter" ajak Cecil kemudian menggandeng tangan Titi


"yang, aku anter Titi ke kamar dulu" pamit Cecil kepada Aham


"iya sayang" jawab Aham


Cecil mengantar Titi ke salah satu kamar yang ada di tempat tinggal Aham itu, disana memang tersedia 3 kamar. salah satunya di tempati oleh Aham dan Cecil, satu untuk jaga" semisal ada keluarga yang berkunjung, sedangkan satu kamar lagi digunakan untuk beribadah...


"ti, ini ya kamarnya. selimutnya ada di lemari atas itu, tenang ini bersih kok baru aja tadi aku bersihin" ucap Cecil kepada Titi


"iya cil, makasih ya" jawab Titi


"jangan banyak melamun yaa, aku tinggal dulu" kata Cecil


"siap bos" jawab Titi sembari tersenyum


setelah di tinggalkan oleh Cecil sendirian di kamar tersebut, Titi mulai memikirkan apa yang menjadi pusat pikirannya hari ini...


"Kenapa gue jadi cengeng sih cuma gara-gara kak Bima nangis in kepergian Rindi, masak gue harus cemburu sama orang yang udah nggak bernyawa" gumam rindi


"stop ti, lo nggak boleh cemburu. Selama ini kak Bima juga belum bilang kalau dia suka sama lo kan, jangan gampang baper gini Titian" sambungnya menasehati diri sendiri


"rindi itu cinta pertamanya kak Bima, pasti kak Bima bakalan terpukul karna ini"

__ADS_1


flashback on.....


setelah di tinggal beberapa hari oleh Cecil untuk mempersiapkan rencana pernikahan mereka, Titi merasa sangat kesepian. namun beruntung ada Bima yang selalu menemani Titi jika akan pergi kemanapun...


hal itu dilakukan Bima bukan tanpa alasan, sang adik sudah berpesan kepadanya agar dia selalu menjaga sahabat adiknya tersebut...


saat itu mereka berdua sedang pergi untuk mencari makan malam, di perjalanan menuju tempat makan Bima bercerita mengenai kisah cintanya setelah sebelumnya Titi menceritakan perihal Kevin...


"Lucu ya kisah cintamu, kisah cintaku malah rumit" ucap Bima sambil tersenyum


"Rindi itu cinta pertamaku, aku suka dia dari SMP tapi aku lebih milih untuk memendam semuanya. Lo tau sendiri kan dulu yang di puja-puja sama rindi itu Aham, dan aku mengakui Aham itu lebih dari segalanya tapi Aham milih sama Cecil. untuk kelanjutan hubungan mereka pasti Lo tau sendiri kan, sejak saat itu persahabatan kita berlima tetep jalan tapi nggak ada yang berani nyinggung masalah Aham sama Cecil disana. aku benci banget sama rindi waktu itu karena dia udah bikin adek aku nangis, lambat laun aku pikir perasaanku ke dia udah nggak ada dan kabar baiknya akhirnya Cecil dan Aham hubungannya membaik. Dari situ rindi mulai berulah lagi, akhirnya aku milih buat ngelamar dia dengan tujuan agar si rindi nggak gangguin Aham lagi, niatku memang jahat mau balas dendam sama dia. aku pengen dia ngerasain betapa sakitnya jadi Cecil saat itu, tapi setiap aku lagi sama dia, chat ataupun telepon rasanya aku nggak bisa nyakitin dia" ucap Bima


"ya itu namanya cinta buta kak" sahut Titi


mereka berbincang-bincang hingga tak terasa sudah sampai di tempat makan yang mereka tuju, mereka memesan makanan kemudian mencari tempat duduk...


tak lama telepon Bima berdering, tertera nama rindi di sana


"halo" ucap Bima


"halo Bim" jawab rindi


"kenapa Rin?" tanya Bima


Titi yang mendengar panggilan nama itu dari Bima, langsung paham jika sang penelepon adalah Rindi...


"Bim, 2 Minggu lagi aku ke sana ya" ucap Rindi


"sama siapa?" tanya Bima


"aku sendiri bim, aku pengen ketemu kamu. ada yang mau aku bicarakan" jawab rindi


"oke, kabarin aja kepastiannya ya" ucap Bima


"oke Bim"


telepon tersebut di tutup oleh Rindi, seperti itulah Rindi dan Bima bila ada hal-hal penting mereka akan langsung menghubungi via telepon, tidak ada kata basa-basi seperti pasangan lainnya...


"maaf ya, rindi telepon" ucap Bima kepada Titi


"oh iya nggak apa-apa kak" jawab Titi


"kak rindi mau kesini ya? maaf tadi kedengeran percakapan kalian" sambungnya


"iya, Rindi mau kesini. Dia bilang ada hal yang harus di bicarain" jawab Bima


Ting....


suara handphone Bima berbunyi tanda pesan masuk


"ini dia ngirim tiket keberangkatan nya, tanggal 12 dia sampai" ucap Bima


Titi hanya mengangguk-angguk kepala tanda mengerti


flashback off....


tiba-tiba Titi teringat akan percakapan nya dengan Bima waktu itu


"tanggal 12 rindi harusnya sampai disini kan" gumam Titi

__ADS_1


__ADS_2