
"ini tadi aku diskusi sama kak Bima, kan Tante sama mama Minggu depan kesini. itu pas sama ulang tahun Tante, jadi kita diskusikan deh kado apa yang cocok dan bersifat rahasia. kalau kita diskusi disini kan ada kak Riko yang biasanya ember banget" jawab Cecil berbohong
"oh gitu" ucap Aham pura-pura percaya
"oh iya Bim ini tadi hp lo bunyi, nggak tau siapa yang telfon. kita-kita panggil lo, lo nya nggak denger" ucap Riko kepada Bima
"oh ya?" tanya Bima meraih handphone yang dia taruh di meja kemudian dia duduk kembali di samping Riko
"siapa kak?" tanya Cecil penasaran
"enggak ini telfon dari tim yang menyelidiki kasusnya rindi" jawab Bima sembari menelfon seseorang yang dimaksud
semua orang disana diam sembari memperhatikan Bima yang tengah bicara serius dengan orang yang ada di telfon, setelah selesai barulah mereka menanyakan kepada Bima...
"ada apa Bim?" tanya Aham
"katanya mereka udah ngumpulin bukti-bukti yang kuat, dan semua itu mengarah ke pacarnya rindi" jawab Bima
"terus kenapa pacarnya nggak langsung di tangkap?" tanya Cecil
"semua itu ada prosesnya dek, dari pihak kepolisian nggak bisa asal tangkap begitu saja. Minggu depan dia baru di panggil penyidik untuk dimintai keterangan lagi" jelas Bima
"semoga kasusnya cepet selesai deh, kasihan juga si rindi nya kalau ceritanya di ungkit-ungkit terus karena kasusnya belum beres" ucap Tino
"Aamiin" ucap semuanya bersamaan
"yaudah istirahat semua yok, ini kan udah malam juga. besok jadwal ke dokternya pagi lo" ucap Aham
"siap bos" jawab Tino dan Riko bersamaan
"oh iya ti, kamu ganti pakai baju aku aja. udah aku siapin di kamar kamu ya" ucap Cecil kepada Titi
"okay, makasih cil" jawab Titi
__ADS_1
Cecil dan Aham sudah masuk terlebih dahulu ke kamarnya, sedangkan Titi masih akan beranjak dari duduknya. saat akan melangkahkan kaki, tiba-tiba Bima menahan tangan Titi...
"ada apa kak?" tanya Titi yang kaget melihat Bima menggandeng tangannya
"kita perlu bicara" ucap Bima tanpa ekspresi
Tino dan Riko yang melihat hal tersebut merasa heran, karena baru kali ini Bima berbicara dengan nada seperti itu kepada Titi. mereka berdua hanya saling melirik satu sama lain mempertanyakan apa yang terjadi sebenarnya...
"oh iya" jawab Titi
Bima melangkahkan kakinya terlebih dahulu menuju halaman depan rumah, sedangkan Titi menyusul di belakangnya...
hal itu tidak luput dari perhatian Riko dan Tino yang sengaja memantau mereka berdua dari jendela ruang tamu...
"kira-kira mereka bicara masalah apa ya, kok kayaknya serius banget sampai keluar rumah segala" ucap Riko
"gue juga nggak tau ko, kayaknya masalah pribadi deh" jawab Tino
"eh bentar-bentar no" sela Riko
"kan gue udah jelasin Bambang, gue nggak sengaja ketemu Titi pas balik jaga. dia jalan sendiri kayaknya dari kantin dia tadi" jawab Tino
"tapi bentar deh" sambung Tino
"kenapa lagi?" tanya Riko
"tadi pas gue susulin Titi pas dia jalan, dia itu nangis. pas berhadap-hadapan sama gue aja kelihatan banget matanya masih sembab, tapi gue nggak sempet tanya alasan dia nangis gara-gara ada setan tadi" jelas Tino
"iya sih tadi matanya Titi sembab banget, gue pikir gara-gara lo takut-takut in dia masalah hantu tadi" ucap Riko
"mana ada, gue malah berbaik hati gandeng tangan nya biar dia nggak ketinggalan langkah gue" elak Tino
"sa ae lo karet warteg" ucap Riko
__ADS_1
mereka berdua kembali memperhatikan Titi dan Bima yang tengah berbicara di luar
"eh no, lo tadi bilang kalau si Titi dari arah kantin kan?" tanya Riko
"iya emang kenapa?" tanya Tino balik
"gue baru inget, tadi habis apel si Bima terima telfon. terus buru-buru keluar, pamitnya ke gue katanya mau ke kantin. masak iya mereka berdua ketemuan di kantin" jawab Riko
"masak Titi nangis juga gara-gara Bima, nanti kita tanya ke Bima aja lah ketimbang kita salah nuduh orang nantinya" ucap Tino
disisi lain, Bima dan Titi yang berada di halaman rumah tampak diam. belum ada yang memulai pembicaraan di antara keduanya...
setelah menunggu beberapa lama namun Bima tak kunjung berbicara, akhirnya Titi memberanikan diri membuka pembicaraan di antara mereka karena dia tidak ingin berduaan lama-lama dengan Bima...
"emm kak, mau bicara apa lagi?" tanya Titi pelan
hal itu membuat Bima tersadar dari lamunannya dan menghadap ke Titi yang berdiri di sampingnya...
"gue mau minta maaf soal tadi, maaf omongan gue ke lo tadi kasar ti. gue udah kebawa emosi duluan tanpa dengerin apa yang lo jelasin" ucap Bima
"santai aja kak, nggak papa kok. aku tau kakak pasti nggak bermaksud kayak gitu ke aku, no problem kak jangan di pikirin" jawab Titi sembari menunduk
"maaf ya ti, gue bener-bener belum bisa buka hati buat siapa pun. mencintai seseorang emang hak masing-masing orang, begitupun membalas cinta seseorang kan. gue harap lo ngerti yaa" kata Bima dengan nada yang lebih lembut dibandingkan saat bertemu di cafe tadi
"gue yakin lo bisa menemukan seseorang yang lebih baik, lebih pengertian dan lebih segalanya dari gue. gue anggap lo kayak adek gue sendiri dan kalau pun kita punya hubungan lebih kayak pacaran itu ada putusnya ti, malah buat hubungan kita jadi renggang. kita cukup jadi saudara aja ya, gue percaya lo pasti bisa dapet yang lebih" sambung Bima
"iya kak, makasih ya" ucap Titi
"pas gue tau lo suka sama gue, gue bisa kok diem aja pura-pura nggak tau. tapi itu akan nyakitin lo kalau suatu saat gue punya orang spesial dalam hidup gue dengan posisi gue yang masih perhatian ke lo" ucap Bima dan hanya mendapat anggukan dari Titi
"emm, yaudah udah malam juga mending kita masuk sekarang" ucap Bima yang lagi-lagi berjalan terlebih dahulu di depan Titi
Titi memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar karena ingin menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan karena sedang berhadapan dengan Bima..
__ADS_1
"bener kata kak Bima, lebih baik dia jujur kayak gini ketimbang biarin aku berharap dan ujung-ujungnya dia sama cewek lain" gumam Titi sembari sesenggukan
"tapi sakit banget rasanya, ini hati juga kenapa gampang baper sih. di perhatiin dikit doang udah klepek-klepek, kan nangis lagi jadinya" sambungnya sembari mengelap air matanya dengan tissue