
"Om saya pamit dulu ya, saya harus ke gate keberangkatan sekarang" pamit Tino bersalaman dengan papa Bima dan juga Bima
"iyaa no, hati-hati" jawab papa Bima
"makasih no" ucap Bima
Tino hanya melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya menuju gate keberangkatan karena 20 menit lagi dia harus kembali ke Papua...
Karena dia masih menggunakan PDL lengkap sehingga menjadi pusat perhatian banyak orang, banyak pasang mata yang melihatnya apalagi cewek-cewek...
"kabarin Aham dulu deh" ucap Tino sembari mengambil handphone yang ia taruh di tas kecilnya
Tak lama telepon tersebut tersambung ke Aham
"Halo ham" ucap Tino
"Gimana no, kalian udah sampai?" tanya Aham
"iya , tapi gue cuma nemenin sampai bandara aja. ini pesawatnya udah mau berangkat, tadi Bima udah sama om Andre kok" jawab Tino
"oh yaudah no, lo perkiraan sampai jam berapa?" tanya Aham
"kayaknya jam 3 deh, ini gue berangkat jam 8 WIB soalnya" jawab Tino
"oh oke, kabarin lagi kalau udah sampai"
"oke ham, udah dulu ini mau take off" jawab Tino
"oke hati-hati bro" jawab Aham
......................
sementara Bima dan sang papa yang baru saja sampai di rumah sakit langsung menuju ruang otopsi, sang papa sebenarnya ingin membawa Bima pulang ke rumah terlebih dahulu namun karena Bima bersikeras jadilah dia menuruti keinginan anak semata wayangnya itu...
disana terlihat keluarga Rindi, mama nya dan juga mama papa Cecil yang menemani keluarga Rindi disana...
selama perjalanan menuju rumah sakit, sang papa berusaha menguatkan Bima agar tidak menunjukkan kesedihannya di depan keluarga Rindi yang pastinya lebih kehilangan dibandingkan dirinya...
Setelah lebih dekat dengan keluarganya, Bima melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya. Kacamata yang awalnya menutupi mata bengkaknya kini ia lepas...
__ADS_1
Dia berusaha tetap tegar, Bima menyalami satu per satu anggota keluarga yang ada di sana dan yang paling akhir dia salami adalah Mama Rindi. Mama Rindi memeluk Bima dengan air mata yang tak kunjung berhenti menetes
"maafin anak Tante ya Bim" ucap mama rindi
"rindi nggak salah apa-apa kok Tan" jawab Bima menahan tangisnya
mama rindi melepas pelukannya kepada Bima, lalu menyodorkan sebuah kotak kepada Bima
"ini apa tan?" tanya Bima sembari menerima kotak itu
"itu Tante temuin di kamar Rindi, disitu tertulis buat kamu. Maaf sebelumnya Tante udah buka karena ada beberapa barang rindi yang dibawa kepolisian buat penyidikan dan kotak ini juga di cek" ucap mama rindi
"makasih Tan" jawab Bima
Bima duduk di kursi kosong sedikit menjauh dari keluarganya, dia ingin membuka apa isi kotak yang diberikan rindi untuknya...
setelah membuka kotak itu, ternyata isinya adalah cincin pertunangan mereka dan sepucuk surat. Bima mulai membuka surat tersebut dan membacanya...
"Hai Bima
maaf ya kalau waktu kita ketemu aku hanya bisa mengucapkan kata maaf tanpa bisa bercerita langsung apa yang aku alami dan bagaimana aku saat kamu melaksanakan tugasmu di Papua.
tapi ya kamu tau sendiri dari dulu aku bukanlah cewek yang baik, kamu ingat nggak meskipun dulu aku suka sama aham tapi aku punya pacar juga. Ya bisa dibilang aku ini play girl hehe
waktu menjalin hubungan sama kamu, aku udah nggak ada hubungan sama cowok manapun selain kamu. tapi saat kamu mulai nggak ada kabar dan nggak pernah balas chatku, disitu aku mulai mempertanyakan keseriusan kamu
Aku tau kamu melamar ku hanya semata-mata agar aku nggak ganggu hubungan Aham dan Cecil, sampai pada akhirnya aku tidak mengharapkan semua yang berhubungan dengan kamu lagi...
mungkin rencana ku ini licik karena aku menjalin hubungan dengan orang lain di belakangmu dan berencana memutuskannya saat kamu kembali nanti. Tapi aku sudah membuat kesalahan besar dengan menyerahkan hal yang paling berharga dalam hidupku kepada orang itu...
maafkan aku Bim
kamu pasti akan mendapatkan seseorang yang baik sama denganmu
mungkin sebentar lagi akan datang undangan pernikahan ku dan dia, aku harap kamu datang yaa
aku sengaja datang ke Papua secara langsung untuk mengembalikan cincin pertunangan kita dan memberikan surat ini
semoga kamu cepat mendapatkan jodoh yaa
__ADS_1
dan jangan lupa mengundangku jika kamu menikah nanti
~Rindi "
kira-kira begitulah isi surat yang ditulis oleh rindi untuk Bima
tak terasa air mata Bima mulai menetes karena membaca surat tersebut
"harusnya kamu datang ke Papua kan untuk memberikan surat ini, kenapa kamu malah membuatku datang ke Jakarta untuk membacanya disini" ucap Bima lirih
Bima memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan diri, dirinya harus terlihat baik-baik saja di depan keluarganya...
Papa Bima mendekati Bima setelah melihat anaknya menangis lagi, beliau menepuk pundak Bima
"jangan seperti ini, malu sama baju yang kamu pakai" ucap papa Bima mengingatkan jika sekarang Bima masih mengenakan pakaian dinasnya
"ayo ikut papa" ajak papa Bima
"kemana?" tanya Bima
"ayo" ucap papa Bima menggandeng Bima agar berdiri
tujuan papa Bima adalah Kantin rumah sakit tersebut, beliau sangat tahu bagaimana anaknya jika sedang ada masalah yang dihadapi pasti akan mengesampingkan waktu makannya sehingga berakibat pada gangguan kesehatannya
"aku nggak lapar pa" ucap Bima kepada sang papa
"makanlah rindi pasti akan marah jika kamu sakit karena tidak makan dengan teratur" lagi-lagi papa Bima mengingatkan kenangan Bima dengan rindi, dulu saat SMP Bima pernah sakit maag hingga masuk rumah sakit. saat rindi menjenguk dia malah mengomeli Bima karena Bima susah makan
"sudah lah kenapa anak papa jadi seperti ini, papa pesankan makan dulu ya" ucap papa Bima kemudian berlalu memesan makanan untuk mereka berdua
Bima membuka handphonenya yang sedari tadi berada di tas kecil miliknya, dia mulai membuka chat WhatsApp milik Rindi. Disana menampilkan chat rindi dari beberapa tahun lalu, memang Bima tidak pernah mengganti nomornya selama itu dan dia selalu mencadangkan pesannya
"aneh ya Rin, dulu kamu sama aku bahkan bisa bercandaan kayak gini. Tapi setelah kamu tahu tentang perasaanku, mulai saat itu kamu jadi membatasi percakapan kita. Dan baru beberapa Minggu hubungan kita membaik, ada saja hal yang membuat kita berpisah lagi bahkan kali ini yang memisahkan adalah maut" gumam Bima
"kenapa aku jadi lemah gini Rin" sambungnya sambil memandangi foto mereka saat pertunangan
namun tak lama papa Bima datang membawa makanan untuk mereka berdua
"makan dulu Bim" ucap papa Bima
__ADS_1