
"Udah deh Lyn, tadi cuma percobaan pertama. Gue masih belum yakin kalo lo belum coba semua tips dari gue."
Velyn mendengus, baru mendengar suara Oca melalui earphone yang ia pakai saja membuat telinganya panas seketika.
Mau bagaimana lagi, demi membuktikan jika Andra memang tidak menyukainya pada fans gila seperti sahabatnya, ia harus rela kehilangan waktu yang berharga.
Velyn melangkah mendekat, ia beralih duduk didekat Andra yang kini masih berkutat dengan pekerjaannya.
Posisi Velyn kini tepat di belakang bangku Andra. Ia tak tau apa yang harus dilakukan selanjutnya sedang Andra saja tidak memperhatikannya sama sekali.
Dengan perasaannya yang canggung dan juga dadanya yang bergetar tak karuan, akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk mendekat kearah Andra dan duduk disampingnya.
"Ada apa Lyn?" tanya Andra yang kini melirik Velyn sembari masih fokus dengan pekerjaannya.
"Pak, saya mau tanya boleh?" tanya gadis itu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedang kini yang dilakukan Andra hanya melirik sekilas sembari tersenyum miring.
"Maaf ya, saya lagi sibuk sekarang. Kalo mau tanya nanti aja" ujarnya dengan senyuman singkat yang membuat Velyn agak kecewa.
'Kenapa? bukannya ini ya yang aku harapkan? tapi kenapa aku kesel sih? kenapa juga dia sok manis kemarin dan pagi tadi? ternyata emang bener ya, cowok itu semuanya sama. Manis di awal, pait di akhir' batin Velyn kesal sembari menarik nafasnya dalam-dalam.
Gadis itu hanya terdiam sembari bangkit dan meninggalkan Andra disana. Ia menggerutu dalam hatinya sendiri.
"Lo mau kemana Lyn? kan belum selesai."
Velyn memutar bola matanya, ia kembali duduk di bangku semula dan kembali berkutat pada buku yang sebelumnya ia ambil.
"Lo udah liat kan Ca? lo mau bukti apalagi kalo si Andra emang gak suka sama gue? lo mau gue dianggap ngejar-ngejar dia. Mending lo biarin gue keluar dari ruangan ini daripada gue teriak-teriak manggil nama lo sekarang."
"Iya gue percaya deh, gue tutup deh telfonnya. Gue cabut dulu, lo cepetan nyusul oke" kata Oca sembari terkekeh geli dengan amarah Velyn yang semakin memuncak.
Tak lama kemudian Velyn melihat sepatu yang dikenakan Oca dibalik rak buku disampingnya. Ia melirik gadis itu yang mengintip kearahnya dengan tersenyum jahil sembari melangkah maju untuk kembali kabur dari perpustakaan ini.
Velyn memijit pelipisnya, ia tak tau lagi harus ditaruh mana mukanya saat nanti berhadapan dengan Andra.
Ternyata selama ini, dia yang baper.
__ADS_1
Siapa sih cewek yang nggak baper kalo diajak jalan, terus dijemput dari rumah pagi-pagi. Sampe si cowok bela-belain buat nemenin dia sarapan. Velyn masih tak habis fikir. Ia masih setia memandangi punggung Andra yang kini membelakanginya.
Gadis itu menghela nafasnya. Bersiap untuk bangkit dan menerobos keberadaan Andra yang duduk di bangkunya.
Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti, kala seseorang menarik lengannya. Velyn membulatkan matanya dengan sempurna, mana mungkin itu Andra, bukannya tadi ia sangat cuek ketika Velyn hendak bertanya.
'Perasaan ku aja mungkin' batinnya sembari melangkah kembali. Namun belum satu langkah ia merasakan tangannya digenggam dengan erat.
"Velyn" ujar pria itu. Suara familiar yang membuat tengkuk Velyn meremang.
Gadis itu memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya. Menangkap sosok Andra yang kini tersenyum kearahnya.
"Kamu mau kemana? kesal ya sama saya karena dari tadi saya cuekin mulu" tanya Andra yang kini mulai mengerti situasi hati gadis itu yang nampak wajahnya ditekuk.
"Enggak, ngapain juga kesel" ujar Velyn sembari masih memperlihatkan wajahnya yang begitu murung. Andra hanya terkekeh mendengarnya, ia menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Velyn untuk duduk disampingnya.
"Sini duduk sama saya, saya jelaskan" kata Andra membuat Velyn menaikkan sebelah alisnya.
"Saya nggak butuh..." belum sempat gadis itu menyelesaikan kata-katanya. Andra langsung bangkit dan menangkup tubuh Velyn dari belakang untuk memaksanya duduk.
"Saya nggak kesel kok" kata Velyn yang kini menatap Andra yang tengah tersenyum padanya.
"Kamu ada acara nggak malam ini? kalau nggak ada, mau nggak makan malam bareng saya."
Entah mengapa pandangan Andra yang teduh seperti memberikan kenyamanan bagi gadis itu. Memang tidak salah banyak yang mengidolakan Andra karena memang laki-laki ini mempunyai alis yang tebal dan tegas, kulitnya putih dan tatapannya yang membuat siapa saja akan nyaman. Bahkan bagi Velyn tatapan ini adalah tatapan yang begitu ia rindukan.
"Lyn" ujarnya lagi membuat Velyn tersentak. Lamunannya pun buyar seketika kala Andra memanggilnya lagi.
"Kenapa?" tanya Velyn yang kini mulai menunduk menahan malu serta menyembunyikan wajahnya yang merah merona.
Andra dengan lembut meraih jemari Velyn, ia menggenggamnya erat membuat pipi gadis itu kian menghangat. Andra mengulangi perkataannya lagi membuat Velyn mengangkat pandangannya.
Gadis itu masih bingung, ia bangkit dan otomatis melepaskan genggaman tangan dari pria itu.
"Saya pikir-pikir dulu ya pak" ujarnya sembari menghindar. Gadis itu berlari keluar dari perpustakaan, meninggalkan Andra yang kini menahan dagunya dimeja dan memperhatikan langkah gadis itu dengan senyuman.
__ADS_1
"Velyn, sudah lama saya memperhatikan kamu. Tapi apa kamu lupa dengan saya?" gumamnya sembari tersenyum mengingat betapa cantik gadis itu.
***
Velyn berhenti sejenak, ia duduk dibangku taman kampus. Nafasnya tersengal dengan buliran keringat didahinya.
Ia merasakan sisa-sisa getaran yang masih terasa saat berhadapan dengan Andra. Bahkan rasanya dia adalah laki-laki kedua yang mampu membuatnya nyaman setelah sekian lama ia tak merasakannya.
"Kenapa sih dia bikin aku baper mulu! untuk tadi nggak ada.." belum sempat gadis itu melanjutkan perkataannya namun seseorang menepuk pundaknya dan beralih duduk disampingnya.
"Oca!" kata Velyn dengan mulutnya yang masih terbuka. Wajah gadis itu mendadak pucat pasi dengan keberadaan Oca yang baru saja datang dan tak diundang.
"Lo kenapa sih sukanya ngagetin gue mulu" ujar Velyn dengan kesal sembari menyembunyikan kegugupannya.
"Maafin gue ya Lyn, gue kira pak Andra emang beneran suka sama elo hehehe" kata Oca membuat Velyn hanya terdiam. Ia bahkan tak bisa membayangkan jika tadi sahabatnya itu tak segera keluar dari perpustakaan. Bisa jadi dia bersama teman-teman grup fansnya akan menerornya habis-habisan.
"Kan gue bilang apa, lo aja yang baper. Gue kemarin kan emang dianterin pak Andra pulang. Jadi dia belum makan dan mampir deh ke resto" ujar Velyn seadanya untuk meyakinkan Oca yang memang keras kepala.
"Iya iya maaf, kalo toh pak Andra suka sama lo. Gue pasti patah hati banget Lyn."
"Lebay banget sih ah, kalo lo suka. Kenapa nggak ungkapin" ujar Velyn sembari mengalihkan pandangannya.
"Mana mungkin pak Andra suka sama gue yang kaya preman gini. Pak Andra itu pasti sukanya sama yang mateng-mateng nggak mungkin kaya kita-kita."
"Tuh, lo sadar diri juga kan" ujar Velyn sembari memutar bola matanya.
"Lo jahat banget sih Lyn, gue kira lo bakal nyemangatin gue kek. Eh malah omongan lo kaya gitu. Hati gue yang awalnya udah sakit sekarang jadi hancur kan gara-gara lo."
Velyn memutar bola matanya. Kalau difikir-fikir lagi memang Andra tidak mungkin menyukai mahasiswanya sendiri. Jangankan yang paling cantik seperti Angelita kakak seniornya yang bohai itu, dibandingkan dengannya Velyn lebih mirip ikan asin. Kurus kering tanpa body. Mana mungkin Andra menyukainya, hanya lewat perhatian saja tidak mungkin jika itu menunjukkan suka.
Velyn menghela nafasnya. Ia tengah bergulat dengan fikirannya sendiri tentang Andra.
"Lyn, lo kok malah ngelamun sih" kata Oca dengan kesal membuat Velyn bangkit dari bangku panjang itu.
"Gue mau ke kelas Ca, lo mau ikut nggak?. Males gue ngobrolin cowok. Nggak ada faedahnya" ujar gadis itu sembari melirik sahabatnya kini yang tengah ikut bangkit bersamanya.
__ADS_1