
Velyn memejamkan matanya, ia kini tengah tiduran diatas mobil Andra yang tengah terparkir rapi ditepi bukit. Ia memang sengaja mengajak Andra untuk datang ketempat tersebut, pemandangan indah tengah kota dan tempat yang jarang diketahui oleh banyak orang. Serta jangan lupa bintang yang bertaburan diatas langit, Velyn masih enggan untuk berbicara, ia memilih untuk menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan dan menghirup udara malam.
Disisi lain kini Andra tengah menyandarkan pantatnya tepat di depan mobilnya bersebelahan dengan kaki panjang kekasihnya. Ia tak menyangka jika Velyn mengajaknya ketempat seindah ini, tempat cantik nan romantis yang sudah diketahuinya sejak lama.
"Lyn, kamu tau nggak mana yang lebih indah? pemandangan kota didepan kamu atau beribu bintang yang bertaburan dilangit sana?" pertanyaan itu membuat sebelah mata Velyn terbuka seraya melirik Andra yang kini langsung duduk bersila disampingnya membuat gadis itu bangkit dan memeluk lututnya. Untung saja tubuh Velyn begitu ramping, hingga mereka berdua bisa duduk bersama di sana.
"Em, indah langit berbintang, karena apa yang diciptakan manusia bisa aja rusak, tapi kalau Tuhan yang menciptakannya, dengan mudahnya hal itu akan rusak atau malah semakin indah nantinya" jawab gadis itu yang kini mulai mendongak untuk menatap indahnya bintang diatasnya.
Andra tersenyum senang, ia meraih jemari Velyn dan menatap lekat matanya.
"Termasuk kamu, kamu adalah keindahan Tuhan yang paling indah buat aku, bahkan kalah dengan pemandangan kota maupun bintang diatas sana" perkataan Andra begitu manis, seolah membuat hati Velyn terbang diatas awan. Ia tak menyangka jika seorang Andra yang serius sebagai dosen, ternyata dia juga bisa gombal padanya.
Velyn menahan tawanya, ia memukul pelan dada Andra dan langsung tertawa membuat pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Ndra, kamu ngomong apaan sih, gombal deh" ujar Velyn membuat Andra menarik kepala Velyn hingga dirinya kini menempel ditubuh Andra dengan dekapannya.
"Aku serius sayang, sekarang kamu ngerasa nggak, gimana jantung aku berdetak? cuma kamu yang bisa buat aku kaya gini" kata Andra membuat mata Velyn terbelalak. Tak disangkanya ternyata Andra memiliki perasaan yang sama terhadapnya, Velyn kini mendongak tatapannya beralih pada Andra yang tengah tersenyum padanya. Posisinya kini masih dalam dekapan pria itu, begitu hangat dan nyaman ditambah tempat romantis membuat keduanya merasakan kebahagiaan ditengah-tengah hubungan mereka yang semakin dekat saja.
Velyn menyentuh wajah pria dihadapannya, mata mereka saling bertemu, kini dirinya memberanikan diri untuk memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya kearah Andra yang kini mulai mengerti dengan apa yang hendak dilakukan Velyn.
__ADS_1
Hati Andra bergejolak, rasa bahagia menjalar di seluruh tubuhnya tatkala kini Velyn dengan berani mencium bibirnya. Namun berbeda dengan gadis itu, rasanya dadanya begitu sakit, ia tak ingin meninggalkan Andra secepat ini, lelaki yang begitu mencintainya, ia juga ingin berjuang bersama dengan pria itu namun apalah daya, nasib percintaannya yang manis hanya bisa sampai disini saja. Velyn semakin memperdalam ciumannya, tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi pipinya juga hidung Andra hingga membuat pria itu tersadar dan membuka matanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya pria itu yang dengan cepat melepaskan ciumannya dari Velyn yang kini menunduk seraya mengusap kasar air matanya.
"Aku, aku sayang sama kamu Ndra, aku cuma nggak pernah sebahagia ini, maafin aku, aku" kata Velyn terputus, namun seketika ia terdiam oleh pelukan Andra yang membuatnya begitu nyaman kali ini.
"Aku tau, aku juga bahagia kok sayang, aku juga sayang banget sama kamu. Kalo gitu janji ya sama aku, kita harus sama-sama selamanya?" perkataan Andra membuat Velyn menghentikan tangisannya. Ia tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Andra terlalu sempurna untukku, ia terlalu baik sampai Velyn tak kuasa untuk menyakitinya.
Andra melepaskan pelukannya dari Velyn, ia menaikkan jeri kelingkingnya dan membuat tanda janji pada kekasihnya. Velyn menatapnya dengan ragu, ia enggan, namun dengan tulus Andra mengusap air mata Velyn dan meraih jemari gadis itu untuk meyakinkan hatinya.
"Janji ya?" ulang Andra membuat Velyn terpaksa tersenyum dan mengangguk untuk menyenangkan hati pria dihadapannya.
***
Tepat jam sembilan malam, Velyn telah sampai dirumahnya. la masuk kedalam kamarnya seraya tak mengindahkan tatapan kedua orangtuanya yang tengah bersantai diruang keluarga. Kali ini dirinya tak ingin berkomunikasi terlebih dahulu terhadap mereka. Ia membuka kotak yang diberikan oleh Andra padanya tadi, sebuah hadiah kecil kotak musik berwarna pink dan terdapat lampu ditengahnya. Dua boneka beruang berwarna coklat sebagai patung dan musik yang begitu tenang. Ketika di mainkan kedua boneka itu berputar seolah menari, sedangkan lampu yang berwarna biru dan pink itu menyala menjadi satu membuat hati gadis itu terasa lebih tenang.
Namun fikirannya kembali melayang tatkala musik tersebut berhenti.
Flashback on.
__ADS_1
"Nak, kami tau kamu pasti terluka oleh sikap Valdo beberapa tahun yang lalu, tapi sekarang dia sudah berubah sayang. Beberapa hari ini bunda dan ayah juga bertemu dengan dia, Valdo adalah ayah yang baik, dia sangat melindungi Nino. Dia juga tidak seperti dulu Lyn, dia sekarang sopan, bijaksana dan baik."
Perkataan Malia membuat Velyn masih enggan berkomentar, ia masih berkutat tentang Andra yang tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya.
"Lyn, kamu fikirin baik-baik, kami jodohin kamu itu bukan hanya sekedar mengucapkan terima kasih pada dia, tapi sekarang ini yang dia butuhkan adalah seorang istri. Jadi kami pikir" suara Malia terhenti sejenak kala Velyn menatap dalam matanya.
"Bunda nggak berfikir bahwa itu juga sama aja ngejual harga diri aku kan?" pertanyaan Velyn membuat Malia menghela nafas beratnya.
"Karena bunda tau, Valdo bukan orang yang seperti dulu lagi. Kalian sudah lama saling mengenal, dan bunda yakin kalian bisa bersama lagi. Tapi kalau kamu nggak mau, bunda nggak akan maksa, tapi yang jelas bunda cuma kasian sama Nino, dia butuh seorang ibu, bunda harap kamu fikirkan ini baik-baik, terlepas dari rasa terimakasih yang bunda katakan tadi."
Flashback off.
"Nino, anak itu tidak bersalah tapi kenapa dia harus jadi korban. Bahkan semenjak ia lahir dia bahkan nyaris tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu" fikiran gadis itu kacau. Seharusnya ia tak perduli, namun mengapa hatinya begitu lemah ketika mengingat Nino dengan wajah girangnya memanggilnya dengan sebutan 'mama'.
Apalagi ini soal Valdo yang telah membantu keluarganya keluar dari masalah. Mungkin saja waktu itu Valdo tengah dilanda mood yang kurang baik, hingga dirinya bersikap kasar saat Velyn mengajak Nino untuk membeli susu.
Tapi tetap saja, hatinya masih merasa tidak terima dengan apa yang telah kedua orang tuanya putuskan tanpa bertanya kepadanya. Mau ditaruh mana muka orangtuanya ketika tiba-tiba saja Rahardian meminta pada Isan untuk membatalkan perjodohan itu, sedangkan perjodohan itu sudah ditetapkan dan disetujui kedua pihak sehari yang lalu, tepat dimana dirinya dan Andra berpacaran.
Tapi ini juga untuk kehidupan yang panjang, awal dari lembaran yang harus ia jalani. Bagaimana jika Valdo sebenarnya tidak menginginkan perjodohan ini? bagaimana jika sebenarnya Valdo masih membencinya?.
__ADS_1
Tapi dilihat dari keyakinan bundanya sepertinya pria itu setuju. Velyn semakin bingung, walau bagaimanapun ia harus menjalani ini nantinya. Apalagi bundanya pernah berkata bahwa Andra tidak baik untuknya.