Velyn Love

Velyn Love
Yang terbaik


__ADS_3

Sebuah jemari dengan lembut membelai rambut Velyn. Gadis yang kini masih bertahan memeluk lututnya kini menghentikan isakannya sesaat dan menatap seseorang yang kini tengah menatapnya dengan iba. Pria yang kini berlutut mensejajarkan tubuhnya pada Velyn itu terlihat hendak mengatakan sesuatu, namun sedetik kemudian Velyn tanpa sadar memeluk erat tubuhnya seraya menangis sejadi-jadinya.


"Boleh aja kalo mau nangis, tapi jangan lama-lama ya. Entar tante Lia ngira gue


ngapa-ngapain lo lagi" kata Valdo yang kini terkekeh melihat Velyn yang begitu manja mempererat pelukannya. Memang ia tak tau apa yang dirasakan gadis itu, entah mengapa melihat Velyn menangis seperti ini membuatnya tak tega.


Velyn tak perduli dengan perkataan Valdo, ia meremas baju Valdo dengan erat. Ia menangis sesenggukan didalam pelukan pria yang begitu menyebalkan untuknya. Tapi setidaknya perasaannya lebih tenang saat ini. Ada rasa lega dan nyaman saat Valdo mulai membalas pelukannya dan menyentuh lembut punggungnya.


Setelah Velyn menghentikan isakannya, kini pelukannya berubah melemah. Ia menyembunyikan wajahnya yang begitu lesu akan air mata yang baru saja ia keluarkan.


"Udah, jangan nangis lagi" kata Valdo seraya menghapus air mata Velyn. Meskipun sedikit kasar, namun usapan jemari Valdo begitu hangat untuk gadis yang kini mengangkat pandangannya itu.


Bahkan Valdo masih tidak sadar jika tangannya masih menyentuh pipi mulus milik Velyn yang begitu halus. Kenapa perasaannya jadi sakit? kenapa ketika melihat kesedihan di mata Velyn rasanya hatinya juga ikut teriris? ingin sekali ia mengetahui apa yang dialami gadis yang hampir menikah dengannya itu. Tapi mengapa ia harus perduli? Valdo benar-benar tak mengerti, ia menatap intens Velyn yang kini masih terpaku melihat mata Valdo yang masih begitu perduli padanya.


Sedari tadi Valdo memang sengaja mencari Velyn. Karena melihat Rahardian sudah siuman pastinya Velyn segera datang keruangan itu. Tapi berbeda, Velyn malah menghilang dari arah lobi. Hal itu yang membuat Valdo merasa khawatir dan berinisiatif mencari keberadaannya. Namun entah mengapa, setelah menemukan Velyn rasanya ia baru sadar jika dirinya mulai perduli. Atau ini hanyalah sebuah simpati? Valdo melepaskan jemarinya, ia buru-buru bangkit dan menyentuh pundak Velyn untuk memberikan kekuatan baginya untuk bangkit.


Valdo menuntut tangan Velyn menuju ruangan Rahardian, namun begitu Velyn menyadari langkah mereka yang hendak pergi keruangan Rahardian, Velyn menghentikan langkahnya. Ia menatap Valdo yang kini mengernyit seraya melepaskan jemarinya dari lengan Velyn.

__ADS_1


"Aku nggak mau mereka tau kalau aku lagi sedih. Aku mau pulang aja" ujar Velyn membuat Valdo mendekatkan tubuhnya mencoba untuk menenangkan Velyn yang kini mulai menunduk.


"Gue anterin" ujar pria itu membuat Velyn mengangguk seraya mensejajarkan langkahnya dengan Valdo yang kini menggenggam jemarinya. Memang agak canggung bagi Velyn, tapi entah mengapa ia tidak bisa menolak.


Velyn hanya butuh orang yang mau menemaninya kali ini. Meskipun Valdo berniat untuk hanya sekedar mengantarnya pulang, tapi itu lebih dari cukup untuk menghilangkan fikirannya yang buntu. Velyn membenarkan tali tasnya yang kini ia bawa, nanti ia akan meminta suster membawakan makanan ini pada bundanya.


***


Keheningan kembali Valdo rasakan di dalam mobilnya. Namun kali ini berbeda, ia tak merasa canggung, malah merasa iba dengan Velyn yang kini masih terdiam membisu dengan tatapannya yang penuh dengan kesedihan. Seharusnya hari ini Valdo bisa melihat senyum Velyn yang indah itu, karena ayahnya sudah siuman.


Namun mungkin ada hal berat yang mengguncangnya hingga Velyn sampai menangis seperti itu.


Namun apa mau dikata, punggung Velyn kini mulai menghilang dari pandangannya. Masuk kedalam rumah besar itu. Meninggalkan pertanyaan besar dibenak Valdo.


Valdo menggeleng kasar, ia buru-buru memasukkan perseneling nya. Seketika gerakannya terhenti, tatakala ponselnya berdering. Ia buru-buru mengangkat panggilan setelah mengetahui siapa yang menelfonnya kali ini.


"Lo yakin itu Lisa?" wajahnya tampak mengulas senyum. Valdo begitu senang mendengar kabar dari orang suruhannya yang sengaja ia bayar demi menemukan sang istri. Mengingat Valdo sebenarnya belum menandatangani surat cerai.

__ADS_1


"Oke-oke, gue kesana sekarang" Valdo terlihat antusias. Akhirnya, setelah bertahun-tahun ia mencari keberadaan ibu kandung Nino, setidaknya kini telah ada titik terang. Rasanya semua beban Valdo berkurang hanya mengingat wajah cantik istrinya.


Sebelum pria itu menancap gas mobilnya, Valdo mengambil sebuah foto di dasbor mobilnya. Foto yang menampakkan dirinya dan Lisa yang baru saja melangsungkan pernikahan. Senyumnya mengembang, mengingat pernikahan mereka yang begitu sederhana tanpa dihadiri keluarga. Hanya dirinya dan Lisa, meskipun ada rasa kurang, namun itu sudah cukup membuat Valdo begitu bahagia saat itu. Dunia seperti milik mereka berdua.


"Sayang, aku mohon kamu jangan lari lagi. Setelah aku nemuin kamu, kita akan sama-sama lagi, aku nggak akan nikah sama orang lain" entah mengapa mengatakan hal demikian membuat hati Valdo sedikit sesak. Tiba-tiba saja ingatannya kembali pada Velyn yang kini sudah tidak berada disana.


Valdo menggeleng, ia buru-buru menghilangkan pikirannya yang tidak-tidak. Selamanya ia akan setia bersama Lisa, bukan Velyn ataupun yang lainnya. Inilah yang mendasari Valdo untuk segera menemukan keberadaan Lisa sebelum pernikahan ini dilangsungkan.


Karena Gaisan juga sudah berjanji pada Valdo, jika dirinya menemukan Lisa sebelum pernikahan itu dilangsungkan, maka Valdo boleh kembali dan Isan juga akan menyetujui hubungan mereka.


Kini usaha Valdo hampir semua


membuahkan hasil, ia tak mau usahanya sia-sia. Yang ia pikirkan bukan hanya nasib keluarga kecilnya, tapi perasaan Velyn yang memang sudah menemukan cintanya.


Entah mengapa, mengatakan itu dalam hati ada sedikit penolakan dalam benak Valdo. Valdo menatap rumah besar itu, menatap bayangan Velyn yang keluar masuk dari pagar rumahnya. Melihat Velyn bahagia, mungkin itu cukup untuk membuat Valdo lega.


"Gue bakal usaha Lyn, biar lo cepet lepas dari perjodohan ini. Lo harus bahagia sama pilihan lo sendiri, lo udah berkorban begitu banyak, dan gue nggak mau sia-siain pengorbanan lo" gumam Valdo seraya menancap gasnya.

__ADS_1


Ada sedikit rasa mengganjal dihati Valdo ketika ia baru saja mengatakan hal demikian. Tapi ia buru-buru menghapus pikiran itu dan kini fokus kembali memikirkan keluarga kecilnya.


__ADS_2