
Valdo terlihat merapihkan rambutnya saat ia selesai memakai kemeja dan blazer berwarna biru senada. Langkah Velyn dari ambang pintu membuat pria itu sedikit tersentak dan menoleh, tersenyum pada istrinya yang kini membawakan dirinya secangkir teh.
Setelah meletakkan teh di atas nakas, Velyn bangkit kembali dan meraih dasi lalu memakaikannya pada Valdo, setidaknya ini yang Velyn lakukan setiap hari sebagai seorang istri. Velyn membalas senyuman lembut Valdo itu. Rasanya harinya kian sempurna mengingat ada Valdo yang selalu menemaninya. Meskipun terkadang hatinya selalu bentrok dengan pikirannya yang melambung jauh seraya berangan-angan.
"Kamu yakin mau masuk kuliah hari ini?" Velyn mengangguk sambil masih fokus memakaikan simpul pada dasi Valdo tanpa memperhatikan mata Valdo yang sudah menatapnya dengan pandangan cemberutnya.
"Sayang, kalo aku ngomong didengerin dong!" kesal Valdo seraya meraih lengan Velyn, membuat pergerakan gadis itu terhenti dan menatap manik mata coklat Valdo yang begitu teduh seperti biasanya itu.
"Aku denger kok, kalo aku ngurung diri dirumah itu tandanya aku nyerah dong" ujar Velyn seraya melepaskan lengannya dari cengkraman Valdo dan melanjutkan memakaikan dasi di leher Valdo.
"Sebenarnya ada masalah apa sih sampai kamu di bully kayak gitu? aku bisa selesaiin, biar kamu tenang nantinya" Velyn hanya menggeleng. Sudah cukup Valdo membuat teman-temannya yang terlibat bullying itu di DO. Velyn tidak ingin masalah ini berlanjut dan merembet pada Andra.
Disini yang salah bukanlah Andra, tapi jika sekali nama itu disebutkan pasti tidak akan lolos dari perhitungan suaminya satu ini.
"Atau kamu pindah universitas aja, aku bisa cariin kamu universitas yang lebih bagus lagi" Velyn mengerutkan keningnya seraya menarik kencang dasi Valdo membuat pria itu sedikit tercekik dan mengaduh kesakitan.
"Aduh, sayang. Nariknya jangan kencang-kencang!"
__ADS_1
Bagaimana tidak terkejut jika masalah sepele seperti ini saja Valdo sampai berlebihan seperti itu. Velyn menggeleng seraya menampilkan ekspresi malasnya. Benar-benar protektif sekali suaminya ini.
"Nggak, udah biasa bagi aku nerima kaya gitu. Kakak nggak perlu berlebihan deh" Valdo menatap Velyn yang kali ini menatapnya dengan serius. Valdo mengalihkan pandangannya, ia ingat dulu Velyn pernah mengalami body shaming. Pengalaman pahit itu ia alami saat Velyn masih belum sesempurna seperti sekarang. Saat itu Velyn juga dibully habis-habisan disekolahnya.
Velyn yang gendut dan berkacamata bulat itu, tiap kali Valdo bertemu dengannya, hanya ada tatapan dingin yang ia berikan. Hati Valdo terganggu mengingat hal itu, sekarang dirinya malah mencintai gadis gendut itu. Valdo menyesalinya, andai waktu bisa diulang kembali. Ia takkan pernah melakukan hal hina itu. Hal yang membuat dirinya sendiri membenci masa lalunya tiap kali melihat gadis dihadapannya.
"Kak-" belum sempat Velyn menyelesaikan kata-katanya Valdo tiba-tiba saja memeluk erat tubuh Velyn membuatnya menaikkan sebelah alisnya.
"Velyn, maafin aku ya, maafin masa lalu kita yang udah aku rusak. Maafin aku, aku bakal memperbaiki semuanya dan menggantinya di masa ini" Velyn hanya terdiam, jadi? dari tadi pikiran Valdo terganggu karena masa lalu mereka. Masa lalu yang pahit dan tidak menyenangkan itu?.
Sejujurnya Velyn sudah melupakannya, ia juga sudah memaafkan pria ini. Lagipula dulu Velyn juga masih belum dewasa. Velyn tidak mengerti artinya cinta, dan Valdo juga bebas mencintai gadis lain. Velyn juga bersyukur ini semua terjadi, kepahitan yang ia alami setidaknya tidak berdampak bagi orang lain. Perlahan semuanya akan kembali, seperti Valdo yang akan kembali dengan Lisa.
Semakin Velyn bersikap baik padanya, semakin Valdo membenci dirinya. Mengingat apa yang ia lakukan di masa lalu, sebelum ia benar-benar menyadari cintanya.
***
"Kak, aku berangkat dulu ya" ujar Velyn seraya meraih tangan Valdo dan mengecup punggung tangannya. Velyn terlihat bersemangat sekali ketika masuk kuliah, seolah ia lupa akan kejadian pahit yang ia alami sebelumnya.
Namun sebelum gadis itu berhasil meraih pintu mobil Valdo tiba-tiba saja menarik lengannya dan membuat Velyn menghadap pada suaminya itu. Kesempatan itu takkan disia-siakan oleh Valdo, pria itu segera mengecup kening Velyn membuat gadis itu membulatkan matanya serta menampilkan ekspresi tidak percaya.
__ADS_1
"Kamu juga belum cium aku" Velyn menunduk, menahan rona diwajahnya yang semakin terlihat jelas oleh Valdo yang kini masih mempertahankan senyumannya.
Buru-buru Velyn mencium pipi Valdo dan segera keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun. Jantung Velyn rasanya seperti mau copot saja. Detaknya masih terasa saat Velyn perlahan menaiki tangga dan hendak menuju kelasnya.
Hari ini hari pertama Velyn masuk kuliah setelah kejadian nahas yang ia alami itu terjadi. Kesalahpahaman yang masih tercipta hingga saat ini, meskipun anak-anak yang lain terlihat lupa akan kejadian itu karena baru mengetahui posisi Velyn yang mengancam mereka. Meskipun begitu beberapa anak tampak berbisik dibelakang Velyn, mengundang aura tidak menyenangkan saat Velyn berjalan perlahan.
Setidaknya ia sudah terbiasa dengan gunjingan orang, ia tak asing dengan kata-kata hina yang terlontar padanya. Tapi satu prinsip Velyn yang tidak dapat digulingkan dari dirinya. Ia hanya ingin menempuh pendidikan tanpa terganggu, selama ia tidak dilukai seperti kemarin ia akan diam dan bungkam.
Setelah berjam-jam menerima godokan materi di kelasnya, Velyn kini merapihkan bukunya untuk makan siang. Tak sengaja mata Velyn menatap Oca yang kini buru-buru keluar dari kelasnya tanpa memperdulikan keberadaan Velyn disana.
Velyn hanya bisa menyemangati diri saat ini, ia pertama kali punya sahabat dan itu Oca. Meskipun berat, tapi Velyn tidak ingin memikirkan hal itu saat ini. Velyn bukannya tidak ingin berteman dengan siapapun, tapi ia tak mau mencari teman yang hanya numpang tenar saja maupun berteman dengan Velyn karena maksud lain. Velyn lebih nyaman menyendiri, seperti saat ini. Ia melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, tak lupa ia tadi membawa bekal dari rumah berupa kimbab.
Saat ini Velyn ingin menjauhi keramaian terlebih dahulu. Apalagi jika gunjingan terhadap dirinya masih hangat-hangatnya diperbincangkan. Tempat yang sepi dan tenang adalah pilihan terbaik saat ia tak ingin mendengar sumbanganya suara dunia yang memekakkan telinga.
Velyn meraih buku yang hendak ia baca, ia mengambil alih untuk duduk. Namun siapa sangka matanya tak sengaja menatap sosok Andra yang kini diam-diam memperhatikannya. Velyn memilih untuk keluar saja dari ruangan ini, tak lupa ia juga memakai earphone dan berjalan menuju taman kampus.
Tempatnya memang sedikit ramai, tapi setidaknya Velyn bisa membaca buku seraya memakan makan siangnya, daripada harus duduk di perpustakaan yang satu ruangan dengan Andra.
Velyn hanya tak mau saja kesalahpahaman terjadi. Ia lelah untuk membuat masalah, meskipun sebenernya ia hanya diam ditempat dan orang lain yang entah siapa yang melakukannya.
__ADS_1