Velyn Love

Velyn Love
Menghindar


__ADS_3

Hari demi hari Velyn lalui dengan senyuman, ia ingin melupakan semuanya tentang Andra meskipun itu sulit. Bahkan saat Andra memberikan materi dikelasnya, ia hanya sesekali menatap punggung Andra. Saat tatapan mereka bertemu Velyn membuang muka untuk menghindari perasaan bersalah dalam lubuk hatinya.


Velyn melangkahkan kakinya bersama Oca untuk makan di kantin. Ketika mereka berjalan, mereka tak sengaja bertemu dengan Andra yang nampak menatap Velyn dingin.


"Lyn, kenapa pak Andra liatin lo kaya gitu?" Velyn hanya menggeleng, meskipun diceritakan pun pasti cukup rumit. Lagipula pasti Oca tak akan menyangka jika dirinya pacaran dan putus begitu saja dengan idolanya satu itu.


Mood gadis itu semakin berantakan saja, Velyn bahkan tak mau makan apapun, ia hanya membeli es teh dan camilan. Kini dirinya duduk disebuah kursi panjang taman kampus seraya membaca buku novel yang berada ditangannya.


"Lo kenapa sih? lagi galau ya" tanya Oca yang datang tiba-tiba seraya memakan kripik singkong ditangannya. Velyn menghela nafasnya, mungkin cerita dirinya dan Andra harus ditutupi. Tapi tentang pernikahannya, tidak etis rasanya menyembunyikan hal sebesar ini pada sahabatnya.


"Gue mau nikah Ca" sontak saja mata Oca membulat dan tersedak kripik yang masih ia kunyah. Gadis itu buru-buru mengambil air putih disampingnya dan meneguknya dengan sekali teguk.


"Kalo makan pelan-pelan" kata Velyn polos seraya terkekeh tatakala mata Oca menatapnya dengan pandangan menyelidik itu.


"Lo gila ya?! mau nikah? sama siapa?! nggak-nggak lo pasti bohong sama gue kan" Velyn menggeleng dengan senyuman tipisnya yang tersungging seraya masih membaca buku novel ditangannya. Ia sudah menduga, Oca pasti akan kaget bukan kepalang.


Apalagi tiada kabar bahwa Velyn akan di jodohkan atau punya pacar dan lain sebagainya. Sangat sulit untuk mempercayai bahwa temannya itu akan segera menikah.


"Lyn?!" panggil Oca dengan nada tinggi membuat gadis itu menurunkan bukunya dan menatap Oca sedikit emosi. Berisik sekali temannya ini, mengganggu Velyn saja.


"Apa sih ca?!" Oca menajamkan pandangannya membuat Velyn menghela nafas dan menyerah untuk bercerita.

__ADS_1


"Gue dijodohin, puas?"


"Hey! lo kok gitu sih! cerita kek gimana kronologisnya, cerita gimana perasaan lo, emang lo kira gue jadi temen lo cuma buat temen makan doang" Velyn menggeleng dibuatnya. Bukannya ia tak ingin bercerita, tapi ia hanya malas membahasnya. Apalagi calon suaminya itu sepertinya sangat membenci Velyn. Apakah ia harus bercerita tentang nasib remajanya yang akan direnggut karena keadaan ayahnya.


Velyn tak ingin ada yang prihatin padanya, ini semua ia lakukan karena murni ingin memenuhi permintaan ayahnya yang menaruh keinginan besar pada Velyn.


"Calon suami gue itu duda, anaknya temen ayah, punya anak cowok. Perasaan gue biasa-biasa aja" jelas Velyn membuat mata Oca membulat. Ini Velyn benar-benar membuat Oca semakin kehabisan sabar.


"What! duda?! lo kok mau-mau aja sih Lyn? masa depan lo kan masih panjang, masa iya lo mau aja sama duda. Udah punya anak lagi, lo waras nggak sih!" Velyn menutup telinganya mendengar suara cempreng dari sahabatnya. Apa yang dikatakan Oca memang benar, kenapa juga dia mau menikah dengan Valdo, cowok brengsek yang dulu meninggalkan dirinya.


Lagi pula Velyn juga pasrah, kalau bukan karena ayahnya dia juga tak mau menikah dengan Valdo yang notabenenya juga tidak menyukainya. Tapi dengan begitu sedikit ada rasa lega jika mereka tidak mencintai, itu berarti tidak ada tempat bagi Velyn dihati Valdo. Begini lebih baik daripada dirinya harus memaksakan diri bersama dengan Andra.


"Gue-" belum sempat gadis itu melanjutkan perkataannya yang menggantung tiba-tiba saja dering ponsel Velyn berbunyi membuatnya segera mengangkat panggilan itu.


"Iya, Velyn kesana sekarang" ujar gadis itu buru-buru seraya mengambil buku novel dan earphone yang berada di atas kursi panjang dibelakangnya dan tak lupa mematikan ponselnya sepihak.


"Lyn? lo mau kemana?" tanya Oca yang kini tampak khawatir dengan raut wajah Velyn yang pucat pasi serta ketakutan.


"Ayah masuk rumah sakit Ca, gue harus kesana, nyusulin bunda. Lo izinin gue ya" kata Velyn seraya berlari pergi membiarkan Oca yang hendak mengatakan sesuatu namun terhenti akibat khawatirnya gadis itu saat ini.


***

__ADS_1


Velyn berlari melewati lorong-lorong rumah sakit. Ia buru-buru melewati beberapa suster dan para pasien yang berlalu lalang. Hatinya begitu sakit mendengar akan keadaan ayahnya yang kini terbaring disana. Terlihat bunda Velyn kini duduk diruang tunggu seraya menangkup wajahnya yang memerah karena menangis.


"Bunda, bunda gimana keadaan ayah bun?" terlihat Velyn yang begitu khawatir akan keselamatan ayahnya didalam sana. Malia segera menyeka air matanya, untunglah masih ada putrinya yang selalu menemaninya. Ia memeluk Velyn dengan erat seolah tak ingin kehilangan gadis cantik yang menjelma sebagai putrinya itu.


"Bunda cuma butuh kamu sayang, ayah pasti baik-baik aja. Sementara ayah bakal opname dulu, jadi kamu bantuin bunda ya nak"


"Bunda, Velyn juga pengen tau keadaan ayah" rajuk Velyn seraya melepaskan pelukannya. Mendengar perkataan bundanya pasti ada sesuatu yang besar akan penyakit Rahardian.


"Kanker darah stadium empat" ujar bunda dengan tangisnya yang pecah, disusul Velyn yang kini menitikkan air matanya.


Hancur hati Velyn mendengarnya, ia tau jika ayahnya sakit kanker tapi bundanya tak pernah memberitahunya akan separah ini.


"Kenapa bunda nggak pernah bilang ke Velyn? Velyn juga berhak tau bunda" tangis Velyn pecah disusul pelukan dari sang bunda yang kini tak bisa menghentikan isakannya juga.


"Nggak apa-apa Lyn, ini udah takdir Tuhan. Yang penting masih ada kamu buat nemenin bunda" Velyn menutup matanya, ia tak sanggup lagi berkata. Mungkin memang sudah takdirnya seperti ini.


Velyn terbatuk tiba-tiba ditengah pelukan bundanya. Ia buru-buru melepaskan pelukannya dari bunda dan pamit untuk ke toilet sebentar.


"Bun-bunda, Velyn mau ke toilet sebentar" ujar gadis itu buru-buru seraya menyeka air matanya yang berlinang.


Gadis itu bangkit, ia hendak melangkah, namun langkahnya terhenti kala Valdo berpapasan dengannya dan berjalan cepat mengekor pada Gaisan. Bisa ia tebak jika mereka datang untuk menjenguk ayahnya.

__ADS_1


Senyum yang dilontarkan Velyn bahkan tak ada gunanya. Valdo masih sama, dingin dan menatapnya dengan pandangan datar. Velyn mencoba untuk menggetarkan hatinya. Ini juga pilihannya, langkahnya dengan cepat meninggalkan tempat itu, meninggalkan Valdo yang juga sangat membencinya.


__ADS_2