
"Pa, besok ada acara nggak?" tanya Andra yang kini tengah menyendok nasi dengan sayur di piringnya seraya menatap papanya yang kini tengah menelan sarapan pagi itu.
"Kalo nurutin jam kerja papa sih tiap hari sibuk dan pasti ada acara Ndra, tapi kalau kamu punya rencana dan butuhkan papa, ya papa bakal cancel. Kenapa?" setelah mengunyah makanan yang berada di mulutnya, kini Andra segera meneguk air minum dihadapannya dan menatap papanya dengan serius bersamaan dengan nafasnya yang berhembus.
"Aku mau ngelamar cewek aku pa" ucap spontan Andra membuat Antonio hampir menyemburkan makanannya keluar mulutnya. Tatapan mata membelalak dibalas satu alis yang terangkat dari putra satu-satunya itu membuat Antonio sendiri tak menyangka jika Andra akan mengatakan hal seserius itu tiba-tiba. Padahal selama ini Andra tidak pernah mengatakan apapun tentang wanita idaman maupun pernikahan, apalagi mereka baru seminggu tinggal bersama dan sekarang Andra akan meminang seorang wanita.
"Hah! serius kamu? kok nggak pernah cerita ke papa? kenalin dulu kek anaknya ke papa" omel Antonio membuat Andra memutar bola matanya seraya menghela nafas.
"Papa sih sibuk terus, lagian baru dua hari lalu kok kami jadian. Aku cuma nggak mau aja hubungan kita itu ngegantung. Aku mau cepet-cepet nikah pa, keburu diambil orang" Antonio segera menghentikan aktivitas sarapannya, ia lebih memilih untuk membicarakan hal serius itu dan menyusul putranya yang telah selesai makan untuk kemudian membahas hal tersebut. Memang sih, mau dilihat dari manapun baik karir, umur dan juga pengalaman Andra seharusnya sudah menginjak waktu yang matang untuk menikah sehingga Antonio pun juga antusias dengan hal itu.
"Kamu aja juga sibuk, nggak siang nggak malam ngampus terus. Papa kan cuma ada waktu malam. Anaknya yang mana Ndra? minimal kasih fotonya kek ke papa, atau kamu bawa tuh cewek kamu ke hadapan papa"
"Aku nggak perduli sih soal itu, mau papa kenal dia atau nggak, atau yang lebih parah papa nggak merestui hubungan aku sama dia pun, aku tetap bakalan maju kok" Antonio tertawa renyah mendengar ucapan Andra, putranya satu itu benar-benar mirip dengannya. Keras kepala dan juga ambisinya ketika ia yakin akan sesuatu adalah hal yang paling menonjol dari dalam diri mereka berdua sebagai seorang ayah dan anak. Mana mungkin juga Antonio tidak memberikan restu jika putranya sendiri sudah mantap dan yakin dengan niatnya. Antonio hanya penasaran dan ingin mengenal calon istri putranya, karena ia yakin putranya tidak mungkin akan salah pilih dan tergesa-gesa dalam memilih seseorang untuk dijadikan pasangan.
"Mana mungkin papa nggak merestui, kalau kamu udah yakin, ya papa bakal kasih lampu ijo dong nak. Papa kan cuma pengen kenal sama calon mu. Papa pengen tau, perempuan hebat mana yang sudah memenangkan hati putra papa ini"
"Jadi? papa mau ketemu dia dulu?"
"Heum, iya dong"
"Ya udah, tapi janji ya bakal ngerestuin?" Antonio mengangguk pasti, walau bagaimanapun apapun akan ia lakukan demi membalas kesalahannya yang menghilang dari hidup Andra di masa lalu. Baginya apa yang dilakukannya kini dan tujuannya untuk hidup tak lagi kosong tanpa arah, melainkan demi Andra putra yang paling ia sayangi.
Malam pun berganti, penantian yang Antonio tunggu kini akhirnya datang juga. Pria paruh baya itu tengah membaca dokumen ditangannya seraya memakai kacamata tepat diruang tamu untuk menunggu kedatangan putranya. Ya, putranya yang hendak membawa seorang wanita yang hendak ia nikahi sebentar lagi. Setelah setengah jam lamanya, mobil berwarna hitam itupun kembali, terdengar suara mobil teebuka bersamaan dengan Andra yang kemudian berlari menghampiri pintu di seberangnya untuk membukakan pintu sang kekasih.
"Makasih ya Ndra" ucap lembut Velyn saat ia keluar dari mobil itu. Bagi Velyn malam ini adalah malam yang sangat menegangkan baginya, untuk pertama kalinya ia akan bertemu calon mertua sebelum Andra datang kerumahnya untuk melamar. Tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas pikirannya sudah tegang tak karuan.
"Kamu gugup ya? tangan kamu keringetan gitu" tanya Andra saat ia menangkap jemari Velyn untuk keluar dari dalam mobilnya.
"Ya, wajar dong kan malam ini malam perdana aku ketemu papa kamu"
"Udah santai aja, papa aku baik kok. Lagian papa juga udah ngasih restu, papa cuma pengen ketemu sama kamu" Velyn mengangguk dan mengikuti langkah Andra. Angin yang berhembus kencang dengan daun yang berjatuhan membuat Velyn sedikit memeluk tubuhnya yang kedinginan. Meskipun malam ini ia mengenakan sweater dengan kerah seleher. Suara awan yang bergemuruh juga seolah menandakan akan datangnya hujan malam itu.
"Masuk yuk, kayanya bentar lagi hujan deh" entah mengapa, cuaca malam itu seolah tidak mendukung. Meski Velyn sudah berpikir positif, namun pikirannya tidak lagi berjalan demikian. Ia mengangguk, melangkah bersama pria yang dicintainya dengan perasaan sedikit takut. Rumah besar yang dimiliki papa Andra ternyata lebih dari yang ia bayangkan. Papa Andra memang sangat kaya raya, dilihat dari segi manapun rumah yang hanya di huni dua orang saja pastinya sangat amat besar untuk keduanya.
__ADS_1
"Pa, nih calon mantu papa udah aku bawa" ujar Andra yang kini membuat mata Antonio bergerak menatap Velyn yang perlahan bergerak dari belakang tubuh Andra. Mata Antonio membulat seketika, saat ia menatap kedua bola mata Velyn yang saat ini seolah semakin menegang dengan suasana yang Antonio ciptakan. Sontak pria itu bangkit dari duduknya, membuat Velyn hendak meraih jemari Antonio dan menyalaminya.
"Malam om, saya Velyn"
"Iya" ujar Antonio seolah mengalihkan pandangannya, dan menatap binar di mata putranya yang penuh harap.
"Ndra, bikin teh sana" perintah Antonio pada sang putra yang kini mendengus kesal pada ayahnya satu itu. Baru saja ia pulang dan sekarang harus membuatkan teh.
"Tapi kan pa, bukannya kita mau makan dulu ya"
"Bentar aja, papa pengen ngobrol sebentar"
"Kalo gitu Andra suruh bi Asih aja deh, masa aku yang bikin teh" protes Andra membuat Velyn hanya melirik papa Andra yang seolah memberikan hawa negatif sejak kedatangannya. Entah mengapa, meskipun Andra sudah mengatakan bahwa papanya akan merestui hubungan mereka, namun sepertinya respon papa Andra tidak seperti yang Velyn bayangkan sebelumnya atau malah lebih jauh dari ekspetasinya.
"Bi Asih udah tidur, papa suruh istirahat lebih awal" kata papa membuat Andra memutar bola matanya dan akhirnya terpaksa mengiyakan permintaan papanya. Meski Andra tidak menyadari keadaan itu, namun ia begitu peka dengan perasaan Velyn saat ini yang sedari tadi diam membisu serta mengalihkan pandangannya meski sesekali menatap Antonio.
"Lyn, aku tinggal dulu ya. Sebentar aja" Velyn hanya mampu tersenyum dan mengangguk terpaksa, meski hatinya ingin berteriak jangan pada kekasihnya tapi ia tidak mampu berbuat apa-apa selain melepaskan genggaman jemari mereka.
"Duduk" perintah Antonio membuat Velyn mengangguk dan duduk seketika dihadapan calon mertua.
"Velyn, saya sangat terkejut loh ternyata kamu yang mau dilamar Andra" begitu mendengar suara barito Antonio, sudah jelas ada rasa mengganjal di hati Velyn. Sesak dengan tubuhnya yang terasa dingin namun keringat seolah membanjiri keningnya.
"Maksud om?" tanya Velyn dengan satu alisnya yang terangkat membuat Antonio terkekeh dan berdehem beberapa kali, hingga membuat Velyn menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kamu janda kan Velyn?" tanya pria paruh baya itu bersamaan dengan suara petir yang tiba-tiba, hal itu sontak saja membuat dahi Velyn mengernyit. Padahal Andra juga pernah gagal sebelumnya, atau mungkin Andra tidak mengatakan masa lalunya kepadanya papanya? tapi darimana papa Andra mengetahui jika Velyn adalah seorang janda?. Padahal Velyn yakin, ia juga baru pertamakali bertemu dengan Antonio begitupun sebaliknya.
"Kamu nggak perlu kaget gitu, saya juga tau kalau kamu sedang terkena penyakit leukimia" mata Velyn semakin membulat dengan tubuhnya yang bergetar. Bagaimana mungkin papa Andra bisa mengetahui penyakitnya, padahal Andra sendiri mengatakan ia tidak akan pernah menyinggung masalah penyakitnya pada papanya.
"Om-"
"Kamu pasti bertanya-tanya kan? padahal Andra sendiri nggak pernah bilang ke saya. Tapi saya salut ke kamu, kamu bisa menarik Andra hingga dia cinta mati dan yakin sama kamu" Velyn tidak bisa berkata-kata lagi, tenggorokannya tercekat seolah ada sesuatu yang membuatnya bungkam meski ia ingin marah saat itu. Ia tidak bisa menyangkal, karena apa yang dikatakan Antonio benar adanya. Sayangnya, hati Velyn terlanjur sakit dengan pernyataan calon mertuanya satu itu, atau malah semuanya hanya akan menjadi angannya saja jika dilihat dari respon pria paruh baya itu.
"Kamu tahu sendiri kan, anak saya itu begitu sempurna. Ya, saya tahu kamu memang unggul dalam segi paras, kamu cantik. Tapi saya nggak bisa membiarkan anak saya nikah dengan wanita yang mau rujuk dengan mantan suaminya"
__ADS_1
"Maksud om apa sih? saya-"
"Kamu nggak perlu beralasan apapun. Percaya diri sekali ya kamu, mau nikah sama anak saya yang sempurna. Atau jangan-jangan kamu mau nipu dia ya? ya nggak salah juga sih, lagi pula orang yang udah kena kanker pasti bakal mati juga"
"Papa!" teriak Andra yang kini terdengar penuh amarah dari dalam rumah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh papanya sendiri. Sedangkan Velyn hanya mampu menitikkan air matanya dan kemudian bangkit.
"Sepertinya kita sudah cukup bertemu malam ini, saya berterimakasih untuk jamuan makan malamnya om. Selamat malam" ucap Velyn seraya pergi dari sana dan keluar dari rumah itu untuk menghindari Andra yang kini hendak berlari mengejarnya. Sedangkan Velyn menangis dalam isakannya dengan matanya tubuhnya yang bergetar.
"Velyn!"
"Andra! mau kemana kamu?! jangan dikejar atau-"
"Atau apa?! papa mau ngancam aku?! papa udah bilang kan kalau papa bakal restui hubungan kita? tapi kenapa papa kaya gini?. Asal papa tahu, aku juga duda pa! aku pernah gagal juga. Aku juga tahu kalau Velyn mengidap kanker darah, karena selama ini aku ada buat dia saat ia menjalani pengobatan. Aku tahu dia nggak sempurna pa! tapi aku juga nggak sempurna seperti apa yang papa katakan. Dan satu lagi, Velyn nggak akan pernah mau rujuk dengan mantan suaminya, dia nggak akan pernah mau apalagi sudi ketemu Valdo, pria yang udah menghancurkannya hidup Velyn sampai seperti ini" ucap Andra menggebu seraya berlari tanpa menghiraukan teriakan papanya yang seolah tidak dapat bersuara lagi.
Antonio hanya mampu menatap punggung Andra yang berlari menjauh dari rumah besar itu, menerjang derasnya hujan yang tiba-tiba turun setelah gemuruh dan petir menyambar secara bergantian seolah memberikan suasana mencekam malam ini. Malam yang harusnya menjadi kebahagiaan terbesar Andra tiba-tiba dirusaknya oleh ayahnya sendiri.
Antonio terduduk lemas, ia buru-buru meraih gagang telepon dan memencet beberapa tombol angka yang tertera disana.
"Halo, selidiki semua masa lalu Valdo. Saya nggak mau tau, saya nggak perduli. Satu jam, saya beri waktu satu jam dan kirimkan semua yang kamu tau"
***
Dering suara ponsel Andra berbunyi sejak tadi, tapi pria itu malah membanting ponselnya ke kursi mobil dibelakangnya. Andra yakin Velyn masih berada disekitar perumahannya, apalagi sebentar lagi hujan akan turun dilihat dari kondisi angin yang bertiup kencang dan kilat beserta suaranya yang menyambar.
Saat ini Andra sudah tidak lagi memperdulikan papanya yang sejak tadi bersikeras menelponnya tanpa henti. Bayangan tubuh Velyn terlihat dari kaca depan mobilnya, dan Andra langsung menghentikan mobilnya, bersamaan dengan itu, hujan tiba-tiba turun sangat amat deras, membuat pria itu segera turun dan merengkuh tubuh Velyn yang berdiri mematung dengan tatapan kosongnya.
"Velyn!" meski Velyn tidak berkata satu patah katapun, namun bisa terdengar dari isakan wanita itu, ia membalas pelukan kekasihnya meski diguyur hujan yang membuat tubuhnya basah dan dingin.
"Lyn, maafin aku, maaf Lyn. Aku nggak pernah tau, gimana papa bisa-"
"Nggak apa-apa Ndra, aku sayang sama kamu Ndra, aku cinta sama kamu. Aku nggak akan nyerah meskipun papa kamu nggak ngasih restu ke kita setelah apa yang kita lewati berdua" Andra merasa sangat lega, ia menghela nafasnya, melepas pelukannya dan menatap mata Velyn dalam-dalam. Andra menangkup wajah wanita itu ditengah derasnya hujan, ia hendak mencium bibir Velyn namun urung.
"Aku juga cinta kamu sayang" hanya itu yang terucap dari mulut pria satu itu.
__ADS_1