
"Velyn, penerbangan bunda bakal berangkat satu jam lagi, sekarang bunda harus pergi. Doain bunda selamat sampai tujuan ya nak, doain ayahmu juga semoga ayah lekas membaik" pesan bunda pada Velyn saat bunda hendak menaiki taksi dihadapannya. Velyn hanya bisa mengangguk pasrah, tatapannya begitu pedih saat mengingat dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
"Nak, hey? kamu dengerin apa kata bunda barusan kan?" Velyn mengangguk lemah seraya memeluk bundanya. Velyn begitu rindu akan ayah dan juga kakaknya, serta kebersamaan mereka yang dulunya selalu sempurna.
Jika saja bunda tau bagaimana keadaan Velyn saat ini, bunda pasti akan amat sedih dan putus asa juga. Velyn hanya bisa menghapus air matanya diam-diam dalam dekapan bundanya.
"Bunda tenang aja, Velyn bakal berdoa buat keselamatan ayah. Velyn udah kangen sama keluarga kita. Jangan lupa kalau udah nyampe, bunda kabarin Velyn ya?" kata Velyn seraya mengulas senyum terpaksa. Meskipun sejujurnya bunda sendiri juga tau bagaimana remuknya hati Velyn saat mengatakan hal demikian, tapi bunda yakin Velyn hanya ingin membuat dirinya tenang. Setidaknya hanya itu yang bisa Velyn lakukan saat ini.
***
Sudah sejam lamanya Velyn tidak kunjung pulang, telfonnya juga tidak diangkat saat Valdo mencoba untuk menghubunginya beberapa kali.
Valdo kini berada di luar rumah, ia menggenggam ponselnya erat-erat seraya melangkah bolak-balik. Kalau saja tubuhnya sudah kembali seperti sedia kala ia akan mencari Velyn saat mengetahui gadis itu keluar tanpa berpamitan.
Demam ditubuh Valdo memang sudah menurun, tapi pening dikepalanya serta tubuhnya yang lemah masih ia rasakan. Matahari yang semula terang benderang kini semakin lama semakin berubah petang.
__ADS_1
Jika lima menit lagi Velyn tidak kunjung pulang, Valdo akan segera mencarinya dengan usahanya sendiri. Namun belum sempat terhitung satu menit berlalu, Velyn kini tengah masuk dengan langkah gontai menuju gerbang dan membukanya perlahan. Menyisakan suara bahwa dirinya memang telah pulang disertai hembusan nafas lega dari Valdo.
"Sayang, kamu dari mana aja sih? aku khawatir sama kamu" kata Valdo seraya melangkah mendekat kearah gadisnya yang kini masih bertahan menunduk.
"Lyn? kamu kenapa?" wajah Velyn kini berubah menjadi merah, matanya berkaca seraya menatap Valdo yang kini hanya bisa mengernyit.
"Aku-aku" Velyn tak bisa menjelaskan apa-apa lagi, yang ada bibirnya kelu, tenggorokannya terasa tercekat, tubuhnya gemetar tak karuan. Kenapa? Kenapa rasanya Velyn begitu lemah saat berada dihadapan pria ini?. Velyn bahkan meneteskan air matanya tanpa ragu, disusul pelukan erat dari pria dihadapannya itu.
Melihat Velyn yang datang dan tiba-tiba menangis seperti ini membuat batin Valdo ikut tersiksa. Entah apa permasalahannya, bagaimana Velyn bisa tiba-tiba menangis sampai seperti ini. Yang Valdo pikirkan kali ini hanyalah agar Velyn bisa menghentikan kesedihannya. Valdo tidak tega, setiap bulir air mata Velyn seperti ujung belati yang menusuk hatinya.
"Sayang, jelasin ke aku? kamu sebenernya kenapa? kamu darimana? siapa yang nyakitin kamu? cerita ke aku Velyn, aku nggak bakalan marah ke kamu. Aku bakal lindungi kamu sayang. Tapi aku mohon kamu jangan nangis, aku nggak bisa lihat kamu sedih kaya gini" kata Valdo seraya mengeratkan jemarinya pada jemari Velyn. Valdo kemudian mengusap air mata Velyn dan mendekap wajahnya.
"Lebih baik kita masuk dulu, aku nggak mau demam kakak kambuh lagi" gumam Velyn membuat Valdo mengangguk dan menarik lengan Velyn untuk masuk kedalam.
Saat ini Valdo tengah mengajak Velyn untuk bicara empat mata, meskipun mereka duduk di ranjang yang sama tapi Velyn masih menjaga jarak dari pria satu ini.
__ADS_1
"Aku nggak tau gimana keadaan ayah disana, bunda cuma bilang kalau keadaan ayah semakin memburuk. Aku pengen didekat mereka saat ini, aku nggak bisa bayangin kalau ayah" Velyn memejamkan matanya erat-erat seraya menutup wajahnya. Ia tak kuasa lagi menahan kesedihan yang ia rasakan sejak tadi. Rasanya setiap kali berada didekat pria ini hati Velyn tak bisa sekuat dulu.
Ia ingin bersandar di pundak pria ini, hanya Valdo yang bisa membuat hati Velyn sedikit lebih lega meskipun akhirnya ia harus menumpahkan segala yang ia rasa.
"Sayang, jangan khawatir ya, aku bakal bantuin ayah. Ayah pasti bisa sembuh, kalau kamu mau, kita bakal nyusul bunda ya?" tawar Valdo seraya berlutut memegang jemari Velyn dan mengecupnya perlahan. Velyn terharu melihatnya, jika saja Valdo benar-benar mencintainya maka pasti Velyn akan sangat bahagia.
Tapi kesadaran Velyn masih ada, ia tak mau berharap ingin dicintai seutuhnya. Bersama dengan Valdo, didekatnya, Velyn merasa bahagia. Itu sudah cukup untuk membuat kehidupannya lebih bermakna sebelum ajal menjemputnya.
"Tapi, kak Valdo-"
"Nggak apa-apa, aku bakal temenin kamu. Aku janji" sambung Valdo lagi seraya bangkit dan memeluk erat Velyn dengan pelukan yang begitu hangat membuat Velyn tersenyum tipis diantara tangisannya.
"Makasih kak, makasih banget" hanya itu yang bisa Velyn ungkapkan. Rasanya begitu lega melepaskan semua bebannya. Velyn benar-benar seperti punya sandaran saat ini, saat tiada Oca disampingnya tapi tiba-tiba Valdo berada disisinya meskipun hatinya tidak bisa dimiliki olehnya.
Setelah puas menangis dan menumpahkan kesedihan, kini Velyn memutuskan untuk istirahat secepatnya saja. Ia meraih piyamanya dari lemari dan hendak mengganti di kamar mandi. Tak lupa Velyn juga menyisir rambutnya, semakin dilihat, dihadapannya ini bayangannya terpantul dirinya yang semakin pucat dengan rambutnya yang banyak sekali rontok dan berjatuhan.
__ADS_1
Velyn menggeleng, ia menyemangati diri seraya tersenyum setenang mungkin. Setiap bulannya bahkan berat badan Velyn semakin berkurang. Ia juga sudah lama tidak check up ke dokter mengenai penyakitnya.
"Semoga satu tahun ini cukup untuk membuat kenang-kenangan terindah dan yang terakhir dari kamu kak Valdo. Aku cinta sama kamu" gumam Velyn seraya tersenyum pada pantulan dirinya di depan cermin wastafel.