Velyn Love

Velyn Love
Mimpi


__ADS_3

Inilah yang Valdo rindukan, wajah mengembung istrinya saat dia marah kala Valdo menggodanya. Ditambah lagi gurauan sebelum tidur membuat Valdo takkan pernah melupakan momen indah ini.


Valdo merebahkan tubuhnya diatas kasur tipis yang sudah Velyn persiapkan tadi, ia menatap punggung Velyn dengan senyuman seraya menarik selimutnya. Tak berselang lama Velyn pun menggeliat, bergerak dan membalikkan tubuhnya dengan mata yang terpejam.


Inilah bidadari yang Tuhan kirimkan untuknya? seorang gadis cantik yang tertidur pulas membuat Valdo enggan untuk memejamkan mata. Meskipun jarak mereka tidak dekat, tapi dari bawah ranjang Valdo bisa menikmati wajah Velyn dengan jelas. Inilah yang membuatnya enggan mengambil lembur, karena pasti tidak akan ada kesempatan untuk menikmati keindahan Tuhan yang sudah tercipta untuknya.


Perlahan Valdo memejamkan matanya saat sayup-sayup dirinya merasakan kantuk. Ia mulai menghilang dari kesadaran saat alam bawah sadarnya mulai berganti untuk bermimpi.


***


Velyn yang sedari tadi sudah mempersiapkan sarapan kini masuk kedalam kamar kembali. Matahari sudah mulai meninggi, tidak seperti biasanya suaminya itu di jam seperti ini pasti sudah bangun dan selesai mandi.


Namun kali ini berbeda, pria itu masih bertahan, meringkuk dan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal berwarna putih. Velyn kemudian menghela nafasnya, ia melangkah menuju korden dan membukanya perlahan.


Bahkan cahaya yang masuk sudah dirasa cukup jika membangunkan seorang Valdo saja. Namun kali ini berbeda, Valdo yang terlelap itu masih saja tidak bergerak dari posisinya. Velyn kali ini sudah mulai jengah, ia kemudian menggeleng seraya berdecak, menggoyangkan tubuh Valdo perlahan agar pria itu bangun.


"Kak Valdo bangun, udah siang lo, kamu emang nggak kerja?" tanya Velyn lembut seraya menggoyangkan tubuh Valdo lagi, sampai Velyn baru menyadari ketika selimut yang dikenakan Valdo merosot dan menampakkan wajah Valdo yang kini samar-samar memerah.


Velyn terkejut, ia membulatkan matanya dan segera menempelkan telapak tangannya pada kepala Valdo. Dan benar saja dugaannya, Valdo mengalami demam tinggi.

__ADS_1


"Astaga! kak Valdo, kak Valdo sakit! ya ampun, ayo kak aku bantu pindah keatas" Velyn menarik lengan Valdo perlahan. Terlihat mata Valdo yang masih terpejam dan merembes membuat Velyn tak tega dibuatnya. Gadis itu buru-buru membopong tubuh Valdo yang sudah terduduk seraya mengangkatnya sekuat tenaga.


Setelah selesai memindahkan Valdo keatas ranjang, Velyn segera mencari termometer dan mengecek suhu badan suaminya. Mata Velyn semakin membelalak kala melihat angka menunjukkan suhu badan Valdo mencapai 39 derajat.


Gadis itu buru-buru keluar kamar, ia membuatkan sup untuk suaminya dan membuatkan minuman jahe untuk Valdo. Tak butuh waktu lama Velyn telah selesai dan kembali ke kamar Valdo lagi. Tak lupa ia juga membawakan obat penurun panas.


Velyn juga meminta Santi untuk membawakan kompres. Dengan telaten gadis itu mengganjal kepala Valdo agar posisinya bisa untuk makan dan meminum jahe buatannya.


"Kakak makan dulu ya, dikit aja" Valdo tak menggubris, ia masih tak bergerak dari posisinya. Namun Velyn masih gigih, setelah Sup yang ia suapkan tadi berkurang, kini dirinya memberikan minuman jahe untuk Valdo dan memberikannya obat setelah itu.


Ia hanya berharap semoga Valdo lekas sadar dan panas ditubuhnya berkurang. Velyn benar-benar merasa bersalah karena membiarkan Valdo yang kelelahan tidur dibawah. Pasti ini yang membuat suhunya naik, apalagi udaranya semakin dingin saja.


Velyn menempelkan kompres yang tadi dibawa oleh Santi dan menempelkannya di dahi Valdo.


Untung saja hari ini kuliah Velyn kosong. Velyn memang seminggu hanya mengambil kuliah selama lima hari, selebihnya ia memilih untuk menemani Nino dirumah. Mengingat kesibukannya yang menjadi seorang ibu rumah tangga ia juga harus ingat akan kewajibannya.


Velyn menata lamat-lamat pria satu ini, pria yang sudah menjadi suami sahnya. Begitu tampan, Velyn tersenyum sendiri ketika mengingat setiap momen saat Valdo mulai menggodanya maupun jahil padanya. Velyn menyandarkan kepalanya di bantal yang sama dengan yang Valdo kenakan. Tangannya masih mengerat pada jemari suaminya.


Andai Valdo tau bagaimana Velyn juga amat mencintainya. Bukan hanya Valdo saja yang merasakannya. Entah mulai kapan Velyn juga merasakan hal yang sama, tapi yang jelas sebelum mereka benar-benar menikah Velyn sudah merasakan nyaman.

__ADS_1


"Aku cinta sama kak Valdo" bisik Velyn seraya memejamkan matanya erat-erat. Mungkin ini kesempatannya untuk jujur, meskipun yang Valdo tau Velyn selalu menghindar, tapi kesempatan baik ini takkan pernah gadis itu sia-siakan.


Velyn terlelap disamping Valdo, matanya yang semula menutup rapat, kini perlahan terbuka sedikit demi sedikit. Ada suara lembut yang membuatnya ingin bangkit, namun sayang kekuatan Valdo belum terkumpul seperti sedia kala.


***


Setelah sejam berlalu Velyn akhirnya membuka matanya, ia menguap seraya memperhatikan Valdo dan mengecek suhu tubuhnya. Gadis itu menghela nafas lega kala melihat termometer yang menunjukkan bahwa suhu Valdo mulai turun.


Velyn tersenyum, ia kemudian meraih kompres dan mengganti airnya lalu meletakkan kembali ke dahi Valdo. Valdo menggeliat, kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri. Sepertinya Valdo bermimpi, Velyn hanya bisa mengernyit.


"Li-Lisa, Lisa! Lisa!" Velyn membulatkan matanya kala mendengar pria yang masih terlelap ini memanggil nama Lisa. Kenapa? rasanya dada Velyn begitu sesak, tenggorokannya tercekat, matanya berkaca seolah hendak mengeluarkan air mata.


Bukannya ini yang Velyn inginkan? tapi kenapa rasanya begitu sakit?. Sesak di dadanya seperti memenuhi isi hatinya. Velyn segera mengambil mangkuk dan gelas yang tadi digunakan untuk membawa sup dan minuman jahe. Ia buru-buru keluar dari kamar, setelah sampai di ambang pintu, Velyn sempat membalikkan tubuhnya.


"Lisa!" mendengar hal itu sekali lagi cukup membuktikan, siapa sebenarnya yang Valdo cintai.


Velyn menelan ludahnya kasar, ia mencoba untuk tidak mengeluarkan air matanya. Gadis itu melangkah kembali, membiarkan hatinya patah saat meninggalkan Valdo bergumam dalam mimpinya. Velyn sadar diri, ia tak ingin berharap lebih tentang perasaannya.


Lagipula sebentar lagi cepat atau lambat Velyn pasti akan bercerai juga. Velyn menggeleng, ia kemudian tersenyum kembali. Setidaknya dengan mengetahui hal demikian Velyn bisa lega. Setidaknya ada yang bisa membuat Valdo lebih bahagia, tidak mengecewakan seperti takdirnya.

__ADS_1


Sementara itu didalam kamar, Valdo masih saja mengigau. Setelah sebelumnya tubuhnya tak dapat digerakkan, kini alam bawah sadarnya mulai memainkan perannya.


"Lisa, maafin aku, aku-aku udah menyadari perasaan aku. Aku bakal melanjutkan hidup aku dengan Velyn, aku cinta sama dia"


__ADS_2