
"A-ada sesuatu yang harus aku kasih tau, aku harap kamu masih terima aku apa adanya" Valdo mengernyit, saat ini posisi mereka masih berpelukan, dengan jemari Velyn yang masih erat memeluknya.
"Kenapa sayang? aku janji apapun yang terjadi, aku bakal selalu ada buat kamu" Velyn menarik nafasnya dalam-dalam. Ia mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. 'Sejauh ini tidak terlalu terlambat kan?' pikir Velyn dalam hatinya.
Velyn merenggangkan pelukannya, ia menunduk seraya menyembunyikan wajahnya. Namun setelah ia hendak mengatakan sesuatu, dering ponsel Valdo terdengar membuat pria itu buru-buru mengangkat panggilan.
"Hallo Marni?" Velyn membuang muka seraya membelakangi tubuh Valdo, ia menghela nafas seraya sedikit mendengar percakapan Marni lewat telepon.
"Apa? kalian dimana? oke-oke kalau begitu, tunggu saya dan nyonya disitu" Valdo segera mematikan ponselnya, ia buru-buru menaruh ponselnya kedalam saku kembali dan menatap Velyn yang masih bertahan membelakanginya.
"Velyn, Nino sama Marni, mereka sekarang mau pulang ke rumah karena Nino mau ketemu kita. Mereka lagi ada di dekat perumahan Lisa, katanya Lisa marah dan nggak mau nganterin Nino pulang, jadi kita harus cepet-cepet jemput Nino sebelum larut malam" Velyn masih bertahan membelakangi tubuh Valdo, wanita itu mengangguk seraya tersenyum dan membalikkan tubuhnya. Velyn masih enggan menatap Valdo, ia mengikuti langkah Valdo yang begitu tergesa-gesa.
***
Helaan nafas Velyn membuat teman-temannya melirik satu sama lain. Bagaimana tidak, sepertinya semenjak Velyn mengambil cuti, sahabat mereka itu sedang berada dalam masalah. Dira melirik Christyn seraya memberikan kode 'kenapa?' tapi Christyn hanya mampu mengangkat bahu karena memang ia sendiripun tidak tau. Wajah murung dan juga kepala Velyn yang sedari tadi ia jatuhkan dimeja membuat mereka berdua seolah seperti seorang penjaga saja.
"Kalo ada masalah seharusnya lo cerita, bukan di pendem sendiri kaya gini" ujar Dira yang tiba-tiba beralih duduk dan menarik kursi didepan bangku Velyn.
"Gue nggak ada masalah kok!" kata Velyn seraya mengangkat pandangannya. Bagi Velyn ini bukanlah sebuah masalah, tapi waktu yang tepat untuk merencanakan agar Valdo mengetahui beban yang ia alami selama ini.
"Kalo gue jadi Velyn mah, nggak bakal ada masalah. Udah punya suami ganteng, tajir melintir, gantengnya kebangetan, baik pula" sahut Christyn membuat Dira melotot kearahnya. Velyn hanya mampu terdiam seraya menahan dagunya di atas meja seraya sekali-kali mendesah.
"Mulut lo bisa diem nggak? gue timpuk pakek sepatu gue lo ya!" celetuk Dira membuat Christyn menutup mulutnya seraya menunjukkan jemarinya yang membentuk tanda peace.
__ADS_1
Memang ada benarnya juga sih apa kata Christyn, apalagi Valdo begitu romantis padanya. Namun bukanlah masalah diantara mereka berdua yang membuat hati Velyn terbebani, tapi masalah hidupnya sendiri yang membuat dirinya bingung saat ini. Setelah punya banyak waktu untuk dihabiskan berdua, Velyn bahkan bingung hendak memulainya dari mana.
"Sebenernya, gue ada sesuatu yang perlu gue kasih tau ke suami, tapi…"
"Tapi apa Lyn?" sontak saja Dira bertanya, setidaknya perkataan Velyn menjawab semua kekhawatiran yang ikut serta pada kedua hati sahabatnya itu ketika melihat Velyn tampak tidak semangat seperti biasanya.
"Gue bingung mau mulai darimana, Mas Valdo itu sibuk, gue hampir nggak ada kesempatan buat ngobrol, tapi sekali ada waktu, gue jadi bingung mau ngomong darimana?" Dira dan Christyn saling memandang, mereka saja belum pernah menikah, bagaimana tau dan paham akan situasi Velyn. Tapi sebagai sahabat, bukan Dira dan Christyn namanya kalau mereka tidak mempunyai solusi untuk setiap masalah.
"Gue nggak tau sih harus ngasih solusi kaya gimana, tapi kalau menurut gue lo perlu waktu yang santai sama Pak Valdo, terus omongin pelan-pelan"
"Yang dibilang Dira itu ada benernya Lyn, lagian lo kan udah nggak ada masalah lagi sama Mas Valdo" celetuk Christyn seraya menyilangkan kedua tangannya dibawah dada dengan cueknya.
"Mas?!" ujar kedua wanita itu bersamaan yang sedikit terkejut dengan panggilan dari Christyn yang begitu bar-bar itu.
"Berandai-andai itu yang masuk akal dong Chist, halu lo ketinggian" sahut Dira seraya menatap Christyn dengan kesal, Christyn memang salah satu sahabatnya yang bar-bar, ceplas-ceplos dan ceroboh. Tak ayal perempuan satu itu selalu menjadi bahan candaan untuk mereka berdua selama magang di perusahaan Valdo.
"Yeee, terserah gue dong! kali aja habis ceraiin Lisa Mas Valdo mau cari istri kedua lagi-"
"Sekali lagi lo ngomong, gue timpuk pakek sepatu gue lo ya!" kata Velyn seraya melotot kearah sahabatnya itu yang terlihat cekikikan karena berhasil membuat Velyn kesal.
"Waduh, istri tua lagi marah huhuhu, mau nyiksa istri mudanya Mas Valdo" ejek Christyn membuat Velyn bertambah kesal saja. Wanita itu kemudian berdiri dan menatap Christyn dengan pandangan horornya.
"Apa?" tanya Christyn dengan takut-takut, Dira yang melihat keduanya hanya mampu menggeleng saat Christyn mulai menjulurkan lidahnya dan berlari menjauh dari Velyn yang tampak sudah kesal sampai ubun-ubun.
__ADS_1
"Awas lo ya Christ, jangan lari lo. Lo belum pernah liat istri tua ngamuk kan!"
"Ampun jeng, adek cuma butuh pelukan dari Mas" goda Christyn dengan senyuman jahilnya seraya tertawa renyah. Velyn kemudian berjalan kearah Christyn dengan raut wajahnya yang kesal itu membuat Dira hanya mampu menghela nafasnya karena ulah kedua sahabatnya itu yang masih kekanak-kanakan sekali.
***
Velyn menatap arlojinya, ia kemudian turun dari taksi yang dipesannya usai kelas berakhir. Kali ini Velyn akan menjemput Nino dari sekolah play group nya setelah beberapa hari lalu ia membuat janji pada putra kecilnya itu untuk mengunjunginya ke sekolah barunya. Velyn memeriksa ponsel saat ponselnya berdering. Seharusnya Nino sudah keluar dari kelasnya saat ini, Velyn menggeleng, ia kemudian mengangkat panggilan dari sang dosen yang ternyata sudah dari tadi menelponnya. Lagipula mungkin hanya butuh waktu lima menitan saja untuk membahas mata kuliah yang ditugaskan untuknya mengenai laporan hasil magangnya kemarin.
"Halo, iya pak, iya sudah-" Velyn tersenyum saat melihat Nino terlihat di belakang gerbang sekolah dan melambaikan tangan padanya. Nino tersenyum dan begitu senang melihat keberadaan mamanya yang kali ini menjemputnya. Bocah kecil itu pun tanpa aba-aba langsung berlari kearah Velyn yang masih berkutat menelepon itu.
Velyn yang melihat putranya berlari menyeberang jalan kearahnya pun terkejut bukan main, apalagi kendaraan berlalu lalang cukup kencang membuat jantung Velyn berdenyut. Velyn buru-buru menjatuhkan ponselnya saat tau ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hendak menabrak Nino yang kali ini tak sadar akan bahaya yang hendak menimpanya.
Buru-buru Velyn berlari, hati Velyn berteriak bersamaan dengan wajahnya yang pucat setelah berhasil mendorong tubuh Nino, dan saat bersamaan...
"Ninooooo!!!!!"
Brakkkk
Tubuh Velyn berguling diatas mobil berwarna silver itu, ia kemudian terjatuh diatas aspal dengan kepalanya yang terbentur, membuat darah mengalir deras melalui rambutnya.
"Mamaaaa!" teriak Nino yang kepalanya sempat terluka, akibat terbentur pembatas jalan akibat dorongan dari Velyn sebelum kejadian nahas itu terjadi. Nino buru-buru berlari kearah kerumunan yang mengelilingi mamanya dengan tangisannya, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh Velyn penuh darah dan luka dimana-mana.
"Mama, huhu mama nggak apa-apa kan? Nio takut ma, mama bangun" teriak Nino seraya mengguncang tubuh mamanya, Velyn pun yang tadinya tidak berani membuka mata, kini akhirnya memberanikan diri untuk menatap buah hatinya. Ia takut terjadi sesuatu pada Nino, ia takut Valdo akan marah padanya seperti dulu jika Nino terluka.
__ADS_1
"Ke-kepala Nino luka, ce-cepat min.... ta orang buat obati, ya?" Nino menangis tersedu-sedu seraya memeluk tubuh mamanya. Ia takut mamanya kenapa-kenapa, hal itu membuat Velyn sedikit sedih karena tidak bisa menjaga Nino dengan baik. Tiba-tiba saja Pandangan Velyn berputar, ia melihat semua orang yang mengelilinginya perlahan-lahan menghilang dalam pandangannya.